Arti Kemerdekaan dari Sepotong Ubi
Rabu (13/7/2022) pagi, Dorkas Nauw (42) mantap berdagang di Distrik Ayamaru Utara, satu dari 24 distrik di Maybrat. Dia menumpuk keladi dan petatas. Satu tumpukan terdiri atas 8-10 umbi. Dia menjualnya Rp 50.000 per tumpuk. Semua hasil kebun sendiri. Selain dikonsumsi bersama keluarga, Dorkas mengatakan, umbi miliknya sengaja dijual, 5 kali seminggu. ”Saya bisa dapat Rp 300.000-Rp 600.000 per sekali jualan,” kata Dorkas. Walau bukan jumlah besar, Dorkas sudah cukup bahagia. Selain membeli lauk-pauk, dia dapat menyisihkan sebagian untuk sekolah anaknya. Ibu empat anak ini yakin pendidikan adalah investasi berharga bagi anak-anaknya kelak. Terbukti, anak sulungnya baru saja lulus seleksi menjadi anggota TNI di Sorong. Semua biaya pendidikannya didanai lewat berjualan umbi, bahan makanan pokok khas tanah Papua
Ice Kambuaya (43), penjual lainnya, juga berharap banyak dari keladi. Siang itu, dia berharap sekarung keladinya laku Rp 200.000-Rp 300.000. Dengan itu, ia dapat menyisihkan setengahnya untuk pendidikan empat anaknya. Siang itu, semangat Ice untuk berjualan berlipat. Selin (9), anak bungsunya, ikut menemani berjualan. Ice menawarkan keladi, Selin tekun mengerjakan tugas sekolah. ”Mau jadi polisi. Mama bilang rajin belajar,” katanya. Peneliti di Pusat Studi Melanesia Universitas Muhammadiyah Sorong, Bustamin Wahid, mengatakan, warga Maybrat relatif lebih paham pentingnya pendidikan.Tinggal tidak jauh dari Sorong, sekitar 174 km, ikut membuka wawasan mereka. Pendidikan adalah investasi masa depan. Salah satu andalan mewujudkan itu dilakukan dengan memanfaatkan hasil alam, salah satunya menanam dan menjual umbi. (Yoga)
Senyuman Manis dari Pelayaran Perintis
Lasarus Mabala (36) turun dari KM Sabuk Nusantara 67 di Pelabuhan Pulau Lirang, Maluku Barat Daya, Maluku, Minggu (7/8) pagi. Belum sepekan pergi menggunakan kapal perintis itu, ia sudah kembali lagi ke pulau terluar itu, hanya beberapa mil laut jaraknya dari Timor Leste. ”Lima tahun lalu paling cepat satu bulan sekali ada kapal yang singgah di Lirang. Semakin ke sini, kapal semakin lancar, satu minggu bisa dua kali,” tutur Lasarus. Selasa (2/8) pagi, ia membawa setengah ton rumput laut kering menggunakan kapal itu dari Lirang ke Kota Kupang. Lasarus memilih mendatangi langsung pembeli agar bisa mendapatkan harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan pengepul di Lirang, Rp 30.000 per kg. Sebelumnya, rumput laut diborong pengepul yang datang dengan kapal sendiri ke Lirang dan pulau-pulau kecil lainnya dengan harga sangat murah. Selisih dengan harga di Kupang Rp 10.000 per kg. ”Sekarang beda. Tinggal telepon pembeli untuk tanya harga. Tunggu kapal perintis datang langsung angkut,” ujarnya tersenyum bahagia.
Berada di ujung timur negeri, sebagian besar dari 1.000 warga Pulau Lirang adalah nelayan perikanan tangkap dan pembudidaya rumput laut. Selama satu bulan terakhir, 22,4 ton rumput laut diangkut dengan kapal perintis ke Kupang. Dengan harga jual Rp 30.000 per kg, uang yang berputar dari usaha ini mencapai Rp 672 juta. Rumput laut juga diolah warga Pulau Luang, masih di Maluku Barat Daya. Pulau dengan penduduk kurang dari 1.000 itu pun mengandalkan hidup dari hasil laut. Pengiriman rumput laut dari Luang bahkan lebih dua kali lipat dibandingkan dengan Lirang. Selain itu, volume ikan asin dari sana jumlahnya berton-ton.
Frans Dahaklory (45), warga Pulau Kisar, memanfaatkan pelayaran perintis untuk usaha peternakan ayam pedaging. Pada Jumat (5/8), ia membawa 300 anak ayam dari Kupang untuk dikembangkan di Kisar. Setelah dua bulan, ayam bisa dijual Rp 70.000-Rp 100.000 per ekor. Ia mengatakan bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp 10 juta per bulan dengan berbisnis ayam pedaging. Kebutuhan ayam pedaging di Kisar meningkat seiring semakin tingginya kebutuhan warga. Dia mencontohkan kini bisa memenuhi pasokan acara keagamaan, upacara adat, kematian, kegiatan pemerintahan, dan suplai ke rumah makan. Dua tahun sebelumnya, hal itu nyaris mustahil karena keterbatasan akses transportasi.
Nakhoda KM Sabuk Nusantara 67, Petrus Parapaga, menuturkan, pelayaran perintis menjadi tulang punggung warga di daerah terluar dan terpencil. Kapal mengangkut hasil komoditas warga ke kota. Dari kawasan perkotaan, kapal membawa barang kebutuhan pokok. Dalam satu tahun, ada 24 kali perjalanan pada rute yang sama, pergi-pulang. Warga yang sakit juga mengandalkan kapal perintis untuk dibawa ke rumah sakit di kota. Tak ada pelayaran lain. Jika menggunakan speedboat, ongkos sewa paling murah Rp 10 juta per perjalanan. (Yoga)
KONEKTIVITAS LAUT, Harapan Besar Warga Indonesia Timur Terus Sejahtera dari Tol Laut
Kehadiran tol laut menjadi harapan warga di timur Indonesia untuk sejahtera. Akhir Juli 2022, kapal tol laut dari Surabaya, Jatim, menyinggahi Pulau Kisar, Maluku Barat Daya, Maluku. Di antara ratusan ton barang yang diturunkan, 20 ton di antaranya pesanan BUMDes Abusur, yang akan dipasarkan kepada warga setempat, berupa kebutuhan pokok, di antaranya beras, gula pasir, minyak, dan tepung terigu, yang diisi dalam sebuah peti kemas ukuran 20 feet. ”Ongkos satu container yang diangkut kapal tol laut Rp 7,5 juta. Kalau pakai kapal kargo swasta, harus bayar Rp 14 juta. Hampir dua kali lipat,” kata Friets Manaha, pengurus BUMDes Abusur.
Kapal tol laut merupakan angkutan yang disubsidi pemerintah pusat lewat Kemenhub, dengan tujuan menekan disparitas harga di daerah terpencil, pedalaman, pulau-pulau kecil, dan wilayah perbatasan. Harga barang di daerah itu biasanya sangat mahal apabila dibandingkan dengan harga di daerah produksi. Tol laut adalah program unggulan Presiden Jokowi yang mulai dijalankan awal 2016. Hingga kini tol laut beroperasi dari sejumlah pelabuhan seperti Tanjung Priok, Jakarta, dan Tanjung Perak, Surabaya. Setidaknya 186 rumah tangga di Desa Abusur menikmati manfaat tol laut. Mereka mendapat barang dengan harga lebih murah.
Sementara di beberapa pulau lain yang disinggahi tol laut, warganya memanfaatkan bukan hanya untuk pengiriman barang kebutuhan pokok dari Pulau Jawa. Saat kapal kembali, mereka menaikkan komoditas lokal seperti kopra, jambu mete, rumput laut, dan ikan. Tujuannya agar mendapatkan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan menjual kepada pengepul lokal. ”Di Surabaya, harga kopra Rp 12.000 per kg. Kalau jual di Saumlaki (Kepulauan Tanimbar), Rp 6.000 per kg. Ada pengusaha bersedia kerja sama dengan petani untuk mengangkut kopra. Kami bisa dapat harga jual lebih tinggi dan kian semangat untuk kerja kopra,” ucap Mundus Sarbunan (45), petani kopra Pulau Selaru, 2 jam perjalanan kapal laut dari Saumlaki. (Yoga)
Cerita Bahagia Para Penangkap Tuna
Penimbangan Arrafif milik Muhlis Lastori (31) di Desa Sangowo, Pulau Morotai, Maluku Utara, Rabu (27/7) meski sederhana, merupakan sumber penghidupan Muhlis, dua tahun terakhir. Dia adalah penerima tuna tangkapan nelayan setempat unuk disetor ke PT Harta Samudera di kawasan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Morotai, di Desa Daeo Majiko, Morotai Selatan, 10 km dari Sangowo. Ada 10 perahu yang biasa setor tangkapan kepada Muhlis. Saat bukan musimnya seperti sekarang, Muhlis hanya menerima 15 tuna seberat 300 kg. Saat musim tuna, ia bisa menerima 1.000-2.000 kg per hari. Musim tuna berlangsung tujuh bulan dalam setahun, yakni Januari-April dan Oktober-Desember. Nelayan Sangowo dan Morotai kerap melaut seharian (one day fishing) dengan perahu di bawah 3 GT.
Firman salah seorang nelayan, hari itu mendapatkan lima ekor tuna berbobot 11-19 kg. Biasanya, dia bisa mendapat dua atau tiga kali lipat lebih banyak. Dengan harga tuna Rp 17.000 per kg, Firman mengantongi Rp 1,3 juta. Firman hanya satu dari 700 nelayan Sangowo dan dari sekitar 3.000 nelayan di Morotai, yang tersebar di sisi timur hingga utara Pulau Morotai, seperti Daeo Majiko sampai Bere-bere di Kecamatan Morotai Timur. Menurut Nahrul (50), nelayan lainnya, nelayan tuna bisa mendapat Rp 10 juta per bulan. Mereka lebih sejahtera dari nelayan ikan lainnya. Sebagian tuna dijual ke PT Harta Samudera yang ada di Morotai. Namun, ada juga yang menjual ke Ternate dan Bitung di Sulawesi Utara demi harga tertinggi.
Kepala Cabang PT Harta Samudera I Made Malihartadana mengatakan, perusahaan pengolahan ikannya beroperasi sejak 2018. Dia punya 14 titik pemasok di Morotai. Dari sana, tuna diekspor dalam bentuk loin ke Vietnam melalui Surabaya. ”Setiap tahun, rata-rata ada 25-30 kontainer atau antara 300-360 ton loin ke Vietnam,” ujarnya. Malihartadana menilai, potensi itu masih terbuka lebar dan dibutuhkan beragam cara untuk memacunya, seperti peningkatan ukuran kapal, lama pencarian di laut, hingga luas lokasi pencarian. Penanggung Jawab SKPT Morotai Mahli Aweng mengatakan, potensi penangkapan tuna di Morotai belum ideal karena ukuran kapal relatif kecil.
Sandra Tjan dari Indonesia Locally Managed Marine Area mengatakan, produktivitas nelayan mesti ditingkatkan. Koperasi-koperasi mati dihidupkan kembali, termasuk BUMDes yang banyak tersebar di Morotai. ”BUMDes itu mesti didorong untuk menyedot ikan dari nelayan. Tak hanya tuna untuk dikelola dan dikembangkan, tapi juga ikan lain sehingga pada akhirnya kesejahteraan nelayan akan meningkat,” ujarnya. Saat akses pasar ekspor terbuka, kesejahteraan nelayan semakin terang. Namun, keterbatasan sarana membuat potensi belum optimal. Literasi keuangan juga dibutuhkan sehingga nelayan makin sejahtera. (Yoga)
Terang Kemerdekaan Energi di Pelosok Bolaang Mongondow
Impian Marham Dandong (36) terwujud pada permulaan 2022. Bermodalkan uang hasil berkebun, warga Dusun I, Desa Mengkang, Kecamatan Lolayan, membuka toko kelontong yang menjual kebutuhan sehari-hari, mulai dari gula sampai detergen. Tokonya kerap menjadi tujuan warga yang ingin melepaskan dahaga dengan segarnya aneka minuman dingin yang tersedia dalam sebuah kulkas satu pintu berwarna merah di pojok toko. ”Dulu belum bisa pakai (kulkas), sekarang, sudah ada setrum PLN,” kata Marham, Sabtu (16/7) sambal menunjukkan isi kulkasnya. Marham juga berjualan nasi kuning buatan istrinya. Mereka menggunakan penanak nasi elektrik sehingga proses memasak lebih cepat. Kulkas dan penanak nasi bukanlah barang elektronik termutakhir masa kini. Namun, mayoritas warga Mengkang baru memilikinya menjelang akhir 2018, saat listrik PLN mulai masuk.
Kebutuhan listrikn Desa Mengkang kini bertumpu pada sistem pembangkit Sulut dan Gorontalo (Sulutgo) PLN yang berkapasitas 620 megawatt (MW). Energi yang dihasilkan, kata Marham, sangat kuat dan stabil, tak seperti kincir air yang sejak 2006 menjadi satu-satunya pemasok listrik bagi warga desa. Pada kurun 2012-2018, rangkaian PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) di sana membuat Mengkang hujan penghargaan dari pemerintah pusat, salah satunya Desa Mandiri Energi, yang merupakan apresiasi atas kemampuan desa memanfaatkan sumber energy baru terbarukan (EBT) yang disediakan alam. Sangadi (Kades) Mengkang periode 2007-2018, Marsidi Kadengkang (65), juga dinobatkan sebagai Kader Konservasi Nasional pada 2012, lalu dianugerahi Kalpataru kategori Perintis Lingkungan pada 2019.
Jaringan PLN yang masuk akhir 2018 dalam rangka percepatan program Listrik Perdesaan membawa harapan baru bagi warga. Lam Makalalag (56), Sangadi Mengkang saat ini berkata, negara memperhatikan kemerdekaan energi Desa Mengkang yang hanya dihuni 57 keluarga atau 187 jiwa. Tak kurang dari Rp 2,53 miliar digelontorkan Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Sulut PT PLN membuat jaringan 5,99 kilometer sirkuit (kms) di Desa Mengkang, termasuk instalasi di 73 rumah. Kepala UP2K Sulut PT PLN R Cahyo Gunadi mengakui, secara hitung-hitungan bisnis, sebenarnya rugi besar. Namun pengorbanan finansial PT PLN dalam program Listrik Perdesaan sebenarnya menciptakan keuntungan pada aspek yang tak bisa dinilai dengan uang, yaitu keadilan pembangunan bagi perdesaan, Akhirnya, kemerdekaan energi dalam rengkuhan Desa Mengkang. (Yoga)
Mengapungkan Harapan di Kampung Terapung Bajo Torosiaje
Torosiaje, bisa dicapai dengan menyewa mobil Rp 700.000, termasuk bensin dan sopir, mengikuti jalan Trans-Sulawesi ke arah Sulteng. Dari dermaga, pengunjung menyeberangi laut sejauh 700 meter naik perahu bertarif Rp 5.000 per orang menuju Torosiaje. Dari kejauhan, rumah kayu berdinding warna-warni, keramba, perahu nelayan, hingga bangunan sekolah berdiri di atas laut. Inilah perkampungan terapung suku Bajo Torosiaje. Permukiman di atas air itu menjadi magnet bagi wisatawan. Seperti malam Jumat, Jootje Repi (79) berat hati menolak permintaan pengunjung untuk menginap di rumahnya. Empat kamar di homestay Mutiara Laut miliknya penuh hingga tiga malam ke depan. Tarif homestay itu Rp 150.000 per kamar per hari dengan ruangan 3,5 x 3 meter berisi kasur, meja, kipas angin, dan cermin.
Jootje mendesain rumah terapung berukuran 11 x 20 meter itu sebagai homestay pada 2012. Kala kepala desa Torosiaje periode 2005-2011 itu diminta pejabat Kementerian Pariwisata menyediakan penginapan. ”Tidak perlu mewah, yang penting bersih,” ucapnya. Ketika wisata Torosiaje berkembang tahun 2018, pemda dan masyarakat menyiapkan 11 rumah sebagai homestay. Di situ pengunjung juga tinggal bersama pemilik rumah. Wisatawan bisa ke dapur jika lapar tengah malam. ”Ibu Gubernur (Idah Rusli Habibie) pernah makan di dapur,” ucap Jootje sambil menunjuk meja makan kayu. Namun, kini, tersisa dua rumah warga yang dijadikan penginapan.
Pelanggannya mayoritas ASN dalam dan luar Gorontalo. Bulan lalu, ada pula pengunjung asal China menginap di sana. Kehadiran homestay mengungkit usaha warga, dari warung makanhingga ojek perahu. ”Kalau libur Lebaran, saya bias dapat Rp 300.000 per hari. Biaya bensin Rp 20.000. Kalau tangkap ikan, modalnya Rp 100.000,” ucap Aman Latif (40), warga Torosiaje Jaya, desa tetangga Torosiaje. Pertama kali ke Torosiaje, Kustami(50), warga Sragen, Jateng, takjub pada perkampungan terapung itu. ”Saya penasaran, masak ada kampung di atas laut. Saya pikir Cuma sedikit, ternyata banyak rumah,” ucap wisatawan yang datang bersama sembilan anggota keluarganya itu.
Kepala Desa Torosiaje Uten Sairullah mengatakan, perkampungan terapung di desanya juga telah menarik wisatawan. Pihaknya juga mengembangkan Alo Cinta, jembatan kayu dengan panjang 300 meter yang bagian ujungnya berbentuk hati. Dermaga itu dicat warna-warni. Pengunjung dapat menikmati matahari terbenam di sana. Pihaknya juga tengah mengembangkan spot menyelam dan melihat hiu. Lokasinya di Pulau Karang, sekitar satu jam dengan kapal cepat dari Torosiaje. (Yoga)
Penaikan Harga BBM Harus Jadi Opsi Terakhir
JAKARTA – Penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi harus menjadi opsi terakhir. Sebelum menaikkan harga BBM bersubsidi jenis Pertalite dan solar subsidi, pemerintah sebaiknya melakukan penghematan melalui pembatasan konsumsi agar BBM bersubsidi lebih tepat sasaran, misalnya Pertalite dan solar subsidi hanya boleh dikonsumsi sepeda motor, angkutan umum, dan kendaraan logistik jenis truk 4 roda. Kebijakan ini bisa menghemat anggaran BBM bersubsidi sekitar Rp 50 triliun. Dalam menerapkan kebijakan BBM bersubsidi, pemerintah harus mempertimbangkan tiga hal, yaitu kemampuan daya beli masyarakat, kesehatan APBN, dan kondisi Pertamina sebagai BUMN yang ditugaskan untuk menjalankan public service obligation (PSO). Jika akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi karena APBN dianggap tak mampu lagi menanggung subsidi, kenaikan harga Pertalite dan solar subsidi jangan terlalu tinggi. (Yetede)
Berbalik Untung, Smartfren Cetak Lonjakan Harga 112%
JAKARTA – PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) mencatatkan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 54,6 miliar pada semester I-2022, tumbuh 112,08% dibanding periode sama tahun lalu yang rugi Rp 451,9 miliar. Lonjakan laba ini ditopang oleh kenaikan pendapatan usaha perseroan hingga 10,16% menjadi Rp 5,45 triliun dibanding semester I-2021 yang sebesar Rp 4,95 triliun. Berdasarkan laporan keuangan yang dipubl ikasi Senin (15/8/2022) , per tumbuhan
pendapatan dikontribusi dari semua lini bisnis perseroan, baik dari jasa telekomunikasi, jasa interkoneksi, maupun bisnis lainnya.
Tercatat, pendapatan usaha perseroan masih didominasi dari bisnis jasa telekomunikasi yang mencapai Rp 5,08 triliun atau 93,26%
dari total pendapatan semester I-2022. Angka itu tumbuh 8,05% dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar Rp 4,7 triliun. Pendapatan jasa telekomunikasi terdiri atas bisnis data yang mencapai Rp 4,95 triliun dan nondata Rp 139,42 miliar. (Yetede)
Pelaku Perjalanan Belum Vaksin Booster Wajib Test PCR
JAKARTA - Pelaku perjalanan dalam negeri berusia 18 tahun ke atas yang belum mendapatkan vaksinasi ketiga (booster) diwajibkan tes polymerase chain reaction (PCR). Hal itu tertuang dalam empat surat edaran (SE) pelaksanaan perjalanan orang dalam negeri pada masa pandemi Covid-19 yang diterbitkan untuk menyesuaikan dengan SE Satgas Penanganan Covid-19 Nomor 23 Tahun 2022 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri pada Masa Pandemi Covid-19. “Keempat SE Kemenhub tersebut yakni SE Nomor 77 untuk transportasi udara, SE Nomor 78 untuk transportasi laut, SE Nomor 79 untuk transportasi darat, dan SE Nomor 80 untuk transportasi kereta api. SE ini mulai efektif berlaku pada 11 Agustus 2022,” kata Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati dalam pernyataan resminya di Jakarta, Senin (15/8/2022). Adita menjelaskan, sejumlah perubahan ketentuan syarat perjalanan dalam negeri yang tertuang dalam SE tersebut yakni kewajiban pelaku perjalanan dalam negeri (PPDN) untuk melakukan tes PCR 3x24 jam yang sampelnya diambil dalam kurun waktu sebelum keberangkatan jika belum mendapatkan vaksinasi dosis ketiga (booster). (Yetede)
Kejagung Tahan Surya Darmadi Tersangka Korup RP 78 Triliun
JAKARTA - Jaksa Agung Republik Indonesia Sanitiar Burhanuddin mengatakan, pihaknya akan menahan pemilik PT Duta Palma Group sekaligus tersangka kasus korupsi penguasaan lahan sawit Surya Darmadi selama 20 hari di Rutan Salemba, Jakarta Pusat. “Kami sedang melakukan pemeriksaan atas tersangka SD (Surya Darmadi) dan kami akan melakukan penahanan untuk 20 hari,” kata Burhanuddin kepada wartawan dalam konferensi pers di Gedung Kartika Kejaksaan Agung, Jakarta, Senin (15/8/2022). Diketahui, Surya Darmadi tiba di Kejaksaan Agung pada Senin (15/8/2022) pukul 13.56 WIB guna memenuhi panggilan Kejaksaan Agung. Juniver Girsang selaku Kuasa Hukum Surya Darmadi menegaskan bahwa tidak benar bila kliennya dinyatakan kabur karena terbukti Surya Darmadi datang ke Kejaksaan Agung. “Ada informasi yang menyatakan bahwa dia selama ini kabur, itu tidak benar. Dengan kehadiran ini membuktikan bahwa klien kami sangat kooperatif,” ucap Juniver. (Yetede)









