;

Ekonomi Melambat, Kinerja PPN Terdampak

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Kontan

Laju ekonomi Indonesia pada kuartal keempat diperkirakan melambat sejalan dengan lonjakan inflasi. Kondisi ini akan mempengaruhi penerimaan pajak. Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Fajry Akbar mengatakan, risiko perlambatan ekonomi berpotensi mengganggu penerimaan pajak. Terutama pajak pertambahan nilai (PPN) yang responsif terhadap perubahan ekonomi. "Kalau terjadi perlambatan ekonomi, pasti kinerja penerimaan PPN yang terlebih dahulu terdampak," ujar Fajry kepada KONTAN, Rabu (12/10).

Waktunya Akumulasi Saat IHSG Terkoreksi

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Kontan

Selama empat hari berturut-turut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di bawah tekanan. IHSG bergerak mundur dari level 7.000 hingga bertengger di 6.909,20 pada akhir perdagangan Rabu (12/10). Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, potensi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat The Fed yang semakin agresif menjadi salah satu pemberat langkah IHSG. Apalagi, ancaman resesi global makin membayang. Sementara, Direktur Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus mengatakan, dalam jangka pendek, IHSG masih akan mengalami tekanan dari kenaikan suku bunga, pelemahan rupiah dan hengkangnya dana asing dari pasar saham Indonesia. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, sejak awal tahun hingga Rabu (12/10), sejumlah sektor masih mengalami tekanan yang cukup dalam. Misalnya, indeks sektor teknologi yang turun 25,84% dan sektor properti dengan penurunan 12,06%. Sektor konsumer siklikal juga melandai 6,16% dan indeks sektor keuangan turun 4,74% sejak awal tahun. "Koreksi yang terjadi saat ini dapat digunakan investor untuk mulai melakukan akumulasi saham-saham penggerak indeks," jelas Daniel.

Yield US Treasury Rekor, Pasar Obligasi Negara Tertekan

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Kontan

Sempat melandai di awal Oktober, yield US Treasury kembali melesat memasuki pertengahan bulan ini. Per pukul 20.52 WIB, Rabu (12/10), yield US Treasury acuan tenor 10 tahun berada di level 3,939%. Perlu dicatat juga, yield US Treasury kemarin di level 3,947% tersebut merupakan rekor tertinggi yield US Treasury sepanjang sejarah. Kondisi ini tentu menekan pasar obligasi negara lain, termasuk pasar obligasi Indonesia. Senior Vice President, Head of Retail, Product Research & Distribution Division Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi Riawan mengatakan, yield US Treasury masih berpotensi naik. Analis menilai strategi ini cukup efektif menjaga harga SUN. Apalagi, porsi investor asing di SUN tidak lagi besar. "Tekanan jual terhadap obligasi secara umum sebenarnya sudah terus menurun seiring kuatnya fundamental serta kecilnya porsi kepemilikan asing," jelas Dimas Yusuf,

Bank-Bank Kecil Terus Berjuang

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Kontan

Tenggat waktu pemenuhan ketentuan modal inti minimun perbankan sudah semakin mepet. Sebagian besar bank kecil yang harus menambah modal akan menempuh aksi rights issue atau penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Adapun sebagian lainnya memilih private placement atau melalui injeksi modal secara langsung yang dilakukan pemilik saham maupun investor baru. Bank Ina Perdana Tbk (BINA), misalnya, memilih jalur rights issue. BINA akan menerbitkan saham baru sebanyak 296,85 juta saham atau 4,76% dari total saham yang ditempatkan. Per Juni 2022, modal inti Bank Ina tercatat Rp 2,27 triliun. Jika seluruh saham rights issue terserap modal inti BINA akan melebihi Rp 3 triliun. Daniel Budirahaju, Direktur Utama Bank Ina mengatakan, perseroan akan mengembangkan superapp. "Setelah mendapat izin digital banking dari OJK, kami akan mengembangkan unit digital bank," kata Daniel, Rabu (12/10). Sementara Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) akan menggelar private placement dengan menerbitkan saham baru sekitar 19,9 miliar unit saham. Saham baru ini bakal diserap oleh Capital Global Investama, pengendali saham eksisting. Bank Ganesha Tbk (BGTG ) juga akan rights issue dengan harga pelaksanaan sebesar Rp 120 per saham. Sehingga berpeluang meraup dana Rp 900 miliar. Modal inti Bank Ganesha per Juni 2022 sebesar Rp 2,1 triliun.

Investor Mulai Tak Tertarik Mendanai Fintech

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Kontan

Perusahaan financial technology atau fintech sempat menjadi sektor yang digadang-gadang sebagai masa depan layanan keuangan. Bahkan, industri ini sempat menjadi primadona bagi investor untuk menempatkan dananya. Daya tarik sektor fintech mulai muncul ketika pandemi Covid-19 menyebar dan memaksa orang-orang untuk berdiam di rumah. Kini keadaan berubah. Namun belakangan ini pamor fintech mulai memudar. Di kuartal I tahun 2022 nilai investasi di sektor ini hanya sekitar US$ 29,7 miliar dan terus berlanjut hingga terbaru di kuartal III yang hanya mencapai US$ 12,9 miliar. Jumlah tersebut turun 64% secara tahunan.

LABA SOLID BANK JUMBO

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Bisnis Indonesia (H)

Penaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) yang berimbas pada kenaikan suku bunga simpanan, rupanya tak serta merta membuat bank buru-buru mengerek bunga kredit. Bahkan, kelompok bank besar, yang menjadi magnet bagi nasabah perbankan, diperkirakan masih menahan suku bunga kredit, meskipun biaya dana mulai meninggi. Tak ayal, strategi tersebut diprediksi membuat profitabilitas bank-bank besar pada akhir tahun ini tetap moncer. Apalagi, permintaan kredit diramal tetap tinggi kendati risiko lonjakan inflasi membayangi. Gelagat itu sejatinya sudah terlihat dari kinerja industri perbankan sejauh ini. Hingga semester I/2022 saja, total laba industri bank tembus Rp97,2 triliun, atau melonjak 43,95% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan laba itu menjadi indikasi bahwa bank, terutama di kelompok bank papan atas, berhasil mengelola selisih atau spread antara bunga pinjaman dengan bunga simpanan. Faktanya, selama ini kontribusi laba bank-bank besar terhadap total laba industri selalu dominan. Jika dilihat pada Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4 saja, laba per semester I/2022 tembus Rp68,94 triliun, atau hampir 70% dari total industri. Saat dimintai tanggapan, Direktur PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Supari mengatakan bahwa laba yang dibukukan perseroan pada tahun ini masih lebih baik jika dibandingkan dengan capaian pada tahun lalu.


Napas Baru Proyek Pelabuhan Kalibaru

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Mobilisasi alat berat di area Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara bakal meningkat dalam waktu dekat. Lalu lalang pekerja proyek di kawasan pelabuhan tersibuk Indonesia itu juga bakal kian masif setelah PT Pelabuhan Indonesia (Persero) memutuskan melanjutkan lagi proyek Terminal Peti Kemas Kalibaru atau New Priok. Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Arif Suhartono menyatakan Pelindo segera menggeber proyek Terminal Kalibaru seiring dengan makin dekatnya rencana pergantian status pandemi Covid-19 menjadi endemi. Proyek Terminal Peti Kemas Kalibaru atau New Priok Container Terminal One (NPCT1) merupakan bagian dari pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok. Saat ini, NPCT1 yang beroperasi sejak September 2016 sudah menangani 1 juta TEUs per tahun dari kapasitas terpasang 1,5 juta TEUs. Proyek Kalibaru tahap berikutnya meliputi pembangunan area reklamasi dan breakwater seluas total 178 hektare untuk New Priok Container Terminal Two (NPCT2), NPCT3 serta area Terminal Produk 1 dan Terminal Produk 2. Arif menyatakan semestinya Terminal Kalibaru sudah rampung pada 2020 karena arus barang melalui Pelabuhan Tanjung Priok yang sudah melebihi 70%. 

 Untuk kemudahan akses operasional Terminal Kalibaru, Pelindo yang merupakan hasil merger empat BUMN pelabuhan juga akan mengembangkan New Priok Eastern Access (NPEA) semacam jalan tol di atas laut sepanjang 7,6 kilometer sebagai akses masuk melalui pintu timur Tanjung Priok. Rencananya, akses NPEA akan tersambung dengan Jalan Tol Cibitung-Cilincing (JTCC) yang menghubungkan Pelabuhan Tanjung Priok dengan kawasan industri di Bekasi dan Karawang yang diresmikan Presiden Joko Widodo belum lama ini. Sementara itu, Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Carmelita Hartoto menyambut baik rencana Pelindo menggeber lagi proyek Terminal Kalibaru di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Apalagi, dia menyatakan pengoperasian Jalan Tol Cibitung--Cilincing, akan memicu produktivitas jasa kepelabuhanan. “Sudah barang tentu adanya Terminal Kalibaru dan Tol Cilincing--Cibitung akan memicu produktivitas, dan diharapkan bisa mendorong efektivitas dan efisiensi kepelabuhanan,” katanya.


PENDANAAN KORPORASI : AMBIL MOMENTUM EMISI SURAT UTANG

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Sejumlah korporasi mengeksekusi rencana penggalangan dana dengan menerbitkan surat utang baru pada kuartal IV/2022. Momentum itu dipilih sebelum suku bunga naik dengan lebih agresif pada 2023.n Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat penerbitan efek bersifat utang dan sukuk korporasi pada Januari—September 2022 mencapai 102 emisi dengan total penghimpunan dana Rp130,26 triliun. Nilai itu telah melampaui realisasi sepanjang 2021 yang tercatat sebanyak 96 emisi dengan nilai akumulasi Rp104,36 triliun. Tingginya minat korporasi menerbitkan surat utang berlanjut pada Oktober 2022. Pada awal bulan ini, Bursa Efek Indonesia mencatat penerbitan obligasi oleh tiga korporasi. Pertama, Obligasi Berkelanjutan II Sinar Mas Multiartha Tahap III Tahun 2022 yang diterbitkan oleh PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) senilai Rp1,66 triliun. Kedua, Obligasi I Sejahteraraya Anugrahjaya Tahun 2022 yang diterbitkan oleh PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) senilai Rp950 miliar pada 10 Oktober 2022. SRAJ membagikan kupon 9,75% untuk tenor 3 tahun dan 10,5% untuk tenor 5 tahun. Ketiga, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) menggalang dana Rp3,81 triliun dari penerbitan obligasi dan sukuk. Emiten kertas Grup Sinar Mas itu membanderol kupon obligasi sebesar 6% untuk tenor 370 hari, 9,75% tenor 3 tahun, dan 10,25% tenor 5 tahun.


PENGHILIRAN MINERAL LOGAM : PENGUSAHA KEBINGUNGAN CARI PEMBELI

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Bisnis Indonesia

Pelaku usaha pertambangan nikel akan tetap mengekspor mengekspor olahan bijih nikel hasil pemurnian awal lantaran belum terciptanya industri perantara dan hilir yang kuat untuk menyerap komoditas setengah jadi tersebut. Langkah ekspor bijih nikel hasil pemurnian awal pun bakal membuat nilai tambah olahan komoditas dari sejumlah pabrik pemurnian dan pengolahan mineral logam atau smelter justru lari ke luar negeri. CEO Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) Alexander Barus mengatakan bahwa belum siapnya industri anoda domestik untuk melanjutkan serapan turunan dari mixed hydroxide precipitate (MHP) seperti nikel sulfat (NiSO4) dan kobalt sulfat (CoSO4) membuat pengusaha kebingungan mencari industri yang siap menyerap produknya.“MHP kita masih ekspor karena kita belum olah di dalam negeri sampai ke sulfat, ke packing menjadi sel. Itu masih tahap satu setelah bijih nikel, karena siapa yang mau beli?” kata Alex saat ditemui di Jakarta, Rabu (12/10).Dengan demikian, Alex menegaskan bahwa nilai tambah dari kegiatan penghiliran tambang nikel di Morowali sebagian besar justru terjadi di luar negeri. Kawasan industri IMIP yang melingkupi luasan tambang nikel mencapai 43.000 hektare itu sendiri sudah memproduksi nickel pig iron (NPI) sebesar 3,63 juta MTPY. Selain itu, kawasan industri IMIP juga memproduksi katoda mencapai 195.000 MTPY dari tiga pelaku industri.

Sementara itu, President Director PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) Rachmat Makkasau memperkirakan 70% produksi katoda tembaga hasil pemurnian dari smelter domestik akan diekspor pada 2025 mendatang. Rachmat beralasan industri hilir baru mampu menyerap 30% dari kapasitas produksi katoda tembaga di dalam negeri. Berdasarkan hitung-hitungan Amman Mineral, smelter domestik akan mulai memproduksi 1,1 juta ton katoda tembaga pada 2025. Proyeksi itu berasal dari target commercial operation date dari smelter PT Freeport Indonesia (PTFI) dan Amman Mineral yang ditarget efektif pada akhir 2024.Sementara itu, permintaan katoda tembaga domestik saat itu baru mencapai di kisaran 300.000 ton.

KERJA SAMA ANGKUTAN LAUT : PELNI GANDENG MITRA ASING PADA 2023

Hairul Rizal 13 Oct 2022 Bisnis Indonesia

PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) tengah menjajaki kolaborasi angkutan laut dengan Cosco Shipping, Maersk Line, dan Swire Shipping untuk mendongkrak muatan kapal sekaligus menekan biaya logistik nasional. Direktur Utama PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Tri Andayani mengatakan penjajakan dengan operator jalur utama itu merupakan bagian dari strategi kolaborasi dengan mitra strategis. “Rencananya 2023 kolaborasi dengan MLO dimulai,” katanya dalam kunjungan ke redaksi Bisnis, Rabu (12/10). Menurutnya, langkah kolaborasi dengan sejumlah perusahaan pelayaran luar negeri bertujuan membantu Pelni melakukan ekspansi ke kawasan Asean. Selain ekspansi usaha, Tri menyebut telah mendorong transformasi SDM dalam komposisi perusahaan. Saat ini, dia sebagian dari jabatan manajemen Pelni menyebutkan untuk bisa dikembangkan oleh generasi muda. “Target 2023 kami menargetkan laba Rp233 miliar dan di 2024 menjadi Rp335 miliar. Lalu pada 2024 atau akhir dari RJPP kita di 2019 itu adalah menginisiasi Pelni menjadi national shipping holding company dan national flag carrier,” ujar Tri. 

Pada 2024, dia menargetkan Pelni meraup pendapatan meningkat menjadi Rp6,92 triliun dan laba sebesar Rp335,03 miliar. Direktur Usaha dan Angkutan Barang dan Tol Laut Pelni Yossianis Marciano menambahkan kolaborasi dengan MLO tidak hanya menyasar perusahaan swasta saja bahkan BUMN asing. “Misalnya China Cosco Shipping itu BUMN China. Ini kita mau masuk ke situ untuk bisa bantu pemerintah terkait dengan angkutan bahan material misalnya batu bara yang dibutuhkan PLN,” ujarnya. Dengan Cosco, menurutnya, saat ini lagi tahap diskusi guna merealisasikan kerja sama mulai dari kerja sama operasi hingga kolaborasi sewa kapal.


Pilihan Editor