Insentif KLM BI Pacu Pertumbuhan Kredit Perumahan
Rupiah Rontok, IHSG Anjlok
Dirjen Imigrasi: Syahrul Yasin Limpo Sudah Masuk RI
Layanan Ritel Starlink Ancam Bisnis Operator Telko Eksisting
Kian Meragas Harga Beras
Menanti Peserta Perdagangan Karbon Langsung
Otorita Ibu Kota Negara Leluasa Mencari Utang
Suntikan Dana GOTO Untuk Modal Kerja
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akan diguyur dana jumbo US$ 150 juta dari International Finance Corporation (IFC) dan firma investasi privat Franke & Company Inc. Nilai tersebut setara Rp 2,3 triliun dengan menggunakan kurs Rp 15.341 per dolar Amerika. Patrick Walujo, Direktur Utama Grup GoTo menjelaskan GOTO akan menerima investasi dari private placement serta penerbitan surat utang terstruktur kepada Bhinneka Holdings (22) Limited. Ini merupakan upaya GOTO untuk mengeksekusi aksi private placement. Aksi ini sudah mendapat restu Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2023. GOTO mematok harga private placement sebesar Rp 90 per saham. Dari gelaran ini, Bhinneka Holdings (22) Limited harus menggelontorkan dana US$ 100 juta. "Notes Subscription Agreement akan diterbitkan oleh entitas usaha, GoTo International Finance (22) Limited kepada Bhinneka Holdings (22) Limited senilai US$ 50 juta," jelas Patrick, Selasa (3/10). Nah, secara bersamaan Bhinneka Holdings (22) Limited akan menerbitkan obligasi bersifat ekuitas alias equity-linked bond sebesar US$ 150 juta. Kemudian IFC akan mengambil bagian dari surat utang tersebut sebesar US$ 125 juta. Sementara Franke & Company Inc. akan berkontribusi US$ 25 juta. Adapun obligasi bersifat ekuitas tersebut memiliki tingkat kupon sebesar 5% per tahun. Kupon ini akan dibayarkan dua kali setahun dan akan jatuh tempo pada bulan Oktober 2028. Kemudian PT Tokopedia, PT Swift Logistic Solutions, PT Multifinance Anak Bangsa dan PT GoTo Solusi Niaga masing-masing akan memperoleh 15% atau sekitar Rp 345,17 miliar. Paulus Jimmy, Deputy Head of Research Sucor Sekuritas menilai, tambahan modal ini akan menjadi sentimen positif untuk kinerja operasional GOTO.
Terangkat Kenaikan Harga Minyak
Kinerja PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) berpotensi membaik di akhir tahun ini. Sentimen positif itu datang dari kenaikan harga minyak. Sebagai gambaran, pada semester I-2023, emiten yang bergerak di sektor tambang minyak dan gas (migas) ini membukukan laba bersih senilai US$ 119,46 juta. Realisasi ini turun 60,58% dari laba bersih di periode yang sama tahun lalu yang mencapai sebesar US$ 303,05 juta. Turunnya harga jual rata-rata alias average selling price (ASP) komoditas andalan MEDC, yakni minyak dan gas menjadi salah satu pemicu turunnya kinerja emiten ini. Meski begitu, Hilmi Panigoro, Direktur Utama MEDC dalam keterangan Selasa (3/10), optimistis terhadap kinerja MEDC ke depannya. Dia menambahkan, MEDC juga sudah menetapkan panduan kinerja operasional hingga akhir tahun ini. Lantas di segmen energi hijau, MEDC sudah mendapat persetujuan bersyarat dari Energy Market Authority (EMA) Singapura atas proyek pembangkit tenaga surya berkapasitas 600 MW. Persetujuan ini didapatkan MEDC melalui anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya, yakni Medco Power Global beserta mitra konsorsiumnya Pacific Light Renewables Pte Ltd dan Gallant Venture Ltd. Per semester I-2023, belanja modal di segmen minyak dan gas telah mencapai US$ 99 juta terutama untuk pengembangan Blok Natuna dan Corridor. Sementara belanja modal ketenagalistrikan sebesar US$ 28 juta, terutama untuk pengembangan proyek geotermal Ijen. Analis Panin Sekuritas, Felix Darmawan menilai, kinerja MEDC di paruh kedua 2023 berpeluang membaik. Ini seiring dengan kenaikan harga minyak yang cukup masif karena pengetatan produksi minyak dari OPEC+. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Hasan Barakwan sependapatn kinerja MEDC akan membaik di kuartal III-2023. Sebab, AMMN telah menerima perpanjangan izin ekspor sebanyak 900.000 ton, sehingga AMMN bisa melanjutkan aktivitas ekspor konsentratnya.
MAGNET LEASING PIKAT ASING
Industri pembiayaan di Tanah Air sedang bersiap lepas landas. Saat kinerja pembiayaan bangkit dari kontraksi selama pandemi Covid-19, investor asing terus menunjukkan minat pada perusahaan multifinance di dalam negeri. Terbaru, PT Home Credit Indonesia (Home Credit) resmi diakuisisi oleh konsorsium yang terafiliasi dengan Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) asal Jepang, setelah proses berjalan sejak November 2022. Perkiraan nilai akuisisi yang disepakati sekitar 209 juta euro atau Rp3,4 triliun. Bank of Ayudhya Public Company Limited (Krungsri) asal Thailand--anggota strategis MUFG— PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (Adira Finance), dan mitra lokal menjadi pemegang saham baru dengan komposisi masing-masing 75%, 10%, dan 15%. Home Credit Indonesia sebelumnya merupakan perusahaan patungan antara grup Home Credit B.V asal Republik Ceko dengan PT SL TRIO. Berdiri di Indonesia sejak 2013, perusahaan melayani pembiayaan belanja online dan offline, termasuk untuk peralatan rumah tangga, peralatan elektronik, dan furnitur. Direktur Strategi Aliansi Bisnis Adira Finance Jin Yoshida mengatakakan akuisisi itu dapat memperkuat franchise Grup MUFG di Indonesia dan membangun sinergi antara Home Credit, Bank Danamon, dan Adira Finance. Bahkan, menurut dokumen Roadmap Perusahaan Pembiayaan Indonesia 2023-2027 yang disusun Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), masih terdapat peluang 18 grup perusahaan pembiayaan yang memiliki pemegang saham sama, untuk dapat melakukan aksi korporasi berupa merger, akuisisi, dan konsolidasi. KB Kookmin Card Corp, perusahaan kartu kredit asal Korea Selatan, mengakuisisi 80% saham PT Finansia Multi Finance senilai 94,9 miliar won atau Rp1,1 triliun pada November 2019. Finansia Finance kemudian berubah nama menjadi KreditPlus. Ketua APPI Suwandi Wiratno melihat investor asing, baik yang sudah maupun akan mengakuisisi, mengincar bisnis pembiayaan ritel atau multiguna, seperti pembiayaan sepeda motor dan mobil, serta barang elekronik. Alasannya adalah pembiayaan ritel memiliki peluang lebar mengingat Indonesia akan memasuki bonus demografi pada 2030. Saat itu, akan ada lebih banyak penduduk usia produktif yang membutuhkan kendaraan. Saat ini pasar multifinance dipimpin oleh tiga pemain besar, yakni Astra Group (termasuk FIF, Astra Sedaya Finance, Toyota Astra Financial Service), Adira Finance, dan Mandiri Tunas Finance, berdasarkan data Sucor Sekuritas dan OJK. Pangsa pasar ketiganya masing-masing 25,8%, 6,5%, dan 5,9% pada semester I/2023. Analis Sukor Sekuritas Yoga Ahmad Gifari mengatakan penetrasi pembiayaan multifinance yang lebih rendah dan prospek besar penjualan otomotif telah menarik minat investor asing mengakuisisi multifinance di Indonesia.









