Percepat Transformasi Digital, Industri Telko Butuh Insentif
JAKARTA - Langkah pemerintah membangun
Palapa Ring dan menyiapkan Satelit Satria untuk
mendigitalkan seluruh wilayah NKRI sudah tepat.
Namun, untuk mempercepat transformasi digital,
pemerintah perlu memberikan insentif kepada
para penyelenggara teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) di Tanah Air.
Insentif yang dibutuhkan industri
TIK di antaranya relaksasi Biaya
Hak Penggunaan (BHP) Frekuensi,
BHP Telekomunikasi, kewajiban
pelayanan universal (universal service obligation/USO), serta insentif
fiskal untuk investasi penggelaran
jaringan TIK, khususnya di wilayah
nonkomersial atau tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Di sisi lain, pemerintah juga
harus lebih intens berkolaborasi dan melibatkan lebih banyak
penyelenggara jasa dan jaringan
telekomunikasi secara masif guna
memperluas penetrasi internet
di wilayah baru dan kawasan 3T.
Melalui langkah tersebut, target
‘merdeka sinyal’ dan menjadikan
Indonesia sebagai bangsa digital
bisa terealisasi lebih cepat.
Renstra 2020-2024
Menurut Dirjen SDPPI Kemenkominfo, Ismail, pemerintah melalui
Kemenkominfo sudah menetapkan
rencana pembangunan sektor TIK
dalam jangka pendek hingga menengah. “Kolaborasi semua pihak
terkait dibutuhkan untuk merealisasikan seluruh wilayah Indonesia
merdeka sinyal dan meujudkan program Indonesia Digital,” tegas dia.
Renstra tersebut, kata dia,
mengacu pada agenda pembangunan nasional sesuai Perpres No 18
Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020—2024.
Renstra Kemkominfo juga mengacu
pada perkembangan TIK global.
Menurut Ismail, Kemkominfo
pun telah memproyeksikan kebutuhan anggaran sebesar Rp 111,25
triliun untuk merealisasikan Renstra
hingga 2024. Perinciannya, pada
2020 membutuhkan anggaran Rp
8,09 triliun, 2021 sebanyak Rp 26,13
triliun, 2022 sebesar Rp 27,08 triliun,
2023 senilai Rp 24,61 trilun, dan 2024
sejumlah Rp 25 triliun.
Butuh Insentif
Wakil Ketua Umum ATSI/Presdir
Smartfren, Merza Fachys mengakui,
untuk mewujudkan transformasi
digital secara menyeluruh membutuhkan kolaborasi semua pemangku
kepentingan (stakeholders).
Ketua Umum Apjatel, Muhammad
Arif Angga menjelaskan, program
yang dijalankan Badan Aksesibilitas
Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kemenkominfo sudah berjalan
cukup baik untuk membangun akses
internet ke wilayah 3T.
Bakti bertugas membangun jaringan telekomunikasi di wilayah 3T dari
iuran biaya hak penggunaan (BHP)
frekuensi operator telekomunikasi
yang disebut USO. Juga rencana peluncuran satelit Satria-1 pada kuartal
III-2023.
Perihal rencana implementasi
5G, Arif menyarankan agar regulasi
di pusat dan daerah diharmonisasi
dengan baik. Soalnya, pembangunan
kedua infrastruktur ini akan sangat
masif jika 5G diterapkan.“Kita bisa
mulai dari kota-kota besar dulu karena investasinya pasti sangat besar,”
kata dia
Perlu Kolaborasi
Sementara itu, Group Head Corporate Communications XL Axiata,
Tri Wahyuningsih mengemukakan,
pembangunan jaringan akses internet
berteknologi mobile broadband 4G
LTE sangat dipengaruhi beberapa
faktor, seperti spektrum frekuensi,
ketersediaan jaringan transmisi/
transport, lokasi site, ketersediaan
infrastruktur jalan, serta infrastruktur
pendukung lainnya, seperti listrik dan
transportasi.
Salah satu solusinya, menurut
Tri Wahyuningsih, adalah menjalin
kolaborasi di antara stakeholder yang
terlibat.
Solusi lainnya adalah memanfaatkan teknologi yang cocok untuk mempercepat pembangunan infrastruktur
jaringan akses broadband di daerah
3T, remote, atau rural, di antaranya
teknologi satelit berkapasitas data
besar (high throughput satellites/
HTS) dan teknologi alternatif lain,
seperti high altittude platform station
(HAPS).
12.548 Desa
Dirjen SDPPI Kemenkominfo,
Ismail mengatakan, dalam Renstra
2020-2024, Kemenkominfo menetapkan peta jalan (roadmap) untuk
mencapai tujuan utama pembangunan
TIK. Pertama, mempercepat perluasan akses dan peningkatan infrastruktur digital.
Kedua, melakukan transformasi
digital di sektor-sektor strategis, di
antaranya pemerintahan, layanan
publik, bantuan sosial, pendidikan,
kesehatan, perdagangan, industri,
dan penyiaran agar utilitisasi infrastruktur meningkat.
“Ketiga yaitu percepatan integrasi
pusat data nasional, mempersiapkan
SDM talenta digital. Sedangkan keempat, kami menyiapkan berbagai
hal yang berkaitan dengan regulasi,
skema pendanaan, dan pembiayaan
transformasi digital,” ucap dia.
Berdasarkan data Kemenkominfo,
dari total 83.218 desa dan kelurahan
di wilayah Indonesia, masih terdapat
12.548 (15,07%) desa dan kelurahan
yang belum terjangkau jaringan internet 4G LTE. Sebanyak 9.113 (73%)
desa dan kelurahan di antaranya
merupakan wilayah 3T.
Di daerah-daerah tersebut, jaringan
internet bakal dibangun Kemenkominfo melalui Bakti. Sisanya, 3.435
desa dan kelurahan (27%) yang masuk
wilayah non-3T (komersial) akan
dibangun operator telekomunikasi.
Dirjen SDPPI, Ismail mengemukakan, Kemenkominfo akan memfasilitasi penggelaran infrastruktur
jaringan 5G di enam ibu kota provinsi
di Jawa yang dianggap paling siap,
lima destinasi wisata super prioritas,
dan satu industri manufaktur. “Untuk
itu, Kemkominfo mulai melelang pita
frekuensi 3,5 GHz yang akan digunakan untuk perluasan akses internet
4G dan kemungkinan 5G,” papar dia.
(Oleh - HR1)
Gaikindo Sambut Positif Diskon PPnBM untuk Mobil 2.500 Cc
JAKARTA – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyambut positif
rencana pemerintah memperluas
cakupan jenis mobil yang memperoleh relaksasi Pajak Penjualan atas
Barang Mewah (PPnBM). Rencana diskon PPnBM untuk mobil
dengan volume silinder hingga 2.500
cc diyakini bakal menggairahkan
pasar mobil dan mempercepat kebangkitan industri otomotif dalam
negeri setelah terdampak pandemi.
“Masyarakat juga mendapat manfaat. Industri tumbuh, sehingga
perekonomian juga cepat pulih ya.
Harapannya begitu,” kata Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara kepada Investor Daily, Selasa
(16/3/2021).
“Presiden menyampaikan, kalau
dilihat memang insentif bisa diperluas untuk di atas 1.500 cc asalkan
TKDN-nya 70% itu mungkin bisa
jadi pertimbangan,” ujar Menkeu di
depan Komisi XI DPR, Selasa (16/3).
Saat ini, pemerintah telah memberikan diskon PPnBM untuk pembelian mobil baru mulai Maret
hingga Desember 2021 dengan
kapasitas silinder hingga 1.500 cc.
Diskon ini diberikan dalam tiga
tahap, yakni tahap pertama periode
Maret-Mei 2021 dengan besaran
diskon PPnBM 100%, kemudian periode Juni-Agustus 2021 diskon 50%,
dan periode September-Desember
2021 dengan diskon 25%.
Direktur Administrasi, Korporasi
dan Hubungan Eksternal Toyota
Motor Manufacturing Indonesia
(TMMIN), Bob Azam, berharap
perluasan relaksasi PPnBM ini dapat
meningkatkan penjualan mobil.
“Negara lain kan pasarnya
sudah mencapai 70%-80% seperti sebelum Covid-19, kita
masih level 50%. Jadi 50% itu kan
dibawah keekonomian. Keekonomiannya mungkin sekitar
70%. Jadi kalau ini berlarut-larut,
tekanan terhadap efisiensi untuk
penerima kerja akan semakin besar. Jadi memang harus segera,”
kata Bob kepada Investor Daily.
Di samping itu, dia berharap perluasan diskon PPnBM ini memberikan multiplier effect bagi
perekonomian nasional. Pasalnya, industri otomotif memiliki
lapisan yang cukup dalam yang
melibatkan antara lain Agen
Pemegang Merek (APM) mobil,
distributor, dan supplier
(Oleh - HR1)
Indonesia Terdepan Adopsi Layanan Digital di Asean
JAKARTA – Sebanyak 84% konsumen di Indonesia
sudah mulai beralih ke layanan/platform digital
untuk terhubung dengan sejumlah merek (brand)
sejak pandemi Covid-19 tahun lalu. Menurut
studi VMware Digital Frontiers 3.0, angka tersebut
tertinggi di Asia Tenggara (Asean) dan sembilan
negara yang disurvei.
Sejumlah organisasi di bidang layanan
finansial (57%), ritel (54%), dan edukasi
(36%) menjadi sektor terdepan di Indonesia yang berhasil meraih peningkatan
tertinggi dalam menghadirkan layanan
digital, dengan membandingkan kondisi
sebelum dan sesudah pandemi.
Country Manager VMware Indonesia
Cin Cin Go mengatakan, Indonesia
memperlihatkan komitmennya yang
sigap dalam mendukung terwujudnya
digital-first di masa depan. Hal ini ditandai dengan makin tingginya kebutuhan
konsumen untuk menikmati layanan
dan pengalaman secara digital.
“Ini menjadi landasan bagi perusahaan
untuk lebih gencar dalam mewujudkan
transformasi guna memenuhi kebutuhan
dan ekspektasi dari pelanggan mereka,”
tutur Cin Cin Go, dalam pernyataannya,
seperti dikutip Selasa (16/3).
Dia menjelaskan, konsumen Indonesia menjadi yang terdepan terkait
dengan tingkat penerimaan dalam merengkuh pengalaman digital (digital
experiences). Menurut studi VMware
yang bertajuk ‘Digital Frontiers 3.0
Study’, sejak tahun lalu, delapan dari 10
konsumen Indonesia, atau 84% sudah
mulai beralih ke layanan digital untuk
terhubung dengan brand.
Fakta tersebut pun menjadikan Indonesia berada di jajaran terdepan di
antara negara-negara lain di kawasan
Asia Tenggara yang menjadi target
studi dengan angka rerata penerimaan
layanan digital 78%.
Bahkan, Indonesia mengungguli
sejumlah negara maju dalam survei
tersebut, yakni Amerika Serikat yang
penerimaan layanan digitalnya baru
40%, Perancis 41%, Jerman 44%, dan
Inggris 34%.
Dari semua negara yang disurvei,
konsumen Indonesia juga merasa paling nyaman memberikan kepercayaan
ke perusahaan dalam mengakses data
personalnya agar sebagai pelanggan
dapat menikmati pengalaman digital
yang lebih baik.
Kepuasan Konsumen
Sementara itu, 64% konsumen di Indonesia juga mengaku bahwa kejadian
global tahun 2020 telah memaksa mereka
untuk beralih ke layanan digital dan merasakan pengalaman digital yang lebih baik.
Angka tersebut sedikit di bawah
rerata di Asia Tenggara (69%). Namun,
persentasenya masih jauh melebihi
negara-negara maju yang disurvei, yakni
Amerika Serikat dan Prancis sama-sama
baru 40%, Jerman 33%, dan Inggris 33%.
Bahkan disebutkan bahwa lebih dari
separuh (56%) konsumen di Indonesia
menyatakan akan beralih ke produk
maupun layanan kompetitor jika pengalaman digital yang dirasakan jauh
dari harapan. Karena itu, penting bagi
perusahaan untuk mengakselerasi
tumbuhnya inovasi.
Digitalisasi Sektor
Studi VMware Digital Frontiers 3.0
juga menyebutkan, sejumlah sektor
industri di Indonesia menjadi yang
terdepan dalam memenuhi ekspektasi
pelanggan di sepanjang tahun 2020.
Responden menyampaikan bahwa
organisasi-organisasi di sektor layanan finansial (57%), ritel (54%), dan
edukasi (36%), berhasil menghadirkan
pengalaman digital yang kian meningkat kepada konsumen dibandingkan
sebelum pandemi Covid-19.
Perusahaan di sektor layanan finansial (58%) dan ritel (38%) juga paling
dipercaya di antara sektor lain.
(Oleh - HR1)
Pemerintah Targetkan 100 Koperasi Modern dan Formalkan 2,5 Juta UKM
JAKAR TA – Pemerintah
melalui Kementerian Koperasi
dan UKM menargetkan pada
2021 mampu mencetak 100
koperasi modern dan mendorong sebanyak 2,5 juta usaha
mikro bertransformasi menjadi
sektor formal.
Staf Khusus Menteri Bidang
Ekonomi Kerakyatan Kementerian Koperasi dan UKM Riza
Damanik mengatakan, pihaknya juga menargetkan bakal
menaikkan kontribusi ekspor
sebesar 15,26%, meningkatkan
rasio kewirusahaan menjadi
3,55%, menaikkan rasio kredit
perbankan di atas 20%, serta
kemitraan strategis antara
UMKM dan usaha besar. Kemenkop UKM akan melakukan
pemetaan risiko usaha untuk
mendorong target penciptaan
koperasi modern dan UMKM
naik kelas.
Adapun rasio kredit perbankan untuk UMKM di Indonesia
masih di bawah 20%. Jauh dari
Singapura (39%), Thailand
(50%), Malaysia (51%), Jepang
(66%), apalagi Korea Selatan
(81%). Pemerintah menargetkan rasio kredit perbankan bisa
mencapai 22-30% hingga 2024.
“Itulah sebabnya, salah satu
terobosan Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2020 tentang
Cipta Kerja (UU Cipta Kerja)
yang diturunkan menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 7
Tahun 2021 adalah penguatan
skema pembiayaan,” ucap Riza
(Oleh - HR1)
Sri Mulyani: Transaksi Digital Perlu Diatur untuk Cegah Risiko
JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menegaskan, transaksi
digital yang terus meluas seiring
perkembangan teknologi di era
globalisasi perlu diatur, terutama untuk mencegah munculnya
berbagai potensi risiko. Pengaturan dinilai semakin perlu
bila transaksi digital tersebut
dilakukan secara lintas negara.
“Setidaknya ada empat alasan
mengapa transaksi digital ini
perlu diatur,” kata Sri Mulyani
dalam acara International Conference on Digital Transformation in Customs di Jakar ta,
Selasa (16/3). Alasan pertama,
lanjut Menkeu, adalah agar
layanan transaksi pembayaran
barang digital di Indonesia bisa
terekam dengan baik.
Ia mencontohkan teknologi
printing tiga dimensi (3D) yang
akhir-akhir ini menjadi semakin populer. Teknologi ini memungkinkan digunakan untuk
memproduksi barang-barang
yang berpotensi membahayakan
keselamatan umum. “Misalnya
seperti senjata api dan bahan
peledak. Hanya dengan cetak
biru itu bisa ditransmisikan
secara digital,” kata dia.
Alasan kedua, Sri Mulyani menyebutan, mekanisme transaksi
digital juga akan memudahkan
penggelapan pajak, pelanggaran
hak kekayaan intelektual, dan
digunakan dalam transaksional
kejahatan terorganisir di bidang
pencucian uang. “(Oleh karena
itu,) Negara harus memantau,
agar dapat mengelola risiko
kerugian dari teknologi ini,”
ucap dia.
Ketiga, dengan adanya pengenaan bea masuk dapat menciptakan perlakuan yang adil
(level playing field) antara pedagang konvensional dan digital.
Pihaknya banyak mendapat
keluhan dari para pedagang
konvensional yang menganggap bahwa terdapat kebijakan
pengenaan pajak yang tidak adil
antara mereka dengan pedagang
di platform daring.
Keempat, untuk menghindari
potensi kerugian bagi pendapatan negara untuk barang yang
dikirim secara elektronik. Menurutnya banyak jenis penerimaan
negara yang belum bertransformasi menjadi ekonomi digital
dan transaksi digital.
(Oleh - HR1)
Pengusaha Kritisi Kenaikan Pajak Mobil Hybrid
JAKARTA – Pelaku usaha mengkritisi rencana
pemerintah menaikkan pajak penjualan atas barang
mewah (PPnBM) mobil hybrid melalui revisi Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 73 Tahun 2019 tentang
Barang Kena Pajak yang Tergolong Mewah Berupa
Kendaraan Bermotor yang Dikenai Pajak Penjualan
atas Barang Mewah.
Alasannya, aturan itu baru berlaku
Oktober 2021 dan akan membingungkan prinsipal otomotif, terutama asal
Jepang, yang selama ini menguasai
nyaris 100% pasar mobil domestik dan
ekspor. Seiring dengan itu, ke depan,
pemerintah diharapkan bisa lebih
konsisten dengan aturan yang dibuat.
Direktur Administrasi, Korporasi
dan Hubungan Eksternal PT Toyota
Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengatakan, segala
macam insentif yang diberikan pemerintah dalam pengembangan mobil
elektrifikasi adalah untuk konsumen,
bukan produsen. Dengan demikian,
jika pajak dinaikkan, akan membuat
kemampuan konsumen untuk membeli mobil elektrifikasi berkurang.
Seharusnya, lanjut dia, insentif untuk
mobil elektrifikasi harus ditambah,
bukan dikurangi. Sebab, mobil hybrid
termasuk kategori mobil elektrifikasi,
bersama plug-in hybrid electric vehicle
(PHEV), mobil listrik murni (battery
electric vehicle/BEV), dan fuel cell
electric vehicle (FCEV). Semua mobil
itu menggunakan motor listrik untuk
memutar roda. Bedanya, mobil hybrid
juga menggunakan mesin pembakaran
dalam, sedangkan BEV hanya motor listrik dengan sumber energi dar baterai.
Sebelumnya, pemerintah berencana
menaikkan tarif PPnBM mobil hybrid,
sedangkan PPnBM BEV tetap, yakni
0%. Tujuannya memberikan daya tarik
bagi investor yang berniat membangun
pabrik BEV. Ada dua skema PPnBM
mobil hybrid. Pertama, tarif PPnBM
PHEV pasal 36 (Ps 36) sebesar 5%
sebelumnya 0%, full-hybrid (Ps 26) sebesar 6% naik dari aturan lama 2%, dan
full-hybrid (Ps 27) sebesar 7% dari 5%.
Sementara itu, jika pemain BEV
telah berinvestasi Rp 5 triliun, tarif
PPnBM mobil hybrid dinaikkan lagi
merujuk pada skema kedua. Perinciannya, PPnBM PHEV (Ps 36) menjadi
8%, full-hybrid (Ps 26) 10%, full-hybrid
(Ps 27) 11%, full-hybrid (Ps 28) 12% sebelumnya 8%, mild-hybrid (Ps 29) 12%
sebelumnya 8%, mild-hybrid (Ps 30)
13% sebelumnya 10%, dan full-hybrid
(Ps 31) 14% sebelumnya 12%.
Tantangan BEV
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh
Kumara menilai, revisi PP tersebut
merupakan sinyal positif dari pemerintah untuk para investor. Hanya saja,
insentif adalah salah satu faktor dalam
pengembangan mobil listrik. Sebab,
daya beli masyarakat dan harga jual
menjadi tantangan utama pengembangan mobil listrik. Saat ini, daya beli
masyarakat terhadap mobil masih di
bawah Rp 300 juta, sedangkan harga
mobil listrik meski pajaknya sudah 0%,
harganya masih mahal, Rp 600 jutaan.
(Oleh - HR1)
Semen Tonasa Mulai Manfaatkan Listrik PLN
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) melalui anak usahanya PT Semen Tonasa melakukan penandatanganan Suplemen Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) program Progressive Incentive Captive. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Semen Tonasa, Mufti Arimurti dan General Manager Wilayah Sulselrabar PLN, Awaluddin Hafidz di Kantor PLN Pusat, Selasa (16/3). Kerja sama tersebut meliputi pengalihan tenaga listrik PT Semen Tonasa dari pembangkit PT Semen Tonasa PLTU 1X25 MW menjadi layanan PLN melalui program Progressive Incentive Captive dengan memanfaatkan optimalisasi suplai tenaga listrik PLN.
Selain kerja sama penyediaan listrik, PLN akan memberikan FABA dari PLTU Punagaya secara cuma cuma selama 6 bulan kepada PT Semen Tonasa. Penandatangan disaksikan oleh Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury, Komisaris Utama SIG, Rudiantara, Komisaris Utama Semen Tonasa, Benny Wendry, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini.
Mentan Mau Minum Susu 17 Agustus
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa dengan PT Cisarua Mountain Dairy (Cimory), memulai pembangunan medium scale farm atau inkubator sapi perah. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama dan penanaman rumput jenis odot sebanyak 1.000 stek dan indigofera 500 stek, di Eks Pabrik Markisa, Desa Tonasa, KecamatanTomboIopao, Selasa (16/3). Acara ini turut dihadiri langsung Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL).
Mantan Bupati Gowa dan Gubernur Sulsel ini berharap, rencana Pemkab Gowa dalam program ini bisa terwujud dan mampu merasakan hasilnya tepat pada tanggal 17 Agustus mendatang. Ia juga berharap perencanaan Cimory dalam membangun industri pengolahan susu dari skala kecil bisa menjadi besar, dengan mendapatkan bantuan berbagai pihak. Sementara Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan mengatakan, progres sangat cepat ini diakui Adnan karena terpacu dengan target diberikan oleh Mentan RI, yang ingin merasakan susunya pada 17 Agustus mendatang.
Stok Dinilai Cukup, Pemerintah Diminta Tidak Impor Beras
Kepala Bidang Kajian Strategis dan Advokasi Perhimpunan Organisasi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (DPP Popmasepi), Sahabudin Letsoin menyebut saat ini sektor pertanian Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan, yakni pertanian yang semakin maju, semakin mandiri dan semakin modern. Berdasarkan data yang ada, ia menyebut impor beras 1 juta ton sangat tidak masuk akal dan bukan merupakan sebuah solusi untuk memenuhi pangan dalam negeri. Impor hanya kebijakan yang nantinya akan menyakiti hati para petani. BPS bahkan memperkirakan produksi padi pada periode Januari-April 2021 mencapai 25,37 juta ton GKG, atau mengalami peningkatan sebesar 5,37 juta ton (26,88%) dibandingkan tingkat produksi padi tahun 2020 di periode yang sama, yakni 19,99 juta ton GKG.
Sri Mulyani Harap G20 Sepakati Pajak Digital Tahun Ini
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berharap negara-negara G20 dapat menyepakati pajak digital pada tahun ini. Menurutnya perpajakan ekonomi digital menjadi salah satu isu terpenting yang dibahas oleh para menteri keuangan di forum G20. Mantan direktur pelaksana bank dunia itu menjelaskan bahwa semua negara tidak dapat terhindar dari transformasi digital, termasuk penetrasi atau berbagai aktivitas ekonomi melalui platform digital. Dia berharap pajak digital dapat disepakati dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang tahun ini digelar di Italia. Pada KTT G20 tahun lalu, Sri Mulyani sudah menggaungkan pajak internasional, khususnya mengenai pajak digital. Hal itu menurutnya sangat penting bagi Indonesia.









