Borobudur Marathon Siap Tapaki Level Baru
Borobudur Marathon bersiap menapaki tingkatan baru di kancah
lomba lari jarak jauh. Kualitas lomba ditingkatkan disertai rencana untuk
membuat lomba itu diakui oleh dunia internasional. Borobudur Marathon bersiap
menapaki tingkatan baru dalam kancah perlombaan lari. Keseriusan itu ditunjukkan
melalui peningkatan kualitas lomba serta upaya untuk mendapatkan pengakuan
World Athletics agar masuk dalam klasifikasi World Athletics Label. Keberadaan ajang
itu sekaligus menebar manfaat karena ikut menggerakkan perekonomian masyarakat.
Tahun ini, ajang tersebut menghadirkan Delegasi Teknis Internasional dari World
Athletics, Richard Welsh. Ia akan menilai beberapa aspek penting sejak sebelum
lomba hingga hari pelaksanaan sebagaimana aturan lomba yang ditetapkan World
Athletics. Ada empat tingkatan dalam World Athletics Label, yakni Label yang
merupakan tingkatan paling rendah dalam klasifikasi perlombaan lari jalan raya
dari World Athletics, lalu Elite Label, Gold Label, dan Platinum Label.
”Kenapa itu penting? Kami ingin meningkatkan level Borobudur
Marathon pada level standar internasional,” kata WakilPemimpin Umum Harian Kompas
Budiman Tanuredjo, dalam jumpa pers Borobudur Marathon 2023 Powered By Bank
Jateng, Sabtu (18/11) di Grand Artos Hotel and Convention, Magelang, Jateng. Borobudur
Marathon 2023 akan diselenggarakan di seputar kompleks Candi Borobudur,
Magelang, Jateng, Minggu (19/11). Tahun ini, gelaran itu kembali menghadirkan
tiga nomor lomba, yakni 10 kilometer, separuh maraton, dan maraton. Total
sekitar 10.400 pelari akan terjun pada tiga nomor tersebut. Angka itu mendekati
jumlah pelari pada 2019, sekitar 10.900 orang. Budiman menambahkan, para pelari
asing kembali berpartisipasi pada gelaran tahun ini. Jumlahnya 78 orang, berasal
dari 24 negara. Keikutsertaan pelari asing berangkat dari konsistensi Borobudur
Marathon menjaga kualitas lombanya. (Yoga)
BOROBUDUR MARATHON, Pelari Antusias, Pelaku UMKM Dulang Rezeki
Borobudur Marathon 2023 Powered by Bank Jateng bakal digelar
di kawasan Borobudur, Magelang, Minggu (19/11). Sejumlah pelaku UMKM bidang kuliner
pun turut mendulang rezeki dari ajang tersebut Jumlah peserta lomba lari 10.000
orang dan terbagi ke dalam tiga kategori, yakni 10 kilometer, separuh maraton,
dan maraton. Pada Jumat (17/11) dan Sabtu (18/11) digelar race pack collection
atau pengambilan perlengkapan lomba Borobudur Marathon di Hotel Artos,
Magelang. Dalam kesempatan yang sama, digelar acara race expo yang menawarkan
beragam produk, termasuk sejumlah kuliner khas Magelang. Sejumlah pelari yang
ditemui saat race pack collection mengaku antusias mengikuti Borobudur
Marathon. Bahkan, beberapa pelari yang sudah tergolong lanjut usia pun menyatakan
siap memeriahkan Borobudur Marathon. Triono (65), salah seorang peserta
Borobudur Marathon kategori separuh maraton, mengaku siap berkompetisi dalam lomba
tersebut. Tahun ini merupakan kali kedua dirinya mengikuti Borobudur Marathon.
Tahun lalu, dia mengikuti kategori separuh maraton. Oleh karena itu, dia
menargetkan bisa finis dengan catatan waktu lebih baik pada tahun ini.
Sejumlah pelari memanfaatkan kesempatan mengikuti Borobudur
Marathon untuk berwisata. Arrahmana (27), pelari asal Tangerang Selatan, menyebut,
dirinya sempat berjalan-jalan dan menyantap sop senerek yang merupakan kuliner
khas Magelang. Sejumlah pelaku UMKM kuliner asal Magelang pun turut mendulang
rezeki dari antusiasme pelari yang mengikuti Borobudur Marathon 2023. Selama
berjualan di acara race expo Borobudur Marathon 2023, mereka mengaku mendapat pemasukan
yang lumayan. Salah satu UMKM asal Magelang yang ikut berjualan dalam acara itu
adalah Kupat Tahu Yu Nah. Pemilik usaha Kupat TahuYu Nah, KevinRivera (30),
mengatakan, antusiasme para pelari untuk membeli kuliner khas Magelang sangat
tinggi. ”Sampai saya enggak bisa duduk istirahat. Yang beli ada dari Lampung,
Banten, dan Kalimantan,” ujarnya. Kevin menuturkan, pada Jumat ada 74 porsi
kupat tahu terjual, dengan harga Rp 15.000 per porsi. Sementara pada Sabtu, ada
94 porsi terjual hingga siang. (Yoga)
Tak Cukup Buang Sampah pada Tempatnya
Pesan buang sampah pada tempatnya sudah tak lagi cukup.
Membuang saja tanpa disertai upaya pemilahan
sampah dari hulu, tetap berujung penumpukan sampah di tempat pembuangan akhir.
Di tengah kondisi ini, sejumlah anak muda bergerak mencari penyelesaian. Rifqi
Dwantara (27) dan Yanuardi Satrio (28), alumnus Fakultas Teknik UGM, memilih membantu
warga mengurangi limbahnya dengan mengambil sampah plastik untuk didaur ulang. Di
bawah bendera Paste Lab atau Plastic Waste Laboratory yang dibangun sejak 2021,
Rifqi dan Satrio membangun usaha ekonomi sirkular yang salah satunya menyediakan
layanan jemput sampah plastik bagi masyarakat Yogyakarta. ”Kami berharap bisa
menjadi ruang edukasi bagi masyarakat dalam mengolah sampah. Dimulai dari mengklasifikasikan
sampah organik dan non-organik dari rumah serta tidak malu menggunakan produk
daur ulang.” Ujar Rifqi di Yogyakarta, Rabu (8/11).
Selain menjemput sampah, mereka bekerja sama dengan bank
sampah di Sleman dan para pemungut sampah. Nantinya, sampah plastik yang telah
dipisahkan dari hulu akan diubah menjadi produk yang unik dan bernilai. Produk
yang dihasilkan Paste Lab, antara lain, top table, meja kafe, kursi, stools, hingga
berbagai dekorasi rumah. Ada juga yang bersalin rupa menjadi aneka aksesori, seperti
kacamata, jam tangan, jam dinding, tempat gawai, gantungan kunci, asbak, dan tatakan
gelas. Setiap bulan, Paste Lab mampu mengolah hingga 540 kg sampah plastik. Ke depan
mereka berusaha mengolah lebih banyak
lagi. Selain menyelamatkan lingkungan, Paste Lab juga membuka peluang kerja
bagi 19 pemuda setempat dan para mahasiswa yang tengah menjajal pengalaman
magang. (Yoga)
Asa Pembelajaran Bangkit BerkatKepedulian Pembaca "Kompas"
Kepedihan mendalam dirasakan Ema Hermawati, Kepala Sekolah
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau PKBM Sarbini, saat gempa meluluh lantakkan
bangunan sekolahnya, 21 November 2022. Gempa saat itu juga menewaskan ratusan warga
dan mengakibatkan ratusan bangunan rusak. ”Bangunan rusak berat sehingga tidak
bisa digunakan lagi,” ujar Ema, Jumat (17/11) mengenang bencana hampir setahun
silam. Sebersit asa hadir bersama datangnya tim Yayasan Dana Kemanusiaan Kompas
(DKK) yang melakukan penilaian terhadap kondisi gedung. Yayasan DKK lantas
memutuskan membangun gedung baru. PKBM Sarbini di Desa Sukamanah, Cianjur, Jabar,
rampung dibangun dan diresmikan Jumat pagi. Bangunan itu sumbangan dari pembaca
harian Kompas dan Kompas.id melalui Yayasan DKK. Peresmian gedung baru
dilakukan Pj Gubernur Jabar Bey T Machmudin.
”Terima kasih buat pembaca harian Kompas,” ucap Ema saat
acara peresmian. Keberadaan gedung baru itu untuk menggantikan gedung lama yang
rusak berat akibat gempa yang mengguncang Cianjur, tahun lalu.Gedung baru
berdiri di atas lahan seluas 2.000 meter persegi dengan luas bangunan 515 meter
persegi, terdiri dari 6 ruang kelas, 1 lab komputer, 1 ruang guru dan ruang
ketua yayasan, 1 ruang perpustakaan, mushala, dan 4 toilet, juga terdapat lapangan
upacara dan lapangan olahraga. Dalam sambutannya, Bey mengatakan, pendidikan
dan kesehatan merupakan pilar utama dalam menentukan kemajuan bangsa. ”Negara
yang maju saat ini adalah negara yang cepat responsif terhadap perkembangan
dunia, dan itu tentu harus ditopang oleh pendidikan,” katanya. Bey
mengapresiasi pembangunan PKBM tersebut. Atas semangat gotong royong itu, ia mengucapkan
terima kasih kepada para pembaca harian Kompas dan Kompas.id yang dengan ikhlas
telah memberikan sumbangsih melalui Yayasan DKK. (Yoga)
Indonesia Imbangkan Geoekonomi
Indonesia berupaya menyeimbangkan langkah geoekonominya di antara
blok Timur dan Barat. Manuver itu bisa mengoptimalkan pemanfaatan aktivitas
ekonomi di Asia Pasifik dan kawasan lain. Indonesia telah memastikan menjadi
anggota Kerangka Kerja Ekonomi Indo-Pasifik (IPEF) yang digagas AS. Pada Kamis
(16/11) siang waktu San Francisco atau Jumat pagi WIB, pemimpin 14 anggota IPEF
menyepakati dua dari empat pilar IPEF. Kesepakatan dicapai di sela KTT Kerja
Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Anggota IPEF juga sepakat memulai perundingan
soal pasokan mineral penting. Mengacu pada data Departemen Energi AS, Indonesia
punya empat dari 50 mineral penting. Indonesia punya cadangan besar kobalt,
bauksit untuk aluminium, tembaga, dan nikel. Dalam pertemuan bilateral Indonesia-AS,
ada kesepakatan soal pembentukan kerangka kerja perjanjian mineral penting
(CMA). Lewat CMA, Indonesia ingin jadi pemasok industri kendaraan listrik AS.
Indonesia juga meminta dukungan AS soal lamaran menjadi
anggota Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Mayoritas dari 38
anggota OECD merupakan negara dengan PDB tinggi. Lamaran ke OECD dan keterlibatan
di IPEF dilakukan kala Indonesia menolak bergabung dengan BRICS. Pakar politik
luar negeri BRIN, Siswanto, mengatakan, Indonesia berusaha menunjukkan keseimbangan
hubungan dengan AS dan China. Hal itu tak lepas dari persepsi bahwa Indonesia terlalu
dekat dengan China. ”Dalam hampir dua periode pemerintahan terakhir, AS menganggap
Indonesia tidak sesuai dengan kepentingannya. Persepsi itu muncul karena
kebijakan Indonesia memang lebih ke Timur (China),” ujarnya. Indonesia kini
menjadi anggota Kemitraan Ekonomi Komprehensif Kawasan (RCEP). AS dan sekutunya
melihat RCEP sebagai salah satu blok geeokonomi yang dimotori China. AS berusaha
menandingi, antara lain lewat IPEF. Bedanya, RCEP memberikan akses pasar, IPEF
tidak. (Yoga)
Daerah Belum Tetapkan Upah Minimum
Tantangan Optimalkan Kekayaan Bengkulu
Dengan segala potensi sumber daya alam, baik perkebunan,
pertanian, dan perikanan tangkap maupun budidaya, provinsi berpenduduk 2,06
juta jiwa itu masih tergolong sebagai daerah miskin di Sumatera. Data BPS pada Maret
2023, jumlah penduduk miskin di Bengkulu sebanyak 288.460 jiwa atau setara
14,04 %. Persentase penduduk miskin di Bengkulu menjadi terbesar kedua di Sumatera,
setelah Aceh. Pada triwulan III tahun 2023, perekonomian Bengkulu tumbuh 3,96 %
secara tahunan dengan besaran produk domestik regional bruto (PDRB) Rp 23,76
triliun. Struktur perekonomian Bengkulu didominasi lapangan usaha pertanian,
kehutanan, dan perikanan sebesar 28,9 %, Namun, laju pertumbuhan PDRB di sektor
penopang utama ekonomi di Bengkulu masih tergolong kecil, hanya 2,76 % secara
tahunan, lebih rendah dibandingkan beberapa sektor lain, di antaranya sektor penyediaan
akomodasi yang tumbuh 10,05 %, serta sektor informasi dan komunikasi yang
tumbuh 9,91 %.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bengkulu,
Kamaludin berpendapat, lambatnya pembangunan di Bengkulu tidak semata karena factor
aksesibilitas yang sulit. Ia menilai belum ada terobosan pemda yang menghasilkan
lompatan bagi kemajuanBengkulu. Pergerakan ekonomi di Bengkulu lebih banyak terjadi
secara alami. Semestinya ada rancangan besar pengembangan ekonomi Bengkulu dari
sektor utamanya yang kemudian terdiferensiasi membentuk sektor baru. Hasil dari
sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi bahan baku sektor
perindustrian. Selanjutnya, hasil dari sector perindustrian menjadi barang utama
sektor perdagangan. Di sektor pariwisata, kekayaan alam berupa pantai, ombak, gunung,
hingga bunga Rafflesia arnoldii yang jadi ikon Bengkulu menjadi daya tarik yang
dapat dijual kepada wisatawan domestik dan mancanegara. ”Dibutuhkan jalan tol
dari Bengkulu menuju Lubuk Linggau, Sumsel, sehingga aksesnya menjadi lebih
cepat,” katanya. (Yoga)
Pengusaha Perikanan Minta PNBP Dikurangi
Buruh Minta UMP Jakarta Naik 15 Persen
Serda Mugiyanto, Manis Kelengkeng untuk Memberdayakan Petani
Pernah terpuruk karena kehilangan kaki kanannya saat
bertugas, Serda Mugiyanto (45) berhasil bangkit. Selain bertugas sebagai Bintara
Pembina Desa (Babinsa) Komando Rayon Militer (Koramil) 19/Borobudur, Magelang,
Jateng, Mugiyanto juga mengelola perkebunan kelengkeng di Desa Borobudur, Magelang.
Perjalanan hidup Mugiyanto berada di titik nadir tatkala dia kehilangan kaki
kanan saat bertugas di Ambon, Maluku, pada 27 November 2001. ”Di sana saya kena
ranjau antipersonel. Langsung kena kaki saya, langsung hilang kakinya,”
ujarnya, Rabu (25/11). Mugiyanto harus menjalani perawatan di rumah sakit
selama empat sampai enam bulan. Dia juga dibuatkan kaki palsu agar bisa kembali
beraktivitas. Pada 2004, Mugiyanto mengikuti pelatihan vokasi yang digelar
Pusat Rehabilitasi Kemenhan. Setelah itu, dia mulai menggeluti aktivitas
pertanian dengan mengembangkan kebun kelengkeng. Mulanya, Mugiyanto menyewa
lahan 0,25 hektar di Desa Borobudur untuk membudidayakan kelengkeng bersama
warga setempat.
Budidaya itu berhasil sehingga kebun kelengkeng yang ia kelola
terus bertambah luas. Saat ini Mugiyanto mengelola kebun kelengkeng seluas 40
hektar. Lokasinya bukan hanya di Magelang, melainkan juga di Pemalang, Jateng. Saat
ini ada lebih dari 100 petani yang bekerja di kebun kelengkeng yang dikelola
Mugiyanto. ”Saya tidak mau sugih (kaya) sendiri. Saya ingin masyarakat ikut
andil. Kebun itu dikelola dengan sistem ekonomi kemasyarakatan. Jadi, ada bagi
hasil untuk masyarakat,” katanya. Menurut Mugiyanto, budidaya kelengkeng
berpotensi mendatangkan pendapatan yang lumayan. Apalagi, kelengkeng bisa berbuah
di luar musim. Satu hektar lahan bisa ditanami 230 batang pohon kelengkeng
dengan jarak per pohon 7 meter. Dengan asumsi ada 200 batang pohon yang
berhasil berbuah dan menghasilkan 75 kg kelengkeng sekali panen per tahun,
hasil panen per tahun per hektar mencapai 15 ton.
Dengan harga Rp 50.000 per kg, satu hektar kebun kelengkeng
bisa menghasilkan uang Rp 750 juta per tahun. Selain membudidayakan kelengkeng,
Mugiyanto juga melakukan pembibitan. Ia juga mengembangkan wisata petik buah. Mugiyanto
kerap diundang ke banyak daerah untuk membina para petani. Keberhasilannya
mengembangkan kebun kelengkeng dan membina para petani itu membuatnya dijuluki ”Jenderal
Lengkeng”. Atas sejumlah prestasi tersebut, Mugiyanto diganjar sejumlah penghargaan.
Pada 2019, dia mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa dari Kepala Staf TNI Angkatan
Darat. Dari semula kopral kepala, kini ia menyandang pangkat sersan dua. Pada
Juni 2023, Mugiyanto mendapat penghargaan sebagai petani yang sukses dalam
pengembangan komoditas buah kelengkeng dan pembinaan terhadap 10.000 petani
se-Indonesia dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. (Yoga)









