Mengelola Belanja Bansos, Menjaga Stabilitas Rasio Utang
BI Proyeksikan Ekonomi Syariah Tumbuh 5,5%
Produsen Otomotif Perlu Pasok Pengisian Daya EV
Indonesia Kembali Perjuangkan Sistem Penyelesaian Sengketa
Cukai Alkohol Naik, Cukai Rokok Turun
Kementerian Keuangan (Kemkeu) terus menggenjot penerimaan cukai di tahun ini. Salah satu yang cukup menanjak penerimaannya adalah cukai minuman mengandung etil alkohol (MMEA) alias minuman beralkohol.
Dalam laporan APBN Kita, realisasi penerimaan cukai minuman beralkohol pada Januari 2024 sudah terkumpul Rp 490 miliar atau setara 5,26% dari target APBN 2024. Penerimaan cukai MMEA ini mengalami peningkatan 13,95% jika dibandingkan realisasi pada periode sama tahun lalu sebesar Rp 430 miliar. Adapun pencapaian ini didorong oleh kebijakan kenaikan tarif MMEA dan kinerja produksinya terutama dari produksi dalam negeri.
"Sedangkan untuk MMEA impor belum ada realisasi pada Januari 2024," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani, seperti dikutip dari APBN Kita, Selasa (27/2).
Hasil berbeda terjadi pada cukai hasil tembakau (CHT) alias cukai rokok yang mengalami penurunan di awal tahun ini. Tercatat, penerimaan cukai rokok pada Januari 2024 hanya sebesar Rp 17,89 triliun, atau setara 7,27% dari target APBN 2024.Untuk diketahui, pemerintah telah menetapkan ketentuan yang mengatur kenaikan tarif CHT untuk rokok beserta Harga Jual Eceran (HJE) minimumnya melalui PMK 191/2022. Lewat aturan tersebut, pemerintah mengatur tarif cukai rokok dengan kenaikan rata-rata sebesar 10% setiap tahun pada 2023 dan 2024. Sedangkan khusus untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT), kenaikan tarif cukainya maksimum 5%.
Warga Incar Operasi Pasar, Buru Beras Murah
Harga beras yang masih
tinggi membuat warga di sejumlah daerah mengincar berbagai operasi pasar yang
digelar pemerintah untuk mendapatkan komoditas tersebut dengan harga lebih murah.
Mereka rela mengantre demi mengurangi tekanan pengeluaran rumah tangga. Salah
satu operasi pasar beras digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta di halaman kantor dinas ini di Yogyakarta, Selasa
(27/2). Sebanyak 15 ton beras berbagai kualitas dijual dengan harga Rp 10.200
per kilogram (kg) untuk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog
hingga tertinggi Rp 15.000 per kg untuk beras premium.
Tuti (63), warga Kampung Tahunan, Kecamatan Umbulharjo,
Yogyakarta, telah dating sejak pagi untuk antre membeli beras. Dia mendapat
antrean awal dan membeli 10 kg beras premium seharga Rp 139.000 atau Rp 13.900
per kg. ”Sekarang di pasar harganya Rp 17.500-Rp 18.000 per kg, naik jauh dari
biasanya Rp 12.500 per kg. Maka, waktu dapat info ada pasar murah ini langsung berangkat
awal,” kata Tuti. Warga Yogyakarta lainnya, Nunik (54), mengaku sudah 3-4 kali
mengikuti operasi pasar di berbagai lokasi demi mendapatkan beras dengan harga
murah. Meski di operasi pasar itu ada komoditas bahan pokok lain yang dijual,
Nunik hanya mengincar beras karena harganya
masih mahal di pasar. ”Kenaikannya sampai Rp 5.000 per kg dibandingkan harga
normal,” ujarnya. (Yoga)
Kelas Menengah Minim Perhatian Pemerintah
Menyandang status yang ”tanggung” alias tidak miskin tetapi
sulit kaya, warga kelas menengah di Indonesia selama ini belum cukup
diperhatikan pemerintah dalam berbagai instrumen kebijakan. Kurangnya perhatian
terhadap kelas menengah ini bisa menjadi ancaman untuk mimpi Indonesia Emas
pada tahun 2045. Masyarakat kelas menengah selama ini kerap diandalkan sebagai
penggerak ekonomi nasional. Meski demikian, kelompok ini masih hidup pas-pasan
dari hari ke hari. Hasil liputan Tim Jurnalisme Data Kompas menunjukkan,
sebagian besar kelas menengah dan calon kelas menengah usia produktif (17-40
tahun) kesulitan mengatur keuangannya. Pendapatan mereka lebih kecil dari
pengeluaran sehingga gaji kelompok calon kelas menengah minus Rp 181.724 per bulan
dan gaji kelas menengah minus Rp 65.529 setiap bulan. Defisit gaji ini membuat
mereka sulit menabung dan semakin susah naik kelas menjadi kelas atas atau
orang kaya.
Laju pendapatan yang stagnan itu diperkirakan akan berlanjut
sampai tahun 2045 ketika Indonesia menginjak usia satu abad atau dikenal dengan
momentum ”Indonesia Emas”. Tim Jurnalisme Data Kompas memproyeksikan, rata-rata
gaji calon kelas menengah pada 2030 dan 2045 lebih rendah Rp 384.109 dan Rp
818.472 ketimbang pengeluarannya. Meski hidup pas-pasan, kelas menengah di
Indonesia masih minim perhatian. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Teguh
Dartanto menilai, sampai saat ini belum banyak kebijakan atau keberpihakan
pemerintah kepada kelas menengah. Kebijakan pemerintah lewat APBN masih terlalu
fokus pada kelompok masyarakat miskin ekstrem dan miskin. Di sisi lain, pemerintah
membuat kebijakan intervensi yang lebih menguntungkan kelompok atas. ”Kebijakan
seperti bantuan sosial (bansos) hanya untuk kelompok 40 % terbawah, sedang
kebijakan pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang beberapa
kali diberikan pemerintah, seperti untuk pembelian mobil listrik, justru lebih
dinikmati oleh kelompok atas,” kata Teguh, Selasa (27/2).
Kebijakan untuk kelas menengah, seperti skema perlindungan
sosial yang adaptif dan sesuai dengan permintaan (on-demand), masih sangat
minim. Sejauh ini, baru program Kartu Prakerja yang menawarkan bantuan
pelatihan kerja dan uang saku bersifat on-demand bagi kelas menengah. Skema
on-demand, menurut Teguh, bisa dimanfaatkan kelas menengah yang rentan terkena
guncangan ekonomi, seperti PHK, gagal panen, atau terdampak bencana. Bentuk
lainnya, menjamin proteksi jaminan kecelakaan kerja dan kematian bagi pekerja
rentan nonmiskin, seperti pengemudi ojek daring, kurir, dan pekerja konstruksi.
”Jadi, kelas menengah perlu diberi akses untuk bisa mendaftarkan diri mendapat
bantuan pemerintah ketika mereka terkena
shock. Bansos cukup ditujukan untuk yang membutuhkan (miskin dan rentan),”
katanya. (Yoga)
Comac Incar Ceruk Pasar Asia Tenggara
Perusahaan negara pembuat pesawat asal China, Comac, akan
mengadakan pameran dan pertunjukan terbang keliling ke lima negara di Asia
Tenggara selama dua pekan ke depan. Indonesia merupakan salah satu dari lima negara
yang akan dikunjungi. Selain ke Indonesia, dua pesawat jet buatan Comac, yakni C919
dan ARJ21, juga akan mampir ke Vietnam, Laos, Kamboja, dan Malaysia. Promosi
ini merupakan upaya Comac mendorong penjualan pesawat-pesawat produksinya di pasar
internasional. Kedua pesawat, C919 dan ARJ21, untuk pertama kali dipamerkan di
Pameran Kedirgantaraan Singapura (Singapore Airshow), pekan lalu. Ini untuk
pertama kali pesawat C919 unjuk terbang di luar wilayah China.
Rencana keliling Asia Tenggara itu diumumkan Comac yang
berkantor pusat di Shanghai, China, Selasa (27/2). Setelah Singapore Airshow
berakhir, Minggu, pesawat jet penumpang C919 tiba di Vietnam untuk
berpartisipasi dalam pertunjukan udara di Vietnam yang dimulai Senin. Pesawat
jet dengan 78 hingga 97 kursi itu lepas landas dari Bandar Udara Internasional Van
Don, Vietnam utara, untuk demonstrasi terbang pada Selasa sore. Kantor berita
China, Xinhua, mengutip Wakil Direktur Bandar Udara Internasional Van Don,
Hoang Van Dung, menyebutkan, pameran dan pertunjukan terbang Comac membantu
mengaktifkan pengoperasian penerbangan komersial dari provinsi dan kota di
China ke Van Don.
Rute penerbangan pertama akan dilakukan dari kota Shantou di Provinsi
Guangdong, China. Pameran itu sekaligus diharapkan dapat mempromosikan kerja
sama pariwisata antara Vietnam dan China. Menurut rencana, C919 dan ARJ21-700 akan
terbang ke kota Danang, Ho Chi Minh, dan ibu kota Laos, Vientiane, setelah
pertunjukan di Quang Ninh. Maskapai penerbangan Indonesia, TransNusa, telah
mengoperasikan ARJ21. Maskapai penerbangan ini menggunakan dua pesawat ARJ21
untuk penerbangan Bandara SoekarnoHatta-Kuala Lumpur dan Soekarno-Hatta-Johor
Bahru. Meskipun pendatang baru, C919 disebut-sebut bakal menjadi pesaing berat
Boeing 737 Max dan A320neo. (Yoga)
Serbuan Mobil Listrik China
”Menukar” (tukar tambah) mobil premium Eropa dengan mobil
listrik BYD, produksi China dengan tahun produksi mobil BYD lebih muda, bahkan dengan
fitur lebih lengkap, tak harus menguras tabungan, karena PT BYD Motor Indonesia
pada Kamis (15/2) di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) 2024 di Jakarta
mengumumkan harga mobil listriknya yang lebih murah dari pesaingnya. BYD
termasuk mobil yang fungsional untuk menjelajahi Jakarta yang memberlakukan
aturan ganjil genap di sejumlah jalan protokol. Di Jakarta, penjualan kendaraan
listrik diuntungkan dengan regulasi ganjil genap yang tak berlaku bagi kendaraan
listrik.
Di Eropa, konsumen dibuai dengan harga jual beberapa mobil
listrik dari China yang mencapai 50 % harga mobil produksi Eropa. Pabrikan
Eropa pun pusing dibuatnya. Persoalannya, Eropa kini tak hanya dibanjiri mobil
listrik yang murah, tetapi juga berkualitas. Mobil listrik BYD, misalnya,
istilahnya juga bukan ”kaleng-kaleng”. Akhir pecan lalu, BYD meluncurkan supercar
listrik Yangwang U9, yang menggetarkan Lamborghini dan Ferrari, karena motor
listrik bertenaga 1.287 tenaga kuda itu akan mampu melesatkan Yangwang U9 dari 0-100
kilometer per jam hanya dalam 2,36 detik. Sebagai pembanding, berdasarkan
informasi dari situs Ferrari, mobil Ferrari SF90 melahap kecepatan 0-100
kilometer per jam dalam 2,5 detik.
Untuk mengatasi serbuan kendaraan listrik China, industri otomotif
Eropa kini sedang memutar otak, mulai dari menekan biaya produksi, meniru
sistem rantai produksi Airbus, hingga meninjau ulang sejumlah regulasi yang
memberatkan produsen otomotif Eropa. Namun, China sedang tak mudah dikalahkan.
China sedang memimpin pasar. Menurut Asosiasi Manufaktur Otomotif China, pada
tahun 2023, China telah menyalip Jepang sebagai eksportir otomotif terbesar
dunia. Dua minggu lalu, New York Times, misalnya, sampai mengupas BYD yang
disebutnya sebagai ”pembunuh” Tesla. Selain lebih murah, kualitas kendaraan
listrik China kini juga mencengangkan. Dalam ajang IIMS 2024, untuk kategori
”electric vehicle”, 5 dari 10 jenis penghargaan direbut oleh mobil listrik
China. (Yoga)
Realisasi Impor Bergantung Produksi Beras Domestik
Rencana impor 3,6 juta ton beras pada tahun ini untuk
memperkuat cadangan beras pemerintah belum tentu terealisasi sesuai kuota.
Pemerintah tetap akan memperhitungkan produksi beras di dalam negeri. Kepala Bapanas
Arief Prasetyo Adi, Selasa (27/2) mengatakan, Bapanas dan Bulog akan fokus
merealisasikan terlebih dahulu kuota impor 2 juta ton beras. Dari alokasi
tersebut, beras impor yang sudah didatangkan hingga pekan keempat Februari 2024
baru 500.000 ton. Saat ini, menurut Arief, tidak mudah mendatangkan beras dari
negara lain karena harganya tinggi. Selain itu, masih banyak negara produsen
beras membatasi ekspor komoditas tersebut untuk memenuhi kebutuhan domestik. Di
sisi lain, banyak daerah di Indonesia yang akan panen padi pada Maret 2024 dan
diperkirakan memuncak pada April 2024. Pada Maret, produksi beras nasional
diperkirakan mencapai 3,51 juta ton.
”Untuk itu, realisasi tambahan alokasi impor beras sebanyak
1,6 juta ton bergantung pada hasil produksi di dalam negeri. Jika masih kurang
dan kuota 2 juta ton beras sudah terealisasi semua, kuota tambahan tersebut
baru akan direalisasikan secara terukur,” ujarnya. Meski produksi padi bakal meningkat
dan surplus beras mulai terjadi pada Maret 2024, defisit beras nasional
diperkirakan masih terjadi pada Januari-Maret 2024. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel
Area (KSA) BPS, total produksi beras pada Januari-Maret 2024 sebanyak 5,81 juta
ton. Dengan total kebutuhan konsumsi beras nasional sepanjang tiga bulan di
awal tahun ini sebanyak 7,62 juta ton, Indonesia masih defisit beras 1,81 juta
ton. (Yoga)









