Senyuman Manis dari Pelayaran Perintis
Lasarus Mabala (36) turun dari KM Sabuk Nusantara 67 di Pelabuhan Pulau Lirang, Maluku Barat Daya, Maluku, Minggu (7/8) pagi. Belum sepekan pergi menggunakan kapal perintis itu, ia sudah kembali lagi ke pulau terluar itu, hanya beberapa mil laut jaraknya dari Timor Leste. ”Lima tahun lalu paling cepat satu bulan sekali ada kapal yang singgah di Lirang. Semakin ke sini, kapal semakin lancar, satu minggu bisa dua kali,” tutur Lasarus. Selasa (2/8) pagi, ia membawa setengah ton rumput laut kering menggunakan kapal itu dari Lirang ke Kota Kupang. Lasarus memilih mendatangi langsung pembeli agar bisa mendapatkan harga jual lebih tinggi dibandingkan dengan pengepul di Lirang, Rp 30.000 per kg. Sebelumnya, rumput laut diborong pengepul yang datang dengan kapal sendiri ke Lirang dan pulau-pulau kecil lainnya dengan harga sangat murah. Selisih dengan harga di Kupang Rp 10.000 per kg. ”Sekarang beda. Tinggal telepon pembeli untuk tanya harga. Tunggu kapal perintis datang langsung angkut,” ujarnya tersenyum bahagia.
Berada di ujung timur negeri, sebagian besar dari 1.000 warga Pulau Lirang adalah nelayan perikanan tangkap dan pembudidaya rumput laut. Selama satu bulan terakhir, 22,4 ton rumput laut diangkut dengan kapal perintis ke Kupang. Dengan harga jual Rp 30.000 per kg, uang yang berputar dari usaha ini mencapai Rp 672 juta. Rumput laut juga diolah warga Pulau Luang, masih di Maluku Barat Daya. Pulau dengan penduduk kurang dari 1.000 itu pun mengandalkan hidup dari hasil laut. Pengiriman rumput laut dari Luang bahkan lebih dua kali lipat dibandingkan dengan Lirang. Selain itu, volume ikan asin dari sana jumlahnya berton-ton.
Frans Dahaklory (45), warga Pulau Kisar, memanfaatkan pelayaran perintis untuk usaha peternakan ayam pedaging. Pada Jumat (5/8), ia membawa 300 anak ayam dari Kupang untuk dikembangkan di Kisar. Setelah dua bulan, ayam bisa dijual Rp 70.000-Rp 100.000 per ekor. Ia mengatakan bisa meraup keuntungan bersih hingga Rp 10 juta per bulan dengan berbisnis ayam pedaging. Kebutuhan ayam pedaging di Kisar meningkat seiring semakin tingginya kebutuhan warga. Dia mencontohkan kini bisa memenuhi pasokan acara keagamaan, upacara adat, kematian, kegiatan pemerintahan, dan suplai ke rumah makan. Dua tahun sebelumnya, hal itu nyaris mustahil karena keterbatasan akses transportasi.
Nakhoda KM Sabuk Nusantara 67, Petrus Parapaga, menuturkan, pelayaran perintis menjadi tulang punggung warga di daerah terluar dan terpencil. Kapal mengangkut hasil komoditas warga ke kota. Dari kawasan perkotaan, kapal membawa barang kebutuhan pokok. Dalam satu tahun, ada 24 kali perjalanan pada rute yang sama, pergi-pulang. Warga yang sakit juga mengandalkan kapal perintis untuk dibawa ke rumah sakit di kota. Tak ada pelayaran lain. Jika menggunakan speedboat, ongkos sewa paling murah Rp 10 juta per perjalanan. (Yoga)
Postingan Terkait
Fregat, Kapal Tempur Canggih Karya Anak Bangsa
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Kemendagri Bentuk Satgas Khusus
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023