PEMBUNUHAN BERANTAI BANJARNEGARA Tak Masuk Akal, tetapi Kasus Penggandaan Uang Berulang
Kasus pembunuhan yang dilakukan Slamet Tohari (45) di Kabupaten Banjarnegara, Jateng, mengejutkan banyak pihak. Sebanyak 12 korban dibunuh dan dikubur di lahan perkebunan di Desa Balun, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara. Jenazah korban ditemukan pada Senin (3/4). Pembunuhan yang dilakukan Slamet berawal dari penipuan dengan modus penggandaan harta. Para korban mengenal Slamet sebagai dukun yang bisa menggandakan uang. Korban dibunuh setelah berkali-kali menagih hasil penggandaan hartanya. Penipuan penggandaan uang, termasuk yang berujung pembunuhan, terjadi sejak lama. Pemberitaan Kompas pada Februari 1986 mengangkat sidang kasus penipuan penggandaan harta. Sumar Suryadilaga dan Eddy Saputra, dua petani asal Brebes, Jateng, menggaet uang Rp 50 juta dari enam korbannya. Keduanya mengaku bisa menggandakan kekayaan dengan perantaraan jin gundul (Kompas, 5/2/1986).
Pada pertengahan tahun 2007, delapan mayat korban pembunuhan dukun penggandaan uang ditemukan di Desa Cikareo, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, Banten. Enam tersangka ditangkap dalam kasus pembunuhan berencana tersebut (Kompas, 25/7/2007). Kapolrs Lebak saat itu, Ajun Komisaris Besar Dwi Gunawan berkata, ”Pada ritual terakhir, korban disuruh berkeliling lubang dan diberi minum racun. Setelah roboh, mereka dipendam bersama dalam satu lubang,” ujar Gunawan. Pada April 2012. Asep (42), pelaku pembunuhan terhadap satu keluarga, dibekuk (Kompas, 5/5/2012). Kasus serupa terjadi di Desa Ngemplak, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang, Jateng, Juli 2013. Kasus terungkap setelah ditemukan tiga mayat tak dikenal di lereng Gunung Sumbing, Magelang. Mereka merupakan korban penggandaan uang yang dibunuh tersangka Munjaroh (Kompas, 29/7/2013).
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Derajad Susilo Widhyarto, berpendapat, penipuan bermodus penggandaan uang terus berulang karena sebagian masyarakat Indonesia masih memiliki kepercayaan terhadap hal-hal klenik. Kondisi itulah yang menyebabkan sebagian warga percaya bahwa ada orang tertentu yang memiliki kekuatan untuk menggandakan uang tanpa bekerja, kata Derajad saat dihubungi pada Selasa (4/4). Selain kepercayaan terhadap hal-hal klenik, sifat tamak juga menjadi faktor lain yang mendorong orang untuk percaya terhadap dukun penggandaan uang. Ketamakan itu mendorong sebagian orang ingin menjadi kaya tanpa bekerja keras sehingga mereka akhirnya menjadi korban penipuan. (Yoga)
Tags :
#Isu LokalPostingan Terkait
60 Tahun, Kompas Merekam Sejarah
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023