;

Beleid Pembebasan Royalti Batu Bara Diteken Presiden

R Hayuningtyas Putinda 22 Feb 2021 Investor Daily, 22 Februari 2021

Jakarta - Insestif berupa pembebasan royalti batu bara yang mengalami peningkatan nilai tambah sudah diteken dalam bentuk Peraturan Pemerintah No 25 Tahun 2021. Kini iuran produksi 0%  tersebut bakal dituang lebih rinci ketentuannya di dalam Peraturan Menteri Keuangan. PP ini merupakan peraturan turunan dari UU Cipta Kerja. Industri hilirisasi batu bara mulai beroperasi dalam empat tahun mendatang. Sejumlah insentif disiapkan bagi tujuh skema hilirisasi batu bara.

Tujuh skema hilirisasi batubara yang tengah dikembangkan oleh pemerintah, yakni gasifikasi batu bara, pembuatan kokas (cokes making), underground coal gasification, pencairan batu bara, peningkatan mutu batu bara, pembuatan briket, dan coal slurry / coal water mixture. Demi mempercepat hilirisasi, pemerintah telah menyiapkan insentif fiskal dan non fiskal agar proyek lebih ekonomis. Insentif non fiskal yang diberikan antara lain berupa izin usaha selama umur cadangan tambang. Artinya, izin usaha pertambangan tidak lagi dibatasi 20 tahun.

Sementara insentif fiskal berupa pembebasan royalti bagi batu bara yang dijadikan bahan baku hilirisasi. Royalti 0% itu diyakini tidak akan mengurangi penerimaan negara. Hilirisasi mampu menciptakan efek berganda,  yakni membuka lapangan kerja serta menggerakan roda perekonomian daerah. Dengan efek berganda itu, maka penerimaan negara yang hilang dari royalti nol persen akan tersubtitusi.

(Oleh - IDS)

Struktur Penerimaan Pajak, Diversifikasi Mendesak

R Hayuningtyas Putinda 22 Feb 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Diversifikasi struktur penerimaan pajak mendesak untuk dilakukan oleh otoritas fiskal di tengah resesi, menyusul rendahnya kemampuan dalam memungut pajak dan tingginya ketergantungan pemerintah terhadap pajak korporasi. 

Bisnis mencatat, elastisitas antara penerimaan pajak dan pertumbuhan ekonomi (tax buoyancy) pada 2020 mencapai 7,8. Artinya, setiap 1% kontraksi ekonomi menghasilkan kontraksi penerimaan pajak sebesar 7,8%. (Bisnis, 16/2). 

Pengamat pajak DDTC Bawono Kristiaji menambahkan, di tengah resesi, diversifikasi struktur penerimaan pajak perlu dilakukan untuk menutup celah tax gap yang ada pada setiap sektor ekonomi. 

Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) sejak tahun lalu mengingatkan bahwa pandemi Covid 19 dapat menggerus penerimaan pajak secara drastis dan pada akhirnya memangkas rasio pajak (tax ratio).

DAMPAK KRISIS

Asumsi tersebut disampaikan OECD dengan mengacu pada dampak dari krisis 2008. Upaya mengukur dampak resesi dila-kukan dengan membandingkan tax ratio pada 2007 (situasi ekonomi normal) dengan kinerja pada 2009 (situasi krisis).       

OECD mencatat secara rata-rata, terdapat penurunan rasio PPh Badan terhadap PDB di kawasan ini dari 4,9%  menjadi 4,1%.Celakanya, kata Bawono, saat ini negara-negara Asia Pasifik termasuk Indonesia relatif masih memiliki ketergantungan penerimaan pajak dari PPh Badan.

“Di sisi lain, resesi relatif tidak terlalu besar pengaruh-nya bagi penerimaan pajak di negara-negara yang memiliki struktur penerimaan yang lebih terdiversifikasi dan tidak berbasis komoditas,” jelas Bawono.

(Oleh - HR1)


Kinerja Perseroan 2020, Laba IRRA Terdongkrak Alat Tes Covid-19

R Hayuningtyas Putinda 22 Feb 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, Jakarta - Distributor peralatan medis, PT Itama Ranoraya Tbk. membukukan kenaikan laba bersih sebesar 82,3% year on year menjadi Rp 60,52 miliar pada 2020 didorong oleh margin dari penjualan jarum suntik, mesin plasma, dan alat tes Covid-19. Kenaikan laba bersih itu sejalan dengan pendapatan yang melesat 100,1% secara tahunan dari Rp 281,75 miliar pada 2019 menjadi Rp 563,89 miliar pada 2020. Pada kuartal IV/2020, perseroan mendapatkan banyak pesanan baik dari pemerintah ataupun swasta dan ritel terkait dengan penanganan Covid-19, seperti untuk penyediaan jarum suntik, mesin plasma (mesin apheresis) dan juga swab antigen test.

Produk swab antigen test menjadi produk urutan teratas penyumbang pendapatan terbesar dalam segmen alat kesehatan in vitro, diikuti oleh mesin plasma darah (apheresis), dan mesin USG. Sementara itu, segmen alat kesehatan non-elektromedik steril berupa produk alat suntik auto disable syringe (ADS) pada 2020 tumbuh 24,8% yoy menjadi Rp 147,7 miliar. Kenaikan omzet yang signifikan pada 2020, membuat transaksi pembelian ke beberapa prinsipal meningkat signifikan, seperti Terumo, Alera Health, Abbott sehingga pembelian barang ke prinsipal dengan fasilitas kredit mengalami kenaikan. 

(Oleh - IDS)

Industri GIM, Tangkap Peluang Cloud Gaming

R Hayuningtyas Putinda 22 Feb 2021 Bisnis Indonesia

Bisnis, Jakarta - Gim berbasis komputasi awan diproyeksi kian tumbuh secara pesat di tingkat global. Indonesia perlu membenahi kesiapan infrastruktur yang diperlukan agar mampu menangkap peluang ekonomi di tengah tren tersebut. Tahun 2021 menjadi tahun yang besar untuk gim berbasis komputasi awan (cloud gaming) secara global dengan prospek pendapatan yang signifikan. Sebagai salah satu pasar cloud gaming, Indonesia masih perlu banyak persiapan untuk melaju menjadi pemain utama. 

Adapun, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan mendorong para pemain asing membangun pangkalan data untuk cloud gaming di Indonesia. Hal ini diharapkan mampu merangsang pemain lokal untuk mempelajari dan menyiapkan infrastruktur yang dibutuhkan ke depan. Indonesia saat ini menjadi salah satu negara konsumen sekaligus produsen gim berbasis komputasi awan. Indonesia sejatinya sudah memiliki modal besar, yaitu kemampuan pangkalan data.

Tren cloud gaming memang terus meningkat. Apalagi, orang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah pada masa pandemi. Kendati dapat dimainkan di berbagai medium lantaran berbentuk streaming, permainan berbasis cloud memiliki satu kelemahan, yakni harus dimainkan menggunakan internet berkecepatan tinggi dan stabil. Kendati masih diliputi berbagai tantangan, perusahaan teknologi pun terus berlomba memanfaatkan ledakan popularitas dalam industri cloud gaming

(Oleh - IDS)

Bonsai Tetap Eksis di Masa Pandemi

Mohamad Sajili 22 Feb 2021 Surya

Bisnis bonsai justru tetap eksis bahkan penjual pohon unik ini bisa meraup omset puluhan hingga ratusan juta rupiah dalam sehari.

Dalam pameran dan kontes bonsai di Sun City Biz Arteri Porong ini, ada puluhan stan dan ratusan tanaman bonsai yang dijual dan dipamerkan. Harganya bervariasi, mulai Rp 500.000 untuk pohon bakalan, sampai ada 500 juta untuk bonsai kelas utama.

Tanaman bonsai yang sudah kelas bintang, harganya bisa mencapai miliaran rupiah. Menurut Wardoyo, bisnis bakalan tanaman bonsai saat ini cukup menjanjikan. Jenis tanaman yang paling dicari penggemar, jakni Serut, Santigi, Cemara, pohon Asem, Sancang Komengdan Hokiantea. Yang paling laku dan banyak dicari, bonsai Santigi.


Harga Cabai Dalam Tren Turun, Sumut Berpeluang Cetak Deflasi

Mohamad Sajili 22 Feb 2021 Sinar Indonesia Baru

Harga cabai merah dalam sepekan terakhir mengalami penurunan sangat tajam dari kisaran Rp40.000 hingga Rp45.000 per Kg ke kisaran Rp 25.000 hingga Rp30.000 per Kg. Sementara harga cabai rawit yang sepekan lalu sempat bertengger di kisaran Rp60.000 hingga Rp70.000 per Kg, dijual di kisaran Rp40.000 hingga Rp45.000 per Kg.

“Ada penurunan sekitar 50% harga cabai yang ada di pasar dalam sepekan terakhir. Penurunan tersebut merupakan penurunan yang sangat tajam,” ujar Ketua Tim Pemantau Harga Bahan Pokok Gunawan Benyamin, Sabtu (19/2).

Namun sejauh ini, sebutnya, masih ada beberapa komoditas pangan yang bertahan mahal. Misalnya daging ayam, sayur-sayuran terbilang cukup mahal saat ini. Untuk daging ayam masih di level harga Rp34.000 per Kg. Sepertinya turunnya memang belum ada. Harga bahan baku pakan juga masih terbilang mahal.


Inilah Direksi Dua Badan Jaminan Sosial

Mohamad Sajili 21 Feb 2021 Kontan

Susunan direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (BP Jamsostek) sudah terisi. Melalui Keputusan Presidenn (Kepres) Nomor 37/2021, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menetapkan delapan direksi BPJS Kesehatan. Sementara tujuh direksi BP Jamsostek ditetapkan melalui Kepres No 38/2021.

Untuk BPJS Kesehatan, sosok yang menggantikan Fachmi Idris pada pos Direktur Utama adalah Ali Ghufron Mukti. Anggoro Eko Cahyo sebagai Direktur Utama BP Jamsostek menggantikan Agus Susanto.

Koordinator bidang Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar berharap direksi baru BPJS Kesehatan bisa membenahi badan sosial itu. “Dua posisi yang menjadi sorotan yakni Direktur Pelayanan dan Direktur Kepesertaan. Keduanya dinilai merupakan fungsi utama dalam kerja BPJS Kesehatan,” ujar dia kepada KONTAN, Jumat (19/2).

Timboel menilai, latar belakang Anggoro sebagai bankir memungkinkan dia untuk membenahi tiga aspek utama di BP Jamsostek. Yakni urusan kepesertaan, pelayanan, dan juga investasi BP Jamsostek.


Baja Lokal Kuasai Pasar Domestik

R Hayuningtyas Putinda 19 Feb 2021 Investor Daily, 19 Februari 2021

Jakarta - Baja lokal diprediksi menguasai 80% pasar domestik tahun ini, seiring target penurunan impor sebesar 50%. Tahun lalu, porsi baja lokal mencapai 58%, sedangkan impor baja 35%. Pasar baja domestik mencapai 15,8 juta ton. Tahun ini, pasar baja diprediksi tumbuh 6% menjadi 16,7 juta ton. Penjualan baja lokal bisa tumbuh lebih tinggi dibandingkan pasar, yakni 10-15% tahun ini. Dengan catatan impor bisa dipangkas 50%, seperti target pemerintah.

Penurunan impor baja pada 2020 merupakan angin segar bagi industri baja dalam negeri. Hal ini diharapkan terus berlanjut pada 2021 agar upaya peningkatan utilisasi industri dalam negeri terealisasi. Persetujuan impor diberikan atas pertimbangan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Kemenperin menerapkan Sistem Database Supply-Demand Besi dan Baja Nasional (Sibana) serta Standard Nasional Indonesia (SNI) sebagai technical barrier impor.

(Oleh - IDS)

Pembebasan Lahan Rampung, Pertamina Lanjutkan Proses Pembangunan Kilang Tuban

R Hayuningtyas Putinda 19 Feb 2021 Investor Daily, 19 Februari 2021

Jakarta - PT Pertamina (Persero) melalui Subholding Refining and Petrochemical, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), melanjutkan penyiapan lahan untuk proyek Kilang Tuban, Jawa Timur. Langkah ini menyusul telah rampungnya pembebasan lahan milik warga yang dipastikan mengikuti ketentuan yang berlaku. Mayoritas warga terdampak sudah menerima penggantian dana dari Pertamina untuk pengadaan lahan Proyek Kilang Tuban. Lahan yang dibebaskan telah mencapai 99%dari target seluas 377 hektare tanah warga.

Pertamina telah mengikuti prosedur penilaian ganti kerugian sesuai ketentuan dengan menunjuk Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) yang kemudian ditetapkan melalui Badan Pertahanan Nasional setempat. Pertamina tidak dapat melakukan interevensi atas proses penilaian lahan yang dilakukan KJPP dan di pihak lain. Pertamina juga berprinsip agar proses pengadaan lahan ini tidak merugikan warga yang lahannya terdampak. Bahkan, Pertamina juga memberikan edukasi kepada para warga agar dapat mengelola uang hasil penggantian lahan dengan sebaik-baiknya. 

Pertamina sempat menyatakan kebutuhan lahan untuk proyek kilang dan fasilitas petrokimia di Tuban ini mencapai sekitar 800 hektare di mana sebagian lahan merupakan milik masyarakat dan sebagian di bawah Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pada Mei tahun lalu, perseroan telah merampungkan pembebasan lahan milik KLHK. Proyek Kilang Tuban merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional amanat Pemerintah ke Pertamina. Dengan adanya Kilang di Tuban, maka kebutuhan BBM ke depan dapat dipenuhi dari kilang dalam negeri sehingga mengurangi impor.

(Oleh - IDS)

Kalbe dan Genexine Jalin Perjanjian Lisensi US$ 1,1 Miliar

R Hayuningtyas Putinda 19 Feb 2021 Investor Daily, 19 Februari 2021

Jakarta - PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) melalui anak usahanya, PT Kalbe Genexine Biologics (KGBio), menandatangani perjanjian lisensi dengan Genexine (Korea Selatan) untuk mengembangkan dan melakukan komersialisasi obat imuno-onkologi GX-I7 atau Efineptakin Alpha. Perjanjian lisensi ini mencapai US$ 1,1 miliar. Nilai keseluruhan lisensi tersebut termasuk upfront payment US$ 27 juta, uji klinik, registrasi, komersialisasi, serta royalti sebesar 10% terhadap pendapatan penjualan. Lisensi akan dibayarkan bertahap sesuai milestone, setelah produk mencapai penjualan yang ditargetkan.

Melalui lisensi ini, akan terbangun kolaborasi antara KGBio dengan banyak mitra global. Alhasil, KGBio bisa berkembang ke level berikutnya, untuk menjadi perusahaan bioteknologi terkemuka di Asia Tenggara. Kesepakatan dengan lisensi KGBio telah membuktikan produk GX-I7 memiliki nilai yang tinggi. 

KGBio telah mendapat persetujuan pelaksanakan uji klinik dari Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM). GX-I7 adalah satu-satunya long-acting interleukin-7 dalam pengembangan di dunia yang dapat meningkatkan jumlah limfosit absolut. KGBio tercatat mendappatkan lisensi long-acting erythropoietin GX-E4 atau Efepoetin alfa dari Genexine untuk terapi anemia, dan saat ini sedang melakukan uji klinis fase 3 di Australia, Taiwan, dan Asia Tenggara.

(Oleh - IDS)

Pilihan Editor