Emas Tetap Primadona di Tengah Ketidakpastian
Pendanaan 3 Juta Rumah: Optimalkan Sumber Beragam
Ketatnya Likuiditas Membayangi Ekspansi Bisnis
Kerugian Asuransi Melonjak akibat Bencana Alam
Perusahaan asuransi global diperkirakan akan membayarkan klaim senilai lebih dari US$ 135 miliar atau setara Rp 2,13 kuadriliun sepanjang tahun 2024 akibat bencana alam.
Menurut laporan Swiss Re Institut, bencana alam seperti banjir, badai, dan angin topan diperkirakan akan menyebabkan peningkatan kerugian bagi industri asuransi tahun ini sebesar 17% dari tahun sebelumnya.
Kerugian yang harus ditanggung perusahaan asuransi itu sekitar 43,5% dari total perkiraan kerugian ekonomi global tahun ini yang disebabkan oleh bencana alam, yakni sebesar US$ 310 miliar.
Swiss Re Institute mengatakan, total kerugian ekonomi global itu diprediksi meningkat sebesar 6% dibandingkan tahun lalu karena semakin banyaknya korban perubahan iklim.
Selain karena meningkatnya risiko bencana alam, kenaikan kerugian perusahaan asuransi juga didorong kenaikan inflasi hingga kenaikan biaya pembangunan kembali properti.
Musibah banjir besar di Eropa dan Timur Tengah mengakibatkan nilai kerugian yang diasuransikan di kawasan itu mendekati US$ 13 miliar. Dari jumlah itu, US$ 10 miliar diatribusi ke Eropa.
Dengan meningkatnya risiko bencana alam dan tingkat inflasi, Swiss Re Institute melihat kerugian yang diasuransikan akan terus naik 5%-7% per tahun.
Pemanasan global mengakibatkan cuaca ekstrem lebih sering terjadi. Kondisi itu buntut dari suhu tinggi dan efek dari panas ekstra di atmosfer dan laut.
Prospek Cerah di Sektor Batubara
Meskipun harga batu bara cenderung turun belakangan ini, prospek bisnis batu bara masih positif, terutama dengan proyeksi kenaikan permintaan pada tahun 2025. Sektor batu bara di Indonesia diprediksi akan tetap tumbuh, didorong oleh tingginya permintaan baik domestik maupun ekspor, khususnya di Asia Tenggara. Beberapa emiten batu bara seperti PT Adaro An-dalan Indonesia (AADI), PT Golden Energy Mines (GEMS), PT Bukit Asam (PTBA), dan PT Bumi Resources (BUMI) menunjukkan optimisme terhadap masa depan industri ini. Julius Aslan, Direktur Utama AADI, menyebutkan bahwa prospek batu bara akan tetap menarik pada 2025, meskipun ada transisi menuju energi terbarukan. Selain itu, kebijakan pemerintah yang mendukung sektor batu bara juga menjadi faktor yang memperkuat optimisme ini. Namun, meskipun ada prediksi penurunan harga batu bara pada 2025, banyak analis dan emiten yang masih optimis dengan potensi arus kas yang kuat dan dividend yield menarik dalam beberapa tahun mendatang. Analis MNC Sekuritas memprediksi harga batu bara akan berada di kisaran US$140 per ton pada 2025, sedangkan Ciptadana Sekuritas meyakini bahwa harga yang tinggi dapat menghasilkan arus kas yang kuat bagi emiten.
Peningkatan Peran Investasi dalam Perekonomian
Struktur ekonomi Indonesia bergantung pada empat komponen utama: konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, dan impor. Hingga kuartal III/2024, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi, dengan kontribusi mencapai 53,08%. Namun, tekanan terhadap konsumsi rumah tangga meningkat akibat menurunnya daya beli masyarakat, penurunan kelas menengah, serta perubahan dari sektor formal ke informal. Untuk mengatasi hal ini, sektor investasi menjadi komponen penting yang dapat diandalkan. Kontribusi investasi terhadap PDB sedikit meningkat pada kuartal III/2024, mencapai 29,75%. Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan P. Roeslani, mengungkapkan bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan utama bagi investor asing, dengan potensi investasi yang luas di sektor mineral, perkebunan, perikanan, dan kelautan, yang dapat dimaksimalkan melalui hilirisasi. Namun, tantangan bagi pemerintah adalah mengatasi hambatan yang dapat mengurangi minat investor. Upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk unggulan dan menciptakan lapangan kerja berkualitas bagi generasi muda menjadi kunci untuk meningkatkan perekonomian Indonesia.
Stabilisasi Harga Beras untuk Masyarakat
Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 diprediksi akan berlangsung dengan lebih stabil dari sisi pangan, terutama beras. Harga beras saat ini relatif stabil, dengan harga beras premium dan medium di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) pada berbagai zona. Ketua Umum Perpadi, Sutarto Alimoeso, memprediksi bahwa tidak akan terjadi gejolak harga beras menjelang Nataru, didukung dengan panen di beberapa daerah dan stok beras pemerintah yang cukup. Direktur Supply Chain Perum Bulog, Mokhamad Suyamto, juga memastikan distribusi beras tepat sasaran untuk menjaga kestabilan harga. Selain itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa stok beras mencapai 2 juta ton, yang merupakan yang terbesar dalam lima tahun terakhir, dan Kementan telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung swasembada pangan beras. Program-program optimasi lahan dan perluasan area tanam juga tengah dijalankan untuk memastikan keberlanjutan pasokan beras di masa mendatang.
Mobilitas Nasional Diprediksi Capai 110 Juta Orang
Periode libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 (Nataru), pergerakan masyarakat diproyeksikan mencapai 110,67 juta orang, mengalami peningkatan sebesar 2,8% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kepala Korlantas Polri, Irjen Pol. Aan Suhanan, menyebutkan bahwa pergerakan ini terbagi menjadi perjalanan antar-provinsi sebanyak 55,86 juta orang dan dalam provinsi sebanyak 54,81 juta orang. Daerah dengan pergerakan masyarakat tertinggi adalah Jawa Timur, diikuti oleh Jawa Tengah, Jawa Barat, DIY, dan Sumatra Utara. Mobil menjadi moda transportasi yang paling banyak dipilih, diikuti sepeda motor, bus, kereta api, dan pesawat terbang. Korlantas Polri akan fokus pada pengelolaan arus lalu lintas di titik-titik rawan kemacetan serta memastikan keamanan masyarakat selama perjalanan.









