Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Insentif Fiskal untuk Mempercepat Penurunan Stunting
Marak PHK Akibat Seret Pesanan
JAKARTA – Langkah pemerintah memperketat perdagangan lintas barang dinilai belum cukup membendung barang-barang impor masuk ke Tanah Air. Pemerintah diminta mencari jalan keluar atas kelesuan di industri tekstil dan produk tekstil akibat tekanan banjirnya barang impor, yang menyebabkan maraknya perusahaan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) ataupun merumahkan pekerjanya. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara Ristadi mencatat setidaknya ada 5.044 pekerja dari enam perusahaan tekstil dan produk tekstil yang dikenai PHK pada semester I 2023. "Ada ratusan anggota kami yang masuk dalam PHK tersebut," katanya kepada Tempo kemarin.
Turunnya jumlah pesanan menjadi alasan utama perusahaan-perusahaan tekstil akhirnya tutup dan memberhentikan karyawannya. Kebanyakan perusahaan tekstil dan produk tekstil selama ini memasarkan produknya untuk pasar ekspor. Namun belakangan pesanan tersebut merosot karena pelemahan ekonomi yang terjadi di negara tujuan ekspor, seperti Eropa dan Amerika Serikat. Di sisi lain, produk-produk dari pabrik tersebut sulit bersaing di dalam negeri karena pembeli lebih memilih barang-barang dengan harga murah, yang kebanyakan berasal dari impor. "Akibatnya, produksi berhenti dan pekerja di-PHK ataupun dirumahkan," ujarnya. (Yetede)
Menguji Aset Pendapatan Tetap
Sisi Lain Carbon Trading
Bukan Sekadar Pelihara Reptil
Aneka satwa dan pemeliharanya berdatangan meramaikan acara Pet Euphoria di Paris van Java Mall atau PVJ Bandung pada akhir pekan ini, 6-8 Oktober 2023. Bertempat di area Sky Level yang luasnya sekitar 1.000 meter persegi, acara ini diikuti sejumlah kelompok pencinta hewan yang, antara lain, membawa kucing, anjing, serangga, dan musang. Komunitas Reptil Bandung, misalnya, menyiapkan 20 anggotanya sambil membawa hewan kesayangan mereka. Jenisnya, antara lain, ular pucuk, piton, sanca kembang, sanca dahan, dan ular kadut. Selain itu, ada iguana, gecko, biawak, dan kura-kura.
Di komunitas yang dibentuk pada 20 April 2009 itu, para anggotanya kebanyakan memelihara ular. “Karena gampang memelihara ular dan makannya hanya seminggu sekali,” kata Reyhan Granadi, anggota Komunitas Reptil Bandung, Jumat, 6 Oktober lalu. Mahasiswa 25 tahun dari sebuah kampus swasta di Bandung itu kini memelihara gecko, yaitu sejenis tokek, dan dua ekor ular sanca titipan teman. Dia telah menghentikan pembiakan atau breeding ular piton sejak tahun lalu karena tidak bisa membagi waktunya dengan jadwal kuliah.
Menyukai reptil sejak lama, Reyhan dulu memelihara iguana dan biawak. Dia bergabung ke Komunitas Reptil Bandung pada 2016 karena anggotanya aktif berkegiatan, seperti berkumpul dan saling berbagi pengetahuan. “Mau enggak mau saya juga jadi belajar. Sebab, malu kalau ditanya orang, reptil apa, tapi enggak tahu,” ujarnya. Terutama soal satwa liar yang suka masuk rumah warga, seperti ular sawo kopi, ular pucuk, atau biawak. (Yetede)
Jangan Terlena ”Pay Later”
Layanan ”pay later” semakin diminati masyarakat. Konsep”buy
now pay later” (beli sekarang bayar nanti) memungkinkan konsumen membeli barang
walau ia belum bisa membayarnya secara penuh. Dengan syarat yang relative
mudah, pengajuan ”pay later” dapat dilakukan oleh siapa pun, termasuk pembeli
yang belum memiliki penghasilan, seperti mahasiswa. Karina (21), mahasiswi
perguruan tinggi swasta di Jakarta, mengaku mulai menggunakan pay later sejak
2018, saat masih duduk di bangku SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri.
Layanan pay later yang Karina pilih berasal dari aplikasi ojek daring sehingga
kegunaannya berkisar untuk transportasi dan pemesanan makanan daring. Sejak
menggunakan pay later, Karina jadi boros lantaran merasa tidak perlu membayar
langsung transaksi yang dilakukannya. ”Itu (pay later) beneran jadi addict
banget,” katanya pada Rabu (4/10) di Jakarta. Kecanduan itu berlangsung hingga
pertengahan 2023. Karina bahkan pernah dihubungi debt collector (penagih utang)
untuk mengingatkan tagihannya yang akan jatuh tempo. ”Aku pernah ditelepon sama
20 nomor seminggu sebelum jatuh tempo. Karina akhirnya sadar bahwa kebiasaan
buruknya itu tidak bisa terus berlanjut. Dia kemudian mengatur limit kredit di
aplikasi. Ia juga memutuskan untuk tidak mendaftarkan kembali akun pay
later-nya ketika ada kebijakan baru untuk verifikasi ulang.
Tak hanya digunakan untuk konsumsi pribadi, layanan pay
later juga dimanfaatkan sebagian orang untuk kepentingan lain. Rosa (21),
mahasiswi perguruan tinggi negeri di Depok, Jabar, menggunakan pay later untuk
membantu sang teman yang sedang butuh uang untuk membayar uang kuliah tunggal
(UKT). Pertama-tama, sang teman menjual barang fiktif menggunakan akun
lokapasar pribadinya, yang dibeli Rosa metode pembayaran pay later.”Waktu itu
(dia) jual photo card seharga Rp 3,7 juta. Karena dicicil 12 kali, jadi ada
bunga. Total tagihan pay later-nya lebih dari 5 juta,” kata Rosa. Meski tagihan
dibayar sang teman, Rosa harus terus mengingatkannya agar membayar tagihan tepat
waktu. Pernah temannya menghilang tanpa kabar, bahkan pernah meminta Rosa
menalangi utangnya saat jatuh tempo. Rosa menyesal lantaran terus merasa tertekan
setiap bulan akibat tagihan tersebut. Perencana keuangan dari OneShildt, Budi
Raharjo, mengatakan, layanan pay later bisa membantu mahasiswa yang memiliki
kebutuhan di luar dari dana yang mereka punya. Namun, mahasiswa harus bisa
mengatur keuangannya dengan baik. ”Mahasiswa harus memiliki kemampuan cara
mengatur keuangan mereka. Soal budgeting, itu paling basic. Mereka harus tahu
bagaimana cara mengatur prioritas,” tutur Budi. (Yoga)
Umumkan Segera Tersangka Kasus di Kementan
Presiden Jokowi pada Jumat (6/10) telah menerima surat
permohonan pengunduran diri Mentan Syahrul Yasin Limpo dari posisinya sebagai
menteri. Presiden kemudian menunjuk Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi sebagai Pelt
Mentan, sambil menunggu pengangkatan menteri yang definitif. Sementara itu, KPK
mencegah sembilan orang bepergian ke luar negeri. Mereka disebut sebagai para
tersangka dan pihak-pihak terkait dugaan korupsi di Kementan. Namun, KPK belum secara
resmi mengumumkan tersangka dalam kasus korupsi di Kementan tersebut. Kondisi ini
bisa menimbulkan sejumlah spekulasi dalam pengusutan kasus ini. Apalagi, selain
sudah ada dugaan pemerasan penanganan kasus ini yang dilaporkan ke Polda Metro Jaya,
kini juga beredar foto pertemuan antara Ketua KPK Firli Bahuri dan Syahrul yang
diduga terjadi di lapangan bulu tangkis.
Presiden Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta,
Jumat, berjanji akan secepatnya mengangkat menteri pertanian definitif untuk menggantikan
Syahrul. Namun, Presiden tidak bersedia menjawab ketika ditanya apakah posisi
mentan akan kembali diberikan kepada perwakilan dari Nasdem karena Syahrul
sebagai salah satu kader partai itu. Saat menyerahkan surat pengunduran diri
dari posisi mentan kepada Mensesneg Pratikno, Kamis (5/10), Syahrul mengaku
mengundurkan diri untuk menghadapi persoalan hukum. Sebelumnya, Menkopolhukam
Mahfud MD menyebut Syahrul telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi di
Kementan yang disidik KPK. Ketua Kelompok Humas PPATK Natsir Kongah enggan
memerinci isi laporan transaksi keuangan yang diserahkan kepada KPK. Ia hanya
memastikan analisis PPATK memiliki indikasi pencucian uang dan korupsi. Sejauh
ini KPK telah mengungkap ada tiga kluster perkara dalam dugaan korupsi di
Kementan, yakni dugaan pemerasan dalam jabatan, penerimaan gratifikasi, dan
tindak pidana pencucian uang. Dari serangkaian penggeledahan di rumah dinas dan
pribadi Syahrul, termasuk kantor Kementan, KPK juga menyita sejumlah dokumen,
uang puluhan miliar rupiah, 12 pucuk senjata, dan mobil Audi A6. (Yoga)
DANA DESA 10 Persen Diusulkan untuk Tengkes
Untuk mengejar penurunan angka tengkes 3,8 % per tahun hingga
mencapai 14 % pada 2024, Tim Percepatan Penurunan Stunting Pusat mengusulkan 10
% dana desa dialokasikan untuk program tengkes (stunting). Hal tersebut
disampaikan Ketua Pelaksana Tim Percepatan Penurunan Stunting Pusat Hasto
Wardoyo saat menyampaikan laporan kepada Wapres Ma’ruf Amin dalam Rapat
Koordinasi Nasional Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2023, Jumat (6/10) di
Istana Wakil Presiden. ”Kami mengusulkan tiga
poin. Yang pertama, untuk mempercepat capaian (penurunan) 3,8 % per
tahun, kami mengusulkan penambahan provinsi prioritas menjadi 17 provinsi,”
kata Hasto.
Saatini ada 12 provinsi yang ditetapkan pemerintah sebagai
provinsi prioritas penanggulangan tengkes karena menjadi penyumbang angka prevalensi
tengkes tinggi. Ke-12 provinsi tersebut, antara lain, NTT, Sulawesi Barat, NTB,
Aceh, dan Kalbar. ”Yang kedua, fokus konvergensi menggunakan dana desa perlu
ditingkatkan, kami mohon izin mengusulkan jika diperkenankan, 10 % minimal dana
desa. Juga, kami mohon izin mengusulkan Program Keluarga Harapan (PKH)
difokuskan untuk pemberian makanan tambahan bagi keluarga berisiko stunting dan
makanan tambahan produk lokal,” kata Hasto. Usulan ketiga adalah perlunya
dukungan lintas sektor untuk penguatan pengisian Elsimil (aplikasi elektronik
siap nikah dan siap hamil) serta
SIGA/Pendataan Keluarga. (Yoga)
Dana Pensiun Wajib Disosialisasikan
Sosialisasi dana pensiun menjadi kewajiban perusahaan dan
pengelola dana pensiun agar karyawan sebagai penerima manfaat dapat mengetahui
besaran manfaat yang akan diterima, portofolio investasi, serta tingkat risiko.
Saat ini, 12 dana pensiun berada dalam status pengawasan khusus OJK. Pengamat
industri keuangan nonbank, Suheri, Jumat (6/10) mengatakan, transparansi
pengelolaan dana pensiun merupakan hak bagi penerima manfaat atau karyawan. Hal
ini dilakukan untuk meningkatkan edukasi dan pemahaman bagi penerima manfaat
mengenai pengelolaan dana pensiun.
”Setiap orang berhak tahu (pengelolaan oleh dana pensiun)
melalui sosialisasi, baik dari pengelola dana pensiun maupun perusahaan
mengenai apa yang menjadi hak karyawan pada saat bekerja dan pensiun. Sosialisasi
dana pensiun ini seharusnya juga dilakukan saat karyawan menjadi penerima manfaat
sehingga mereka tahu rumus perhitungannya, pengelolaannya, dan portofolio
investasinya sehingga nanti saat pensiun dapat diketahui besar manfaatnya,”
ujar Suheri saat dihubungi dari Jakarta. Berdasarkan data OJK per 31 Agustus
2023, terdapat 198 dana pensiun yang terdiri dari 138 Dana Pensiun Pemberi
Kerja (DPPK) Program Pensiun Manfaat Pasti (PPMP), 36 DPPK Program Pensiun
Iuran Pasti (PPIP), dan 24 Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). Secara
keseluruhan, total aset neto dana pensiun tersebut sebesar Rp 358,7 triliun. (Yoga)
EXXON Akuisisi Pioneer Senilai US$ 60 Miliar
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









