GERAK CEPAT REDAM INFLASI
Lonjakan harga pangan yang memantik kenaikan inflasi pada Februari 2024 menjadi alarm yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, gerak cepat pemerintah meredam inflasi pangan sangat dinanti, khususnya menjelang Ramadan yang secara historis berimbas pada laju Indeks Harga Konsumen (IHK). Pada Februari 2023, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,37% month-to-month (MtM) atau 2,75% year-on-year (YoY). Inflasi Februari itu lebih tinggi dari konsensus analis Bloomberg yang memproyeksikan IHK naik 0,27% MtM atau 2,56% secara tahunan, sekaligus lebih tinggi dari Januari 2024 sebesar 2,57% YoY. Ironisnya, lesatan inflasi itu dipicu oleh inflasi harga bergejolak (volatile food) yang menyentuh level tertinggi dalam 17 bulan terakhir akibat kenaikan harga komoditas pangan terutama, beras, cabai merah, daging ayam, tomat, bawang putih, dan telur ayam sepanjang bulan lalu. “Inflasi volatile food , secara YoY 8,47%, merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2022, yang pada September 2022 terjadi inflasi 9,02%,” kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah, Jumat (1/3). Di antara komoditas pangan, lonjakan harga beras mendapatkan sorotan utama. Habibullah menyebut harga beras pada Februari 2024 merupakan harga tertinggi dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Memasuki Ramadan, Habibullah menyebut masyarakat perlu mewaspadai terjadinya kenaikan harga secara umum yang memicu inflasi. Dengan merujuk data historis, inflasi pada April 2020 sebesar 0,08% (MtM), April 2021 sebesar 0,13%, April 2022 mencapai 0,95%, dan Maret 2023 setara 0,18% secara bulanan. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moe-giarso mengatakan inflasi pada bulan lalu utamanya dipengaruhi oleh fluktuasi harga pada komponen volatile food.
Dia menjelaskan, kenaikan harga beras terutama dipicu oleh masalah iklim yang menyebabkan mundurnya masa tanam dan masa panen. Selain itu, cadangan dari impor juga belum sepenuhnya terealisasi. Susiwijono menambahkan pemerintah telah mempersiapkan strategi untuk mengendalikan harga menjelang periode Ramadan dan Idulfitri. Susiwijono memastikan pemerintah terus menyalurkan bantuan pangan untuk mengontrol harga pangan. Jurus itu membuat pemerintah optimistis laju inflasi umum di dalam negeri tetap terkendali, bahkan paling tinggi di angka 2,8%. Adapun, Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu mengatakan, pemerintah terus memitigasi risiko atas potensi terjadinya gejolak harga pangan khususnya beras, dengan cara konsisten menjaga ketersediaan pasokan. Namun, ekonom Bank Danamon Irman Faiz berpendapat puncak kenaikan harga pangan justru terjadi pada Maret—April 2024 seiring dengan faktor musiman Ramadan dan Idulfitri. Salah satu faktor penopangnya adalah Indonesia Manufacturing Purchasing Manager’s Index (PMI) yang tetap ekspansif pada Februari 2024 di level 52,7. Utamanya, didorong oleh pesanan baru domestik saat pesanan eksternal masih lesu. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa terlepas dari risiko inflasi jangka pendek, inflasi secara keseluruhan pada 2024 diproyeksikan berada di kisaran 3% atau masih sesuai dengan target Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5%—3,5%.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023