;

Besar Investasi daripada Konsumsi

Yoga 12 Oct 2022 Tempo

Peningkatan inflasi hingga sinyal resesi perekonomian global pada tahun depan membawa perubahan dalam pola hidup masyarakat. Masyarakat mulai menghemat dan membatasi konsumsi. Di sisi lain, investasi dan tabungan terus meningkat. Peningkatan investasi tercermin dari bertambahnya pengguna platform investasi, Bibit, yang menyasar instrumen investasi konservatif dan minim risiko. “Secara khusus, kami melihat peningkatan animo masyarakat dalam berinvestasi pada surat berharga negara (SBN) dari waktu ke waktu. Terbukti, kami menjadi mitra distribusi kategori fintech yang mencetak angka terbesar untuk penjualan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) retail seri SR017 pada 19 Agustus-14 September 2022,” ujar PR & Corporate Communication Lead, William, kepada Tempo, kemarin, 11 Oktober 2022. Sebelumnya, dalam penjualan Saving Bond Ritel seri SBR011 periode 25 Mei-16 Juni 2022, Bibit menjadi mitra distribusi kategori fintech yang mencatatkan jumlah investor terbanyak. “Banyak di antara pengguna kami yang ingin memiliki passive income yang aman, 100 persen dijamin oleh negara,” katanya.

Menurut William, hal itu tak terlepas dari peningkatan literasi keuangan secara umum yang telah membentuk kebiasaan masyarakat yang sadar berinvestasi demi masa depan keuangan yang lebih baik. “Apalagi untuk berinvestasi di berbagai instrumen pasar modal kini dapat dilakukan dengan aman, mudah, seamless, and only one click away dari smartphone para pengguna,” kata William. Dia menambahkan, selain berinvestasi pada SBN, banyak pengguna yang melirik produk reksa dana pendapatan tetap di tengah kondisi perekonomian yang tak menentu. Tak hanya Bibit yang panen kinerja positif. Platform investasi Bareksa juga mengalami peningkatan jumlah pengguna dan aktivitas transaksi dalam beberapa waktu terakhir. Head of Investment Bareksa, Christian Halim, mengatakan investasi favorit pengguna saat ini adalah reksa dana indeks yang membukukan kenaikan dana kelolaan atau asset under management (AUM) 31,9 % dan kenaikan unit penyertaan 21,9 %. “Berikutnya adalah reksa dana pendapatan tetap yang unit penyertaannya tumbuh 2,1 %, meski secara AUM turun 4,5 %,” ucapnya (Yoga)

DAMPAK PERANG Inflasi Cenderung Terbang Tinggi

Yoga 12 Oct 2022 Kompas (H)

Perang Rusia-Ukraina memasuki babak baru yang makin eskalatif. Gangguan rantai pasok global yang sudah berlangsung selama ini akan makin intens. Akibatnya, harga energi dan pangan diperkirakan akan kembali meroket. Ujung-ujungnya inflasi cenderung terbang tinggi. ”Eskalasi perang Rusia-Ukraina ini sama sekali bukan kejutan. Banyak pakar memprediksi perang akan terus bereskalasi dan ini belum yang puncak,” kata ekonom Agustinus Prasetyantoko yang juga Rektor Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta di Jakarta, Selasa (11/10). ”Kalaupun pasokannya tidak berkurang, harga akan naik karena gangguan pada rantai distribusinya,” ujarnya. Dampak lainnya, kata Prasetyantoko, eskalasi perang Rusia-Ukraina memperumit persoalan global yang sudah rumit. Dengan demikian, resesi global yang sudah hampir pasti terjadi akan makin terakselerasi realisasinya. Ini khususnya akan terjadi di Eropa dan negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi yang erat, baik dengan Rusia maupun Ukraina.

Indonesia diperkirakan tidak akan jatuh pada resesi, melainkan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Sebagai eksportir dan importir komoditas, Indonesia akan mengalami efek positif sekaligus negatif.” Ini akan direspons dengan suku bunga tinggi. Nilai tukar rupiah akan tertekan,” kata Prasetyantoko. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia Adhi S Lukman menyatakan, komplikasi perang Rusia-Ukraina terhadap dunia usaha di dalam negeri sudah terasa selama ini. Salah satu yang paling mencolok adalah pelaku usaha dipaksa menumpuk  stok bahan baku lebih banyak akibat gangguan rantai pasok. Harga-harga bahan baku yang diimpor, kata Adhi, juga sudah naik. Puncaknya saat harga bahan baku naik berkisar 30-35 persen. Saat ini kenaikannya 10-15 % dibandingkan tahun lalu. Biaya logistik juga melonjak. Puncaknya saat biaya logistik mencapai 5-6 kali lipat sebelum perang. Saatini kenaikannya berkisar 2-2,5 kali posisi sebelum perang. (Yoga)

Kenaikan Harga Barang Menurunkan Kepercayaan

Hairul Rizal 11 Oct 2022 Kontan (H)

Lonjakan harga barang dan jasa inflasi mulai mencekik leher masyarakat. Gara-gara lonjakan inflasi pula, kepercayaan turun dan optimisme masyarakat terkikis. Jika tak diwaspadai, situasi ini bisa berimplikasi negatif bagi ekonomi maupun aspek sosial. Gambaran pudarnya optimisme masyarakat tampak dalam sejumlah survei yang digelar oleh sejumlah institusi negara maupun lembaga riset ekonomi. Yang terbaru, kemarin (10/10), Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2022 di level 117,2, turun 7,2 poin dari bulan sebelumnya. Salah satu penggerus keyakinan itu adalah lonjakan inflasi menyebabkan rata-rata porsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi naik 1,2% poin menjadi 74,8%. Di saat yang sama, pendapatan konsumen yang disimpan turun 1% poin menjadi 15,8%, dan rerata rasio pembayaran cicilan utang turun 0,2% poin menjadi 9,4%. Kepala Ekonom DRI Rima Prama Artha menyatakan, level IKK memang sudah kembali ke level sebelum pandemi Covid-19. Namun sejak Juli 2022, angka IKK cenderung turun yang menunjukkan optimisme konsumen tengah tergerus.

Giliran Rupiah Menghantam Konstruksi dan Properti

Hairul Rizal 11 Oct 2022 Kontan (H)

Pukulan bertubi-tubi menghampiri pengusaha konstruksi dan properti! Terhantam kenaikan harga bahan bangunan, biaya pekerja, harga bahan bakar, bunga, kini pukulan baru datang. Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini di level Rp 15.300 per dollar AS menjadi hantaman baru. Ada potensi kenaikan harga bahan bangunan, utamanya yang impor. Saat ini. harga bahan bangunan seperti semen dan besi naik. Harga semen ukuran 40 kilogram, semisal terkerek 27% menjadi Rp 65.000 dalam beberapa bulan terakhir. Wakil Ketua Umum IX Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), Didi Iskandar menyebut, pengusaha konstruksi tertekan harga bahan bangunan, kenaikan harga BBM subsidi, hingga naiknya suku bunga pinjaman dan melemahnya nilai tukar rupiah. Para pebisnis properti juga kena imbas naik harga bahan bangunan dan pelemahan rupiah. Real estat Indonesia mengusulkan kenaikan rumah subsidi 10%. "Hingga kini, kami belum ada tanggapan," kata Raymond Arfandy, Wakil Ketua Umum DPP REI.

Lagi, World Bank Ingatkan Ancaman Kemiskinan

Hairul Rizal 11 Oct 2022 Kontan

Bank Dunia (World Bank) kembali menyoal kemiskinan. Pandemi Covid-19  memang melandai, tapi banyak negara di dunia masih sulit menekan angka kemiskinan. Presiden World Bank Group, David Malpass meragukan penurunan target angka kemiskinan ekstrem pada 2023 mendatang. Ia justru membuka kemungkinan, hampir 7% dari populasi global, atau 574 juta orang masih akan berjuang dalam kemiskinan ekstrem. "Ini lebih dua kali lipat dari 3% yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dunia dalam menekan angka kemiskinan ekstrem," tegas Malpass, dikutip dari laman resmi World Bank, Senin (10/10). Namun, negara miskin dan negara menengah ke bawah hanya mampu menanggulangi dampaknya sekitar 25% saja. Ini lantaran mereka memiliki akses terbatas ke pembiayaan, sistem distribusi yang lemah, serta banyaknya jumlah pekerja informal. Di Indonesia sendiri, angka kemiskinan dalam tren menurun sejak Maret tahun lalu, sejalan membaiknya pemulihan ekonomi. Pada Maret 2022, kemiskinan di Indonesia turun 0,6% poin menjadi 9,5% dibanding Maret 2021. World Bank juga mewanti-wanti stagnasi tingkat ketimpangan Indonesia sejak Maret 2021. Catatan World Bank, indeks gini saat itu tercatat 37,9. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), rasio gini Indonesia per Maret 2021 sebesar 0,384. Angka ini hanya turun 0,001 poin dibandingkan September 2020. Pada Maret 2022, rasio gini masih di level sama dari Maret 2021.

Bertemu Investor, Menkeu Bicarakan Kebijakan Fiskal

Hairul Rizal 11 Oct 2022 Kontan

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengadakan pertemuan dengan para investor dan pemegang surat utang negara berkembang atau emerging market bond holders. Hal itu dilakukan saat Menkeu dalam rangkaian kerjanya di New York, Amerika Serikat (AS). Deretan investor kelas kakap yang ditemui Sri Mulyani di antaranya Lazard, Citadel, Lord Abbet, BlackRock, Mackay Shields, HSBC AM, dan Van Eck. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan perkembangan pemulihan ekonomi Indonesia sejak pandemi Covid-19. Selain ekonomi domestik, juga turut dibahas tantangan gejolak keuangan global, krisis pangan dan energi dunia. "Saya juga menjelaskan kebijakan fiskal APBN 2022 dan arah kebijakan fiskal ke depan (APBN 2023) dalam mengelola berbagai gejolak luar biasa ini," kata Sri Mulyani, Minggu (9/10).

Daya Beli konsumen Melemah, Kinerja Emiten Ritel Tak Bergairah

Hairul Rizal 11 Oct 2022 Kontan

Kinerja emiten di sektor ritel bakal semakin berat di sisa tahun ini. Pasalnya, daya beli masyarakat di Tanah Air belum juga pulih. Ini tercermin dari optimisme masyarakat atau indeks keyakinan konsumen (IKK) yang anjlok. Survei Bank Indonesia (BI) pada Senin (10/10) melaporkan, IKK September 2022 turun ke level 117,2. Angka ini turun dibandingkan IKK Agustus 2022 yang masih sebesar 124,7, lebih tinggi dari bulan sebelumnya di posisi 123,2. Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto, berpendapat, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu penyebab lemahnya daya beli konsumen. "Sejak harga BBM naik, penurunan daya beli mulai dirasakan konsumen," katanya.

Harga Minyak Tahun 2022 Bisa Tembus ke Atas US$ 100 per Barel

Hairul Rizal 11 Oct 2022 Kontan

Setelah sempat menguat selama lima hari berturut-turut, harga minyak mentah dunia kembali merosot. Kemarin (10/10), per pukul 18.53 WIB, harga minyak mentah berjangka jenis Brent kontrak pengiriman Desember 2022 turun 0,88% ke level US$ 97,06 per barel. Padahal, selama sepekan, harga minyak Brent naik 8,48%. Di periode yang sama, harga minyak mentah berjangka jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November 2022 juga turun 0,85% ke US$ 91,85 per barel. Sebelumnya, harga minyak WTI masih naik 11,81% selama sepekan.

Garuda Menanti Right Issue dan PMN

Hairul Rizal 11 Oct 2022 Kontan

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatatkan kinerja keuangan positif pada semester I-2022 ini. Berbekal itu pula, Garuda Indonesia optimistis bisa meraih kinerja keuangan maupun operasional solid hingga akhir tahun. Mengacu laporan keuangan yang dirilis melalui website. Bursa Efek Indonesia, GIAA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 3,76 miliar di semester I-2022. Pada semester I-2021, Garuda menderita rugi bersih US$ 898,65 juta. Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Irfan Setiaputra menyebutkan, pencapaian laba bersih dipengaruhi oleh rampungnya proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) melalui putusan homologasi Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Setelah rampungnya proses PKPU, Garuda kini mempercepat berbagai upaya strategis untuk memaksimalkan proses restrukturisasi yang mulai bergulir. Misalnya, implementasi rencana rights issue sebagai tindak lanjut persetujuan proposal perdamaian PKPU, serta rencana penambahan struktur permodalan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).

MEMOMPA OPTIMISME KONSUMEN

Hairul Rizal 11 Oct 2022 Bisnis Indonesia (H)

Gejolak ekonomi seperti dinamika geopolitik global, penaikan harga bahan bakar minyak (BBM), dan inflasi rupanya membuat optimisme konsumen menyusut. Buktinya, Survei Konsumen September 2022 mencatat adanya penurunan di seluruh jenis indeks dan di seluruh kelompok penghasilan masyarakat. Malah, penurunan indeks paling dalam justru dialami oleh masyarakat kelas menengah. Sejumlah kalangan khawatir jika situasi tersebut tidak dapat diantisipasi dengan baik, maka konsumsi yang menjadi andalan pertumbuhan ekonomi bakal makin seret. Menurut data Bank Indonesia (BI), kendati masih berada di zona optimistis, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2022 tercatat hanya 117,2, turun jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 124,7. Indeks Ekonomi Saat ini dan Ekspektasi Kondisi Ekonomi pun membukukan catatan serupa. Tak heran jika kalangan pelaku usaha pun waswas. Sebab, penurunan kepercayaan diri konsumen merefleksikan adanya keterbatasan daya beli sehingga dapat memengaruhi output yang dihasilkan oleh dunia bisnis. Saat dimintai tanggapan, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan keran bansos yang mengucur deras tak mampu mengompensasi perlambatan daya beli. Terlebih, penebalan bansos yang disiapkan oleh pemerintah belum sepenuhnya mengakomodasi kelompok menengah.

Pilihan Editor