Pundi-Pundi Uang CDI
Mendorong Industri Maritim Agar Melaju Lebih Kencang
Rute Penerbangan Internasional Bertambah
Dividen Jadi Bahan Bakar Utama Bursa Saham
Mengelola Opini Publik di Tengah Dinamika Ekonomi
Langkah Danantara Menuju Kapitalisasi Triliunan Dolar
Potensi Remitansi Pekerja Migran Kian Menjanjikan
Pinjol Menjerat Perempuan
Pinjaman daring atau pinjol (pinjaman online), yang marak beberapa tahun terakhir, sering menimbulkan masalah ekonomi dan kemanusiaan di masyarakat, terutama di kalangan perempuan kepala keluarga. Sejumlah perempuan jadi korban kekerasan, mengalami gangguan kesehatan dan mental, bahkan mengakhiri hidup akibat pinjol. Banyak perempuan kepala keluarga menjadi korban pinjol, karena dalam praktiknya, pinjol, terutama yang ilegal, menjadi wajah baru lintah darat yang beroperasi di ruang digital. Pinjamannya terlihat seperti memberikan pertolongan darurat kepada masyarakat, tetapi ujungnya justru menjerumuskan peminjamnya dalam lautan utang. Sejumlah korban pinjol mengaku tidak menyadari bunga pinjaman yang diajukannya tinggi dan berlipat-lipat (bunga-berbunga).
Akibatnya, mereka harus gali lubang tutup lubang, melunasi utang pinjol dengan pinjol lainnya. ”Pinjol yang eksploitatif telah menjelma menjadi praktik lintah darat dalam wujud yang modern. Utang yang mencekik, bunga tak masuk akal, serta teror ataupun kekerasan fisik, psikologis, dan verbal dialami para korban pinjol,” kata Direktur LBH Jakarta, Muhammad Fadhil Alfathan, Minggu (27/4), di Jakarta. Sejak 2018 hingga 2024, LBH Jakarta menerima 1.944 pengaduan dari para korban pinjol di Jabodetabek serta luar Jabodetabek. Sebanyak 1.208 (62,14 %) korban adalah perempuan. Dari pengaduan yang masuk, diduga telah terjadi berbagai pelanggaran atas privasi korban pinjol.
Ketika pembayaran utang tertunggak, pemberi pinjaman menyebarkan informasi korban ke kontak-kontak yang ada di telepon seluler korban. Berbagai kekerasan yang dialami perempuan korban pinjol hingga saat ini tidak disikapi serius oleh negara. ”Kondisi ini menunjukkan bahwa negara gagal melindungi warganya dari praktik ekonomi yang tidak adil,” kata Fadhil. Banyaknya perempuan yang terjerat pinjol sejalan dengan tingginya aktivitas mereka terhadap praktik pinjam-meminjam secara daring. Jumlah pembiayaan macet alias tingkat wanprestasi(TWP) 90 hari pinjaman perseorangan pada Januari 2025 mencapai Rp 1,46 triliun, pembiayaan macet perempuan mencapai Rp 752,11 miliar, lebih besar ketimbang laki-laki sebesar Rp 716,79 miliar. (Yoga)
Membangun SDM Dulu, Baru menciptakan Lapangan Kerja
Wamen Diktisaintek, Stella Christie menilai lapangan kerja tidak bisa serta-merta tercipta tanpa sumber daya manusia yang unggul. Oleh karena itu, pemerintah akan lebih fokus membangun SDM sembari terus berupaya memperluas lapangan kerja. Hal ini disampaikan Stella dalam orasi ilmiah di hadapan ratusan wisudawan sarjana dan pascasarjana Universitas Yarsi, Jakarta, Sabtu (26/4). Menurut dia, hubungan antara SDM dan lapangan kerja tidaklah sejajar. Lapangan kerja tidak akan ada jika tidak ada SDM unggul yang menciptakannya. ”Jadi (mengupayakan) SDM yang berkualitas itulah yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Ini menjadi poin yang sangat penting yang saya rasa kurang diperhatikan akhir-akhir ini,” kata Stella.
Pemerintah, memang berperan besar dalam memperluas lapangan kerja untuk memberi pekerjaan pada masyarakat. Pemerintah akan lebih fokus mengembangkan SDM melalui pendidikan. ”Jadi, orangnya dulu (dikembangkan) oleh universitas dan dia akan menciptakan lapangan-lapangan kerja yang bisa diisi oleh orang-orang berkualitas yang datang dari universitas tersebut,” ujarnya. Untuk itu, pemerintah mendorong mahasiswa untuk menguasai kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebelum lulus dan masuk ke dunia kerja. Sebab, AI bisa menggantikan pekerjaan manusia jika manusianya tidak beradaptasi dengan perkembangan zaman. (Yoga)
Belum Meredanya Tantangan Kinerja Emiten BUMN
Kinerja BUMN yang terdaftar di pasar saham Indonesia, cenderung melambat hingga akhir tahun 2024 dan diprediksi akan terus menurun pada 2025. Dinamika ekonomi di dalam dan di luar negeri turut memberi dampak negatif terhadap kinerja berbagai sektor emiten BUMN ke depan. BCA Sekuritas, yang mengompilasi laporan kinerja 37 perusahaan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia sampai akhir 2024, mencatat bahwa salah satu indikator kinerja berupa revenue atau pendapatan kotor emiten BUMN rata-rata masih di zona positif. Namun, pertumbuhan revenue menurun pada triwulan akhir dan lebih rendah dibanding level pertumbuhan pada triwulan kedua dan ketiga 2024.
Pengeluaran untuk modal kerja atau capital expenditure (capex) per tiga bulan pada 2024 dinamis, tetapi juga melambat pada triwulan akhir. Rasio earnings per share (EPS) atau laba per saham rata-rata dari emiten BUMN hingga triwulan IV-2024 terus naik hingga nilai 5, tertinggi setelah rasio EPS pada triwulan I-2023. EPS adalah indikator berapa banyak laba bersih yang dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar. Semakin besar nilai EPS, profitabilitas saham semakin baik. Namun, naiknya EPS saham BUMN di tengah turunnya revenue mengindikasikan berkurangnya kepemilikan saham oleh publik.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Oktavianus Audi, Sabtu (26/4) juga mengamati, emiten BUMN, khususnya yang masuk dalam konstituen Indeks BUMN20, yang memuat 20 emiten BUMN berkinerja baik, banyak yang masih mencatatkan kinerja positif. Khususnya, emiten di sektor bahan baku, utilitas, dan perbankan. Audi tidak menampik adanya tren penurunan pendapatan dan saham pada banyak emiten BUMN di berbagai sektor. Hal ini tidak lepas dari tekanan ekonomi dan politik global yang bahkan menjalar hingga triwulan awal 2025. ”Kami berpandangan performance perusahaan BUMN pada 2024 menghadapi banyak tantangan,” ujar Audi. Diantaranya dari terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS yang memberi sentimen negatif pada perdagangan global hingga depresiasi rupiah. (Yoga)









