;

DPR Panggil Dirjen Pajak Terkait Kinerja Fiskal

Hairul Rizal 26 Apr 2025 Bisnis Indonesia
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menyampaikan rencana pemanggilan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan untuk membahas merosotnya penerimaan negara dan perkembangan sistem administrasi perpajakan Coretax. Hal ini menyusul penurunan tajam penerimaan pajak pada triwulan I 2025 yang hanya mencapai Rp322,6 triliun, turun 18,1% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Komisi XI menilai perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap titik-titik kelemahan dalam penerimaan negara, termasuk dari sisi pajak, kepabeanan, dan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak). Sebelumnya, Komisi XI dan DJP juga telah sepakat untuk menunda implementasi penuh sistem Coretax karena masih terdapat berbagai kendala teknis yang perlu diselesaikan. Pemanggilan lanjutan ini bertujuan untuk memperoleh kejelasan dan langkah strategis agar kinerja fiskal kembali optimal.

Kesenjangan Kekayaan RI Kian Menganga

Hairul Rizal 26 Apr 2025 Kontan (H)
Ketimpangan kekayaan di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti Singapura meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan UBS Global Wealth Report 2024, rasio gini kekayaan Indonesia mencapai 68 di tahun 2023—naik dari 59 pada 2008—menunjukkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin yang makin lebar. Data BPS juga mengonfirmasi tren ini, dengan rasio gini pendapatan Indonesia naik tipis menjadi 0,381 di September 2024.

Namun, Singapura mencatat tingkat ketimpangan yang lebih tinggi, dengan rasio gini mencapai 70. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya kekayaan rata-rata dan arus masuk orang super kaya dari berbagai negara, yang tertarik pada stabilitas politik dan pajak rendah. Juru bicara pemerintah Singapura menyatakan bahwa negara tersebut tetap terbuka bagi investor dan modal asing.

Untuk mengatasi ketimpangan, pemerintah Singapura telah menaikkan pajak orang kaya, termasuk pajak penghasilan, properti, dan bea materai. Namun, langkah ini menimbulkan efek samping: warga lokal mengeluh soal biaya hidup tinggi, dan sebagian miliarder mulai mempertimbangkan pindah ke negara lain seperti Dubai, Abu Dhabi, atau bahkan Indonesia.

Robin Heng, mantan Co-Head of Local Private Banking Bank of Singapore, memperingatkan bahwa Singapura bisa kehilangan daya saing sebagai pusat kekayaan global jika beban pajak terus bertambah. Hal ini membuka peluang bagi negara tetangga seperti Indonesia dan Malaysia untuk menjadi alternatif tujuan investasi dan domisili bagi orang super kaya.

Perundingan Dagang Masuki Tahapan Krusial

Hairul Rizal 26 Apr 2025 Kontan
Indonesia telah resmi memulai proses negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat (AS), ditandai dengan penandatanganan non-disclosure agreement (NDA) antara pemerintah Indonesia dan USTR pada 23 April. Negosiasi kini masuk tahap teknis, dengan rencana pembentukan lima kelompok kerja (working group) untuk mempercepat pembahasan di sektor-sektor strategis, meski sektor tersebut belum diungkap ke publik.

Pemerintah Indonesia, melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto, menekankan bahwa pendekatan negosiasi berlandaskan lima pilar manfaat nasional: ketahanan energi, akses pasar ekspor ke AS, kemudahan investasi, kerja sama rantai pasok industri strategis, dan akses teknologi di berbagai sektor.

Meski negosiasi ini berpotensi memberikan keuntungan strategis bagi Indonesia, ekonom Syafruddin Karimi memperingatkan risiko konsesi berlebihan, terutama dalam deregulasi dan keterlibatan dalam rantai pasok global. Ia menekankan pentingnya menjaga kemandirian industri nasional dan prinsip kedaulatan dalam kebijakan ekonomi Indonesia.

Bank Swasta Didorong Bantu KPR Subsidi

Hairul Rizal 26 Apr 2025 Kontan
BP Tapera membuka peluang kerja sama dengan bank swasta, seperti BCA, untuk menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi dalam rangka mempercepat realisasi program 3 juta rumah. Selama ini, penyaluran KPR subsidi skema FLPP hanya dilakukan oleh bank BUMN dan BUMD. Meski belum ada kerja sama resmi, BCA tengah melakukan kajian awal bersama BP Tapera, meskipun infrastruktur internal BCA belum siap mendukung skema subsidi secara nasional.

Pelibatan bank swasta bukan karena masalah likuiditas, tetapi untuk memperluas jangkauan dan efektivitas program. Hingga 24 April 2025, BP Tapera telah menyalurkan Rp 8,76 triliun untuk 70.954 unit rumah, setara 36% dari target 220.000 unit. BTN tetap menjadi penyalur terbesar dengan total penyaluran mencapai Rp 179,70 triliun per akhir Maret 2025, dan optimis tren positif ini akan terus berlanjut.

Tarif Perang Paksa Perusahaan Revisi Target

Hairul Rizal 26 Apr 2025 Kontan
Ketidakpastian ekonomi global akibat perang dagang, terutama kebijakan tarif impor dari Presiden AS Donald Trump, telah memicu tekanan besar terhadap kinerja perusahaan-perusahaan besar dunia. Banyak dari mereka mulai menaikkan harga produk, memangkas target keuangan, hingga menarik kembali proyeksi laba karena lonjakan biaya dan terganggunya rantai pasok.

Andre Schulten, CFO Procter & Gamble, mengungkapkan bahwa perusahaannya terpaksa menaikkan harga produk seperti popok Pampers untuk menutup biaya tambahan akibat tarif. Hal serupa juga terjadi di perusahaan besar lainnya seperti PepsiCo, Thermo Fisher Scientific, American Airlines, Tesla, dan Nestlé, yang semuanya mengaku terkena dampak langsung dari kebijakan perdagangan yang tidak konsisten.

Trump sempat menunda beberapa tarif, tetapi tetap memberlakukan bea tinggi terhadap produk dari China dan negara lain, yang menyebabkan ketidakpastian pasar dan penurunan tajam harga saham. Bahkan, perusahaan seperti Hyundai mulai memindahkan produksi untuk menghindari tarif, sementara David Elkins, CFO Bristol Myers, memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat menghambat inovasi dan akses obat bagi pasien.

Perang dagang telah mendorong perusahaan untuk merombak strategi, mengencangkan ikat pinggang, dan mempertanyakan prospek jangka pendek mereka di tengah lanskap ekonomi global yang semakin tidak menentu.

Hardiknas Momentum untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan

Yuniati Turjandini 26 Apr 2025 Investor Daily (H)
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) pada 2  Mei 2025 nanti harus menjadi momentum untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Hal itu dimulai dengan meningkatkan jumlah guru dan dosen berkualitas. Tercatat saat ini jumlah dosen  di Indonesia mencapai 303,67 ribu. Namun, hanya 25% saja yang sduah lulus doktor. Adapun jumlah profesor (guru besar) di Indonesia pada 2022 mencapai 7.959 orang. Pada tahun ajaran 2022/2023, terdapat sekitar 3,3 juta guru di Tanah Air, tepatnya di sekolah negeri. Jumlah tersebut terus berkurang akibat banyaknya guru yang pensin. Jumlahnya disinyalir mencapai 70.000 guru per tahun. Dengan demikian, pada tahun 2024 Indonesia akan mengalami kekurangan guru sebanyak 1,3 juta guru. Menurut Data Pokok Pendidikan dari Kemedikbudristek, pada Semester Ganjil 2024/2025 ini, jumlah guru di Tanah Air mencapai 3,39 juta, tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, termasuk tenaga pengajar yang ditempatkan di luar negeri sebanyak 845 orang. Namun, dari jumlah guru tersebut, sebagian besar terkonsentrasi di Pulau Jawa, yakni jumlah guru terbanyak ada di Jawa Barat, diikuti di Jawa Timur dan Jawa Tengah. (Yetede)

Prajogo Terus Poles Chandra Daya Investasi

Yuniati Turjandini 26 Apr 2025 Investor Daily
Konglomerat Prajogo Pengestu terus memoles PT Chandra daya Investasi (CDI), dengan mengonsolidasi perusahaan logistik milik PT Barito Paciific Tbk ( BPT)) ke dalam anak usaha PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) atau Grup CAP tersebut. Aksi taipan kelas wahid mempercantik CDI tersebut, bersamaan dengan rencana Grup CAP untuk menjejaki penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham Chandra Daya Investasi. Manajemen PT Barito Pacific Tbk (BRPT) atau Grup Barito selaku induk Grup CAP dalam pengumuman resminya, telah mengalihkan seluruh sahamnya atau sejumlah 20.400 saham (100%) di PT Barito Investa Prima (BIP) merupakan kendaraan BRPT untuk berinvestasi di sektor logistik. "Saham-saham tersebut dialihkan dan dijual oleh perseroan (BRPT) dan GI kepada PT Chandra Daya Investasi dan PT Buana Primatama Niaga," jelas manajmen BPRT. CDI merupan anak usaha dari TPIA yang bergerak dalam aktivitas perusahaan holding dan manajemen konsultan. Sedangkan, BPN merupakan perusahaan yang bergerak di bidang usaha perdagangan besar dan aktivitas konsultan manajemen yang didirikan oleh putra bungsu Prajogo Pangestu yaitu Erwin Ciputra. (Yetede)

Indikasi Shortfall Penerimaan Pajak Cukup Berat

Yuniati Turjandini 26 Apr 2025 Investor Daily (H)
Upaya pemerintah menghimpun penerimaan pajak cukup berat, karena realisasi penerimaan pajak kuartal 1-2025 baru Rp322,6 triliun atau 14,7% dari target penerimanaan pajak tahun 2025 yang mencapai Rp 2.189,3 triliun. Ini mengindikasikan  basis penerimaan pajak belum sepenuhnya pulih dari tekanan ekonomi global dan  domestik sejak awal tahun 2025. Kondisi penerimaan pajak Indonesia pada kuartal 1-2025 menunjukkan dinamika fiskal yang cukup kompleks. Jika ditelisik lebih dalam secara bulanan, realisasi penerimaan pajak pada akhir Maret 2025 menunjukkan peningkatan signifikan sebesar Rp134,8 triliun, dari Rp187,8 triliun pada Februari menjadi Rp322,6 triliun. Namun, secara tahunan (year on year/yoy), penerimaan pajak itu masih mengalami kontraksi sebesar 12%. Bila setiap kuartal penerimaan negara terkumpul sekitar Rp300 triliun, penerimaan pajak terancam hingga akhir tahun tidak mencapai target atau mengalami shortfall. "Kontraksi tahun ini memperlihatkan dampak dari perlambatan ekonomi akibat ketidakpastian global, termasuk perang tarif antara AS dan CHina, serta tekanan terhadap eskpor Indonesia," jelas Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi. (Yetede)

Pertumbuhan Kredit UMKM Masih Tertahan oleh Daya Beli

Yuniati Turjandini 26 Apr 2025 Investor Daily (H)
Pertumbuhan kredit UMKM  terus menunjukkan tren melambat dalam satu dekade terakhir. Hingga Maret 2025, kredit UMKM hanya tumbuh 1,7% secara year on year (yoy), masih lemahnya daya beli jadi faktor utama.  Berdasarkan data bank Indonesia (BI) kredit UMKM di kuartal 1 tahun ini menjadi yang terendah, kecuali pada awal tahun 2020 ketika terjadi Covid-19 yang mengalami kontraksi 2,2% (yoy). Di mana, kredit UMKM sempat mencatat pertumbuhan dua digit secara konsisten pada 20014-2015, masing-masing tumbuh 10,3% (yoy) dan 10,1% (yoy). Setelah itu, mulai menyusut pada 2016 dengan pertumbuhan 8,4% (yoy), dan pada 2018 kredit UMKM naik 9,9% (yoy). Setelah itu,  trennya mulai menurun secara grudual. Pada 2019, pertumbuhan ke 7,7% melambat dari tahun ke tahun sebelumnya, bahkan sempat mengalami kontraksi 2,2% pada 2020 akibat dampak pandemi Covid-19. Namun, pasca pandemi, tahun 2021 menjadi titik balik dengan pertumbuhan tinggi sebesar 12,3% (yoy), disusul 10,2% pada 2022. Setelah itu, laju pertumbuhan kredit UMKM  kembali mengalami tekanan, masing-masing menjadi 7,9% (yoy) di 2023, lalu turun signifikan ke 3% pada akhir 2024, dan terakhir menyentuh 1,7 (yoy) per Maret 2025. (Yetede)

Soal Qris dan GPN

Yuniati Turjandini 26 Apr 2025 Investor Daily (H)
Pemerintah Indonesia memastikan, keberadaan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) dan Gerbang Pembayaran Nasional (GPN) tidak mengganggu menyedia jasa pembayaran (PJP) asing seperti Master Card dan Visa asal AS. Pasalnya, regulasi yang berlaku tetap  membolehkan operator PJP dari negara lain, termasuk Mastercard dan Visa, untuk beroperasi di Indonesia. Menteri Koordinator menyatakan, terkait dengan kritik dan sorotan AS terhadap penerapan QRIS dan GPN, yang diperlukan  hanya penjelasan ke Negeri Paman Sam tersebut. Apalagi di jasa layanan  kartu kredit nyaris tidak ada perubahan yang berarti, Mastercard dan Visa tetap menjadi pemain utama penyedia perantara transaksi (payment gateway) di Indonesia. "(Bahkan) di sektor kartu kredit, tidak ada perubahan. Untuk sektor gateway, mereka tetap terbuka untuk masuk di bagian front end maupun berpartisipasi, dan itu level playing field-nya (sama) dengan pelaku lain. Jadi sebenarnya masalah ini hanya butuh penjelasan," ujar Airlangga. Airlangga yakin, sikap AS terkait QRIS dan GPN bisa diselesaikan dengan adanya  pembahasan antara AS dan Indonesia. Seperti hal  jasa perantara transaksi kartu kredit, QRIS dan GPN juga terbuka untuk para operator asing. (Yetede)

Pilihan Editor