PHK Tak Sesuai Aturan Masih Kerap Terjadi
Praktik PHK secara sewenang-wenang atau tidak sesuai aturan
masih mewarnai deretan pengaduan pelanggaran hak ketenagakerjaan. Ditengarai
ada masalah struktural yang belum selesai sehingga praktik seperti itu berulang
di sejumlah daerah setiap tahun. Wakil Ketua Bidang Advokasi dan Jaringan
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Arif Maulana mencontohkan, dalam
rekapan catatan akhir tahun 2022, YLBHI menerima 270 pengaduan dari 2.500
pekerja pencari keadilan, yang berasal dari 18 kantor, antara lain LBH Jakarta,
LBH Surabaya, dan LBH Semarang. Salah satu jenis pengaduan adalah tidak adanya
pemberitahuan PHK lebih awal. Jenis pengaduan lainnya ialah pemberangusan
serikat pekerja/buruh, pengabaian hak saat bekerja, tidak mendapatkan kerja layak,
dan tidak menerima upah adil.
Di LBH Surabaya, yang merupakan kawasan kantong industri,
terdapat 11 laporan pengaduan PHK sepihak sepanjang 2022. Pada akhir tahun 2022
di LBH Semarang, terdapat empat buruh yang awalnya merespons keterlambatan
pembayaran upah, tetapi berujung mengalami PHK. Dia berpendapat, ada masalah
struktural yang tidak selesai di balik kemunculan pengaduan pelanggaran hak
ketenagakerjaan, termasuk PHK sewenang-wenang. ”Aktor-aktor (pelaku) tidak banyak
berubah, yaitu seputar perusahaan lokal, individu dari perusahaan, pejabat
daerah setempat, dan pejabatinstansi pemerintahan nasional,” ujar Arif, Selasa
(19/12) di Jakarta. YLBHI masih menunggu 18 kantor LBH tuntas merekap catatan akhir tahun 2023 sehingga
belum bisa menyampaikan kepastian jumlah pengaduan pelanggaran hak ketenagakerjaan
sepanjang 2023. (Yoga)
Pembiayaan Korporasi dan Penyaluran Kredit Baru Tumbuh
PARIWISATA, Bebas Visa 20 Negara, Pengawasan Perlu Ditingkatkan
Pemerintah berencana memberikan bebas visa pada 20 negara
yang berpotensi mendorong pariwisata berkualitas, terutama untuk wisatawan dari
negara dengan pendapatan per kapita yang tinggi. Meski pengusaha mendukung
wacana ini, ada peringatan agar rencana kebijakan ini jangan sampai menciptakan
masalah baru. Kebijakan bebas visa sedang terus dikaji terhadap 20 negara yang
dianggap dapat berkontribusi pada pariwisata berkualitas di Indonesia. Pariwisata
berkualitas yang dimaksud adalah wisatawan asing yang tinggal lebih lama dan
membelanjakan uang lebih banyak. Pariwisata jenis ini akan berdampak bagi
ekonomi lokal di daerah tujuan wisata. ”Kami dorong agar bebas visa kunjungan
ini bisa jadi topik yang segera diputuskan. Presiden memberi waktu akhir tahun
sampai awal tahun depan. Rapat di kementerian dan lembaga terus berlangsung,”
ujar Menparekraf Sandiaga Uno dalam konferensi pers mingguan, di Jakarta, Senin
(18/12) sore.
Negara-negara yang dibidik menyumbang wisata berkualitas
adalah Australia, Selandia Baru, India, China, Korsel, Jepang, Rusia, Taiwan, Italia,
Spanyol, Inggris, Jerman, Perancis, dan Belanda. Lainnya merupakan negara yang
dianggap berkontribusi pada investasi serta ekonomi Indonesia, yakni Qatar, Uni
Emirat Arab, Arab Saudi, serta negara Timur Tengah yang diusulkan menerima
bebas visa kunjungan. Negara-negara itu masuk dalam daftar 20 negara prioritas,
selain negara-negara di kawasan ASEAN. Sandiaga menambahkan, Presiden
menekankan pergerakan wisatawan mancanegara ini bisa berdampak positif bagi masyarakat
Indonesia, baik untuk investasi maupun ilmu pengetahuan. Menurut kajian, ke-20
negara itu akan memberikan pemasukan yang besar sekaligus penyumbang wisatawan
terbanyak. Negara-negara ini dipilih berdasarkan sejumlah pertimbangan, di
antaranya aspek pendapatan per kapita, durasi
tinggal (length of stay), rata-rata pengeluaran selama mengunjungi destinasi di
Indonesia, serta jumlah wisatawan yang akan bepergian ke luar negeri. (Yoga)
Alarm Bencana Pangan di NTT
Tingkat konsumsi beras masyarakat NTT tahun 2022 mencapai
117,189 kg per kapita per tahun, melampaui rata-rata nasional. Tingginya
kebutuhan itu tidak dapat dipenuhi produksi beras di NTT. Upaya swasembada
melalui program lumbung pangan pun belum mampu mengurangi ketergantungan. Data
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan di NTT menyebutkan, produksi beras di
daerah itu 430.948,5 ton pada tahun 2022, sedang kebutuhannya 642.367,53 ton.
Dari tahun ke tahun, selalu dibutuhkan pasokan dari luar untuk menambal
kekurangan tersebut. Ketika daerah pemasok mengalami gagal panen atau pengirimannya
terlambat akibat cuaca buruk, masyarakat NTT kelabakan. Seperti awal tahun
2023, NTT mengalami krisis beras akibat kurangnya pasokan dari luar. Krisis
beras menjadi salah satu peristiwa menonjol di NTT sepanjang tahun ini. Akibat
kelangkaan itu, harga beras kualitas medium yang biasa Rp 13.000 per kg melonjak
hingga Rp 18.000 per kg. Warga panik. Banyak rumah tangga, terutama kalangan
menengah ke bawah, mengurangi jatah makan beras dari semula tiga kali sehari menjadi
dua hingga satu kali.
Kenaikan harga beras terjadi ketika daya beli masyarakat NTT
belum pulih. Pandemi Covid-19, badai Seroja, dan serangan virus demam babi Afrika
memukul ekonomi masyarakat NTT. Krisis beras yang datang dengan mudah
menumbangkan ketahanan mereka. Lewat Perum Bulog, operasi pasar digelar di
sejumlah tempat. Dengan harga jual Rp 9.000 per kg atau separuh harga tertinggi
di masyarakat, langkah ini sangat membantu. Namun, jatah pembeliannya tergolong
sedikit, yakni 5 kg per keluarga. Di Kota Kupang, antrean memperebutkan jatah
beras murah berlangsung di sejumlah titik. Di bawah terik matahari, mereka
menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan kupon pembelian. Bahkan, ada yang
sampai pingsan sehingga harus dibawa ke rumah sakit. Krisis teratasi setelah
kiriman beras bantuan dari pemerintah pusat tiba dan beras yang dipasok
pedagang mulai masuk. ”Sebagian besar beras yang berada di pasar NTT berasal
dari Jatim dan Sulsel,” ucap Melky Bano (56), pedagang beras di Kota Kupang, Senin
(11/12).
Padahal praktik pertanian lahan kering terbukti membuat
masyarakat mandiri secara pangan. Pada Agustus 2023, Kompas menemukan
keberhasilan praktik itu ketika datang ke komunitas masyarakat adat suku Boti
di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Mereka nyaris tidak kekurangan makanan. Sepanjang
tahun, mereka mengonsumsi padi dari ladang tadah hujan, jagung, umbi-umbian,
kacang-kacangan, dan berbagai jenis pangan lokal. Berbagai tanaman pangan itu ditanam
secara tumpang sari di dalam lahan tadah hujan. Raja Boti, Usif Nama Benu, menyebutkan,
makanan mereka tersedia hingga musim panen berikutnya. Ketika banyak daerah di
NTT mengalami rawan pangan, masyarakat suku Boti masih berkecukupan. Sepanjang sejarah
komunitas itu ada, belum pernah terjadi kelaparan. Usif juga secara tegas
menolak bantuan beras pemerintah seperti dalam program beras miskin atau
raskin, agar bantuan itu diberikan kepada mereka yang membutuhkan, ujarnya
dalam bahasa daerah Dawan. (Yoga)
Yogyakarta Banjir Berkah Wisatawan di Pengujung Tahun
Tak diragukan lagi bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
masih menjadi provinsi tujuan utama wisatawan nusantara (wisnus) di Indonesia. Hal
itu terlihat setiap momen liburan datang, termasuk jelang Natal dan Tahun Baru
seperti saat ini. Salah satu indikasinya, reservasi hotel yang hampir penuh. ”Hingga
hari ini, reservasi hotel-hotel di DIY untuk periode 23 Desember 2023 hingga 1
Januari 2024 sudah 80 %,” ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia
(PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono, Senin (18/12). Berdasarkan Statistik Wisatawan
Nusantara yang dirilis BPS, sepanjang tahun 2022, DIY dikunjungi 25,7 juta wisnus.
Ini menempatkan DIY di peringkat ketujuh nasional setelah Jatim, Jabar, Jateng,
DKI Jakarta, Banten, dan Sulsel. DIY juga menempati urutan tertinggi persentase
kunjungan wisnus dengan maksud utama rekreasi atau berlibur, yakni 53,09 %,
mengungguli Bali yang menempati peringkat kedua dengan 51,59 persen wisnus yang
berkunjung dengan maksud utama berekreasi.
Sebanyak 57,47 % wisnus di DIY mengincar jenis kegiatan
wisata kuliner, disusul wisata kota / perdesaan (26,05), dengan rerata lama
perjalanan wisnus di DIY adalah 3,42 malam dengan rata-rata pengeluaran Rp 2
juta. Jika menggunakan hitungan kasar, uang yang berputar dari pengeluaran
wisnus di DIY pada 2022 mencapai Rp 51,4 triliun, 10 kali lipat APBD DIY tahun 2023.
Angka itu menunjukkan betapa pariwisata sungguh menjadi salah satu motor penggerak
ekonomi DIY. ”Tahun lalu okupansi hotel pada liburan Natal dan Tahun Baru
mencapai 75-80 %. Tahun ini okupansi kami prediksi bisa sampai 90 %,” kata
Deddy. Menurut Kasi Pengendalian Operasional Lalu Lintas Dishub DIY Lazuardi,
pada periode 22 Desember 2023 hingga 3 Januari 2024, pergerakan orang memasuki
DIY diperkirakan 9,6 juta orang. Dari jumlah itu, 800.000 orang adalah
wisatawan. (Yoga)
Warga Butuh Kepastian Biaya Sewa Rusun
Pemprov DKI Jakarta menjanjikan kelonggaran biaya sewa rusun
bagi warga relokasi. Namun, warga belum mendapat informasi tentang kebijakan
ini. Warga membutuhkan kepastian, termasuk soal tempat berusaha, guna
memulihkan kondisi ekonominya. Pada November 2023, Pemprov DKI Jakarta
mengeluarkan Pergub No 36 Tahun 2023 tentang Pemberian Penghapusan Sanksi
Administratif Berupa Bunga Terlambat Bayar kepada Wajib Retribusi dalam Rangka Pemulihan
Ekonomi Pascapandemi Covid-19. Artinya, penghuni rusun kembali membayar biaya
sewa setelah gratis selama pandemi Covid-19. Akan tetapi, warga relokasi dari Rusunawa
Marunda ke Rusun Nagrak di Jakut keberatan dengan kembali normalnya biaya sewa
itu. Mereka terdiri atas 451 keluarga yang direlokasi karena kondisi rusun dinilai
sudah tidak layak untuk dihuni pada 30 Agustus 2023.
Sekda DKI Jakarta Joko Agus Setyono memastikan sudah ada
kelonggaran biaya sewa bagi warga relokasi ke Rusun Nagrak. ”Ada kelonggaran
tarif rusun dari Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta.
Kelonggaran mengikuti perjanjian sebelumnya,” ujar Joko, Selasa (19/12). Kesepakatan
relokasi, antara lain, warga nantinya harus membayar biaya sewa Rp 505.000
sampai Rp 765.000 per bulan. Biaya ini lebih tinggi daripada sewa Rusunawa
Marunda sebesar Rp 144.000 per bulan. Selain itu, pemerintah juga menyediakan
lapak dagangan bagi warga relokasi. Namun, lapak ini belum selesai dibangun sehingga
warga yang sebagian besar berjualan tidak punya pendapatan harian. (Yoga)
Animo Wisata Meningkat
Animo masyarakat untuk liburan akhir tahun semakin
meningkat. Selain pelesiran ke sejumlah daerah di Tanah Air, mereka juga berwisata
ke luar negeri. AB Sadewa, Corporate Secretary and Investor Relations PT Panorama
Sentrawisata Tbk, Selasa (19/12) mengatakan, permintaan paket wisata tahun ini
tumbuh positif. Bahkan, ia menilai geliat pemesanan paket itu hampir sama dengan
masa sebelum pandemi Covid-19 tahun 2019. Selama musim liburan akhir tahun
2023, menurut dia, permintaan wisata meningkat 20-30 % dibanding periode yang
sama tahun lalu. Namun, masyarakat kini lebih banyak memanfaatkan masa liburan
ke luar negeri. ”Trennya memang lebih tinggi permintaan untuk ke luar negeri
ketimbang wisatawan mancanegara datang ke Indonesia,” ujarnya.
Jepang menjadi salah satu destinasi favorit. Harga paket wisata
ke Jepang dibanderol mulai dari Rp 1,6 juta per orang per hari hingga sekitar
Rp 28 juta per orang selama 10 hari. Destinasi favorit lainnya adalah Korsel.
Tak sedikit pula pelancong berlibur ke tujuan wisata baru, seperti Afrika
Selatan dan Alaska di AS. Sebaliknya, wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa,
justru tak banyak yang melakukan perjalanan ke IndoneSia saat akhir tahun.
Mereka cenderung memilih merayakan Natal di negara asalnya. Wisatawan
mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia lebih banyak berasal dari
India dan Afrika Selatan. Mereka umumnya berlibur ke Bali dan Lombok.
Iko Putera, Chief Executive Officer of Transport Traveloka, mengatakan,
pada semester I tahunini pesanan akomodasi ke Jepang dan Singapura via Traveloka
meningkat dua kali lipat, sedangkan pesanan tiket per-jalanan tiga kali lipat.
”Di luar Asia, ada juga (pesanan ke) Australia, negara-negara Eropa, hingga AS,”
ka-tanya. PR Senior Manager Tiket.com Sandra Darmosumarto mengatakan, pembelian
tiket pesawat, akomodasi, dan kegiatan wisata meningkat 10 % dari periode Natal
dan Tahun Baru sebelumnya. Pemesanan hotel paling banyak untuk perjalanan luar
negeri tercatat di Malaysia dan Thailand. ”Kami yakin minat berlibur akan
mencapai tingkat yang lebih tinggi, baik domestik maupun internasional,” kata
Sandra. (Yoga)
IKHTIAR MERANGSANG SELERA PANGAN LOKAL NTT
Martha Seran (50) menuang adonan tepung putak secara merata ke
atas tembikar yang sedang dipanggang di atas tungku dengan bahan bakar kayu. Adonan
itu seukuran telapak tangan. Dalam tiga menit, kue putak sudah bisa disantap. Membuat
kue putak hampir sama seperti membuat kue dadar gulung. Di bagian tengah, putak
bisa ditaburi gula pasir atau kacang hijau, tergantung selera pembeli. Harganya,
4 potong Rp 5.000. Di sudut Pasar Motamasin, Betun, Kabupaten Malaka, NTT, pada
Sabtu (9/12) itu, sepuluh perempuan paruh baya mengolah kue putak. Mereka
dikerubuti pembeli yang sebagian makan di tempat. Rupanya kue putak disukai banyak
kalangan, termasuk milenial, generasi Z, hingga anak SDr. ”Apalagi makan masih
panas-panas. Enak sekali,” ujar Stefan Bere (16), siswa salah satu SMA di
Betun. Tepung putak diambil dari batang pohon gewang, sejenis pohon sagu yang
banyak tumbuh di Kepulauan Maluku dan Papua. Di NTT, putak merupakan salah satu
makanan lokal yang perlahan mulai ditinggalkan. Sangat jarang putak ditemukan di
meja makan. Di banyak tempat, putak dijadikan makanan untuk ternak babi atau
sapi.
Pengolahan kue putak di sudut Pasar Motamasin yang digelar
sehari dalam seminggu itu mengingatkan kembali akan keberagaman pangan lokal di
daerah itu. ”Putak ini yang ada lebih dulu, baru datang beras,” ucap Martha.
Serbuan beras secara besar-besaran ke NTT terjadi di era Orde Baru. Kehadiran
program penanaman padi dengan berbagai varietas menggusur pangan lokal yang
sudah ada sebelumnya. Padi dihadirkan tanpa mem-pertimbangkan kondisi alam dan
iklim setempat. Padi mem-butuhkan banyak air, sedang NTT minim ketersediaan
sumber air. Sekitar 141 km selatan Betun, tepatnya DesaTaiftob, Kecamatan Mollo
Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan, generasi muda diperkenalkan pada
keberagaman pangan lokal setempat. Gerakan konsumsi pangan lokal itu terpusat
di komunitas Lakoat Kujawas yang dipimpin Decky Senda (36), anak muda dari desa
itu. Saat didatangi pada Agustus 2023, sedang berlangsung pemberian makanan
tambahan bagi anak-anak. Menunya bubur dengan bahan meliputi sorgum, labu, ubi
jalar, dan ayam kampung. Semua bahan diambil dari lingkungan sekitar.
Jauh di seberang Pulau Timor, di Desa Pajinian, Pulau Adonara,
Kabupaten Flores Timur, Maria Loreta mengembangkan tanaman sorgum selama lebih
kurang 10 tahun terakhir. Ia mengoleksi banyak benih lokal tak sebatas sorgum.
Dalam usahanya menghidupkan kembali pangan lokal, perempuan asal suku Dayak itu
bekerja sama dengan banyak pihak, termasuk gereja Katolik setempat. Di kebun
milik Loreta, pada Agustus 2023, sedang digelar pelatihan bagi anak muda untuk
berwirausaha. Mereka diarahkan membuka usaha kuliner berbasis pangan lokal yang
ada di daerah asal peserta, yakni Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Salah
satu sesi yang dijalani adalah setiap perwakilan dari desa-desa mengolah pangan
lokal, kemudian mempresentasikan kepada peserta lain. Total ada 38 anak muda
yang berasal dari enam desa. Mereka lalu bersantap bersama. Menurut Loreta,
ajakan terhadap generasi muda agar mengonsumsi pangan lokal dilakukan dengan
menyodorkan formula yang dapat merangsang selera mereka. ”Seperti ubi rebus,
tidak semua anak tertarik, tetapi kalau dibikin keripik atau diolah ke bentuk
lain serta tambahan rasa, mungkin banyak yang suka,” ujarnya. (Yoga)









