Kinerja Manufaktur Bakal Tertahan Libur Lebaran
Memasuki periode Ramadan dan jelang Lebaran tahun ini, kinerja industri manufaktur makin tancap gas. Namun demikian, tren tersebut diprediksi tidak berlangsung lama. Sebab, ekspansi kinerja manufaktur diperkirakan kembali menurun di bulan April 2023 sejalan dengan momen libur panjang Lebaran.
S&P Global mencatat,
Purchasing Manager's Index
(PMI) Manufaktur Indonesia pada Maret 2023 berada di level 51,9. Angka ini meningkat 0,7 poin jika dibandingkan pada bulan sebelumnya yang tercatat 51,2.
Tren PMI Manufaktur Indonesia itu melanjutkan perbaikan selama 19 bulan berturut-turut. Economics Associate Director S&P Global Market Intelligence, Jingyi Pan, mengatakan, PMI Manufaktur Indonesia bulan lalu menunjukkan bahwa sektor manufaktur terus membaik. Hal ini, ditopang kenaikan produksi yang didukung aktivitas pembelian yang kian membaik.
Tim Ahli Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir memperkirakan, kinerja manufaktur bakal naik di bulan April 2023. Ia melihat, ada peningkatan kebutuhan Lebaran sehingga industri manufaktur akan meningkatkan produksinya.
"Diperkirakan akan meningkat sampai dengan April ini untuk memenuhi kebutuhan Idul Fitri mulai minggu ketiga sampai dengan akhir bulan. Industri akan berproduksi hingga minggu kedua sebelum libur lebaran," ujar Iskandar kepada KONTAN, kemarin.
Persoalannya, panjangnya libur Lebaran pada April ini berdampak negatif terhadap kinerja manufaktur. "Kinerja manufaktur akan menurun di bulan ini karena ada lantaran libur panjang Lebaran," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S.Lukman, kemarin.
Merger Telkomsel dan Indihome Kian Terang
Rencana PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) untuk menggabungkan entitas usahanya, yakni PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) dengan Indihome terus bergulir. Aksi korporasi ini diharapkan bisa tuntas pada Mei 2023 mendatang.
"Kami sedang negosiasi, mungkin minggu-minggu ini kami akan finalisasi bersama dengan Telkomsel dan Singtel," ujar Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo, usai Rapat Kerja dengan DPR Komisi VI, Senin (3/4).
Pria yang akrab dipanggil Tiko ini mengatakan, dalam merger kedua perusahaan tersebut, Indihome akan dikeluarkan dari bagian TLKM. Lalu, sahamnya akan di-
inbreng
ke Telkomsel. Aksi ini berpotensi menggerus porsi kepemilikan saham Singapore Telecom Mobile Pte Ltd atau Singtel di Telkomsel.
Namun, Tiko belum menyebutkan berapa besar saham Singtel yang akan terdilusi dalam aksi korporasi ini. Kementerian BUMN maupun TLKM belum mendapatkan kepastian terkait valuasi dan risiko pengurangan kepemilikan Singtel.
Di kesempatan yang sama, Direktur Utama TLKM Ririek Adriansyah mengatakan, dengan aksi
fixed mobile convergence
(FMC) ini, TLKM bisa mendorong efisiensi dan meningkatkan EBITDA.
"FMC ini dapat meningkatkan EBITDA sebesar Rp 5 triliun hingga Rp 6 triliun setiap tahun mulai dari 2027," ujarnya.
Sebelumnya, Staf Khusus Menteri BUMN III Arya Sinulingga mengatakan, FMC bakal meningkatkan pendapatan TLKM. Menurutnya, dengan penggabungan ini, biaya pemasaran bisa terpangkas ,sekaligus memberikan keuntungan bagi konsumen dan mendapatkan paket gabungan.
Pandemi Berakhir, BUMN Farmasi Loyo
Emiten farmasi BUMN telah merilis kinerja keuangan tahun 2022. Hasilnya, sejumlah emiten farmasi pelat merah belum bisa keluar dari kerugian. Terbaru, PT Indofarma Tbk (INAF) melaporkan kerugian tahun 2022 sebesar Rp 428,48 miliar.
Mengutip laporan keuangan Indofarma yang dirilis akhir pekan lalu, rugi bersih emiten farmasi ini melejit hingga lebih dari 1.000% secara tahunan dari tahun 2021 yang hanya sebesar Rp 37,57 miliar.
Membengkaknya kerugian INAF dipicu dari anjloknya pendapatan. Pada 2022, pendapatan INAF hanya mencapai Rp 1,1 triliun, melorot 60,5% secara tahunan yang masih Rp 2,9 triliun di 2021.
Kinerja PT Kimia Farma Tbk (KAEF) tahun 2022 tak kalah buruk. Pada 2022, KAEF merugi Rp 170,04 miliar. Angka rugi bersih KAEF ini memburuk dibanding tahun 2021 yang masih mencetak laba bersih Rp 302,27 miliar.
Penurunan pendapatan KAEF, antara lain, dipicu merosotnya penjualan obat generik KAEF pada 2022 menjadi 59,1% jadi Rp 864,52 miliar. Selain itu penjualan obat ethical amblas 4,2% secara tahunan jadi Rp 2,961 triliun.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto menilai, penyebab utama kenaikan rugi emiten farmasi BUMN adalah berakhirnya pandemi Covid-19.
Trik Pengungkit Daya Beli
Langkah gesit Bank Indonesia (BI) dalam merespons gerak liar indeks harga konsumen (IHK) melalui instrumen suku bunga acuan memang terbukti efektif membikin tingkat inflasi melandai. Akan tetapi, melandainya tingkat inflasi bukanlah sepenuhnya kabar baik, apalagi jika menengok tingkat inflasi inti yang ikut menurun. Hal itu dapat mengindikasikan adanya keterbatasan daya beli masyarakat. Kemarin, Senin (3/4), Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka inflasi umum sebesar 4,97% (year-on-year/YoY) dan inflasi inti 2,94% (YoY). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Apalagi, Gubernur BI Perry Wajiyo dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa kenaikan suku bunga sebesar 225 bps cukup untuk menjangkar ekspektasi inflasi. Tak pelak, data terbaru itu memberikan ketenangan di kalangan pelaku usaha yang tak lagi waswas dengan langkah agresif pengetatan moneter. Kondisi ini tentu saja juga membuka peluang ekspansi. Namun, jika dicermati tingkat inflasi inti pada Maret 2023 merupakan yang terendah sejak Juli 2022 atau sebelum pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara Made Arya Wijaya, mengatakan program reguler berupa bantuan sosial tetap disalurkan sebagaimana amanat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023. Guna menebalkan proteksi daya beli, pemerintah juga menyediakan bantuan sosial tambahan selama tiga bulan untuk menjaga konsumsi rumah tangga. Dari sisi moneter, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan penurunan inflasi tidak terlepas dari respons kebijakan moneter serta sinergi antarlembaga.
Menjaga Status Quo Kebijakan Moneter
Angka inflasi nasional terus mencatatkan penurunan dari bulan ke bulan. Daya beli masyarakat pada awal Ramadan pun menyusut. Hal ini di luar kebiasaan masyarakat, belanja naik saat menyambut datangnya Bulan Suci. Badan Pusat Statistik mencatat angka inflasi pada Maret 2023 mencapai 4,97% secara tahunan (year-on-year/YoY). Lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 5,47% (YoY). Inflasi inti pun turun dari 3,09% (year-to-date/YtD) pada Februari 2023 menjadi 2,94% (YtD) pada Maret 2023. Secara bulanan angka inflasi sedikit naik, dari bulan sebelumnya 0,16% (month-to-month/MtM) menjadi sebesar 0,18% (MtM). Kenaikan inflasi ditopang oleh barang konsumsi sehari-hari. Mulai dari beras, cabai rawit hingga rokok kretek. Di luar itu, angkutan udara dan harga bensin turut mendorong kenaikan inflasi bulanan. Berdasarkan wilayah, inflasi tertinggi terjadi di Kota Kupang, NTT, yang mencapai 1,30%. Pada periode yang sama, Kota Bandung, Jawa Barat, melaporkan deflasi terdalam, yaitu sebesar -1,50%. Menurut BPS, komoditas utama pemicu kenaikan harga menjelang Lebaran adalah tarif angkutan udara, daging sapi, daging ayam ras, bawang merah, telur ayam ras, dan lainnya. Kontribusi tarif angkutan dalam 3 tahun terakhir terus mengalami kenaikan. Ekonom memproyeksikan inflasi pada Idulfitri atau April 2023 berpotensi menembus level 5% setelah pada Maret berhasil turun menjadi 4,97% (YoY). Secara historis, inflasi musiman pada hari raya umat Islam ini sekitar 0,5%—0,7%. Artinya, inflasi tahunan masih berada di level 5,47%—5,67%. Angka itu masih di bawah suku bunga acuan (BI-7DRR) 5,75%. Bank sentral dalam 3 bulan terakhir menahan suku bunga acuan berada di level tersebut. Ruang longgar kebijakan moneter diperlukan dalam situasi seperti ini. Terlebih lagi melihat tren belanja masyarakat yan cenderung melambat. Inflasi inti yang berada di kisaran 2%, terendah sejak Juni 2022, merupakan sinyal penurunan daya beli.
KINERJA KONGLOMERASI : JALUR PERTUMBUHAN GRUP SINAR MAS
Lini-lini bisnis di bawah payung konglomerasi Grup Sinar Mas meracik strategi untuk memacu pertumbuhan pada tahun ini setelah mayoritas emiten mencetak kinerja yang moncer pada 2022.
Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sebanyak 11 dari 12 emiten yang terafiliasi dengan Grup Sinar Mas meraih kenaikan pendapatan pada tahun lalu. Lonjakan paling tinggi diraih oleh PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang pendapatannya naik 175,12% year-on-year (YoY) dari US$2,16 miliar menjadi US$5,95 miliar.Selain itu, pendapatan emiten Grup Sinar Mas di sektor sawit dan properti juga tumbuh sekitar 30% pada 2022. Tingkat pertumbuhan pendapatan itu a.l. diraih oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) sebesar 33,71% YoY menjadi Rp10,23 triliun dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) sebesar 31,65% YoY menjadi Rp75,04 triliun. Moncernya pertumbuhan top line berimpak positif terhadap profitabilitas yang diraih oleh emiten Grup Sinar Mas. Laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih DSSA melompat signifikan 395,76% dari US$120,07 juta pada 2021 menjadi US$595,26 juta pada 2022.Kontras, laba bersih PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) menyusut 10,92% YoY menjadi Rp844,56 miliar. Sementara itu, PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) berbalik laba Rp1,06 triliun berkat keuntungan dari investasi dalam saham sebesar Rp1,64 triliun. Keuntungan dari investasi saham itu termasuk dari saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA).Meski demikian, mesin laba Grup Sinar Mas masih bersumber dari lini bisnis perkebunan sawit dan kertas & pulp. Pada 2022, SMAR mengantongi laba bersih Rp5,5 triliun, sedangkan laba bersih INKP mencapai US$857,51 juta atau setara dengan Rp13,48 triliun.
Di sektor telekomunikasi, Presiden Direktur Smartfren Merza Fachys menyampaikan FREN merupakan salah satu pilar Grup Sinar Mas yang bergerak di bidang telekomunikasi dan teknologi. Saat ini, FREN merupakan operator terbesar keempat di Indonesia.
Menurut Merza, keunggulan FREN ialah layanan 4G di seluruh Indonesia dan rencana ekspansi 5G. Pada 2022, pendapatan Smartfren tercatat menembus Rp11 triliun.
KETAHANAN PANGAN : Kelembagaan Food Estate Digagas
Pemerintah mempertimbangkan untuk memperkuat program pengembangan lumbung pangan atau food estate dengan membentuk kelembagaan khusus. Dengan adanya lembaga itu, program food estate dapat berjalan secara berkelanjutan. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan bahwa keberadaan lembaga tersebut diharapkan dapat mengelola dan menjaga keberadaan lahan food estate yang sudah dikembangkan dengan berbagai komoditas pangan. “Kami sedang pertimbangkan untuk dibentuk entah semacam BLU yang fleksibel dengan mengelola anggaran sendiri. Badan itu nantinya yang diharapkan bisa menjaga konsistensi lahan-lahan yang telah menjadi food estate,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (3/4). Kelembagaan itu, katanya, dapat bekerja sama dengan korporasi, kalangan swasta, hingga petani. Dengan demikian, upaya untuk menjaga kelangsungan program food estate dapat terus dijalankan. Keberadaan kelembagaan food estate, katanya, dapat menjamin kelangsungan program kemandirian pangan. Dia menyadari program food estate sudah berjalan lama, sehingga kesan yang muncul di masyarakat proyek tersebut gagal berjalan.
INFLASI DAERAH : Mewaspadai Penaikan Ongkos Transportasi
Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) diminta untuk mewaspadai inflasi yang diakibatkan penaikan tarif transportasi, khususnya perjalanan udara.Alasannya, penaikan tarif itu telah tecermin pada realisasi inflasi sepanjang Maret 2023.Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat daging ayam ras dan angkutan udara menjadi komoditas yang dominan dalam menyumbang infl asi di daerah tersebut. Secara bulanan (month-to-month/MtM), daging ayam ras tercatat mengalami kenaikan sebesar 6,62% dengan andil pada inflasi sebesar 0,1%. Kepala BPS Sumsel Zulkifli mengungkapkan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian seluruh stakeholder terkait.
“Kenaikan harga komoditas makanan ini dipengaruhi oleh peningkatan permintaan di bulan Ramadan,” ujarnya.Pada komoditas non-makanan, terdapat angkutan udara yang mengalami kenaikan sebesar 7,97% MtM dengan andil 0,54%. Menurut Zulkifli, kenaikan pada tarif angkutan udara ini juga perlu menjadi perhatian.
Kinerja Kenceng, Dividen Konglomerat Cespleng
Musim bagi-bagi dividen sudah dimulai. Sejumlah emiten sudah mengumumkan pembagian dividen dengan nilai cukup jumbo dengan yield atraktif.
Ambil contoh PT Matahari Department Store Tbk (LPPF). Emiten ini mengumumkan akan membagikan dividen dengan nilai Rp 525 per saham. Bila dihitung berdasarkan harga penutupan saham ini Jumat lalu di Rp 4.930, maka yield dividen emiten ritel ini mencapai 10,65%.
Bukan cuma investor ritel yang bakal menikmati dividen dari para emiten tersebut. Bos-bos para pemilik emiten tersebut juga akan mencicip cuan manis dari dividen jumbo tahun ini.
Ambil contoh dividen LPPF tadi. Dari pembagian dividen tersebut, Auric Digital Retail. pemegang 38,40% saham LPPF, mengantongi Rp 476,62 miliar. Auric Digital masih merupakan perusahaan terafiliasi Grup Lippo. Salah satu pendirinya Stephen Riady.
Research & Consulting Manager Infovesta Kapital Advisori Nicodimus Kristiantoro mengatakan, secara historis, ada tiga konglomerat yang berpotensi dapat dividen besar dari emitennya.
Grup Salim Kuasai Penjualan Mobil Premium Eropa
Lewat PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS), Grup Salim nampaknya menjadi penguasa mobil Eropa. Akhir pekan lalu, IMAS mengakuisisi PT Mercedes Benz Indonesia, diler mobil Mercy di Tanah Air.
Tak sendirian, IMAS menggandeng Inchcape Motors Private Limited (Inchcape). Dalam akuisisi itu, Inchcape mengambil alih 70% saham Mercedes Benz Indonesia, dan IMAS sebesar 30%.
Tak menyebutkan besaran nilai akuisisi 30% saham itu, IMAS juga telah mengantongi izin untuk memasarkan Citroen, produsen otomotif asal Prancis. Dengan aksi tersebut, IMAS kini merajai pemasaran mobil-mobil premium asal Eropa. Pasalnya, IMAS juga memegang kendali atas pemasaran mobil-mobil Eropa lainnya seperti Volvo, Volkswagen, hingga Audi.
President Director
PT Indomobil Sukses Internasional Tbk Jusak Kertowidjojo kepada KONTAN, Minggu (2/4) mengatakan, IMAS melihat prospek pasar mobil premium asal Eropa sangat baik di Tanah Air. Seiring peningkatan daya beli, prospeknya sangat bagus, jelas dia kepada KONTAN, Minggu (2/4).
Head of Region Overseas
Mercedes-Benz Cars, Matthias Lhrs menambahkan, aksi korporasi ini dilakukan lantaran Mercedes melakukan restrukturisasi bisnis untuk menguatkan posisi di pasar Indonesia. Meski ada investor, tak mengubah kepegawaian dan layanan perusahaan.
Senior Research Analyst
PT Mirae Asset Sekuritas, Robertus Hardy menilai, akuisisi 30% saham perusahaan pemasaran Mercedes-Benz oleh IMAS karena pangsa pasar Mercy di Indonesia masih kecil, hanya 0,3% untuk penjualan ritel dan









