;

PAMERAN INACRAFT & IFEX : PEMBUKA PINTU PASAR EKSPOR

Ekonomi Hairul Rizal 02 Mar 2024 Bisnis Indonesia
PAMERAN INACRAFT & IFEX : PEMBUKA PINTU PASAR EKSPOR

Ajang pameran seperti Inacraft dan IFEX dapat menjadi jembatan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) produk kerajinan dan furnitur nasional menembus pasar ekspor. Pameran jadi solusi promosi dan pemasaran yang masih sering jadi hambatan. Kurangnya ke-mampuan UMKM dalam pemasaran dan promosi me-mang jadi peker-jaan rumah yang harus diselesaikan agar mereka bisa go international. Tantangan lainnya adalah persoalan pembiayaan, hambatan nontarif, dan keterbatasan sumber daya untuk menjaga konsistensi dan kualitas produk. Padahal, peluang ekspor produk kerajinan tangan dan furnitur dari Indonesia masih sangat terbuka luas seiring dengan terus meningkatnya potensi pasar produk kerajinan dan furnitur global. Untuk menggarap potensi tersebut, sejumlah pameran kerajinan internasional pun terus digencarkan dengan mengundang para buyer dari berbagai negara. Saat ini, dua pameran produk kerajinan dan furnitur terbesar yakni The 24th Jakarta International Handicraft Trade Fair (Inacraft 2024) dan Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2024 digelar untuk jadi jembatan pelaku usaha menembus pasar global. Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) Teten Masduki berharap pameran Inacraft mampu membawa Indonesia menjadi pemain utama ekspor produk handicraft di kawasan Asean. Hingga saat ini, Indonesia memiliki pangsa pasar sebesar 1,25% dalam industri kerajinan di dunia. 

Adapun nilai ekspor produk kerajinan nasional mengalami peningkatan dari US$916 juta pada 2021 menjadi US$949 juta pada 2022. Sementara itu, sepanjang Januari hingga September 2023 nilai ekspor kerajinan Indonesia mencapai US$603,96 juta. Ketua Umum BPP ASEPHI Muchsin Ridjan menjelaskan bahwa penyelenggaraan Inacraft secara tahunan memang telah menjadi ajang promosi handicraft lokal untuk meraih pasar dunia sekaligus membuka peluang pasar ekspor para perajin. Selain produk kerajinan tangan, secara spesifik untuk potensi pasar furnitur juga masih sangat menarik. Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan pasar furnitur dunia pada 2023 mencapai US$629 miliar dan diperkirakan meningkat 5% pada tahun ini. Melihat potensi yang masih sangat besar tersebut, pelaku industri mebel dan furnitur Indonesia diharapkan mampu menangkap peluang tersebut dan terus menggenjot nilai ekspor. Karena itulah dia berharap IFEX sebagai pameran furnitur B2B bisa menjadi acuan bagi para pemain industri furnitur dunia. Dia mengajak pemain industri untuk menampilkan produk berkualitas, stylish, sustainable, dan ramah lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan buyers. Di sisi lain, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur optimistis tahun ini industri mebel dan kerajinan Indonesia dapat terus bertumbuh dan bersaing di kancah global terlebih dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah. Djudjuk Aryati, Wakil Ketua Umum Bidang Promosi dan Pemasaran HIMKI mengatakan selain pasar tujuan ekspor tradisional seperti Amerika dan Eropa, HIMKI juga mengembangkan tujuan ekspor ke emerging market seperti India, Timur Tengah, dan Afrika.

Download Aplikasi Labirin :