LPS: Special Rate KBMI 2 Tertinggi
Government Shutdown Tampak Tak Terelakkan
Upaya Gojek Menambah Pengguna Ojol
Sulit Maju Tanpa Industri Baterai
Siap Ekspansi Usai Berlayar di Bursa
Adu Taji Saham Bank BUMN
TikTok Wajib Ajukan Ulang Izin E-Commerce
PROSPEK KUAT PASAR SAHAM
Kendati tertatih menggapai level 7.000 pada kuartal III, penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal lebih solid pada sisa tahun ini. IHSG cenderung menguat sepanjang kuartal III/2023 berkat sokongan investor domestik yang optimistis terhadap prospek pasar saham, meskipun sentimen eksternal cenderung kurang bersahabat. Dalam 3 bulan terakhir, IHSG tercatat menguat 4,32% hingga akhirnya ditutup di level 6.939,89 pada hari terakhir perdagangan kuartal III/2023, Jumat (29/9). Sepanjang tahun berjalan, IHSG bertahan di teritori hijau dengan penguatan 1,3% Year-to-Date (YtD). IHSG sempat kembali menyentuh level psikologis 7.000 akhir pekan lalu, tetapi gagal bertahan pekan ini akibat sentimen suku bunga the Fed yang masih bertahan di level tinggi, bahkan disinyalir bakal naik sekali lagi tahun ini. Akan tetapi, dengan kinerja yang terbatas tersebut, IHSG masih berada di posisi kedua terkuat di antara indeks komposit Asean. Padahal, investor asing agresif melepas aset mereka dengan net sell Rp21,18 triliun sepanjang 3 bulan terakhir. Secara YtD, net sell asing mencapai Rp4,44 triliun. Kondisi ini menjadikan pasar keuangan AS lebih memikat bagi investor global. Jika the Fed kembali menaikkan suku bunga acuan tahun ini, maka Fed Fund Rate dan BI 7 Day Reverse Repo Rate akan sama tingginya, padahal peringkat investasi Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan AS. Meskipun demikian, melihat penguatan IHSG sepanjang kuartal III/2023 dengan sokongan investor domestik, masih cukup beralasan untuk meyakini potensi penguatan lanjutan pada sisa tahun ini. Apalagi, pasar akan ditopang oleh sentimen positif dalam negeri berupa persiapan Pemilu 2024. Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Roger MM menilai sulitnya IHSG menembus level 7.000 pekan ini akibat adanya risiko kenaikan kembali suku bunga the Fed. Hal ini tidak terlepas dari faktor inflasi AS yang belum jinak.
Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan sentimen the Fed memang menjadikan pasar cenderung wait and see. Kendati begitu, dia sependapat IHSG memiliki peluang lebih besar menghijau karena fundamental ekonomi Indonesia yang baik.“Panin AM menilai level wajar IHSG di akhir tahun 2023 adalah 7.400,” ujarnya. Sementara itu, Head of research NH Korindo Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan dalam skenario terbaik, IHSG dapat parkir di level 7.350 hingga 7.400 di akhir tahun. Namun, pada skenario terburuk, IHSG kemungkinan tertahan di kisaran 7.050 hingga 7.100. Meski begitu, Equity & Fixed Income Analyst KGI Sekuritas Rovandi memberi catatan sentimen pelemahan rupiah, serta penurunan cadangan devisa akibat aktivitas dagang yang menurun dan harga ekspor batu bara yang belum pulih akan menjadi penekan IHSG. Oleh karena itu, KGI Sekuritas memperkirakan level IHSG yang lebih rendah di akhir tahun 2023, yaitu sekitar 7.175. Head of Investment Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe juga meyakini sentimen Pemilu bakal menjadi alasan yang kuat bagi investor untuk melakukan window dressing jelang pergantian tahun. Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Maximilianus Nico Demus sepakat potensi window dressing yang berimbas pada penguatan signifikan IHSG pada tahun ini cukup besar. Adapun, window dressing merupakan strategi manajer investasi mempercantik kinerja portofolio agar menampilkan laporan kinerja yang lebih cantik di akhir tahun.
Berharap dari Window Dressing
Sepanjang tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan menghijau hanya sekitar 1,3%, disertai aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp4,44 triliun, sedangkan dalam 3 bulan terakhir naik 4,32% dengan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp21,18 triliun. Sepanjang tahun ini, IHSG juga sulit untuk menembus level psikologis 7.000. Data Bloomberg mencatat indeks sempat menembus level 7.000 pada akhir pekan lalu. Melihat data-data tersebut agak berat rasanya bagi IHSG untuk bertengger di level 7.000. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah sinyal kebijakan suku bunga The Fed yang tetap hawkish, inflasi AS yang belum jinak hingga tren kenaikan harga minyak yang berkelindan menjadi satu. Investor di pasar modal pun kemudian memanfaatkan kondisi tersebut dengan berbelanja saham yang pada gilirannya mengangkat kinerja sejumlah saham dan tentu saja IHSG. Namun, perlu dicatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tinggi di tengah tren perlambatan ekonomi global. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II/2023 tercatat sebesar 5,17% (YoY), meningkat dari pertumbuhan pada kuartal yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,04% (YoY). Pertumbuhan ekonomi yang tinggi didukung oleh peningkatan permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga tumbuh tinggi sebesar 5,23% (YoY), seiring dengan naiknya mobilitas, membaiknya ekspektasi pendapatan, terkendalinya inflasi, dan dampak positif dari pemberian gaji ke-13 kepada Aparatur Sipil Negara.
Tantangan Kartu Kredit vs Paylater
Kini kartu kredit mulai tertikam oleh laju paylater satu model pembayaran “membeli dulu, membayar kemudian” (buy first, pay later) yang semakin digandrungi masyarakat luas. Apa tantangan kartu kredit dalam melawan tikaman paylater? Mungkinkah bank akan menerbitkan paylater ke depan sehingga berhadapan head to head dengan paylater? Sejauh mana pertumbuhan kartu kredit? Statistik Sistem Pembayaran dan Infrastruktur Keuangan (SPIP) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (BI) pada 18 September 2023 menunjukkan bahwa jumlah kartu kredit naik 5,74 persen dari 16,73 juta unit per Juli 2022 menjadi 17,69 juta unit per Juli 2023. Volume transaksi kartu kredit naik 22,75 persen dari 28.130 juta menjadi 34.530 juta. Volume transaksi itu meliputi transaksi tunai yang naik 6,21 persen dari 435.000 transaksi menjadi 462.000 transaksi dan transaksi belanja yang naik 23,01 persen dari 27.695.000 transaksi menjadi 34.068.000 transaksi. Sementara itu, nilai transaksi kartu kredit naik 30,60 persen dari Rp26,45 triliun menjadi Rp36,13 triliun. Nilai transaksi itu terdiri dari nilai transaksi tunai yang naik 10,67 persen dari Rp656 miliar menjadi Rp726 miliar. Sebaliknya, nilai transaksi belanja naik signifikan 37,41 persen dari Rp25,77 triliun menjadi Rp35,41 triliun.
Lantas, apa saja tantangan kartu kredit ke depan supaya tidak semakin hanyut ditelan paylater?. Pertama, sudah barang tentu, paylater lebih praktis karena tanpa kartu sehingga makin mudah bagi masyarakat untuk memeluknya dengan segera. Sebaliknya, kartu kredit mengenakan biaya penggantian kartu misalnya karena hilang atau rusak Rp100.000, biaya cetak tagihan Rp20.000/tagihan dan biaya pelampauan batas kredit Rp150.000. Di sisi lain, kartu kredit tetap unggul dalam bunga pembelanjaan sekitar 1,75 persen per bulan, biaya penarikan tunai 1,75 persen per bulan dan biaya keterlambatan pembayaran 1 persen dari total tagihan atau minimal Rp100.000. Sebaliknya, paylater mengenakan biaya pembelanjaan lebih tinggi sekitar 2,95% dan biaya keterlambatan pembayaran sekitar 5 persen per bulan dari seluruh tagihan. Kedua, paylater sering promosi berupa diskon (cashback) atau gratis biaya kirim sehingga nasabah merasa semakin dimanjakan. Ketiga, oleh karena itu, penerbit kartu kredit yakni bank dan LKBB harus berani berubah (adaptif), kreatif untuk mengerek nilai (value creation) dan mengubah produk dan jasa berbasis digital. Keempat, sekalipun kelak kartu kredit tanpa kartu dan paylater sama-sama menyediakan limit pembayaran, namun kartu kredit tanpa kartu tetap dapat ditarik tunai sebaliknya paylater tidak. Hal itu menjadi fitur baru sama sekali!. Kelima, bahkan kartu kredit, paylater dan aneka dompet digital dapat menjerat utang bagi pemegangnya ketika utang telah melebihi kemampuan membayar kembali (repayment capacity). Keenam, apalagi, penerbit kedua fasilitas pembayaran itu kurang gencar dalam melakukan sosialisasi dan edukasi kepada nasabah mereka.









