Ke Mana Arah Angin Kredit Perbankan?
Prospek penyaluran kredit industri perbankan biasanya mengikuti
tren bisnis sektor tertentu atau follow the business. Selama ini, angin berembus
menyusuri sektor pertambangan yang dinilai mampu menciptakan nilai tambah lewat
hilirisasinya. Sejalan dengan cita-cita Indonesia Emas 2045, salah satu penggerak
agar Indonesia mampu menjadi negara maju sekaligus terlepas dari jebakan negara
berpendapatan menengah adalah reindustrialisasi, terutama sektor manufaktur.
Sebab, sektor manufaktur merupakan industri padat karya yang mampu menyerap
banyak tenaga kerja sehingga diharapkan dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat.
Meski secara keseluruhan perbankan optimistis jika sektor
manufaktur prospektif pada 2024, peyaluran kredit tidak lepas dari faktor
permintaan, utamanya pada sektor riil itu sendiri. Selama beberapa tahun
terakhir, penyaluran kredit perbankan pada sektor industri pengolahan terus bertumbuh.
Pada 2022, penyaluran kredit sektor manufaktur tercatat Rp 1.067 triliun atau tumbuh
12,19 % dibandingkan periode 2021. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai BUMN, telah
menyalurkan kredit manufaktur sebesar Rp 149,96 triliun per akhir November
2023, setara 15 % total penyaluran kredit manufaktur periode 2022.
Corporate Secretary PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Teuku Ali
Usman secara tertulis menyampaikan, pihaknya terus berfokus membidik penyaluran
kredit manufaktur guna mempercapat laju pertumbuhan ekonomi nasional. ”Penyaluran
kredit manufaktur itu paling banyak kami salurkan kepada subsektor industri makanan
dan minuman, industri dan perdagangan besar logam, industri pupuk dan obat
hama, industri pulp and paper, serta industri kimia,” katanya, Kamis (4/1/2024).
Teuku menambahkan, pihaknya akan melakukan ekspansi kredit sesuai dengan alat
ukur yang digunakan, yakni loan portfolio guideline (LPG) untuk
mengidentifikasi sector-sektor yang prospektif dengan risiko yang rendah.
Selain itu, juga dilakukan penyeleksian calon debitor melalui industry acceptance
criteria guna dan secara aktif menjaga eksposur kredit agar sesuai dengan
batasan limit sectoral yang telah ditetapkan dalam industry limit. (Yoga)
Infrastruktur Pariwisata Dibangun di IKN
Terancam Rob, Petambak Percepat Panen
Ganti Rugi Lahan Kampung Seni Borobudur
Industri Sawit Tertekan Luar-Dalam
Meskipun berkontribusi besar terhadap ekspor dan perekonomian
nasional, industri sawit tengah menghadapi tekanan dari dalam negeri dan luar
negeri. Tekanan dalam negeri berasal dari ongkos produksi yang terus meningkat.
Tekanan dari luar negeri adalah potensi tekanan terhadap ekspor akibat ketidak pastian
perekonomian global yang menyebabkan harga jual fluktuatif dan halangan nontarif.
Demikian salah satu tantangan yang mengemuka dalam seminar bertajuk ”Refleksi
Industri Sawit 2023 dan Tantangan Masa Depan: Mau Dibawa ke Mana Sawit Kita?”
yang diselenggarakan Rumah Sawit Indonesia (RSI), di Jakarta, Rabu (10/1/2024).
Ketua Umum RSI Kacuk Sumarto mengatakan, industri sawit menghadapi sejumlah tantangan,
dari dalam negeri, ongkos produksi terus menanjak. Contohnya, upah pekerja di
Sumut rata-rata Rp 1,3 juta per bulan pada 2010. Pada 2023, upah rata-rata hampir
Rp 4,5 juta per bulan. Harga pupuk pada 2010 di kisaran Rp 2.700 per kg. Pada
2023, harganya naik menjadiRp 8.500-Rp 11.000 per kg.
Padahal, upah dan pupuk merupakan dua komponen utama biaya produksi
sawit yang nilainya 75-80 % total ongkos produksi. Pada saat yang sama, kenaikan
harga jual tidak secepat kenaikan ongkos produksi. Menurut Kacuk, harga jual
sawit pada 2010 berkisar Rp 8.500-Rp 9.000 per kg. Pada 2023, harganya naik di
kisaran Rp 10.500-Rp 11.000 per kg. Artinya, harga jual hanyanaik 23-29 %
selama periode itu. ”Data ini artinya, selisih semakin tipis. Kalau tidak ada terobosan,
dalam waktu dekat, pendapatan akan sama dengan biaya produksinya. Ini bisa kolaps
semua,” ujar Kacuk. Hasil riset Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute
(PASPI) menyebutkan, pertumbuhan rata-rata biaya produksi sawit pada 2008-2022
mencapai 6,83 Tekanan dalam negeri itu dibarengi juga dengan tekanan global.
Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu ketegangan geopolitik
di sejumlah kawasan, seperti perang Rusia-Ukraina dan konflik Israel-Palestina,
membuat laju pertumbuhan ekonomi dunia melambat. Negara-negara tujuan ekspor
produk sawit, seperti AS, kawasan Eropa, kawasan Timur Tengah, dan Afrika,
diperkirakan akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Dampaknya,
permintaan sawit dari Indonesia pun akan turun. Harga jual sawit di pasar dunia
pun cenderung menurun. Mengutip data BPS, harga jual minyak kelapa sawit pada
November 2022 adalah 945,7 USD per metrik ton. Pada November 2023, harganya
turun menjadi 830,5 USD per metrik ton. Konsekuensinya, ekspor minyak kelapa
sawit Januari-November 2023 turun 12,60 % dibandingkan periode yang sama pada
2022. (Yoga)
KERETA API SEMAKIN NYAMAN, JANGAN LUPAKAN KESELAMATAN
Sabtu (30/12/2023) pagi, Kereta Api Argo Dwipangga New Generation
dengan bodi stainless steel terparkir di Stasiun Jakarta Kota. Tidak hanya eksterior,
interior kereta juga menarik perhatian, terutama di kelas luxury yang kapasitas
tempat duduknya hanya 26 unit. Kursinya empuk, berbalut kulit sintetis.
Tersedia pula bantalan kepala dan sandaran kaki. Penumpang bisa menidurkan kursinya
dengan memencet tombol di bawah sandaran tangan. Mereka juga dapat menonton
film dari layar di depan atau mengakses internet nirkabel sepuasnya.
”Dengan aplikasi Access by KAI, kita bisa men-track (melacak)
perjalanan kereta ini sampai ke tujuan. Fasilitasnya tidak kalah dengan pesawat,”
ucap Dirut PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo saat mengajak
sejumlah awak media mencoba kereta itu. Di restorasi, misalnya, Didiek
menunjukkan ruang makan mirip restoran cepat saji. Di belakang meja kasir
terpampang gambar digital berbagai menu pada bagian atas. Menu mi godok, sei
sapi, serta nasi goreng Parahyangan yang melegenda ada di sana. Aneka minuman
juga tersedia. Beginilah potret kereta generasi baru KAArgo Dwipangga yang
diluncurkan sejak 13 Desember.
KA ini melayani rute Stasiun Gambir ke Solo Balapan dalam
tujuh jam. Harga kelas luxury bisa mencapai Rp 1,5 juta per orang, sedangkan
eksekutif sekitar Rp 500.000 per penumpang. Meski lebih mahal dari tiket
pesawat, kereta ”mewah” ini tetap laris. Harga pesawat dari Jakarta ke
Surakarta mulai dari Rp 850.000 per orang. ”Dulunya hanya satu kereta (luxury),
para pelanggan itu selalu mengeluh tidak mendapatkan tempat. Sekarang tiga (kereta)
ini selama angkutan Natal dan Tahun Baru itu full (penuh),” ucap Didiek. Selain
KA Argo Dwipangga, kelas luxury juga dirasakan di KA Argo Lawu dan KA Taksaka. Selama
masa Natal dan Tahun Baru pada 21 Desember 2023 hingga 7 Januari 2024, kereta luxury
ini telah melayani 8.739 penumpang atau rata-rata 485 orang per hari. Tingkat
okupansi hampir 100 %. (Yoga)
Sinyal Ekonomi Melambat di Riuh Tahun Politik
Lampu kuning menyala bagi perekonomian Indonesia. Di tahun politik, yang digadang-gadang bisa mengerek permintaan, justru memperlihatkan sejumlah indikator konsumsi dan bisnis bergerak dalam tren melemah. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) terhadap perekonomian enam bulan ke depan melorot. Hasil Survei Konsumen oleh Bank Indonesia (BI) di Desember 2023, IEK di level 133,9, turun 0,3 poin dari bulan sebelumnya. Dari komponennya, Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja turun 1,5 poin ke level 129,9. Selain itu, Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha juga menurun 1 poin menjadi 132,2. Demikian pula pandangan pebisnis maupun pelaku usaha. Hasil Survei Penjualan Eceran oleh BI menunjukkan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) kuartal IV-2023 hanya tumbuh 1,5% secara tahunan atau year on year (yoy). Angka ini naik tipis dibandingkan pertumbuhan pada kuartal III-2023 yang sebesar 1,4% yoy. Dari survei KONTAN, kalangan dunia usaha tetap akan melanjutkan ekspansi bisnis i sepanjang tahun ini, hanya ekspansi dilakukan dengan sangat terbatas dan hati-hati. Para pebisnis menimbang stabilitas politik dalam negeri, seraya menunggu kepastian pemimpin dari hasil pemilihan umum serta mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang masih penuh tantangan. Sikap wait and see pelaku usaha juga terlihat dari data kredit. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, fasilitas pembiayaan kepada nasabah yang belum ditarik alias undisbursed loan pada Oktober 2023 sebesar Rp 2.092,13 triliun. Angka ini naik dari posisi Januari 2023 yang sebesar Rp 1.924,27 triliun. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat, pola tersebut telah terjadi sejak pertengahan tahun 2023. David pernah mengungkapkan, pertumbuhan belanja modal (capital expenditure) perusahaan-perusahaan di dalam negeri mengalami perlambatan.
Misalnya, data belanja modal perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kuartal II-2023 tercatat tumbuh 22,12% yoy, melambat dibanding kuartal sebelumnya yang tumbuh 28,16% yoy. Bahkan pada kuartal IV-2022, pertumbuhannya tercatat sebesar 55,27% yoy. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengungkap, merosotnya sejumlah indikator dini perekonomian lantaran pada awal tahun 2024 ada pemilu yang biasanya memberi sentimen wait and see bagi para penanam modal. Hal tersebut akan menahan laju pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi. "Dari sisi investasi, bukan hanya investor asing yang wait and see. Tapi juga penanam modal dalam negeri. Setidaknya, sampai hasil pemilu keluar," terang Josua kepada KONTAN, Rabu (10/1). Sementara masyarakat kelompok berpenghasilan rendah telah disokong pemerintah lewat bantuan sosial (bansos), dan juga terdampak aktivitas kampanye pemilu. Hitungan Josua, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2024 akan berada di kisaran 5,05% hingga 5,1%, sedikit lebih tinggi dari ramalan ekonomi tahun 2023 yang tumbuh sekitar 5% hingga 5,05%.









