Mengencangkan Ikat Pinggang di Tengah Pandemi
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia Dody Dalimunthe, mengatakan sebagian besar tertanggung asuransi terkena dampak penyebaran Covid-19, yang mengakibatkan kegiatan usaha dan pendapatannya menurun, menyebabkan kemampuan untuk membayar premi asuransi juga berkurang.
Perpanjangan maksimal waktu pembayaran premi yang diberikan adalah empat bulan, untuk tagihan premi yang jatuh tempo setelah Januari 2020. Industri juga tetap menjalankan bisnis seperti biasa, tak terkecuali pemenuhan kewajiban pembayaran klaim.
Direktur Utama BCA Finance Roni Haslim mengatakan permohonan penundaan pembayaran dari nasabah melonjak. Industri pembiayaan juga melakukan penyesuaian termasuk merevisi target penyaluran pembiayaan secara online.
Industri pinjam-meminjam berbasis teknologi (fintech peer-to-peer lending) berstrategi dengan cara mengoptimalkan kolaborasi dengan platform e-commerce untuk menjaring calon borrower potensial, dikarenakan transaksi bisnis melalui e-commerce melonjak signifikan.
Kepala Bidang Kelembagaan dan Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia, Tumbur Pardede, menuturkan siasat lain yang dilakukan perusahaan fintech lending adalah mengubah target sasaran penerima peminjam, di antaranya sektor yang bergerak di bidang kesehatan, pertanian, maupun perdagangan besar dan eceran.
2020 Belanja Teknologi bakal anjlok
Sejak Maret 2020, International Data Corporation (IDC) International memproyeksikan pandemi corona bakal membuat anjlok belanja korporasi untuk keperluan teknologi informasi (TI) di kawasan Asia Pasifik dari 5,2% menjadi 1,2% pada 2020 dari tahun sebelumnya dan diperkirakan bisa makin tajam sepanjang tahun ini.
Menanggapi proyeksi tersebut, Ketua Bidang Industri 4.0 Masyarakat Telematika (Mastel) Indonesia Teguh Prasetya memperkirakan belanja TI di Tanah Air tahun ini bisa anjlok hingga 0% dengan salah satu faktor utama penurunan tersebut adalah peralihan ke perangkat lunak komputasi awan (Cloud) yang dapat mengurangi anggaran korporasi hingga 80%.
Ketua umum Mastel Indonesia, Kristiono dan Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi menambahkan, meski permintaan dan konsumsi mengalami pertumbuhan sejak imbauan beraktivitas dari rumah namun tidak diiringi kenaikan daya beli akibat terganggunya dunia usaha dan produksi, dimana hal ini akan berdampak kepada kelangsungan bisnis vendor penyedia perangkat TI
Namun disisi lain, Kristiono juga berpendapat wabah COVID-19 justru akan mengakselerasi proses transformasi digital di banyak sektor dan berkontribusi pada penguatan industri TI nasional.
Dampak Pandemi di China Tekanan Ekspor Berlanjut
Ekonom senior Australia & New Zealand Banking Group Betty Wang, dilansir Bloomberg, Senin (13/4) mengatakan Kendati pulih dari wabah COVID-19, kontraksi perdagangan luar negeri China diperkirakan berlanjut dan tidak akan mengejutkan melihat ekspor China turun dua kali lipat pada kuartal kuartal II/2020 meskipun peningkatan pengiriman obat-obatan sedikit mengimbangi kerugian.
Hal senada diuatarakan Larry Hu dari Macquarie Group Ltd yang mengatakan pertumbuhan ekspor dapat turun lebih jauh pada April-Juni yang dapat membuat kinerja tahunan terjungkal 13% akibat langkah-langkah domestik untuk mengekang wabah. Ekonom UBS Ning Zhang juga memperkirakan ekspor menurun 20% antara April dan Juni dengan potensi resesi di AS, Eropa, Jepang, dan beberapa negara berkembang.
Wang menambahkan, permintaan global tertekan oleh langkah-langkah pencegahan penyebaran virus corona di berbagai negara utamanya pasar ekspor Utama China termasuk Uni Eropa dan AS yang diperkirakan akan merosot sedikitnya 10% pada Maret 2020.
Ironisnya, tepat ketika pasar luar negeri mereka tutup, menurut Kementerian Perdagangan China, mayoritas eksportir telah kembali ke kapasitas produksi 70% namun sayangnya pabrik-pabrik menghadapi banyak pembatalan pesanan.
Sementara itu, Dirjen WTO Roberto Azevedo dalam ke-terangan resmi pekan lalu. menyatakan 2020 bisa menjadi pukulan terbesar bagi perdagangan internasional sejak Depresi Besar atau the Great Depression pada 1930-an melebihi kemerosotan perdagangan yang terjadi saat krisis ?nansial global 2008-2009 dan melihat ekspektasi pemu-lihan pada 2021 sesungguhnya tidak pasti dengan hasil bergantung pada durasi wabah dan efektivitas respons kebijakan.
Di sisi lain, ia mengatakan jika negara-negara bekerja sama, pemulihan akan jauh lebih cepat ketimbang masing-masing negara bertindak sendiri, perdagangan akan menjadi unsur penting, bersama dengan kebijakan fiskal dan moneter.
Vonis Darwin Lebih Ringan
Komisaris PT Wahana Auto Ekamarga , Darwin Maspolim, dijatuhi hukuman 3 tahun penjara atas kasus suap terhadap pejabat dan pegawai di lingkungan kantor pajak setelah terbukti memberi suap sejumlah US$131.200 atau sekitar Rp1,8 miliar kepada pejabat dan pegawai pajak, yakni Yul Dirga selaku Kepala Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Tiga Jakarta serta Hadi Sutrisno, Jumari, dan Muhammad Naim Fahmi, masing-masing selaku Pemeriksa Pajak KPP PMA Tiga Jakarta.
Hukuman ini lebih rendah dari tuntutan Jaksa yakni 4 tahun pidana penjara dan denda Rp250 juta subsider 6 bulan kurungan.Ada sejumlah pertimbangan hakim dalam memutus per-kara ini.
Ketua Majelis Hakim Rianto Adam Pontoh saat membacakan putusan Darwin, Senin (13/4) menyatakan Terdakwa terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut sebagaimana Dakwaan Pertama, hakim menyatakan perbuatan Darwin tidak mendukung program pemerintah dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dari kolusi, korupsi, dan nepotisme. Namun Hakim menilai Darwin belum pernah dihukum dan bersikap sopan di persidangan.
KoinWorks Raih Pendanaan
Penyedia layanan fintech peer to peer (P2P) lending PT Lunaria Anua Teknologi atau KoinWorks meraih dana sebesar US$ 20 juta dalam bentuk ekuitas dan pendanaan pinjaman.
Melalui keterangan tertulis yang diterima Investor Daily, Senin (13/4) Executive Chairman and Co-Founder KoinWorks Willy Arifin menyebutkan dana tersebut akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan dan memfasilitasi penyaluran pembiayaan untuk mendukung UKM digital selama Covid-19 mewabah.
Masih berdasarkan keterangan Willy, dari sisi ekuitas, KoinWorks telah mengumumkan penerimaan pendanaannya dari investor seperti Quona Capital, EV Growth, dan Saison Capital, bersama dengan investor lainnya salah satunya perbankan global asal Belanda, yaitu Triodos Bank.
CEO and Co-Founder KoinWorks Benedicto Haryono menambahkan , investasi dari Tridos menunjukan kepercayaan diri atas kemampuan perseroan ketika kondisi perekonomian tengah bergejolak.
OVO Mitra Resmi Uang Eletronik Pekerja
Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra mengatakan, OVO terus berupaya sekuat tenaga untuk membantu pemerintah dalam mengatasi dampak pandemi Covid-19. OVO akan berperan untuk mendistribusikan dana bantuan pemerintah guna meningkatkan keterampilan dan daya saing tenaga kerja muda Indonesia setelah sebelumnya menjadi mitra resmi uang elektronik, bersama dengan bank badan usaha milik negara BNI, untuk Program Kartu Prakerja yang diluncur-kan pemerintah.
Sebelumnya, OVO telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman pada 20 Maret 2020 dengan Direktur Eksekutif Manajemen Pelaksana Kartu Prakerja Denni Puspa Purbasari, turut hadir pada acara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Kepala Staf Presiden Moeldoko. Nota kesepahaman ditandatangani bersamaan dengan peluncuran situs resmi Kartu Prakerja, yakni prakerja.go.id.
Karaniya menjelaskan, sebagai mitra resmi pembayaran digital program Kartu Prakerja, OVO mendapatkan amanat untuk menyalurkan dana insentif senilai Rp 600.000 setiap bulan. Dana akan ditransfer dalam beberapa tahap selama empat bulan ke akun uang elektronik para peserta yang telah menyelesaikan pelatihan dalam program tersebut. Peserta akan memperoleh bantuan pelatihan senilai Rp 1 Juta untuk digunakan di platform digital mitra.Pekerja Terdampak Covid-19 Bertambah
Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan Bambang Satrio Lelono, Senin (13/4) mengatakan berdasarkan data yang dihimpun asosiasi dunia usaha, industri dan dinas ketenagakerjaan menunjukkan pekerja formal yang terkena PHK jumlahnya 212.394 dan yang dirumahkan, jumlahnya 1.205.191. Jadi totalnya lebih dari 1,4 juta. Sedangkan pekerja informal yang terdampak Covid-19 sudah mencapai sekitar 282.000. Ia menambahkan, dari BPJS Ketenagkerjaan menunjukkan jumlah pekerja formal yang dirumahkan ada sekitar 454.000, sedangkan yang di-PHK ada sekitar 537.000. Sehingga total mencapai 2,8 juta
Satrio melanjutkan, data dari Kemenaker dan BPJS Ketenagakerjaan akan dikirimkan ke project management office (PMO) program kartu prakerja. Sehingga tenaga kerja yang di-PHK bisa segera menjadi peserta program kartu prakerja. Data yang dikirimkan juga akan diverifikasi dengan data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) dan Kementerian Sosial, sehingga lebih tepat sasaran, karena yang sudah mendapat kartu prakerja ini tidak akan mendapat bansos jenis lainnya. Diharapkan bansos bisa tersebar secara merata untuk orang-orang yang terkena dampak Covid-19Seperlima Industri Kecil-Menengah Kolaps
Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil-Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, sekitar 20 persen industri kecil dan menengah (IKM) harus tutup akibat dari dampak wabah Covid-19. IKM juga mengalami penurunan permintaan hingga 70 persen.
Kementerian Perindustrian, kata Gati, telah mengatur ulang alokasi anggaran untuk membantu IKM dan membangun pusat bahan baku yang akan dijalankan secara digital. Pemerintah juga akan merevitalisasi sentra industri dengan memperbarui alat produksi pelaku usaha, agar meningkatkan kapasitas produksi dan jenis produk yang dihasilkan.
Ketua Bidang IKM Asosiasi Pengusaha Indonesia, Nina Tursina, mengatakan pelaku usaha sangat menantikan stimulus pembiayaan dari pemerintah.
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunadi dan Direktur Bisnis Ritel dan Jaringan BNI Syariah, Iwan Abdi, menyatakan akan membantu nasabah UMKM dengan menawarkan keringanan pembayaran angsuran serta perpanjangan jangka waktu pinjaman, termasuk penyesuaian bunga dengan syarat tempat usahanya terkena dampak penyebaran Covid-19.
Erick Usul Jatah Dividen
Di tengah momen 22 tahun Kementerian BUMN, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengusulkan jatah satu persen dari setoran dividen BUMN diberikan kepada Kementerian BUMN agar Kementerian BUMN tidak hanya sekadar mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan memberikan suntikan motivasi serta apresiasi bagi para pekerja yang telah memberikan hasil terbaik. Ia menuturkan, apa yang Kementerian BUMN pelajari tujuh bulan ini dengan pakar independen mengeluarkan kenyataannya yang cukup menyedihkan dimana 68 persen BUMN di anjurkan berkonsolidasi, hanya 10 persen yang siap berdiri tegak, yang lainnya tidak siap.
Di sisi lain, Erick menambahkan, Kementerian BUMN mempelajari sesuatu yang baru dalam meningkatan kinerja perusahaan pelat merah di tengah pandemi Covid-19, kejadian ini mengajarkan agar tidak bergantung pada bangsa lain, sebagai contoh rantai pasokan yang terganggu. BUMN perlu mengubah cara pandang dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, tidak terjebak pada layanan birokrasi sehingga mengabaikan aksi korporasi. Perlu adanya keseimbangan dari sisi bisnis perusahaan dan layanan publik.
Pengamat BUMN sekaligus Direktur utama Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LM FEB UI), Toto Pranoto, mengapresiasi keinginan Kementerian BUMN mekanisme peningkatan kinerja pegawai seraya mengingatkan diperlukan penyesuaian secara regulasi. Ia mengambil contoh di Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sudah masuk kategori sangat memadai.
Kementerian BUMN memprediksi dividen perusahaan pelat merah pada 2020 tidak akan tercapai, bahkan pada 2021 hanya tercapai 50 persen. Menanggapi hal ini, Direktur Utama Kraka tau Steel Silmy Karim pada keterangannya beberapa waktu lalu menjelaskan, perencanaan terhadap langkah-langkah pascakorona sangat penting karena harus mengembalikan putaran roda ekonomi, saat ini perusahaan memprioritaskan keselamatan pekerja atau karyawannya dari penyebaran virus korona.
Perusahaan Migas Revisi Rencana Kerja
Saat dihubungi Republika, Senin (13/4) PT Pertamina EP (PEP) melalui Direktur Utama-nya Nanang Abdul Manaf menjelaskan sedang menyiapkan skenario untuk menyesuaikan target dan rencana mitigasi risiko di tengah situasi yang dinamis akibat pandemi Covid-19 dan anjloknya harga minyak dunia.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) sebagai Induk usaha PEP, Fajriyah Usman juga mengatakan, Pertamina tengah meninjau kembali target keuangan dan rencana kerja untuk menjalankan pekerjaan yang paling prioritas
Hal senada disampaikan
Vice President Planning and Investor Relations Medco Energi Myrta Sri Utami, di
tengah tren harga minyak yang masih rendah, Medco Energi melakukan revisi
target operasional produksi dan belanja modal. Ia menjelaskan, revisi kerja
pada 2020 membuat perusahaan mengurangi produksi yang semula ditargetkan
sebesar 110 juta barel setara minyak per hari (boepd) menjadi 100 hingga 105
juta boepd. Sedangkan, belanja modal perusahaan berubah menjadi 240 juta dolar
AS dari semula 340 juta dolar AS.
Sementara organisasi negara eksportir minyak dunia OPEC bersama Rusia
bersepakat mengurangi produksi hingga April 2022. Hal ini dilakukan demi
mengangkat harga yang terus tertekan akibat pandemi virus korona sebagaimana dikutip
dari Reuters. Pada perdagangan Senin (13/4), harga minyak dunia melonjak 1 dolar
AS per barel menyusul kesepakatan OPEC tersebut.
Sementara itu, negara nonanggota OPEC, seperti Indonesia, Brasil, Kanada, Norwegia, dan AS akan berkontribusi terhadap pemotongan produksi sebesar 4 juta-5 juta barel per hari.









