Mahal Tapi Tetap Diburu Pelanggan
PALEMBANG, SRIPO - Diklaim memiliki harga paling mahal di Palembang, namun jok mobil Ruj tetap menjadi pilihan favorit pelanggan untuk membuat jok mobilnya nyaman.
Owner jok mobil Ruj 1986, Jimbo Lukito mengatakan sudah memiliki pangsa pasar sendiri sehingga meski harganya paling mahal di Palembang tapi tetap banyak pelanggan yang rela antre dan harus waiting list untuk memesan jok mobil.
"Alhamdulillah pelanggan jok mobil tetap banyak karena memang penjualan mobil juga masih bagus hingga kini dan respon pengunjung pangsa pasar kita memang pengunjung Palembang Icon," ujarnya ditemui di sela Mens World Exibition di Palembang Icon Mall. Jimbo mengatakan istimewanya jok mobil produksinya berkualitas dan bisa costum bentuk hingga warna.
Harga yang ditawarkan mulai Rp 3,5 juta per set atau satu baris jok. Harga ini tergantung jumlah seat mobil, bahan yang digunakan hingga tingkat kerumitan pembuatannya.
Jimbo mengatakan sebenarnya jok mobil produksinya selesai dikerjakan hanya dua jam saja, tapi karena ramai waiting list pembeli sehingga membuat konsumen harus sabar menunggu karena satu minggu baru selesai. Pelanggan yang paling banyak pesan yakni mobil jenis minibus seperti Toyota Rush, Xpander hingga Pajero dengan konsumen mulai usia 30 tahunan.
Sementara itu, Owner March Organizer, Mela Yustika mengatakan Mens World kembali hadir di Palembang Icon Mall untuk kelima kalinya dan menjadi wadah bagi kaum pria untuk belanja karena selama ini pameran serupa hanya mengakomodir kebutuhan wanita saja.
Ada 11 stand yang bisa menjadi solusi bagi pria yang akan belanja mulai dari sepatu, jok kulit mobil, stand mobil dan motor hingga baju.
Mendulang Rupiah dari Tali Meiwa
Lokasinya persis berada di pinggir perairan Sungai Musi. Mereka mayoritas adalah para ibu rumah tangga, yang mengisi keseharian mereka untuk mencari penghasilan melalui kecakapan gerakan tangan dalam menganyam tali meiwa. Produk yang dihasilkan bukan hanya sangkek sebagai tempat untuk meletakkan bahan belanjaan, tapi juga ada tikar, sangkek bawang dan masih bnyak lagi.
Yus, salah seorang pengrajin tali meiwa mengatakan, rutinitas menganyam tali meiwa sudah dilakukan lebih dari 10 tahun lalu dan secara turun menurun. Awal mulanya, ia diajarkan oleh warga bernama Ela yang menjadi pionir anyaman tali meiwa di kawasan itu.
Untuk menyelesaikan satu sangkek ukuran sedang, Yus hanya membutuhkan waktu 30-40 menit. Dalam sehari, sembari menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga ia mampu menganyam lima sangkek.
Untuk membuat sangkek, tikar, atau anyaman lainnya butuh satu gulung tali meiwa berukuran 10 kg yang di banderol Rp 200 ribuan. Hasilnya bisa untuk membuat puluhan sangkek dan produk lain. Pengrajin biasa menjual satu sangkek berukuran sedang dengan harga mulai dari Rp 20 ribuan dan untuk sangkek ukuran kecil hanya Rp 10 ribu. Ada juga tikar yang dibuat harganya Rp 150 ribu.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Palembang, Fitrianti Agustinda bangga dengan hasil anyaman pengrajin lokal Kota Palembang ini. Karena, kualitas yang dihasilkan para ibu rumah tangga itu terus meningkat dari tahun ke tahun. Hanya saja, pengrajin terkendala dengan pemasaran dan permodalan sehingga Pemkot pun berkomitmen untuk membantu masalah masyarakat tersebut. "Untuk pemasaran modern / retail seperti transmart atau lainnya agar sangkek hasil pengrajin lokal ini bisa dipasarkan disana. Karena kita tahu, sekarang pusat perbelanjaan juga telah mengurangi penggunaan kantong plastik belanja. Jadi kenapa tidak sangkek ini bisa juga kita gunakan," katanya.
Sedangkan soal permodalan, melalui Bank Palembang Pemkot menyediakan program pinjaman tanpa bunga dan tanpa agunan mulai dari Rp 3 juta untuk satu UMKM.
Dengan syarat, menyertakan surat keterangan usaha dan RT setempat dan identitas diri berupa KK, KTP, dan Buku Nikah.
Kue Bingen yang Bikin Kangen
PALEMBANG, SRIPO - Jika kebanyakan orang-orang tua yang sudah berusia diatas 60 tahun menghabiskan waktunya bersama keluarga. Berbeda dengan itu, nenek-nenek di Jln KH Azhari Lorong Waspada Kampung 13 Ulu Palembang ini, masih sangat tekun membuat beragam jenis kue bingen khas Kota Palembang yang sudah menjadi warisan turun temurun. Kue bingen adalah sebutan bagi kue-kue atau makanan khas Kota Palembang yang sudah ada sejak nenek moyang, dan diwariskan hingga ke anak cucu.
Bingen berasal dari bahasa Palembang yang artinya tempo dulu atau masa zaman dahulu.. Nenek-nenek tersebut ialah Aisyah, Cek Dan, Halimah, dan Khodijah yang sudah berusia diatas 60 tahun, dan sangat pandai membuat beragam jenis kue bingen. Uniknya, mereka berempat adalah kerabat yang sejak dahulu tinggal bertetangga dengan rumah yang bersambung dari satu rumah ke rumah lainnya.
Aisyah bercerita bahwa kebanyakan kue bingen terbuat dari tepung beras, yang jika pada zaman dirinya kecil membuat tepung beras harus dibuat secara manual, dengan cara merendam beras beberapa jam, kemudian digiling menggunakan alat bernama isaran. Hingga kini, Aisyah masih pandai membuat kue bingen yaitu kue Gandus, Lumpang, dan Lapis. Dia menerima banyak pesanan setiap harinya, yang biasanya untuk acara arisan, pernikahan atau hajatan keluarga.
Gandus adalah kue yang terbuat dari tepung beras yang dicampur santan dan garam, kemudian dikukus, diatasnya ditaburi potongan daun sop, cabai, dan ebi halus. Hampir sama seperti Gandus, kue Lumpang juga terbuat dari tepung beras, dengan campuran gula merah yang sudah dicairkan, dan gula pasir. Kemudian dikukus, dan ditambahkan kelapa parut diatas kue.
Pembuat kue Pare, yaitu Cek Dan. Kue Pare adalah berbentuk bulat berwarna hijau terang dengan rasa manis didalam kue. Kue Pare terbuat dari ubi kayu atau singkong, yang direbus kemudian dihaluskan dan dicampur tepung tapioka, dicampur air pandan dan kapur sirih. Isinya dimasukkan parutan kelapa yang sudah dioseng dengan gula merah.
Sedangkan Khodijah, membuat kue Mentu yaitu kue yang terbuat dari tepung beras dengan campuran sagu dan santan. Di dalamnya ditambahkan udang ragu, bawang putih, dan jinten, kemudian ditumis, tidak lupa masukkan kelapa dan bungkus menggunakan daun pisang. Rasa kue Mentu cenderung gurih dan asin. Kue bingen lainnya yaitu Klepon, kue berwarna hijau kecil ini dibuat oleh Halimah, dengan berbahan dasar ubi yang diparut kemudian diadon dengan air pandan, ditambahkan sagu agar adonan merekat.
Kemudian masukkan gula batok yang sudah dicairkan, kue Klepon dibentuk bulat dan direbus hingga adonan matang. Setelah matang, diamkan selama beberapa menit, dan baluri dengan kelapa parut..
Hingga kini, nenek-nenek di Kampung 13 Ulu ini masih menerima pesanan secara langsung, hal itu karena mereka pernah ditipu lantaran menerima orderan melalui telpon.
Tidak hanya kue bingen jenis tersebut, keempat nenek ini juga bisa menerima pesanan jenis makanan khas Palembang lainnya untuk acara-acara sesuai permintaan. Kedepan, mereka berharap kue bingen ini terus dilestarikan, hingga anak cucu keturunan masih dapat mengenal dan menikmati kearifan lokal ini.
Harga Getah Karet di PALI Ikut Naik
PALI, Sripo - Trend harga getah karet di sejumlah wilayah beberapa pekan terakhir mengalami kenaikan, termasuk di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Harga getah karet kualitas mingguan di pasar getah Desa Karta Dewa Kecamatan Talang Ubi mencapai Rp 10.500 / kg. Salah satu petani karet dari desa Karta Dewa, Amrin mengatakan, naiknya harga getah di pasaran membuat semangat petani karet di tengah pandemi saat ini.
Harga getah Rp 10.500/kg memang belum sebanding dengan harga kebutuhan pokok, tetapi dengan harga itu sudah bisa memperbaiki ekonomi petani. Sementara Ketua Komisi III DPRD PALI, Edi Eka Puryadi berkata, dengan kenaikan harga getah kualitas mingguan di PALI, diharapkan para petani tetap menjaga kualitas getah hasil sadapannya agar harga getah terus meningkat.
Jika pembeli semakin banyak, maka akan ada persaingan harga yang berimbas harga getah karet bisa tinggi.
Politisi PKS itu berpesan, petani karet di PALI harus bisa mendatangkan penghasilan lain dalam menopang ekonomi keluarganya, misalnya melakukan tumpang sari.
Ternak Ikan Cupang Hasilakan Jutaan Rupiah
Bermodal kurang dari satu juta melalui usaha ikan cupang, M Renol (27) warga Kecamatan Muaradua OKU Selatan berhasil mengumpulkan omset hingga Rp 5 juta perbulannya. Ketertarikannya berternak ikan hias itu berawal saat melihat ikan unik tersebut disebuah kali aliran sungai kecil serta ditambah lagi mendapat dari pemberian bibit dari rekannya. "Awalnya dari hobi memancing di parit sawah, ditambah ada teman yang memberi 5 pasang ikan hias dari jenis Galaxi Koi, Nemo, Samurai, Halpmont, dan Serit. Dari situlah awal mulanya saya mengembangkan ternak ikan hias cupang ini," kata Renol.
Ia menuturkan, sebagai peternak memulai dari nol sejak setahun terakhir proses pengembang biakan ikan cupang tidaklah sulit serta dengan modal yang terjangkau. "Modalnya awal-awal dulu sekitar Rp 900 ribu, untuk membuat lubukan sekitar 20 buah, dan kini omset saya per bulannya mencapai Rp 5 juta," ujarnya. Ikan yang banyak digemari oleh anak-anak tersebut ia pasarkan lewat media sosial (medsos) Facebook, Instagram, dan Whatsapp sebagai wadah promosi, harga ikan cupang dijual dengan harga bervariasi mulai dari Rp 5 ribu sampai Rp 300 ribu per ekor," katanya.
OJK memberikan Izin Gadai ke PT Dwitunggal Prima
Tambah lagi pemain di bisnis gadai. PT Dwitunggal Prima Pegadai baru saja mengantongi izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pemberian izin tersebut sudah sesuai dengan keputusan dewan komisioner nomor KEP-17/NB.1/2021 pada 15 Februari 2021.
Setelah mengantongi izin usaha, perusahaan ini wajib menjalankan kegiatan usaha dengan menerapkan praktik usaha yang sehat serta mengacu pada perundang - undangan yang berlaku.
Sesuai ketentuan Pasal 16 Peraturan OJK Nomor 31/POJK.05/2016 tentang Usaha Pergadaian, perusahaan wajib mencantumkan keterangan atau informasi secara jelas pada setiap kantor atau unit layanan mulai dari nama atau logo perusahaan.
Pembukaan Investasi Miras Menuai Kontroversi
Aturan pembukaan investasi industri minuman keras ini tertuang di Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10/2021 tentang Bidang Usaha Penanamam Modal. Investor yang ingin berinvestasi di industri minuman beralkohol di Indonesia di buka untuk empat daerah Yakni Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara dan Papua.
Padahal industri minuman alkohol ini diharamkan oleh Perpres Nomor 44/2016 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Daftar Bidang Usaha Yang Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. Tiga jenis Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang ada Perpres 10/2021, sebelumnya masuk di daftar negatif investasi (DNI).
Kebijakan pemerintah ini mendapatkan penolakan keras dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sekretaris Jenderal PBNU Ahmad Helmy Faishal Zaini, Senin (1/3) menyatakan “Sikap NU tidak berubah sejak 2013, saat pertama kali aturan ini digulirkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). PBNU tetap menolak investasi minuman keras dibebaskan. Sebab Indonesia ini bukan negara sekuler,” katanya.
Ekonom Indef Bhinma Yudhistira menyarankan pemerintah sebaiknya fokus mengundang investasi sektor agribisnis. Lagipula membuka pintu investasi bagi minuman haram itu bisa membuat citra Indonesia di industri halal dipertanyakan.
Membangun Wajah Baru Turisme
Ambruknya perjalanan internasional tahun lalu mewakili perkiraan kerugian 1,3 triliun dollar AS dalam pendapatan ekspor. Menurut Organisasi Pariwisata Dunia PBB (UNWTO), angka itu lebih dari 11 kali kerugian yang tercatat selama krisis ekonomi global tahun 2009.
Khusus di Indonesia, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2020 hanya 4,022 juta kunjungan atau turun 75,03 persen dibandingkan tahun 2019 yang tercatat 16,1 juta kunjungan.
Sepanjang tahun lalu, selain transportasi yang terkontraksi 15,04 persen, sektor akomodasi dan makan minum tumbuh minus 10,22 persen. Di Indonesia, keduanya menjadi sektor yang paling terdampak oleh pandemi seiring dengan pembatasan pergerakan masyarakat guna menekan penyebaran virus.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan, fokus pemerintah pada tahun 2021 ini adalah menjaga agar pelaku usaha dan pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) tidak mengalami kehancuran permanen.
Pada tahun 2021, pemerintah mengusulkan anggaran Rp 9,4 triliun untuk sektor pariwisata. Adapun anggaran dana hibah pariwisata Rp 2,7 triliun sampai Rp 3,7 triliun, sedikit naik dari alokasi pada 2020 sebesar Rp 3,3 triliun. Pasca-dugaan korupsi dana hibah di daerah, pemerintah akan mengevaluasi tata kelola penyalurannya lewat pembenahan pendataan.
Daerah lain yang ditargetkan menjadi destinasi pariwisata prioritas adalah Wakatobi, Raja Ampat, Bangka Belitung, Bromo-Tengger-Semeru, dan Morotai.
Terkait arah pariwisata ke depan, Sandiaga membenarkan, pandemi akan menjadi titik balik dalam mengubah industri pariwisata yang lebih baik. Saat ini, pemerintah sedang membahas pengembangan wisata sehat (wellness tourism), seperti kegiatan yoga dan meditasi serta wisata spiritualitas untuk mencari ketenangan diri. Pemerintah sedang mendorong program rumah kedua (second home) melalui pemberlakuan visa jangka panjang hingga lima tahun.
Kebijakan Penghapusan PPN, Angin Segar Sektor Properti
Bisnis, JAKARTA — Pemberian insentif berupa kebijakan penghapusan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi angin segar bagi sektor properti.
CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan pihaknya menyambut baik kebijakan penghapusan PPN untuk rumah di bawah Rp2 miliar dan pengurangan PPN untuk rumah Rp2 miliar hingga Rp5 miliar, yang tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 21/PMK/010/2021 yang mulai berlaku Senin (1/3) hingga 31 Agustus 2021
Lalu pemberian insentif 50% dari PPN terutang atas penyerahan rumah tapak atau rumah susun dengan harga jual di atas Rp2 miliar sampai dengan Rp5 miliar.
Hal ini tentunya memberatkan para pengembang di tengah kondisi cashflow yang terganggu.
(Oleh - HR1)
Kepatuhan Wajib Pajak Badan, Ketaatan Korporasi Memble
Bisnis, JAKARTA — Adanya berbagai relaksasi fi skal dan pelonggaran penyampaian Surat Pemberitahuan tidak berdampak signifi kan terhadap rasio kepatuhan formal wajib pajak badan. Pasalnya, tingkat kepatuhan pajak oleh korporasi pada tahun lalu terpantau turun.
Data Kementerian Keuangan menunjukkan, perusahaan yang menjadi wajib pajak wajib Surat Pemberitahuan (SPT) pada tahun lalu men-capai 1,48 juta.Dari jumlah tersebut, realisasi pelaporan SPT hanya sebanyak 891.976 wajib pajak badan sehingga rasio kepatuhan formal hanya 60,17%.Angka ini lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mampu mencapai 65,32%.
Sekadar catatan, jumlah korporasi yang wajib SPT pada tahun lalu itu naik sebesar 0,67% dibandingkan dengan tahun sebe-lumnya yang sebanyak 1,47 juta.
Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Badan Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Ajib Hamdani menjelaskan, adanya relaksasi penyampaian SPT secara teori mampu mendongkrak kepatuhan, karena wajib pajak menjadi punya waktu lebih longgar.
Di sisi lain, Ajib tidak menafi kan fak-tor willingness atau kerelaan wajib pajak korporasi yang memang cukup rendah, tidak hanya pada tahun lalu juga pada tahun-tahun sebelum pandemi melanda negeri ini.
Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar men-dukung argumentasi Ajib. Menurutnya, tidak ada kendala dari sisi administratif yang menyebabkan rasio kepatuhan formal wajib pajak badan terkoreksi.
(Oleh -HR1)









