;

Gojek, Unit Bisnis On-Demand Service dari Grup GoTo

Yuniati Turjandini 28 Nov 2024 Investor Daily

Gojek, unit bisnis on-demand service dari Grup GoTo, melalui  layanan pengiriman barang GoSend, terus mendorong pelaku UMKM di Indonesia untuk tumbuh dan naik kelas dengan memanfaatkan platform digital. Gojek, melalui layanan GoSend, pun membantu mitra UMKM untuk mengakses pasar lebih luas serta menjadi kualitas dan kecepatan pengiriman produk, sehingga berkontribusi terhadap pengalaman dan kepuasan pelanggan. Head of Transport and Logistics Gojek Steven  Halim mengatakan, dalam mempersiapkan para UMKM menjadi best seller tahun 2024 dan 2025, Gojek, melalui  layanan GoSend, fokus pada tiga amunisi utama.

"Pertama, kami berkomitmen ntuk terus berinovasu. Salah satunya, baru-baru ini, kami meluncurkan layanan GoSend Instant Hemat secara bertahap," ungkap Steven. Menurut dia, opsi layanan GoSend Instant Hemat menawarkan pengiriman cepat bagi UMKM dan dengan harga yang lebih terjangkau. Inisiatif ini bisa terwujud berkat optimasi teknologi Gojek. Kedua, GoSend juga memberikan ragam penawaran spesial untuk mendongkrak penjualan dan visibilitas UMKM, terutama pada moment  akhir 2024 di mana tren belanja konsumen meningkat. (Yetede)

Membangkitkan Potensi Ekonomi Lokal

Hairul Rizal 28 Nov 2024 Bisnis Indonesia (H)

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2024 membawa harapan besar bagi akselerasi perekonomian daerah yang selama ini belum berkembang sesuai potensinya. Para kepala daerah yang akan terpilih diharapkan dapat mengatasi tantangan ekonomi daerah, seperti daya saing yang melemah dan perlambatan investasi, dengan mengoptimalkan potensi lokal serta menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global. Dalam Pilkada Serentak 2024, terdapat 1.556 pasangan calon dari berbagai tingkatan, dan beberapa pasangan unggul sementara, seperti Pramono Anung-Rano Karno di Jakarta, Dedi Mulyadi-Irwan Setyawan di Jawa Barat, Ahmad Luthfi-Taj Yasin di Jawa Tengah, Khofifah-Emil di Jawa Timur, dan Bobby Nasution-H. Surya di Sumatera Utara.

Para pemimpin daerah terpilih diharapkan untuk dapat mewujudkan komitmen pembangunan ekonomi yang efektif. Herman N. Suparman, Direktur Eksekutif KPPOD, menekankan bahwa kapasitas dan integritas pemimpin sangat menentukan keberhasilan perekonomian daerah, dengan fokus pada evaluasi kebijakan yang menghambat dunia usaha, seperti peraturan pajak dan perizinan. Pelaku usaha lokal juga berharap agar pemimpin daerah baru dapat mendorong kebijakan pro-investasi, mendukung kinerja ekspor, dan menciptakan lapangan kerja.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulawesi Selatan, Firdaus Deppu, berharap agar gubernur baru lebih melibatkan pengusaha lokal dalam pembangunan dan menciptakan iklim usaha yang baik. Begitu juga dengan Ning Wahyu Astutik, Ketua Apindo Jawa Barat, yang menekankan pentingnya fokus pada penciptaan lapangan kerja di tengah tingginya angka pengangguran di wilayah tersebut.

Namun, tantangan utama yang dihadapi pemimpin daerah baru adalah menjaga stabilitas sosial-politik, mengatasi kesenjangan ekonomi, dan memastikan anggaran publik digunakan secara efektif untuk program pembangunan prioritas. Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo, juga menyoroti pentingnya penyederhanaan regulasi dan perizinan usaha agar prosesnya lebih efisien dan transparan.

Secara keseluruhan, para pemimpin daerah yang terpilih diharapkan dapat fokus pada stabilitas ekonomi, mendukung pengembangan investasi, mempercepat perizinan usaha, serta mendorong kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk meningkatkan daya saing daerah.


Pasar dan Kinerja Perbankan Pasca Kemenangan Trump

Hairul Rizal 28 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pemilihan Presiden Amerika Serikat yang berlangsung pada awal November 2024 menunjukkan kemenangan Donald Trump dari Partai Republik yang mengungguli pesaingnya, Kamala Harris dari Partai Demokrat. Kemenangan Trump diprediksi akan membawa perubahan signifikan dalam kebijakan ekonomi AS, dengan penekanan pada prioritas ekonomi domestik, seperti peningkatan investasi dalam negeri, kenaikan bea impor, dan pemotongan pajak korporasi. Kebijakan ekonomi yang sering disebut sebagai Trump 2.0 ini, dengan fokus pada pajak dan tarif impor yang lebih tinggi, diperkirakan akan mempengaruhi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, melalui arus dana yang keluar dan dampaknya pada suku bunga global.

Kebijakan Trump yang kemungkinan akan menahan penurunan suku bunga The Fed dapat mendorong Bank Indonesia untuk menyesuaikan suku bunga dalam rangka mempertahankan stabilitas ekonomi domestik, menghindari keluarnya modal, dan menarik arus investasi asing. Dalam konteks ini, meskipun kinerja perbankan nasional Indonesia, seperti yang terlihat pada laporan keuangan kuartal III 2024 dari bank-bank besar seperti BRI, Mandiri, BCA, dan BNI, menunjukkan pertumbuhan laba yang positif, saham-saham perbankan mengalami penurunan harga. Hal ini mencerminkan adanya arus keluar dari pasar modal Indonesia yang harus menjadi perhatian serius bagi pemangku kepentingan pasar modal di Indonesia.

Selain itu, meskipun sektor perbankan Indonesia relatif resilien terhadap gejolak global, tantangan tetap ada, seperti kenaikan harga minyak dan inflasi, yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan kinerja industri keuangan. Pemerintah Indonesia perlu melakukan langkah-langkah strategis, seperti evaluasi kebijakan suku bunga dan memastikan anggaran belanja negara difokuskan untuk kegiatan produktif yang bisa membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan daya beli masyarakat. Peningkatan PPN yang diiringi dengan penurunan daya beli juga harus menjadi perhatian pemerintah agar tidak semakin menekan perekonomian domestik.

Secara keseluruhan, kebijakan ekonomi yang tepat dan responsif dari pemerintah Indonesia, serta kebijakan fiskal yang mendukung daya saing ekonomi domestik, akan sangat krusial dalam mengatasi tantangan ekonomi yang datang baik dari dalam negeri maupun faktor eksternal, seperti dampak dari kebijakan ekonomi Trump dan gejolak geopolitik global.


Perebutan Suara Rakyat Jelang Pemilu

Hairul Rizal 28 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Pilkada Serentak 2024 telah selesai dilaksanakan, dan hasil sementara melalui metode quick count menunjukkan sejumlah pasangan calon (paslon) yang unggul, baik pada tingkat gubernur, wali kota, maupun bupati. Beberapa pasangan yang sementara memimpin diantaranya Bobby Nasution-Surya untuk Gubernur Sumatra Utara, Andra Soni-Dimyati Natakusuma di Banten, Pramono Anung-Rano Karno di DKI Jakarta, Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan di Jawa Barat, Ahmad Luthfi-Taj Yasin Maimoen di Jawa Tengah, dan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak di Jawa Timur.

Meskipun demikian, penentuan pemenang masih harus menunggu proses hitung resmi yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Pemilu ini menunjukkan antusiasme masyarakat dalam menggunakan hak pilihnya, seperti terlihat dalam kegiatan pemungutan suara jemput bola yang dilakukan oleh petugas KPPS untuk warga yang tidak dapat datang ke TPS. Diharapkan para calon pemimpin daerah yang terpilih dapat memegang amanah rakyat dengan baik dan menjalankan tanggung jawab mereka dengan penuh integritas demi kemajuan daerah yang dipimpinnya.



Langkah Strategis Pengembangan Teknologi CCUS

Hairul Rizal 28 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Keputusan Final Investment Decision (FID) yang disampaikan oleh BP terkait proyek UCC (Unitisasi Carbon Capture and Storage) di Indonesia diperkirakan akan membawa dampak besar bagi sektor energi, terutama dalam penangkapan, penyimpanan, dan pemanfaatan karbon (CCUS). Proyek ini menandai langkah pertama Indonesia dalam mengembangkan CCUS secara besar-besaran, dengan potensi untuk menyekuestrasi sekitar 15 juta ton CO2 pada fase awal. Selain itu, proyek ini juga akan membantu Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat melalui pengembangan lapangan gas Ubadari dan pemanfaatan infrastruktur di Tangguh LNG.

Murray Auchincloss, CEO BP, mengungkapkan bahwa proyek ini dapat memaksimalkan perolehan gas di Indonesia dan berpotensi menghasilkan 3 triliun kaki kubik sumber daya gas tambahan. Proyek ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Indonesia, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, yang menekankan bahwa proyek UCC akan mendukung ketahanan energi nasional dan memenuhi visi Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan produksi migas.

Selain dampak terhadap sektor migas, proyek ini juga memiliki nilai strategis dalam upaya dekarbonisasi, yang semakin mendesak di tingkat global. Dengan potensi penyimpanan karbon yang sangat besar di Indonesia, berbagai perusahaan migas besar dunia, seperti ExxonMobil, Chevron, dan Total Energies, mulai melirik Indonesia sebagai lokasi potensial untuk penyimpanan karbon. Hal ini diharapkan akan menghasilkan peluang bisnis baru, termasuk potensi pendapatan miliaran dolar dari sektor CCS/CCUS di Indonesia, yang juga dapat mengurangi emisi karbon secara signifikan.

Secara keseluruhan, proyek UCC ini diharapkan dapat memberikan dampak positif baik bagi perekonomian Indonesia, pengurangan emisi karbon, maupun peningkatan kapasitas energi nasional, sejalan dengan tren global yang semakin fokus pada keberlanjutan dan pengendalian perubahan iklim.


Pengusaha Dorong Dialog Bipartit dalam Pengupahan

Hairul Rizal 28 Nov 2024 Bisnis Indonesia

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendorong pemerintah untuk menetapkan upah minimum 2025 melalui mekanisme bipartit, yakni melalui kesepakatan antara pekerja dan perusahaan. Hal ini disampaikan oleh Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, yang menekankan pentingnya melibatkan kedua belah pihak, karena perusahaan dan serikat pekerja adalah pihak yang paling mengetahui kondisi dan perkembangan perusahaan tersebut.

Usulan ini muncul setelah tidak adanya kejelasan mengenai penetapan upah minimum setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menggugurkan beberapa pasal dalam Undang-Undang Cipta Kerja pada akhir Oktober 2024. Bob Azam juga menyampaikan kekecewaannya kepada Menteri Ketenagakerjaan Yassierli terkait lamanya proses penetapan upah minimum, yang telah berlangsung lebih dari 13 tahun. Menurutnya, ketidakpastian terkait pengupahan ini menghambat Indonesia untuk menjadi negara maju dan menyebabkan peluang investasi hilang, seperti yang terjadi pada sektor elektronik pada tahun 90-an, di mana investor memilih berinvestasi di Malaysia akibat aksi mogok terkait pengupahan di Indonesia.

Meskipun sebelumnya Apindo telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Menteri Ketenagakerjaan sebelumnya, Ida Fauziyah, untuk mendorong struktur skala upah yang lebih baik, kesepakatan itu tidak dapat dilaksanakan setelah putusan MK. Menteri Ketenagakerjaan Yassierli berjanji akan merilis Peraturan Menteri (Permen) terkait upah minimum 2025 sebelum Desember 2024.

Secara keseluruhan, Apindo menginginkan adanya kejelasan dan kepastian dalam penetapan upah minimum, dengan melibatkan kedua belah pihak yang langsung terkait, yaitu pekerja dan perusahaan, untuk menciptakan kesepakatan yang lebih adil dan berkelanjutan.


Stimulus Jadi Solusi Sebelum Kenaikan PPN

Hairul Rizal 28 Nov 2024 Kontan (H)
Pemerintah mempertimbangkan penundaan kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 11% menjadi 12%, yang semestinya berlaku pada 1 April 2025, sesuai Undang-Undang. Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengindikasikan bahwa sebelum kenaikan tarif PPN, pemerintah akan menggelontorkan sejumlah stimulus tambahan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Juru Bicara Ketua DEN, Jodi Mahardi, mengungkapkan bahwa bentuk stimulus masih dalam tahap kajian. Anggawira, Sekretaris Jenderal Hipmi, menyarankan subsidi listrik, bantuan langsung tunai (BLT), insentif UMKM, dan pengurangan tarif pajak sektor strategis sebagai bentuk stimulus efektif. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga daya beli untuk mendukung konsumsi masyarakat, yang menjadi motor penggerak ekonomi.

Namun, Awalil Rizky, Ekonom Senior Bright Institute, mengkritik bahwa stimulus hanya berdampak temporer dan tidak menyelesaikan masalah mendasar, yakni pelemahan daya beli masyarakat. Ia menekankan pentingnya menentukan durasi penundaan kenaikan PPN, karena jika hanya beberapa bulan, masalah utama tetap tidak teratasi.

Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, menyebut kebijakan ini berisiko tinggi. Stimulus yang bersifat jangka pendek tidak cukup untuk mengimbangi dampak jangka panjang dari kenaikan PPN. Bhima juga mengingatkan bahwa kelompok masyarakat kelas menengah, yang jumlahnya mencapai 137,5 juta orang, sulit mendapatkan kompensasi secara merata. Selain itu, ia menyoroti potensi kenaikan beban belanja negara jika stimulus terlalu besar, yang justru bertentangan dengan tujuan utama untuk mengurangi defisit fiskal.

Meskipun stimulus dapat memberikan bantuan sementara, kebijakan ini dinilai tidak cukup efektif untuk mendukung daya beli masyarakat dan dapat menambah tekanan pada anggaran negara.

Rasio Pajak Diincar, Ekonomi Baru Jadi Sasaran

Hairul Rizal 28 Nov 2024 Kontan
Presiden Prabowo Subianto menargetkan peningkatan rasio pajak (tax ratio) hingga 23% terhadap PDB untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Saat ini, tax ratio Indonesia berada di 10,12% PDB (2024), yang lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya (10,32% PDB). Target ini menghadapi tantangan besar, terutama mengingat ketidakpastian global dan tekanan fiskal ke depan.

Menurut laporan OECD Economic Surveys Indonesia 2024, pemerintah harus memperluas basis pajak untuk PPN dan pajak penghasilan serta meningkatkan efisiensi belanja guna memenuhi kebutuhan pendanaan di masa mendatang. Raden Agus Suparman dari Botax Consulting Indonesia optimis tax ratio bisa mencapai 23%-24% pada 2028, asalkan pertumbuhan ekonomi mampu menembus 9% per tahun dan industrialisasi serta hilirisasi terus diperkuat. Namun, Prabowo perlu menarik investasi asing secara masif untuk mendukung tujuan ini.

Di sisi lain, Yusuf Rendy Manilet, Ekonom dari Core Indonesia, memperkirakan bahwa dalam lima tahun ke depan, pencapaian target 23% PDB sulit terealisasi. Namun, peningkatan yang lebih realistis berada di kisaran 11%-15% PDB. Ia merekomendasikan langkah-langkah seperti perluasan basis pajak melalui formalisasi sektor informal, percepatan digitalisasi sistem perpajakan, dan optimalisasi penerimaan dari sektor pertambangan serta properti mewah.

Meskipun ambisius, dengan sinergi kebijakan yang tepat, target peningkatan tax ratio menjadi peluang penting untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal jangka panjang.

Menjaring Keuntungan dari Window Dressing

Hairul Rizal 28 Nov 2024 Kontan
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih tertekan pada November 2024 memberi peluang untuk penguatan di Desember melalui fenomena window dressing, yang secara historis memiliki peluang 90% terjadi. William Hartanto, Praktisi Pasar Modal dan Founder WH Project, memprediksi IHSG dapat kembali naik di akhir tahun karena koreksi saat ini dinilai wajar dan bukan karena panic selling.

Menurut Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas, potensi window dressing didukung oleh rebalancing portofolio dari manajer investasi pada indeks mayor seperti IDX30, LQ45, dan MSCI Indonesia. Reza Fahmi Riawan dari Henan Putihrai Asset Management menambahkan bahwa arah kebijakan fiskal dan moneter, baik di Indonesia maupun Amerika Serikat, yang pro-bisnis dapat menjadi pendorong utama, meskipun ada risiko dari ketidakpastian global dan kebijakan ekonomi negara besar.

Namun, Dimas Krisna Ramadhani dari Indo Premier Sekuritas menyebut peluang window dressing tahun ini masih 50:50 karena aliran dana asing yang terus keluar. Saham-saham yang menjadi target window dressing biasanya adalah saham indeks besar seperti LQ45 dan Kompas100, dengan Reza Priyambada dari Reliance Sekuritas menyoroti saham big caps seperti perbankan.

Agung Ramadoni dari Heksa Solution Insurance mengamini potensi saham big caps, seperti BBCA, BMRI, BBNI, TLKM, ISAT, dan EXCL, yang menarik secara valuasi karena tekanan outflow sebelumnya. Audi merekomendasikan pembelian saham BMRI, BBCA, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 7.100, Rp 10.800, dan Rp 3.050 per saham.

Momentum ini menjadikan Desember sebagai bulan potensial bagi investor yang ingin memanfaatkan window dressing pada saham-saham unggulan.

Bekal Ekspansi untuk Emiten Nikel

Hairul Rizal 28 Nov 2024 Kontan
Bisnis tambang dan pengolahan nikel tetap menarik bagi pelaku usaha, didukung oleh prospek positif komoditas ini di masa mendatang. Sejumlah emiten terus melakukan ekspansi, seperti PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK), yang memasuki bisnis perdagangan nikel setelah berganti pengendali menjadi PT Eco Energi Perkasa (EEP), dengan taipan China, Deng Weiming, sebagai penerima manfaat akhir.

Holding BUMN Mind Id melalui Dilo Seno Widagdo, Direktur Portofolio dan Pengembangan Usaha, optimistis terhadap nikel, terutama karena pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Mind Id, melalui PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO), memanfaatkan harga nikel yang diproyeksi bertahan di level US$ 16.000 per ton hingga akhir 2024, yang masih memberikan margin laba yang baik.

Menurut M. Rifki Darrisman, Research Analyst Phintraco Sekuritas, harga nikel akan stabil di US$ 17.500 per ton pada 2025, dengan peluang naik hingga US$ 20.000 per ton. Emil Fajrizki, Research Analyst Stocknow.id, menambahkan bahwa emiten yang fokus pada hilirisasi dan efisiensi produksi memiliki prospek lebih baik dibanding yang hanya menjual nikel mentah.

Analis Kiwoom Sekuritas, Miftahul Khaer, merekomendasikan emiten yang mendiversifikasi produk seperti nikel sulfat untuk menangkap peluang lebih besar, dengan target saham MDKA (Rp 2.160) dan NCKL (Rp 855). Emil menjagokan MDKA, MBMA, dan HRUM, serta merekomendasikan strategi buy on dip untuk saham ANTM (target Rp 1.565). Rifki menjagokan INCO, HRUM, dan ANTM.

Namun, tantangan utama tetap pada fluktuasi harga nikel global yang dapat memengaruhi margin dan keberlanjutan ekspansi emiten. Hilirisasi dan efisiensi menjadi kunci daya saing di industri ini.

Pilihan Editor