;

Investor Saham Lebih Memedulikan Pelonggaran Terkait Covid

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Investor Daily, 3 Juni 2020

Pasar saham global menguat karena para investor lebih memedulikan pelonggaran-pelonggaran dari aturan karantina di berbagai negara. Walaupun mereka tetap mencermati ketegangan antara Tiongkok-Amerika Serikat (AS). Serta aksi protes anti-rasisme disertai kekerasan yang mencengkeram sejumlah kota terbesar di AS akibat tewasnya pria kulit hitam oleh polisi di Minneapolis.

Di Eropa, indeks saham Jerman, Paris dan London menunjukkan keuntungan yang layak karena masih ada optimisme sehubungan dengan pembukaan kembali ekonomi. Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk melonggarkan pembatasan karantina mereka, jadi ada perasaan yang berkembang bahwa semuanya perlahan-lahan kembali normal. Hal ini sebagaimana disampaikan David Madden, analis dari CMC Markets UK. Senada, Bursa saham di Tokyo, Seoul,Shanghai, Mumbai Taipei, Kuala Lumpur, Manila dan Wellington juga menguat, bahkan Jakarta menguat lebih dari 2% sedangkan Singapura dilaporkan naik lebih dari 2% ketika pihak berwenang mulai mengurangi langkah-langkah lockdown. 

Jeffrey Halley dari OANDA mengatakan, para investor tampaknya menepis berita bahwa Tiongkok telah memerintahkan perusahaan-perusahaan pertanian pelat merah untuk sementara waktu menghentikan pembelian beberapa barang pertanian AS – yang dipastikan bakal menimbulkan pertanyaan tentang dampak pada pakta perdagangan negara yang ditandatangani pada Januari.

Pinjaman Fintech Masih Mengalir Deras

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kontan, 3 Juni 2020

Bisnis pinjam meminjam melalui platform financial technology (fintech) masih deras di tengah pandemi korona. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2020 mencatatkan akumulasi penyaluran pinjaman mencapai Rp 106,06 triliun atau tumbuh 186,54% year on year (yoy) dari April 2019 dengan jumlah outstanding pinjaman hingga April 2020 mencapai Rp 13,75 triliun yang disalurkan lewat 161 fintech.

Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah menambahkan selama masa wabah Covid-19 ini secara umum penurunan terjadi pada sebagian besar platform penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending. Tapi ada beberapa sektor yang terjadi peningkatan penyaluran pembiayaan diantaranya distribusi healthcare, terutama pada UMKM farmasi, obat-obatan dan alat pendukung kesehatan. Begitu juga sektor terkait distribusi pangan, produk agrikultur, makanan kemasan. Di masa wabah Covid-19 ini, ada kabar gembira dari beberapa platform yang tetap mencatatkan pertumbuhan pencairan. Dengan kekuatan inovasi produk dan adaptasi dari artificial intelligent (credit scoring) dalam pengelolaan risiko, mereka masih mencatatkan pertumbuhan spektakuler hingga lebih dari 100%.

Di tengah derasnya pinjaman, fintech juga banyak menerima permintaan restrukturisasi dari para peminjam. Jumlah restrukturisasi yang disetujui Rp 236,99 miliar. Jumlah pinjaman yang sudah direstrukturisasi tersebut berasal dari 674.068 transaksi pinjaman. Berbeda dengan industri keuangan lain, seperti bank dan multifinance, persetujuan restrukturisasi datang dari pemberi pinjaman.

Inilah Konsekuensi Akibat Batal Berangakat Haji

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kontan, 3 Juni 2020

Indonesia memutuskan tak memberangkatkan jamaah haji ke Tanah Suci tahun 2020 karena pandemi korona (Covid-19) belum berakhir. Apalagi Pemerintah Kerajaan Arab Saudi juga belum memberi kepastian atas pelaksanaan ibadah haji 2020. Menteri Agama Fachrul Razi, menegaskan, pembatalan pemberangkatan ibadah haji berlaku baik reguler maupun visa khusus.

Kementerian Agama menyatakan bahwa jemaah yang sudah masuk daftar berangkat tahun ini akan diberangkatkan tahun depan. Tapi pemerintah tak bisa memastikan apakah Arab Saudi tetap memberi kuota 221.000 orang seperti tahun ini atau menguranginya demi menerapkan protokol kesehatan. Menteri Agama menambahkan, calon jemaah tahun ini tak perlu mengambil dana ongkos haji. Dia pun menyatakan, pemerintah menjamin biaya haji tahun 2021 bagi calon jamaah yang batal berangkat tahun ini tetap sama, yakni Rp 35,2 juta per orang akan disimpan dan dikelola oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).

Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU), Nizar mengatakan, jika biaya haji naik maka BPKH akan menutup kekurangan pembayaran haji tahun depan sehingga jamaah tidak dikenakan biaya biaya tak naik sebaliknya, jika biaya ibadah haji turun, selisih dari total manfaat akan dikembalikan kepada jamaah. Adapun jamaah haji yang menarik diri dari ibadah haji tahun depan bisa menarik kembali uang haji mereka. Aturan ini juga berlaku bagi petugas haji daerah serta pembimbing dari kelompok jamaah haji. BPKH menyatakan dana akan disimpan di bank lokal atau diinvestasikan.

Keputusan pemerintah tidak memberangkatkan ibadah haji ini pun menuai pro dan kontra. Kalangan yang pro kebijakan ini menilai langkah ini positif sebagai upaya melindungi calon jamaah haji dari pandemi Covid-19. Namun kebijakan ini membuat daftar antrean calon jamaah haji Indonesia makin panjang. Berdasarkan catatan BPKH, pendaftar jamaah haji bertambah 710.000 orang pada tahun 2019. Padahal akhir tahun 2018, total pendaftar calon jamaah haji Indonesia mencapai 4,13 juta. Artinya kini lebih dari 4,8 juta warga Indonesia yang antre berangkat haji.

Di sisi lain, Indonesia hanya memiliki kuota haji sebanyak 221.000 orang per tahun. Alhasil, calon jamaah haji yang mendaftar saat ini baru bisa berangkat tahun 2042. Ketua Komnas Haji dan Umrah Mustolih Siradj menilai tepat keputusan pemerintah. Penyelenggaraan haji merupakan kegiatan kolosal yang melibatkan ratusan ribu orang dan nilai bisnisnya mencapai Rp 14 triliun. Oleh karena itu, pengelolaan dan persiapannya harus matang dan perlu waktu

Bisnis Belum Normal di Era New Normal

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kontan, 3 Juni 2020

Indonesia bersiap memasuki era kenormalan baru. Meski begitu, para pebisnis tidak yakin bisnis bakal langsung kembali normal.Sejumlah perusahaan kakap di bursa tetap merasa perlu merevisi target bisnis tahun ini. Beberapa emiten yang memiliki kapitalisasi pasar besar di bursa memutuskan memotong capital expenditure (capex) tahun ini.

Antonius Marcos, Sekretaris Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), mengatakan, paruh pertama tahun ini menjadi momen yang sangat berat. Pasalnya, selain pandemi, volume penjualan produsen semen ini juga terganggu peristiwa banjir besar yang terjadi hingga empat kali. Hal ini mengakibatkan manajemen INTP merevisi target penjualan menjadi turun 5%-7% dan memangkas capex menjadi Rp 1,1 triliun.

Sedangkan Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR) Sara K. Loebis menyambut positif kebijakan new normal namun pihaknya baru akan mengumumkan hasil revisi Capex dan kinerja setelah penyelenggaraan rapat umum pemegang saham (RUPS).

Direktur Hubungan Investor PT Indo TambangrayaMegah Tbk (ITMG) Yulius Gozali mengatakan, emiten ini tetap mempertahankanstrategi di tengah ketidakpastian pasar batubara. ITMG mematok target produksi tahun ini 22 juta ton. Pihaknya juga menerapkan pengeluaran biaya secara disiplin serta melakukan pemotongan biaya dari setiap departemen.

Head of Corporate Communications PT Astra International Tbk (ASII) Boy Kelana Soebroto juga sempat mengatakan beberapa waktu lalu, emiten ini merevisi capex tahun ini dari semula Rp 20-Rp25 triliun menjadi Rp 10-Rp11 triliun. ASII juga mengevaluasi seluruh lini bisnis.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama menilai, revisi target kinerja dan capex yang dilakukan emiten masuk akal. Sebab, faktor permintaan pada semester pertama tahun ini memang masih berada di luar ekspektasi. Meski begitu, analis menilai saham sejumlah emiten LQ45 masih menarik dikoleksi. Apalagi, harga saham emiten-emiten paling likuid tersebut sempat tertekan cukup dalam. Saat ini, harga saham emiten mulai bergerak naik. Analis merekomendasikan saham perbankan dan saham barang konsumsi.

Ekspor Perikanan Meningkat

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kompas, 3 Juni 2020

Ekspor perikanan meningkat di tengah pandemi Covid-19. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, volume ekspor perikanan RI pada Januari-April 2020 sebanyak414.700 ton atau meningkat 15,79 persen secaratahunan dengan nilai 1,68 miliar dollar AS ataunaik 10,29 persen secara tahunan. Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, kenaikan nilai ekspor disumbang komoditas ikan dan udang. Restoran tutup, warung tutup, tetapi mulut manusia tidak akan tutup. Hanya pola peredaran berubah ke industri ritel.Inilah peluang yang perlu dimanfaatkan pelakuindustri,” katanya dalam seminar virtual ”Strategi Sektor Kelautan dan Perikanan Menjadi Motor Penggerak Perekonomian Nasionaldi Tengah Pandemi Covid-19”

Tekfin - Pemberi Pinjaman Mesti Setuju

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kompas, 3 Juni 2020

Industri teknologi finansial di bidang pinjam-meminjam uang antarpihak juga merestrukturisasi pinjaman bagi peminjam yang terkena dampak Covid-19. Penyelenggara tekfin juga berkomitmen melindungi pemberi pinjaman dari risiko pengembalian pinjaman yang macet di tengah pandemi.

Hasil survei  Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) menunjukkan, 88 platform pinjam-meminjam uang antar pihak berbasis teknologi atau peer to peer lending menerima permohonan restrukturisasi dari peminjam. Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI Tumbur Pardede mengatakan Pinjaman yang difasilitasi dan disetujui pemberi pinjaman senilai Rp 237 miliar dari 674.068 transaksi dari keseluruhan 1,9 juta transaksi restrukturisasi dengan nilai Rp 1,08 triliun atau hanya sekitar 34%.

Dalam restrukturisasi pinjaman, lanjut Tumbur, penyelenggara tekfin tetap perlu mempertimbangkan dan melindungi risiko pemberi pinjaman. Oleh karena itu, penyelenggara tekfin tidak berwenang merestrukturisasi pinjaman tanpa persetujuan pemberi pinjaman namun tetap memfasilitasi pengajuan.

Ketua Harian AFPI Kuseryansyah mengakui belum ada aturan baku mengenai pinjaman yang direstrukturisasi. Namun, setelah mendapatkan keringanan, pinjaman akan dijadikan kategori lancar. Peminjam yang terkena dampak pandemi Covid-19 kebanyakan dari sektor pariwisata, perhotelan, dan ritel fisik. Adapun restrukturisasi kredit dapat berupa perpanjangan tenor, mengubah jumlah pokok pinjaman, dan mengubah nilai bunga pinjaman.

Kuseryansyah mengakui penyaluran pembiayaan melalui tekfin turun selama pandemi Covid-19. Namun, AFPI melihat masih ada beberapa sektor yang penyaluran pembiayaannya meningkat, di antaranya alat kesehatan, obat-obatan, alat pendukung kesehatan, distribusi pangan, produk agrikultur, dan makanan kemasan.

China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kompas, 3 Juni 2020

Pemerintah China melalui Duta Besar China untuk Republik Indonesia (RI) Xiao Quan menegaskan komitmennya untuk membantu Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19. Indonesia menjadi satu dari 150 negara di dunia yang akan terus menjadi bagian komitmen Beijing dalam menanggulangi Covid-19, termasuk dampak ekonomi dan sosial yang dipicu pandemi. Selain tentang Covid-19, Xiao juga mengangkat sejumlah topik lain, seperti 70 tahun hubungan diplomatik China-Indonesia, kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara, serta keberadaan tenaga kerja China di Indonesia. Xiao menjabarkan sejumlah bidang kerja sama sekaligus penguatan komitmen pemberian bantuan China-Indonesia selama pandemi Covid-19.

Facebook dan Paypal Investasi di Gojek

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Investor Daily, 4 Juni 2020

Gojek mengumumkan bahwa Facebook dan PayPal menjadi investor baru dalam penggalangan dana terkini tanpa menyebutkan besaran investasinya. Sementara itu, pada saat yang sama, Google dan Tencent menambah investasi setelah menanamkan uangnya pada penggalangan dana putaran sebelumnya. Gojek merupakan perusahaan Indonesia pertama yang menerima investasi dari Facebook, seiring dengan keinginan Facebook menciptakan peluang bagi dunia bisnis di Indonesia, termasuk melalui layanan instant messaging yang sudah digunakan secara luas, yakni Whatsapp.

Co-CEO Gojek Andre Soelistyo mengatakan, bergabungnya Facebook, PayPal, Google, dan Tencent merupakan pengakuan bahwa perusahaan teknologi paling inovatif di dunia melihat dampak positif Gojek terhadap Indonesia dan Asia Tenggara. Sumber daya perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di dunia itu akan disinergikan dengan teknologi, pendekatan, dan fokus lokal yang dimiliki Gojek. Tujuannya guna mendorong adopsi sistem pembayaran digital secara cepat, sehingga mendatangkan manfaat bagi jutaan usaha dan orang di Indonesia dan Asia Tenggara.

Layanan pembayaran digital dari Gojek, yaitu Gopay, sejak lama fokus untuk meningkatkan akses ekonomi digital bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bergabungnya perusahaan-perusahaan teknologi global itu bersama Gojek diharapkan akan membantu percepatan misi tersebut, di tengah mayoritas UMKM di Asia Tenggara masih mengandalkan uang tunai dalam bertransaksi. Karena, sebagian besar masyarakat di wilayah ini belum terjangkau layanan perbankan. Hal ini juga turut di tuturkan Chief Operating Officer Whatsapp Matt Idema, ia berpendapat kerja sama ini bisa membantu jutaan UMKM dan pelanggannya untuk bergabung di komunitas ekonomi digital terbesar Asia Tenggara.

Gojek dan PayPal menyepakati bahwa layanan pembayaran PayPal akan diintegrasikan ke Gojek. Kedua perusahaan ini akan berkolaborasi dan membuka akses bagi para pengguna Gopay ke jaringan PayPal yang terdiri atas 25 juta merchant di seluruh dunia. Head of Corporate Development and Ventures for APAC PayPal, Farhad Maleki menyampaikan semangat dari pihaknya mengenai hubungan strategis dengan Gojek untuk memperluas akses dan memberikan pengalaman baru bagi para pengguna.

Sejak diluncurkan tahun 2015, Gojek telah berhasil membantu ratusan ribu merchant untuk mendigitalisasi dan memberikan akses kepada lebih dari 170 juta pengguna Gojek di seluruh Asia Tenggara. Sebagian besar dari pencapaian itu dikontribusi dari Gofood dan perluasan cakupan layanan Gopay pada sektor lain di dalam maupun di luar ekosistem Gojek.

Dapatkah Indonesia Bersaing Merebut Investasi Besar?

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Investor Daily, 4 Juni 2020

Menurut mantan menteri perdagangan dan pengusaha nasional Gita Wirjawan, kemampuan Indonesia memperbaiki sistem dan kualitas pendidikannya sangat berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas yang masih rendah. Meski kini menghadapi pandemi Covid-19, Ia berpendapat Indonesia harus menambah alokasi dana yang cukup signifikan bagi pendidikan yang tepat serta jumlah yang signifikan untuk pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas.

Gita mengatakan, produktivitas sebuah negara merupakan faktor yang sangat penting dalam 'posisi' daya saing negara tersebut di regional dan global. Produktivitas merupakan ukuran yang biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk menentukan tempat pembangunan pabrik berikutnya.

Marginal productivity sebuah negara, lanjut dia, merupakan kemampuan untuk memproduksi secara kompetitif barang dan jasa, baik untuk ekspor maupun kebutuhan domestik. Populasi dan ekonomi Indonesia, yang kira-kira di kisaran 45–49% dari seluruh negara di kawasan Asean, akan diuntungkan apabila memiliki marginal productivity yang lebih tinggi, baik secara domestik maupun internasional.

Di Asean, marginal productivity PPP per orang terbesar diraih Singapura, menembus US$ 150.132. Berikutnya adalah Brunei sebesar US$ 143.258, Malaysia US$ 57.442, Thailand US$ 30.202, dan baru Indonesia US$ 23.541. Walaupun telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, lanjut Gita, Indonesia masih tertinggal daya saingnya akibat beberapa faktor, mulai dari kondisi tenaga kerja hingga teknologi digital yang masih tertinggal.

“Untuk meningkatkan daya saing itu, Indonesia antara lain harus melaku kan penambahan alokasi dana yang cukup signifikan untuk pendidikan. Selain itu, pandemi Covid-19 telah mengajarkan kepada kita bahwa umat manusia sedang bertransisi ke mode hidup yang sama sekali berbeda, di mana kontak fisik dan berkumpul akan lebih dibatasi, dan akan lebih bersifat digital atau virtual di waktu mendatang. Oleh karena itu, Indonesia harus dapat membangun narasi pendidikannya dengan menggunakan bidang ilmu yang lebih luas, dengan penekanan ke pada STEM (Science, Techno logy, Engineering, and Mathematics), kemampuan-kemampuan vokasi, riset dan pengembangan, kemampuan untuk berkomunikasi dengan masyarakat global, dan akuntabilitas/keterukuran pengeluaran untuk pendidikan oleh pemerintah pusat dan daerah,” tandas dia.

Australia Menuju Resesi

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Investor Daily, 4 Juni 2020

Australia telah mencatat sekitar 7.200 kasus dan 102 kematian akibat Covid-19. Banyak daerah sekarang secara rutin melaporkan nol kasus harian baru. Saat ini, Australia juga dihadapi dengan resesi pertamanya dalam hampir tiga dekade setelah ekonominya kontraksi pada periode Januari-Maret 2020. Proyeksi yang jauh lebih parah diperkirakan dalam tiga bulan ke depan sebagai efek dari karantina terkait wabah virus corona Covid-19. Kontraksi sebesar 0,3% adalah penurunan kuartalan pertama sejak 2009, pada saat terjadi krisis keuangan global. Karantina terkait wabah tersebut memperburuk dampak dari kekeringan berkepanjangan dan kebakaran hutan besar. Walau hasil tersebut lebih kecil dari perkiraan penurunan hingga 0,4%, namun Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg mengatakan, ekonomi negara menuju resesi pertamanya sejak 1991.

Pihak berwenang memerintahkan banyak bisnis tutup dan menutup perbatasan internasional negara untuk membendung penyebaran Covid-19. Dikatakan, kondisi ini akan menelan biaya ekonomi hingga miliaran dolar tetapi mencapai keberhasilan dalam mengendalikan virus. Frydenberg mengatakan, angka negatif kuartal Maret sangat baik dibandingkan dengan hasil di negara-negara lain termasuk Tiongkok, Prancis, Taiwan, dan Inggris.

Adapun pemerintah telah secara efektif membiayai sebagian besar bantuan perekonomian. termasuk memberi subsidi upah dan mendesak penangguhan sewa untuk menjaga bisnis tetap mendukung kehidupan sampai kehidupan normal kembali. Jutaan warga Australia telah kehilangan pekerjaan atau merasakan pengurangan jam kerja. Tetapi para pejabat berharap pendekatan tiga tahap untuk mengangkat pembatasan virus akan membantu memulihkan ekonomi.

Perwakilan dari National Australia Bank Kaixin Owyong mengungkapkan, kemungkinan penyusutan ekonomi akan mencapai 8,4% dalam tiga bulan ke depan. Namun dia menambahkan, pencabutan pembatasan yang lebih awal dari yang diharapkan menunjuk pada pemulihan ekonomi yang dimulai pada kuartal III-2008.

Pilihan Editor