Wirausaha Penyandang Disabilitas, dari Katering hingga Rias Wajah
Penyandang disabilitas dengan segala keterbatasannya jatuh
bangun berwirausaha mandiri. Mereka berdaya dan bermanfaat bagi keluarga dan sesama
disabilitas. Paini (52), perempuan disabilitas asal Wonogiri, Jateng, memiliki
jari-jari tangan dan kaki yang pendek sejak lahir. Berbekal ijazah SMA, pada
1992 dia memutuskan merantau ke Bekasi, Jabar, untuk mencari lapangan kerja
yang lebih baik. Kenyataannya berbeda. Dari enam perusahaan yang ia kirimi
surat lamaran kerja, tak satu pun yang memanggil. ”Saya perempuan, bertubuh
pendek, disabilitas, dan memakai hijab. Diskriminasi tersebut dialamatkan ke
saya sehingga saya susah diterima kerja. Saya kelelahan, hampir menyerah,
hingga di pabrik boneka milik Korea Selatan, saya nekat menyodorkan diri meski
tiga hari pertama tidak dibayar dulu,” ujarnya, Minggu (17/12) di Jakarta. Dalam
tiga hari itu, Paini belajar menjahit dengan mesin jahit modern yang belum pernah
ia lihat sebelumnya. Salah seorang supervisor yang, menurut dia, baik hati mau
mengajari, sampai dia akhirnya bisa menjahit semua bagian boneka. Perusahaan
akhirnya mau mempekerjakan dan menggajinya. Ia bekerja selama dua tahun di situ
hingga menikah.
Upah sebagai buruh pabrik pas-pasan meskipun ia mengambil
lembur sampai pulang malam. Suaminya yang bekerja sebagai kernet metromini juga
mendapat upah pas-pasan. ”Saya juga mulai mengalami masalah penglihatan. Tahun
2000-an, akhirnya saya memutuskan tidak bekerja di pabrik. Uang pesangon digunakan
sebagai modal membuat usaha onde-onde ketawa,” kata Paini. Awalnya Paini
menitipkan onde-onde ketawa ke satu warung hingga berkembang jadi 200 warung.
Dari hanya onde-onde ketawa, usahanya berkembang jadi aneka camilan kering. Semua
pendapatan dari usaha itu dipakai untuk mendirikan dan mengoperasikan Rumah
Singgah Disabilitas Mandiri Bekasi, untuk menampung dan membina kelompok
disabilitas yang mengalami diskriminasi di masyarakat agar berdaya. Di situ,
Paini mengajari penyandang disabilitas lain memasak dan menjahit. Sejumlah lembaga,
seperti Badan Amil Zakat Nasional, pernah membantu memberi pelatihan
wirausaha. Saat ini sudah ada ratusan penyandang disabilitas yang keluar dari
rumah singgah yang sederhana itu dan berwirausaha sendiri. (Yoga)
Redupnya Bisnis Konsumer Bank Asing akibat Kalah Bersaing
Sederet kantor cabang bank luar negeri melakukan aksi
korporasi berupa pengalihan portofolio bisnis konsumer karena dinilai tidak
lagi mampu bersaing dengan bank nasional di Tanah Air. Meredupnya bisnis konsumer
bank asing tersebut salah satunya disebabkan oleh pertumbuhan lini bisnis
konsumen bank asing yang dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir terus
terkontraksi. Aksi korporasi beberapa kantor cabang bank luar negeri (KCBLN)
tersebut dilakukan oleh Citibank Indonesia (Citi) dan Standard Chartered Bank
Indonesia (SCBI) terkait pengalihan portofolio bisnis consumer banking,
masing-masing kepada Bank PT UOB Indonesia (UOBI) dan PT Bank Danamon Tbk.
Selain itu, ada pula penjualan kepemilikan Commonwealth Bank of Australia (CBA)
di Indonesia atau PT Bank Commonwealth (PTBC) kepada PT Bank OCBC NISP Tbk
(OCBC).
Pengamat perbankan dan dosen Binus University, Doddy Aroefianto,
mengatakan, terdapat dua penyebab yang mendorong aksi korporasi KCBLN tersebut,
yakni perubahan strategi global bank terkait dan akibat persaingan yang semakin
ketat dengan bank lainnya. Kedua alasan tersebut tidak lepas dari berkembangnya
produk perbankan yang ditawarkan, baik oleh bank umum nasional maupun bank
asing lainnya. ”Ada indikasi bank-bank asing itu kalah bersaing. Mereka sudah
berada di Indonesia selama puluhan tahun sehingga strategi yang diambil hanya
untuk kantor cabangnya saja, sepertiCiti yang berpusat di AS dan Standard
Chartered di Inggris. Mereka memilih untuk mengurangi produk retail banking dan
lebih berfokus pada institusional atau commercial banking,” katanya, Senin
(18/12). Bank-bank asing yang membuka kantor cabang di Indonesia, pernah
mengalami masa kejayaan pada produk consumer banking hingga tahun 2010. Setelah
itu, pertumbuhan bank-bank asing tersebut tampak meredup seiring bertumbuhnya
bank-bank umum nasional. (Yoga)
Solusi Jangka Panjang Kenaikan Harga Cabai
Ekspor Nonmigas Jabar di Bawah 5 Persen
Muhaemin, Ketulusan untuk Tani Mulus
Muhaemin (40) bukan petani biasa. Ketua Koperasi Tani Mulus
di Kabupaten Indramayu, Jabar, ini memproduksi beras premium, mengembangkan
usaha ternak kambing, serta membangun kios pupuk. Tidak hanya meraih prestasi,
ia juga membantu petani. Spanduk panjang bertuliskan ”Kios Pertanian Tani
Mulus” terpajang pada sebuah bangunan di Desa Mundakjaya, Kecamatan Cikedung,
Rabu (4/10). Di kios berlantai keramik
itu, berbagai jenis pupuk menumpuk. Aneka merek pestisida juga tertata rapi. Beginilah
potret toko milik Koperasi Tani Mulus yang berdiri pada 2019. Kios ini tidak
hanya menjadi pusat pencarian sarana pertanian bagi petani setempat, tetapi
juga jawaban atas masalah klasik: kesulitan petani membeli pupuk. Sebab, toko
ini menerapkan sistem ”yarnen” atau pembayaran saat panen tanpa bunga. Jadi, petani
yang membeli pupuk bisa melunasinya setelah mendapatkan uang hasil panen.
Selama ini, petani kesulitan dana karena belum panen. Tempo pembayaran di kios
pun lebih longgar.
”Ada yang belum bayar berbulan-bulan, padahal sudah panen,”
ucap Muhaemin tersenyum. Nota-nota pinjaman pupuk dan pestisida itu tergantung
di dekat meja kasir. Ia juga mencatat utang para petani di tablet yang
terhubung dengan internet nirkabel. Dalam aplikasi pencatatan utang, pinjaman
petani di musim tanam gadu atau kedua mencapai Rp 101.158.500. ”Musim rending (tanam
pertama) awal tahun ini utangnya Rp 217 juta. Ini lebih banyak karena jarak
musim gadu ke rendeng lama,” ujarnya. Lebih dari 200 anggota koperasi yang
tinggal di Cikedung bisa mengakses skema itu. Menurut Muhaemin, sistem itu
tidak membuat kiosnya bangkrut. ”Kami ingin petani fokus menanam. Masalah pupuk
silakan ngomong. Jangan sampai hasilnya tidak bagus,” ujarnya. Baginya, tujuan
utama kios itu bukan untuk mengejar profit, melainkan membantu petani. Tak
disangka, ia justru mendapatkan tawaran kolaborasi oleh mitra kerja untuk
membangun dua kios di Subang, yang juga sentra pertanian di Jabar, dengan
sistem pembayaran cash dan carry (bayar langsung). Hasilnya, lumayan. Subang
dipilih karena masa tanam yang berbeda dengan Indramayu. (Yoga)









