MK Tak Meniadakan Ambang Batas Parlemen
Kinerja Manufaktur Tetap Ekspansif
Menjemput Bantuan Berujung Kematian
Susut Panen Akibat Banjir
MUHAIMIN, petani padi asal Desa Cangkring
Rembang, Kabupaten Demak, Jateng, harus mengais sisa padi yang telah terendam
banjir. Gabah yang masih bisa diselamatkan ia jemur. Setelah kadar air
menyusut, gabah dipisahkan dari tangkainya, lalu dijual. Lahan pertanian milik
pria 35 tahun itu terendam banjir yang melanda sejak 9 Februari 2024. Akibat
banjir tersebut, padi yang telah menguning rusak. “Ada yang busuk, tukul cambah
(tumbuh kecambah). Rusak pokoknya,” katanya, Rabu, 28 Februari 2024. Melihat
kondisi tanamannya itu, Muhaimin memperkirakan harganya anjlok. Dia memprediksi
nilai gabah yang terendam banjir tidak sampai separuh harga normal.
Kondisi itu diperparah dengan tidak semua gabah
layak jual karena rusak. “Dalam kondisi normal satu bahu (setengah hektare
lebih) hasilnya 3,5 ton. Ini paling-paling 1 ton.” Berdasarkan data Dinas
Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, sawah seluas 9.368,5 hektare di provinsi
tersebut terendam banjir selama dua bulan pertama 2024. Banjir juga menggenangi
lahan pertanian komoditas lain, seperti jagung dan bawang merah. "Banjir
berpotensi menurunkan hasil panen,” ujar Kepala Dinas Pertanian Jawa Tengah,
Supriyanto, kemarin, 1 Maret 2024. (Yetede)
Ahlan Wa Sahlan Ekonomi Ramadan
Rezeki Bertambah di Bulan Penuh Berkah
Asuransi ASO Tidak Proteksi Dana Lender
KIJA Incar Penjualan Rp 2,5 Triliun
GERAK CEPAT REDAM INFLASI
Lonjakan harga pangan yang memantik kenaikan inflasi pada Februari 2024 menjadi alarm yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, gerak cepat pemerintah meredam inflasi pangan sangat dinanti, khususnya menjelang Ramadan yang secara historis berimbas pada laju Indeks Harga Konsumen (IHK). Pada Februari 2023, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,37% month-to-month (MtM) atau 2,75% year-on-year (YoY). Inflasi Februari itu lebih tinggi dari konsensus analis Bloomberg yang memproyeksikan IHK naik 0,27% MtM atau 2,56% secara tahunan, sekaligus lebih tinggi dari Januari 2024 sebesar 2,57% YoY. Ironisnya, lesatan inflasi itu dipicu oleh inflasi harga bergejolak (volatile food) yang menyentuh level tertinggi dalam 17 bulan terakhir akibat kenaikan harga komoditas pangan terutama, beras, cabai merah, daging ayam, tomat, bawang putih, dan telur ayam sepanjang bulan lalu. “Inflasi volatile food , secara YoY 8,47%, merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2022, yang pada September 2022 terjadi inflasi 9,02%,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah, Jumat (1/3). Di antara komoditas pangan, lonjakan harga beras mendapatkan sorotan utama. Habibullah menyebut harga beras pada Februari 2024 merupakan harga tertinggi dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Memasuki Ramadan, Habibullah menyebut masyarakat perlu mewaspadai terjadinya kenaikan harga secara umum yang memicu inflasi. Dengan merujuk data historis, inflasi pada April 2020 sebesar 0,08% (MtM), April 2021 sebesar 0,13%, April 2022 mencapai 0,95%, dan Maret 2023 setara 0,18% secara bulanan. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moe-giarso mengatakan inflasi pada bulan lalu utamanya dipengaruhi oleh fluktuasi harga pada komponen volatile food.
Dia menjelaskan, kenaikan harga beras terutama dipicu oleh masalah iklim yang menyebabkan mundurnya masa tanam dan masa panen. Selain itu, cadangan dari impor juga belum sepenuhnya terealisasi. Susiwijono menambahkan pemerintah telah mempersiapkan strategi untuk mengendalikan harga menjelang periode Ramadan dan Idulfitri. Susiwijono memastikan pemerintah terus menyalurkan bantuan pangan untuk mengontrol harga pangan. Jurus itu membuat pemerintah optimistis laju inflasi umum di dalam negeri tetap terkendali, bahkan paling tinggi di angka 2,8%. Adapun, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah terus memitigasi risiko atas potensi terjadinya gejolak harga pangan khususnya beras, dengan cara konsisten menjaga ketersediaan pasokan. Namun, ekonom Bank Danamon Irman Faiz berpendapat puncak kenaikan harga pangan justru terjadi pada Maret—April 2024 seiring dengan faktor musiman Ramadan dan Idulfitri. Salah satu faktor penopangnya adalah Indonesia Manufacturing Purchasing Manager’s Index (PMI) yang tetap ekspansif pada Februari 2024 di level 52,7. Utamanya, didorong oleh pesanan baru domestik saat pesanan eksternal masih lesu. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa terlepas dari risiko inflasi jangka pendek, inflasi secara keseluruhan pada 2024 diproyeksikan berada di kisaran 3% atau masih sesuai dengan target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%—3,5%.
PAMERAN INACRAFT & IFEX : PEMBUKA PINTU PASAR EKSPOR
Ajang pameran seperti Inacraft dan IFEX dapat menjadi jembatan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) produk kerajinan dan furnitur nasional menembus pasar ekspor. Pameran jadi solusi promosi dan pemasaran yang masih sering jadi hambatan. Kurangnya ke-mampuan UMKM dalam pemasaran dan promosi me-mang jadi peker-jaan rumah yang harus diselesaikan agar mereka bisa go international. Tantangan lainnya adalah persoalan pembiayaan, hambatan nontarif, dan keterbatasan sumber daya untuk menjaga konsistensi dan kualitas produk. Padahal, peluang ekspor produk kerajinan tangan dan furnitur dari Indonesia masih sangat terbuka luas seiring dengan terus meningkatnya potensi pasar produk kerajinan dan furnitur global. Untuk menggarap potensi tersebut, sejumlah pameran kerajinan internasional pun terus digencarkan dengan mengundang para buyer dari berbagai negara. Saat ini, dua pameran produk kerajinan dan furnitur terbesar yakni The 24th Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft 2024) dan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2024 digelar untuk jadi jembatan pelaku usaha menembus pasar global. Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) Teten Masduki berharap pameran Inacraft mampu membawa Indonesia menjadi pemain utama ekspor produk handicraft di kawasan Asean. Hingga saat ini, Indonesia memiliki pangsa pasar sebesar 1,25% dalam industri kerajinan di dunia.
Adapun nilai ekspor produk kerajinan nasional mengalami peningkatan dari US$916 juta pada 2021 menjadi US$949 juta pada 2022. Sementara itu, sepanjang Januari hingga September 2023 nilai ekspor kerajinan Indonesia mencapai US$603,96 juta.
Ketua Umum BPP ASEPHI Muchsin Ridjan menjelaskan bahwa penyelenggaraan Inacraft secara tahunan memang telah menjadi ajang promosi handicraft lokal untuk meraih pasar dunia sekaligus membuka peluang pasar ekspor para perajin.
Selain produk kerajinan tangan, secara spesifik untuk potensi pasar furnitur juga masih sangat menarik. Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan pasar furnitur dunia pada 2023 mencapai US$629 miliar dan diperkirakan meningkat 5% pada tahun ini.
Melihat potensi yang masih sangat besar tersebut, pelaku industri mebel dan furnitur Indonesia diharapkan mampu menangkap peluang tersebut dan terus menggenjot nilai ekspor.
Karena itulah dia berharap IFEX sebagai pameran furnitur B2B bisa menjadi acuan bagi para pemain industri furnitur dunia. Dia mengajak pemain industri untuk menampilkan produk berkualitas, stylish, sustainable, dan ramah lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan buyers. Di sisi lain, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur optimistis tahun ini industri mebel dan kerajinan Indonesia dapat terus bertumbuh dan bersaing di kancah global terlebih dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah.
Djudjuk Aryati, Wakil Ketua Umum Bidang Promosi dan Pemasaran HIMKI mengatakan selain pasar tujuan ekspor tradisional seperti Amerika dan Eropa, HIMKI juga mengembangkan tujuan ekspor ke emerging market seperti India, Timur Tengah, dan Afrika.









