Group Astra Sebar Dividen Interim Rp 6,67 Triliun
Krungsri dan Adira Finance Tuntas Akuisisi Home Kredit
PLN EPI Dukung Infrastruktur IT PLN
The Fed Menegaskan Suku Bunga Akan Tetap Tinggi
Penguatan Teknologi Digital Syarat RI Menuju Negara Maju
Napas Penghabisan TikTok Shop
Merayu Calon Pemain Bursa Karbon
Akal-akalan di Balik Desain Judi Online
Menyebut perjudian sebagai “bermain peluang” dapat membangkitkan kesenangan, perasaan beruntung, dan keterlibatan kolektif. Pemaknaan yang terdengar menyenangkan ini mungkin menjadi alasan hampir 80 persen orang dewasa terlibat perjudian pada suatu waktu selama hidup mereka. Saya pernah bertanya kepada mahasiswa psikologi saya mengapa, menurut mereka, orang berjudi. Jawaban yang paling sering muncul adalah untuk kesenangan, mendapat uang, atau sekadar mencari sensasi.
Awalnya, alasan orang bermain judi memang demikian. Namun kini perjudian tidak lagi menjadi kegiatan sampingan untuk mencari kesenangan, melainkan sudah membuat manusia menjadi impulsif. Para psikolog tidak tahu pasti mengapa bisa demikian. Apa yang membuat orang terus bermain judi bahkan ketika hal itu tidak lagi menyenangkan? Mengapa tetap bertahan dengan permainan yang mereka tahu bahwa itu dirancang untuk membuat mereka kalah? Apakah beberapa orang hanya lebih sial atau tidak pintar menghitung peluang? (Yetede)
Impian Melesat Maju dalam Laju Whoosh
Presiden Jokowi berkali-kali menjajal Whoosh. Salah satunya dalam peresmian Whoosh,
Senin (2/10). Peresmian ini
menandai beroperasinya Whoosh dengan Kepmenhub
No KM
114 Tahun 2023 terkait Izin Operasi Sarana Perkeretaapian Umum PT Kereta Api Cepat Indonesia-China (KCIC). Kereta cepat
buatan China tersebut bisa melaju dengan kecepatan 350 kilometer per jam. Hingga saat ini,
belum ada transportasi darat massal di Asia Tenggara yang menyamai kecepatannya. ”Ini merupakan
kereta cepat pertama di Indonesia dan Asia Tenggara dengan kecepatan 350 kilometer per
jam. Kami namakan Whoosh, singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem
Hebat. Ini diinspirasi dari suara yang melesat dari kereta berkecepatan tinggi ini,” ujar
Presiden dalam sambutannya di Stasiun Halim, DKI Jakarta.
Ucapan Presiden langsung dibuktikan dengan
perjalanan menuju Stasiun Kereta Cepat Padalarang, Bandung Barat, yang terpaut jarak lebih
dari 100
kilometer dari Halim. Rombongan Presiden tiba pukul 09.40. Padahal, sebelumnya orang nomor
satu di republik ini baru saja menekan tombol peresmian di Halim pukul 09.00. Dalam
sambutannya, Presiden Jokowi menyatakan, proyek kereta cepat ini menandai transportasi
massal yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Whoosh membawa hal baru dan memberikan pengalaman
berharga bagi Indonesia. ”Proyek kereta cepat ini hal baru bagi kita. Baru teknologinya,
kecepatannya, konstruksinya, hingga pembiayaannya. Dalam proses ini bisa muncul
hal-hal yang tidak terduga, kesulitan di lapangan, dan ketidaksempurnaan.
Pengalaman ini mahal, tetapi sangat berharga,” kata Presiden. (Yoga)
Gagasan Ekonomi Kandidat Calon Presiden Dinanti
Dunia usaha mulai mencermati gagasan ekonomi setiap kandidat calon presiden yang akan berlaga di Pemilihan Umum 2024. Pemikiran serta arah kebijakan ekonomi tiap kandidat itu akan ikut memengaruhi keputusan pengusaha dalam berinvestasi, antara tetap wait and see atau berekspansi di tengah ingar-bingar tahun politik. Tren wait and see investor itu terutama dijumpai di investasi asing atau PMA. Sementara investasi dalam negeri atau PMDN cenderung tetap tumbuh stabil di tahun pemilu. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, Jumat (29/9) mengatakan, salah satu faktor utama yang membuat pengusaha ragu untuk berinvestasi di tahun politik adalah ketidakpastian arah kebijakan ekonomi ke depan. Sebab, sudah menjadi hal lumrah bahwa pergantian pucuk kepemimpinan biasanya juga berdampak pada perubahan arah kebijakan.
”Setiap perubahan leadership artinya ada risiko untuk diskontinuitas kebijakan. Walaupun kali ini risiko itu cukup kecil, tetapi tetap ada. Mungkin untuk investasi yang jumlahnya tidak terlalu besar tetap akan tumbuh, tetapi untuk investasi jangka panjang, pengusaha pasti berpikir dua kali,” kata Shinta di sela-sela acara Kompas CEO Forum Afternoon Tea bertopik ”Peta Politik 2024” di Jakarta. Ia menilai, sebagian besar kebijakan ekonomi pemerintahan Joko Widodo dalam 10 tahun terakhir ini sudah di jalan yang tepat. Pengusaha pun berharap kandidat calon presiden (capres) dapat melanjutkan program ekonomi yang dirasa sudah tepat, khususnya terkait reformasi struktural dan pemerataan pembangunan. Namun, masih banyak pula implementasi kebijakan reformasi ekonomi itu yang tidak konsisten sehingga membutuhkan perbaikan oleh rezim yang akan datang. ”Pemerintahan berikutnya harus lebih profesional dan result-oriented untuk memastikan perubahan ekosistem ekonomi yang nyata di lapangan, bukan hanya di atas kertas,” katanya. (Yoga)









