Mengapungkan Harapan di Kampung Terapung Bajo Torosiaje
Torosiaje, bisa dicapai dengan menyewa mobil Rp 700.000, termasuk bensin dan sopir, mengikuti jalan Trans-Sulawesi ke arah Sulteng. Dari dermaga, pengunjung menyeberangi laut sejauh 700 meter naik perahu bertarif Rp 5.000 per orang menuju Torosiaje. Dari kejauhan, rumah kayu berdinding warna-warni, keramba, perahu nelayan, hingga bangunan sekolah berdiri di atas laut. Inilah perkampungan terapung suku Bajo Torosiaje. Permukiman di atas air itu menjadi magnet bagi wisatawan. Seperti malam Jumat, Jootje Repi (79) berat hati menolak permintaan pengunjung untuk menginap di rumahnya. Empat kamar di homestay Mutiara Laut miliknya penuh hingga tiga malam ke depan. Tarif homestay itu Rp 150.000 per kamar per hari dengan ruangan 3,5 x 3 meter berisi kasur, meja, kipas angin, dan cermin.
Jootje mendesain rumah terapung berukuran 11 x 20 meter itu sebagai homestay pada 2012. Kala kepala desa Torosiaje periode 2005-2011 itu diminta pejabat Kementerian Pariwisata menyediakan penginapan. ”Tidak perlu mewah, yang penting bersih,” ucapnya. Ketika wisata Torosiaje berkembang tahun 2018, pemda dan masyarakat menyiapkan 11 rumah sebagai homestay. Di situ pengunjung juga tinggal bersama pemilik rumah. Wisatawan bisa ke dapur jika lapar tengah malam. ”Ibu Gubernur (Idah Rusli Habibie) pernah makan di dapur,” ucap Jootje sambil menunjuk meja makan kayu. Namun, kini, tersisa dua rumah warga yang dijadikan penginapan.
Pelanggannya mayoritas ASN dalam dan luar Gorontalo. Bulan lalu, ada pula pengunjung asal China menginap di sana. Kehadiran homestay mengungkit usaha warga, dari warung makanhingga ojek perahu. ”Kalau libur Lebaran, saya bias dapat Rp 300.000 per hari. Biaya bensin Rp 20.000. Kalau tangkap ikan, modalnya Rp 100.000,” ucap Aman Latif (40), warga Torosiaje Jaya, desa tetangga Torosiaje. Pertama kali ke Torosiaje, Kustami(50), warga Sragen, Jateng, takjub pada perkampungan terapung itu. ”Saya penasaran, masak ada kampung di atas laut. Saya pikir Cuma sedikit, ternyata banyak rumah,” ucap wisatawan yang datang bersama sembilan anggota keluarganya itu.
Kepala Desa Torosiaje Uten Sairullah mengatakan, perkampungan terapung di desanya juga telah menarik wisatawan. Pihaknya juga mengembangkan Alo Cinta, jembatan kayu dengan panjang 300 meter yang bagian ujungnya berbentuk hati. Dermaga itu dicat warna-warni. Pengunjung dapat menikmati matahari terbenam di sana. Pihaknya juga tengah mengembangkan spot menyelam dan melihat hiu. Lokasinya di Pulau Karang, sekitar satu jam dengan kapal cepat dari Torosiaje. (Yoga)
Tags :
#PariwisataPostingan Terkait
Aturan Baru Jadi Tantangan Industri
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023