;

Ekspor Perikanan Meningkat

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kompas, 3 Juni 2020

Ekspor perikanan meningkat di tengah pandemi Covid-19. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, volume ekspor perikanan RI pada Januari-April 2020 sebanyak414.700 ton atau meningkat 15,79 persen secaratahunan dengan nilai 1,68 miliar dollar AS ataunaik 10,29 persen secara tahunan. Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengatakan, kenaikan nilai ekspor disumbang komoditas ikan dan udang. Restoran tutup, warung tutup, tetapi mulut manusia tidak akan tutup. Hanya pola peredaran berubah ke industri ritel.Inilah peluang yang perlu dimanfaatkan pelakuindustri,” katanya dalam seminar virtual ”Strategi Sektor Kelautan dan Perikanan Menjadi Motor Penggerak Perekonomian Nasionaldi Tengah Pandemi Covid-19”

Tekfin - Pemberi Pinjaman Mesti Setuju

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kompas, 3 Juni 2020

Industri teknologi finansial di bidang pinjam-meminjam uang antarpihak juga merestrukturisasi pinjaman bagi peminjam yang terkena dampak Covid-19. Penyelenggara tekfin juga berkomitmen melindungi pemberi pinjaman dari risiko pengembalian pinjaman yang macet di tengah pandemi.

Hasil survei  Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) menunjukkan, 88 platform pinjam-meminjam uang antar pihak berbasis teknologi atau peer to peer lending menerima permohonan restrukturisasi dari peminjam. Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI Tumbur Pardede mengatakan Pinjaman yang difasilitasi dan disetujui pemberi pinjaman senilai Rp 237 miliar dari 674.068 transaksi dari keseluruhan 1,9 juta transaksi restrukturisasi dengan nilai Rp 1,08 triliun atau hanya sekitar 34%.

Dalam restrukturisasi pinjaman, lanjut Tumbur, penyelenggara tekfin tetap perlu mempertimbangkan dan melindungi risiko pemberi pinjaman. Oleh karena itu, penyelenggara tekfin tidak berwenang merestrukturisasi pinjaman tanpa persetujuan pemberi pinjaman namun tetap memfasilitasi pengajuan.

Ketua Harian AFPI Kuseryansyah mengakui belum ada aturan baku mengenai pinjaman yang direstrukturisasi. Namun, setelah mendapatkan keringanan, pinjaman akan dijadikan kategori lancar. Peminjam yang terkena dampak pandemi Covid-19 kebanyakan dari sektor pariwisata, perhotelan, dan ritel fisik. Adapun restrukturisasi kredit dapat berupa perpanjangan tenor, mengubah jumlah pokok pinjaman, dan mengubah nilai bunga pinjaman.

Kuseryansyah mengakui penyaluran pembiayaan melalui tekfin turun selama pandemi Covid-19. Namun, AFPI melihat masih ada beberapa sektor yang penyaluran pembiayaannya meningkat, di antaranya alat kesehatan, obat-obatan, alat pendukung kesehatan, distribusi pangan, produk agrikultur, dan makanan kemasan.

China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kompas, 3 Juni 2020

Pemerintah China melalui Duta Besar China untuk Republik Indonesia (RI) Xiao Quan menegaskan komitmennya untuk membantu Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19. Indonesia menjadi satu dari 150 negara di dunia yang akan terus menjadi bagian komitmen Beijing dalam menanggulangi Covid-19, termasuk dampak ekonomi dan sosial yang dipicu pandemi. Selain tentang Covid-19, Xiao juga mengangkat sejumlah topik lain, seperti 70 tahun hubungan diplomatik China-Indonesia, kerja sama ekonomi dan perdagangan kedua negara, serta keberadaan tenaga kerja China di Indonesia. Xiao menjabarkan sejumlah bidang kerja sama sekaligus penguatan komitmen pemberian bantuan China-Indonesia selama pandemi Covid-19.

Facebook dan Paypal Investasi di Gojek

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Investor Daily, 4 Juni 2020

Gojek mengumumkan bahwa Facebook dan PayPal menjadi investor baru dalam penggalangan dana terkini tanpa menyebutkan besaran investasinya. Sementara itu, pada saat yang sama, Google dan Tencent menambah investasi setelah menanamkan uangnya pada penggalangan dana putaran sebelumnya. Gojek merupakan perusahaan Indonesia pertama yang menerima investasi dari Facebook, seiring dengan keinginan Facebook menciptakan peluang bagi dunia bisnis di Indonesia, termasuk melalui layanan instant messaging yang sudah digunakan secara luas, yakni Whatsapp.

Co-CEO Gojek Andre Soelistyo mengatakan, bergabungnya Facebook, PayPal, Google, dan Tencent merupakan pengakuan bahwa perusahaan teknologi paling inovatif di dunia melihat dampak positif Gojek terhadap Indonesia dan Asia Tenggara. Sumber daya perusahaan-perusahaan teknologi terbesar di dunia itu akan disinergikan dengan teknologi, pendekatan, dan fokus lokal yang dimiliki Gojek. Tujuannya guna mendorong adopsi sistem pembayaran digital secara cepat, sehingga mendatangkan manfaat bagi jutaan usaha dan orang di Indonesia dan Asia Tenggara.

Layanan pembayaran digital dari Gojek, yaitu Gopay, sejak lama fokus untuk meningkatkan akses ekonomi digital bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bergabungnya perusahaan-perusahaan teknologi global itu bersama Gojek diharapkan akan membantu percepatan misi tersebut, di tengah mayoritas UMKM di Asia Tenggara masih mengandalkan uang tunai dalam bertransaksi. Karena, sebagian besar masyarakat di wilayah ini belum terjangkau layanan perbankan. Hal ini juga turut di tuturkan Chief Operating Officer Whatsapp Matt Idema, ia berpendapat kerja sama ini bisa membantu jutaan UMKM dan pelanggannya untuk bergabung di komunitas ekonomi digital terbesar Asia Tenggara.

Gojek dan PayPal menyepakati bahwa layanan pembayaran PayPal akan diintegrasikan ke Gojek. Kedua perusahaan ini akan berkolaborasi dan membuka akses bagi para pengguna Gopay ke jaringan PayPal yang terdiri atas 25 juta merchant di seluruh dunia. Head of Corporate Development and Ventures for APAC PayPal, Farhad Maleki menyampaikan semangat dari pihaknya mengenai hubungan strategis dengan Gojek untuk memperluas akses dan memberikan pengalaman baru bagi para pengguna.

Sejak diluncurkan tahun 2015, Gojek telah berhasil membantu ratusan ribu merchant untuk mendigitalisasi dan memberikan akses kepada lebih dari 170 juta pengguna Gojek di seluruh Asia Tenggara. Sebagian besar dari pencapaian itu dikontribusi dari Gofood dan perluasan cakupan layanan Gopay pada sektor lain di dalam maupun di luar ekosistem Gojek.

Dapatkah Indonesia Bersaing Merebut Investasi Besar?

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Investor Daily, 4 Juni 2020

Menurut mantan menteri perdagangan dan pengusaha nasional Gita Wirjawan, kemampuan Indonesia memperbaiki sistem dan kualitas pendidikannya sangat berpengaruh dalam meningkatkan produktivitas yang masih rendah. Meski kini menghadapi pandemi Covid-19, Ia berpendapat Indonesia harus menambah alokasi dana yang cukup signifikan bagi pendidikan yang tepat serta jumlah yang signifikan untuk pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan konektivitas.

Gita mengatakan, produktivitas sebuah negara merupakan faktor yang sangat penting dalam 'posisi' daya saing negara tersebut di regional dan global. Produktivitas merupakan ukuran yang biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan multinasional untuk menentukan tempat pembangunan pabrik berikutnya.

Marginal productivity sebuah negara, lanjut dia, merupakan kemampuan untuk memproduksi secara kompetitif barang dan jasa, baik untuk ekspor maupun kebutuhan domestik. Populasi dan ekonomi Indonesia, yang kira-kira di kisaran 45–49% dari seluruh negara di kawasan Asean, akan diuntungkan apabila memiliki marginal productivity yang lebih tinggi, baik secara domestik maupun internasional.

Di Asean, marginal productivity PPP per orang terbesar diraih Singapura, menembus US$ 150.132. Berikutnya adalah Brunei sebesar US$ 143.258, Malaysia US$ 57.442, Thailand US$ 30.202, dan baru Indonesia US$ 23.541. Walaupun telah membaik dalam beberapa tahun terakhir, lanjut Gita, Indonesia masih tertinggal daya saingnya akibat beberapa faktor, mulai dari kondisi tenaga kerja hingga teknologi digital yang masih tertinggal.

“Untuk meningkatkan daya saing itu, Indonesia antara lain harus melaku kan penambahan alokasi dana yang cukup signifikan untuk pendidikan. Selain itu, pandemi Covid-19 telah mengajarkan kepada kita bahwa umat manusia sedang bertransisi ke mode hidup yang sama sekali berbeda, di mana kontak fisik dan berkumpul akan lebih dibatasi, dan akan lebih bersifat digital atau virtual di waktu mendatang. Oleh karena itu, Indonesia harus dapat membangun narasi pendidikannya dengan menggunakan bidang ilmu yang lebih luas, dengan penekanan ke pada STEM (Science, Techno logy, Engineering, and Mathematics), kemampuan-kemampuan vokasi, riset dan pengembangan, kemampuan untuk berkomunikasi dengan masyarakat global, dan akuntabilitas/keterukuran pengeluaran untuk pendidikan oleh pemerintah pusat dan daerah,” tandas dia.

Australia Menuju Resesi

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Investor Daily, 4 Juni 2020

Australia telah mencatat sekitar 7.200 kasus dan 102 kematian akibat Covid-19. Banyak daerah sekarang secara rutin melaporkan nol kasus harian baru. Saat ini, Australia juga dihadapi dengan resesi pertamanya dalam hampir tiga dekade setelah ekonominya kontraksi pada periode Januari-Maret 2020. Proyeksi yang jauh lebih parah diperkirakan dalam tiga bulan ke depan sebagai efek dari karantina terkait wabah virus corona Covid-19. Kontraksi sebesar 0,3% adalah penurunan kuartalan pertama sejak 2009, pada saat terjadi krisis keuangan global. Karantina terkait wabah tersebut memperburuk dampak dari kekeringan berkepanjangan dan kebakaran hutan besar. Walau hasil tersebut lebih kecil dari perkiraan penurunan hingga 0,4%, namun Menteri Keuangan Australia Josh Frydenberg mengatakan, ekonomi negara menuju resesi pertamanya sejak 1991.

Pihak berwenang memerintahkan banyak bisnis tutup dan menutup perbatasan internasional negara untuk membendung penyebaran Covid-19. Dikatakan, kondisi ini akan menelan biaya ekonomi hingga miliaran dolar tetapi mencapai keberhasilan dalam mengendalikan virus. Frydenberg mengatakan, angka negatif kuartal Maret sangat baik dibandingkan dengan hasil di negara-negara lain termasuk Tiongkok, Prancis, Taiwan, dan Inggris.

Adapun pemerintah telah secara efektif membiayai sebagian besar bantuan perekonomian. termasuk memberi subsidi upah dan mendesak penangguhan sewa untuk menjaga bisnis tetap mendukung kehidupan sampai kehidupan normal kembali. Jutaan warga Australia telah kehilangan pekerjaan atau merasakan pengurangan jam kerja. Tetapi para pejabat berharap pendekatan tiga tahap untuk mengangkat pembatasan virus akan membantu memulihkan ekonomi.

Perwakilan dari National Australia Bank Kaixin Owyong mengungkapkan, kemungkinan penyusutan ekonomi akan mencapai 8,4% dalam tiga bulan ke depan. Namun dia menambahkan, pencabutan pembatasan yang lebih awal dari yang diharapkan menunjuk pada pemulihan ekonomi yang dimulai pada kuartal III-2008.

Pekerja Menanti Panggilan Bekerja dari Pengusaha

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kontan, 4 Juni 2020

Menjelang penerapan kenormalan baru (new normal) di Indonesia, Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, meminta para pengusaha kembali merekrut 1,7 juta tenaga kerja/buruh yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan yang dirumahkan karena dampak Covid-19. Ida berharap kesempatan ini tidak hanya dapat mengurangi angka pengangguran namun juga membuka kesempatan kerja baru semakin meluas.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani memastikan pengusaha akan kembali mempekerjakan karyawan yang dirumahkan. Namun, hal tersebut akan dilakukan secara bertahap tergantung pemulihan masing-masing perusahaan atau industri. Pasalnya, saat ini baik pasar di dalam negeri dan di luar negeri pun terganggu akibat Covid-19. Dia menandaskan, jumlah PHK relatif minim. Sebagian besar karyawan berstatus dirumahkan atau cuti tanpa tanggungan.

Produsen Batubara Akan Merombak Rencana Kerja

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kontan, 4 Juni 2020

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat beberapa perusahaan pertambangan batubara mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2020 imbas pasar dan harga komoditas pertambangan yang semakin tak menentu di tengah pandemi Covid-19. Direktur Bina Program Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM Muhammad Wafid Agung mengakui sudah ada beberapa perusahaan yang mengajukan revisi RKAB. Hanya saja, dia belum mau membeberkan secara mendetail jumlah perusahaan yang mengajukan maupun revisi yang dimintakan.

Head of Corporate Communication INDY, Ricky Fernando menyatakan, revisi RKAB sebagai bentuk penyesuaian atas kondisi pasar batubara yang hingga kini belum juga stabil. Namun Ricky belum membeberkan dengan jelas, apakah dengan revisi RKAB ini INDY akan menurunkan volume produksi, atau sebaliknya. Namun yang pasti, kinerja operasional tetap berjalan di tengah pandemi Covid-19. Di pihak lain, Direktur ABM Investama, Adrian Erlangga mengungkapkan, saat ini pihaknya masih mengkaji opsi revisi RKAB tersebut. Adrian memprediksikan pada kuartal II-2020 realisasi produksi ABMM bakal lebih rendah dari rencana. Namun ia mengatakan bahwa hal ini lebih dipengaruhi factor cuaca dan bukan Pandemi. Terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menyampaikan, revisi RKAB akibat melemahnya permintaan dari pasar utama batubara, seperti China dan India yang menerapkan kebijakan lockdown sejak beberapa waktu lalu. Sehingga dalam perhitungan wajar, permintaan batubara tahun ini bisa berkurang lebih dari 70 juta ton dibandingkan proyeksi awal tahun, sebelum ada wabah korona. Bahkan Hendra menyatakan, permintaan batubara dalam negeri ditaksir hanya berkisar 100 juta ton, jauh lebih rendah dibanding rencana sebelumnya 155 juta ton.


Dana Asing Kembali Guyur Pasar Saham

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kontan, 4 Juni 2020

Indikasi investor asing kembali masuk pasar saham menguat. Selama empat hari berturut-turut, investor asing mencatatkan net buy di bursa saham. Kemarin, net buy investor asing di pasar saham bahkan mencapai Rp 1,51 triliun. Investor asing terutama tampak memburu saham-saham perbankan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dibeli investor asing, selanjutnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri. Selain itu, asing juga mencatatkan net buy di saham PT Astra International Tbk (ASII) lalu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM).

Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai, investor asing kembali masuk dan memborong saham-saham tersebut karena memang harganya sudah terbilang cukup murah. Sedangkan Head of Investment Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana menambahkan, ada dua faktor yang membuat investor asing kembali ke pasar saham Indonesia. Pertama, asing merespons positif penerapan new normal di Indonesia. Kedua kebijakan pencabutan hak istimewa Hongkong oleh Amerika Serikat yang juga berpotensi membuat dana dari Hong Kong akan berpindah ke beberapa negara, seperti Singapura dan juga Indonesia.

Optimisme Konsumen Tunggu Hasil New Normal

R Hayuningtyas Putinda 07 Jun 2020 Kontan, 4 Juni 2020

Optimisme konsumen masih menurun pada Mei 2020. Berdasarkan survei Danareksa Research Institute (DRI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan lalu sebesar 75,3 alias turun 6,1% dari bulan sebelumnya yang sebesar 80,2 dan berada di level terendah sejak Juli 2008 sebagai bukti imbas Covid-19 cukup besar bagi konsumen. Apalagi dilihat dari penurunan IKK yang tajam selama dua bulan terakhir/

Penurunan optimisme konsumen dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) saat ini yang menurun kian tajam, pandangan negatif atas kondisi perekonomian terkini terutama kondisi lapangan pekerjaan. Kabar baiknya, ekspektasi konsumen menguat dan terlihat dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) dimana konsumen lebih optimistis dengan perkembangan ekonomi, bisnis, dan ketersediaan lapangan pekerjaan untuk enam bulan ke depan.

Peningkatan optimisme ke depan ini disebabkan oleh mulai berakhirnya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah dan adanya stimulus fiskal yang telah digelontorkan pemerintah dalam mengurangi dampak Covid-19. Lebih lanjut, konsumen memprediksi adanya tekanan inflasi yang lebih rendah untuk 6 bulan selanjutnya. Untuk pergerakan rupiah, konsumen di beberapa kota besar juga lebih optimistis. Penguatan optimisme ini disebabkan penguatan nilai tukar rupiah ke level Rp 15.136 pada April 2020 yang disebabkan oleh penerbitan global bond. Seiring dengan hal itu, konsumen yakin suku bunga acuan akan kembali turun dalam waktu dekat.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy memandang, penurunan optimisme konsumen di bulan tersebut salah satunya disebabkan faktor psikologis masyarakat. kekhawatiran akan penyebaran Covid-19 masih mempengaruhi perekonomian Indonesia dan khawatir distribusi bansos belum sepenuhnya tepat sasaran. Optimisme konsumen akan dipengaruhi oleh bagaimana pemerintah dan pelaku usaha menjalankan aktivitas di tengah kenormalan baru alias new normal ini. Ekonom Institut Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Sugandi, juga sependapat bahwa optimisme konsumen bisa melonjak ketika aktivitas ekonomi berangsur membaik dan jumlah pasien korona berkurang. Kalau ini terjadi, kepercayaan konsumen ke pemerintah makin bertambah.

Pilihan Editor