;

Perbankan Kunci Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Performa ekonomi Indonesia pada kuartal III/2024 menunjukkan adanya tantangan meskipun ada pertumbuhan positif. Inflasi pada Oktober 2024 tercatat 1,7% YoY, yang merupakan angka terendah sejak Oktober 2021, meskipun terjadi kenaikan inflasi bulanan akibat harga emas internasional yang lebih tinggi. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2024 tercatat 4,95% YoY, sedikit lebih baik dari periode yang sama pada 2023, tetapi lebih lambat dibandingkan dengan kuartal II/2024 yang mencapai sekitar 5%.

Sektor-sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia selama kuartal III/2024 adalah investasi, ekspor, dan impor, sedangkan konsumsi rumah tangga dan pengeluaran pemerintah mengalami kontraksi. Penurunan konsumsi rumah tangga, yang menjadi komponen utama pertumbuhan ekonomi, disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain perlambatan ekonomi China, tingginya suku bunga global, dan penurunan jumlah kelas menengah yang berdampak pada daya beli masyarakat.

Dari sisi kebijakan, perbankan memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dengan meningkatkan pembiayaan konsumsi dan mendukung sektor-sektor potensial seperti perumahan, kendaraan, dan barang kebutuhan rumah tangga. Beberapa kebijakan dari Bank Indonesia seperti insentif GWM dan penurunan suku bunga diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2025 yang sedikit lebih tinggi di angka 5,11%. Inflasi pada 2025 diperkirakan stabil di sekitar 2,51%, yang diharapkan dapat mendukung pemulihan konsumsi domestik.

Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan, dukungan kebijakan dari pemerintah dan perbankan serta pemulihan ekonomi global diharapkan akan mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025, terutama dengan meningkatkan konsumsi domestik yang dapat memperkuat sektor-sektor terkait dan memperkokoh perekonomian.




Ketidakpastian Regulasi Bayangi Dunia Bisnis

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Ketidakpastian dalam pengumuman kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2025 menjadi isu penting yang mengganggu iklim bisnis dan investasi di Indonesia. Pemerintah terlambat mengumumkan skema dan kenaikan UMP yang seharusnya disampaikan pada 21 November 2024, karena masih menyusun formula yang sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait UU Cipta Kerja. Proses ini diperumit oleh adanya pemilihan kepala daerah (Pilkada) pada 27 November 2024, yang mendorong pemerintah untuk lebih berhati-hati agar tidak terjadi ketegangan politik terkait dengan penetapan UMP.

Namun, terlambatnya pengumuman UMP ini menimbulkan ketidakpastian bagi dunia usaha, terutama bagi UMKM yang membutuhkan kepastian untuk merencanakan bisnis mereka di tahun depan. Edy Misero, Sekjen Akumindo, mengungkapkan bahwa ketidakpastian ini menghambat perencanaan bisnis dan investasi, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap perubahan upah. Alphonzus Widjaja, Ketua Umum APPBI, juga menekankan bahwa upah yang adil dan seimbang antara pengusaha dan pekerja sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong aktivitas bisnis.

Tantangan bagi pemerintah adalah menyusun skema upah yang dapat menyeimbangkan kebutuhan pekerja dan pengusaha, mengingat kenaikan upah yang tinggi bisa memberatkan dunia usaha, sementara upah yang rendah dapat mengurangi daya beli masyarakat. Immanuel Ebenezer, Wakil Menteri Ketenagakerjaan, menjelaskan bahwa pemerintah tengah mengkaji dampak putusan MK dan berusaha menyusun payung hukum yang tepat agar kebijakan ini dapat diterima semua pihak.

Sementara itu, Herman N. Suparman dari KPPOD dan Nailul Huda dari Center for Economic and Law Studies menyoroti pentingnya memberikan kepastian segera mengenai kenaikan UMP agar tidak merugikan dunia usaha dan mempengaruhi iklim investasi. Yusuf Rendy Manilet dari Core Indonesia juga menambahkan bahwa penetapan upah yang penuh gejolak dapat menciptakan ketidakpastian dan mengurangi daya tarik investasi ke Indonesia.

Secara keseluruhan, kepastian dalam penetapan UMP sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan daya beli masyarakat, dan mendukung pertumbuhan bisnis, terutama di sektor UMKM dan industri lainnya. Pemerintah diharapkan dapat segera memberikan keputusan yang jelas dan adil, serta memastikan skema upah yang tidak hanya memperhatikan kepentingan pekerja, tetapi juga dunia usaha dan ekonomi nasional secara keseluruhan.


Efisiensi Jadi Jurus Utama Pelaku Usaha

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Kebijakan penetapan upah minimum yang tengah dirumuskan oleh pemerintah menghadirkan dilema yang signifikan bagi dunia usaha. Di satu sisi, kebijakan ini dapat memperkuat daya beli masyarakat, yang penting untuk pemulihan ekonomi, namun di sisi lain, kebijakan ini dapat membebani pelaku industri, terutama pengusaha kecil dan menengah. Sekjen Hipmi Anggawira menyatakan bahwa pengusaha akan menghadapi tantangan besar dalam menyesuaikan harga produk, melakukan efisiensi operasional, serta merestrukturisasi tenaga kerja untuk mengimbangi kenaikan upah. Dalam hal ini, Hipmi berharap ada fleksibilitas dalam penyesuaian upah yang mempertimbangkan kemampuan sektor usaha, khususnya UMKM, dan adanya insentif dari pemerintah untuk membantu dunia usaha, seperti pengurangan pajak atau akses pembiayaan murah.

Di sisi lain, Bob Azam dari Apindo menekankan bahwa perubahan kebijakan upah yang dilakukan di tengah tekanan ekonomi dapat menambah risiko bagi dunia bisnis, yang sudah menghadapi penurunan daya beli masyarakat dan potensi PHK. Bob juga berharap agar kebijakan ini tidak dipolitisasi, karena hal tersebut dapat mengganggu iklim bisnis. Sementara itu, Mirah Sumirat, Ketua Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Asprasi), menuntut kenaikan upah sebesar 20% untuk mengangkat daya beli pekerja yang sudah melemah dalam beberapa tahun terakhir, namun ia juga menuntut agar pemerintah menurunkan harga bahan pokok untuk mengimbangi kenaikan upah.

Payaman Simanjuntak, pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Indonesia, menyarankan agar kenaikan UMP 2025 berada pada kisaran 6%-8%, sesuai dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi, sehingga semua pihak—pengusaha, pekerja, dan masyarakat—dapat mengantisipasi dengan baik. Hal ini akan memberikan kepastian dan kestabilan, serta mendukung rencana bisnis dan investasi yang sehat.

Secara keseluruhan, pemerintah perlu menemukan keseimbangan dalam kebijakan upah, dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat, kemampuan dunia usaha, serta kebutuhan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan upah yang adil dan tepat waktu akan sangat memengaruhi iklim bisnis, daya beli masyarakat, dan keberlanjutan perekonomian nasional.


Batu Bara Mulai Tersingkir dari Panggung Utama Energi

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pemerintah Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam merencanakan pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara, sebagai bagian dari transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT). Presiden Prabowo telah menargetkan Indonesia untuk mencapai net zero emission sebelum 2050, dengan salah satu langkah utama adalah mengganti PLTU dengan pembangkit listrik tenaga panas bumi yang lebih ramah lingkungan. Namun, seperti yang disampaikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, transisi energi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak membebani keuangan negara, karena harga EBT saat ini masih tinggi. Pemerintah juga tengah mencari skema pembiayaan yang tepat untuk pensiun dini PLTU, termasuk untuk PLTU Cirengbon-1 dan Pelabuhan Ratu yang meskipun sudah ada komitmen untuk dihentikan operasionalnya, namun terus tertunda karena masalah pembiayaan.

Di sisi lain, Fabby Tuwo, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), menekankan pentingnya reformasi regulasi, transformasi industri kelistrikan, dan dukungan pembiayaan dari pemerintah dan pihak luar untuk mengakselerasi transisi ini. Fabby juga menyarankan pembentukan task force dekarbonisasi kelistrikan yang dipimpin oleh seorang ahli, yang langsung melapor kepada Presiden. Namun, Bhima Yudhistira, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), berpendapat bahwa pernyataan Prabowo di KTT G20 Brasil terkait pensiun dini PLTU masih sebatas gimmick, karena hingga kini belum ada tindakan konkret, seperti daftar PLTU yang akan dipensiunkan, dan masih ada PLTU baru seperti PLTU Cirebon-2 yang baru saja beroperasi.

Sementara itu, Komisi Transisi Batu Bara yang dipimpin oleh Indonesia dan Prancis menyarankan agar sektor perbankan dan investor swasta mengambil peran aktif dalam mendanai proyek pensiun dini PLTU di negara-negara berkembang, dan merekomendasikan agar kriteria keberlanjutan pembiayaan dilonggarkan untuk mendukung penutupan PLTU batu bara.

Secara keseluruhan, untuk mencapai transisi energi yang sukses, pemerintah harus menghadapi tantangan besar dalam hal pembiayaan, ketersediaan EBT yang cukup, dan penciptaan kebijakan yang mendukung agar pensiun dini PLTU bisa berjalan sesuai rencana, tanpa mengganggu kestabilan ekonomi negara.


Pasar Saham Masih Diliputi Ketidakpastian

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan (H)
Kondisi pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global, seperti ketegangan geopolitik dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, masih penuh tantangan. Hal ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.195,56 pada 22 November 2024, dengan penjualan bersih investor asing mencapai Rp 8 triliun dalam dua pekan terakhir.

Adrian Joezer, Head of Equity Market Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas, menyebut kondisi ini sebagai "The Waiting Game," di mana investor memilih menunggu kepastian global dan domestik. IHSG diprediksi berpotensi mencapai level 8.150 di akhir 2025, dengan sektor konsumsi, pangan, properti, telekomunikasi, transportasi, dan ritel sebagai sektor favorit.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, mencatat bahwa investor juga melirik pasar saham China karena stimulus yang diberikan pemerintah China dan peluang di bursa AS setelah terpilihnya Trump. Nico memperkirakan IHSG dapat naik hingga 7.500 pada Desember 2024 jika sentimen window dressing mendukung, dengan support di level 7.120.

Erindra Krisnawan, Kepala Divisi Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, menilai IHSG secara valuasi sudah menarik dengan forward PE sebesar 11,9 kali. Meski demikian, risiko masih ada akibat potensi pelebaran yield obligasi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Target IHSG di 2025 dipatok pada level 7.448, dengan skenario bullish di 7.700 dan bearish di 7.200.

Meski ada peluang kenaikan, pasar modal menghadapi volatilitas yang tinggi. Investor diharapkan memiliki strategi sektoral yang fokus, terutama pada sektor perbankan, otomotif, dan ritel di kuartal II 2025.

Tax Amnesty Jilid III Sasar Ekonomi Bayangan

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan
Pemerintah dan DPR sepakat melanjutkan program tax amnesty jilid III melalui revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Revisi ini telah dimasukkan dalam Prolegnas Prioritas Tahun 2025, dengan rencana pelaksanaan mulai tahun 2025.

Bob Hasan, Ketua Badan Legislasi DPR RI, menjelaskan bahwa revisi undang-undang ini merupakan inisiatif Komisi XI DPR RI. Aturan yang diusulkan kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan tax amnesty sebelumnya, yaitu program pada 2016 dan 2022.

Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI, menyebut program tax amnesty bertujuan mengatasi masalah perpajakan masa lalu dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Ia menilai program ini memberi jalan keluar bagi pengemplang pajak untuk menyelesaikan kewajibannya secara legal dan transparan.

Namun, Fajry Akbar, pengamat pajak dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), mengkritisi efektivitas tax amnesty jilid III, khususnya dalam menyasar shadow economy. Ia meragukan pelaku ekonomi bayangan akan bersedia mengikuti program ini. Fajry juga memperingatkan risiko moral hazard, kerusakan kredibilitas pemerintah, dan ketidakpastian penerimaan pajak sebagai konsekuensi program tersebut.

Tax amnesty jilid III dinilai sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan penerimaan pajak dan menindak aktivitas ekonomi bawah tanah (underground economy). Namun, pelaksanaannya tetap menghadapi tantangan dari segi efektivitas dan potensi risiko kebijakan.

Dividen Jadi Daya Tarik Saat Pasar Stagnan

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan
Pembagian dividen emiten besar terus menjadi sorotan di pasar saham pekan ini, dengan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebagai salah satu yang paling menarik perhatian.

ADRO, yang dimiliki oleh konglomerat Garibaldi Thohir, akan membagikan dividen tunai tambahan senilai US$ 2,62 miliar atau sekitar Rp 1.355 per saham, berdasarkan kurs Rp 15.875 per dolar AS. Jadwal cum dividen ADRO di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 26 November 2024. Dengan dividend yield mendekati 37% dan likuiditas saham yang baik, ADRO dinilai sangat menarik bagi investor, terutama yang fokus pada pendapatan pasif dan potensi capital gain.

Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menyarankan trading buy untuk saham ADRO dengan target harga Rp 3.900 per saham. Sementara itu, William Hartanto, Founder WH Project, memprediksi harga ADRO bisa mencapai Rp 4.200. Keduanya merekomendasikan saham ADRO sebagai pilihan utama di tengah momentum dividen.

Selain ADRO, empat emiten lain yang masuk dalam cum date pekan ini adalah PT Pinago Utama Tbk (PNGO), PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL), PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA), dan PT Graha Mitra Asia Tbk (RELF). Namun, saham-saham ini dinilai kurang menarik karena dividend yield yang kecil dan likuiditas rendah.

William Hartanto juga merekomendasikan saham MCOL dengan target harga Rp 5.600–Rp 5.800 per saham, meski daya tariknya lebih rendah dibanding ADRO.

Momentum pembagian dividen ini menjadi peluang strategis bagi investor untuk meraih pendapatan pasif sambil mengejar potensi kenaikan harga saham, terutama di emiten seperti ADRO yang menawarkan dividend yield tinggi.

Pelemahan Rupiah Pangkas Laba Emiten

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 2024 berdampak signifikan pada kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga November 2024, rupiah melemah 2,61% sejak awal tahun, mendekati Rp 16.000 per dolar AS, sehingga memicu kerugian selisih kurs dan beban utang dalam dolar pada sejumlah perusahaan.

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mencatat kerugian bersih sebesar Rp 421,83 miliar per September 2024, naik 137,83% secara tahunan. Penyebab utamanya adalah kenaikan beban usaha dan kerugian selisih kurs Rp 3,53 miliar, meskipun penjualan naik 1,94% menjadi Rp 7,86 triliun.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menghadapi tekanan dari utang obligasi denominasi dolar AS sebesar Rp 41,62 triliun, setara 73,70% dari total liabilitas.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatat rugi selisih kurs sebesar US$ 891.400, namun tetap membukukan kenaikan laba 32,69% menjadi US$ 263,38 juta hingga September 2024. Corporate Secretary PGAS, Fajriyah Usman, menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar tidak signifikan memengaruhi operasional perusahaan.

Menurut Oktavianus Audi, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, emiten yang memiliki dominasi utang dalam dolar AS, seperti PT Modernland Realty Tbk (MDLN), dengan utang dolar AS Rp 104,34 miliar dan obligasi Rp 5,72 triliun, akan semakin tertekan akibat pelemahan rupiah.

Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan besar bagi emiten dengan eksposur tinggi terhadap utang dan transaksi dalam dolar AS, meskipun beberapa perusahaan mampu mempertahankan kinerja laba mereka.

Harga Pulih, Emiten Kembali Moncer

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan
Prospek kinerja emiten sawit tetap menjanjikan, didukung oleh harga minyak sawit mentah (CPO) yang stabil dan kebijakan pemerintah, seperti penerapan program B40 pada awal 2025. Program ini, yang meningkatkan campuran biodiesel berbasis sawit hingga 40%, diharapkan dapat meningkatkan permintaan domestik dan mendorong harga CPO.

Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebut program B40 dan rencana B50 pada 2026 akan menjadi katalis positif bagi emiten CPO. Emiten yang berfokus pada pasar domestik seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dinilai unggul. Ia menyarankan buy dengan target harga AALI Rp 7.380 dan LSIP Rp 1.330 per saham.

Arinda juga menyoroti tantangan sektor sawit, termasuk regulasi ketat lingkungan dari Uni Eropa, proteksionisme perdagangan dari Presiden AS Donald Trump, serta dampak suku bunga global. Namun, ia optimistis permintaan tinggi dari India, China, dan pasar domestik akan menjadi pendorong utama.

Yasmin Soulisa, Analis Ciptadana Sekuritas, juga melihat potensi kenaikan konsumsi sawit hingga 16 juta ton dengan penerapan B40. Ia mencatat harga rata-rata CPO global pada 2024 sekitar RM 4.041 per ton dan memproyeksikan harga stabil di RM 4.100 per ton pada 2025. Kenaikan permintaan menjelang Tahun Baru Cina dan Idul Fitri menjadi katalis tambahan bagi harga CPO.

Kombinasi dukungan kebijakan domestik, efisiensi operasional, serta tingginya permintaan domestik dan internasional menjadikan sektor sawit tetap menarik untuk investasi, meski ada tantangan global.

Kesepakatan Pendanaan 300 miliar USD Jauh dari Kebutuhan

Yoga 25 Nov 2024 Kompas (H)

Konferensi Para Pihak tentang Perubahan Iklim PBB atau COP29 dinilai gagal memenuhi harapan mengatasi krisis iklim secara berkeadilan. Janji pendanaan negara-negara maju 300 miliar USD tiap tahun kepada negara-negara berkembang jauh lebih rendah daripada kebutuhan pendanaan 1,3 triliun USD. Hasil tersebut diumumkan di pengujung COP29, di Baku, Azerbaijan, Minggu (24/11). Sebanyak 200 diplomat dari semua negara di dunia menuntaskan konferensi tersebut dengan rasa tak puas. Para delegasi di COP29 sepakat menyediakan pendanaan 300 miliar USD per tahun. Negara-negara juga menyetujui aturan pasar karbon global didukung PBB. Pasar ini akan memfasilitasi perdagangan kredit karbon yang memberikan insentif kepada negara-negara untuk mengurangi emisi dan berinvestasi dalam proyek-proyek ramah iklim.

Seperti dirilis UN News, pendanaan dan kredit karbon merupakan dua isu penting yang diputuskandalam pertemuan yang berlangsung sejak 12 November dan berakhir Minggu (24/11) di Baku. Negosiasi seharusnya selesai Jumat (22/11), tetapi diperpanjang karena pertentangan di antara hampir 200 negara. Pembicaraan sempat terhenti pada Sabtu karena beberapa negara berkembang dan negara kepulauan meninggalkan pembicaraan dengan frustrasi. Padahal, mereka paling terdampak krisis iklim. ”Pendapat kami tak didengar,” kata Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Samoa Toeolesulusulu Cedric Schuster, dikutip Sky News. Perwakilan India, Chandni Raina, turut mengecam janji 300 miliar USD sebagai ”jumlah kecil”. Ia menyebut perjanjian itu tak lebih dari sekadar ilusi optik dan tak mampu mengatasi besarnya tantangan yang dihadapi. (Yoga)


Pilihan Editor