;

Dhaup Ageng, Panggung Kekayaan ”Bumi Mataram”

Dhaup Ageng,
Panggung Kekayaan
”Bumi Mataram”

Dhaup Ageng atau pernikahan agung di Kadipaten Pakualaman, Yogyakarta, turut membawa pesan ihwal pelestarian budaya. Alunan gamelan mengiringi suasana khidmat yang tercipta di tratak Bangsal Sewatama, Rabu (10/1/2024). Bangunan megah berbentuk pendopo di Pura Pakualaman, Yogyakarta, tersebut menjadi saksi berlangsungnya momen istimewa hari itu. Dari arah timur bangsal, Bendoro Pangeran Haryo (BPH) Kusumo Kuntonugroho (27) melangkah perlahan dalam iring-iringan. Sang pengantin pria adalah putra bungsu Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X dan Gusti Kanjeng Bendoro Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam. Adapun Paku Alam X adalah Pemimpin Kadipaten Pakualaman sekaligus Wagub Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Saat bersamaan, dari arah barat, sang pengantin perempuan, Laily Annisa Kusumastuti (27), berjalan dalam iring-iringan. Laily adalah putri per-tama Tri Wibowo dan almarhumah Wijayatun Handrimastuti, lulusan Kedokteran UGM Yogyakarta.

Kusumo dan Laily, yang memakai busana basahan, bertemu di tengah, sesuai nama upacara ini, yakni panggih. Upacara adat ini mempertemukan kedua mempelai yang beberapa jam sebelumnya menjalani akad nikah di Masjid Agung Pakualaman. Ini menandai pertama kalinya mereka bertemu sebagai suami-istri. Dalam adat Jawa, panggih merupakan momen sakral pada upacara pernikahan. Sejumlah tata cara adat menyertai,salah satunya tarian Durbala Singkir untuk menyingkirkan kekuatan-kekuatan jahat. Ada pula balangan gantal atau saling melempar gantal di antara kedua mempelai. Gantal adalah lintingan daun sirih yang diikat dengan benang lawe berwarna putih. Balangan gantal mengandung sejumlah makna, antara lain mawas diri, kelanggengan, kesejahteraan, dan kebijaksanaan. Upacara panggih menjadi puncak Dhaup Ageng yang rangkaiannya berlangsung sejak 3 Januari 2024.

Sebagai salah satu pilar budaya di DIY, Kadipaten Pakualaman menjalankan penuh seluruh pakem tradisi dan budaya Jawa dalam hajatan ini. ”Rangkaian adat dalam upacara pernikahan ini dilaksanakan lengkap dari awal sampai akhir,” ujar Kanjeng Mas Tumenggung Widyo Hadiprojo, anggota panitia Dhaup Ageng Kadipaten Pakualaman. Selain aspek adat istiadat, Dhaup Ageng Kadipaten Pakalaman mengusung kekayaan wastra Nusantara dalam batik yang dikenakan. Sedikitnya ada 11 motif batik baru yang diciptakan khusus untuk Dhaup Ageng ini, oleh GKBRAA Paku Alam. Rektor Universitas Pembangunan Nasional (UPN) ”Veteran” Yogyakarta M Irhas Effendi, yang turut hadir menyebut Dhaup Ageng itu bagian dari pelestarian budaya. ”Acaranya mencerminkan budaya Yogyakarta yang tidak ditemui di daerah lain,” ujarnya. Bagi Irhas, Dhaup Ageng ini memancarkan aura kesakralan kuat sehingga memunculkan kekhidmatan bagi yang menyaksikan langsung. Dia berharap tradisi ini dilestarikan oleh generasi selanjutnya. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :