;

Jangan Terlena ”Pay Later”

Ekonomi Yoga 08 Oct 2023 Kompas
Jangan Terlena ”Pay Later”

Layanan ”pay later” semakin diminati masyarakat. Konsep”buy now pay later” (beli sekarang bayar nanti) memungkinkan konsumen membeli barang walau ia belum bisa membayarnya secara penuh. Dengan syarat yang relative mudah, pengajuan ”pay later” dapat dilakukan oleh siapa pun, termasuk pembeli yang belum memiliki penghasilan, seperti mahasiswa. Karina (21), mahasiswi perguruan tinggi swasta di Jakarta, mengaku mulai menggunakan pay later sejak 2018, saat masih duduk di bangku SMA dan belum memiliki penghasilan sendiri. Layanan pay later yang Karina pilih berasal dari aplikasi ojek daring sehingga kegunaannya berkisar untuk transportasi dan pemesanan makanan daring. Sejak menggunakan pay later, Karina jadi boros lantaran merasa tidak perlu membayar langsung transaksi yang dilakukannya. ”Itu (pay later) beneran jadi addict banget,” katanya pada Rabu (4/10) di Jakarta. Kecanduan itu berlangsung hingga pertengahan 2023. Karina bahkan pernah dihubungi debt collector (penagih utang) untuk mengingatkan tagihannya yang akan jatuh tempo. ”Aku pernah ditelepon sama 20 nomor seminggu sebelum jatuh tempo. Karina akhirnya sadar bahwa kebiasaan buruknya itu tidak bisa terus berlanjut. Dia kemudian mengatur limit kredit di aplikasi. Ia juga memutuskan untuk tidak mendaftarkan kembali akun pay later-nya ketika ada kebijakan baru untuk verifikasi ulang.

Tak hanya digunakan untuk konsumsi pribadi, layanan pay later juga dimanfaatkan sebagian orang untuk kepentingan lain. Rosa (21), mahasiswi perguruan tinggi negeri di Depok, Jabar, menggunakan pay later untuk membantu sang teman yang sedang butuh uang untuk membayar uang kuliah tunggal (UKT). Pertama-tama, sang teman menjual barang fiktif menggunakan akun lokapasar pribadinya, yang dibeli Rosa metode pembayaran pay later.”Waktu itu (dia) jual photo card seharga Rp 3,7 juta. Karena dicicil 12 kali, jadi ada bunga. Total tagihan pay later-nya lebih dari 5 juta,” kata Rosa. Meski tagihan dibayar sang teman, Rosa harus terus mengingatkannya agar membayar tagihan tepat waktu. Pernah temannya menghilang tanpa kabar, bahkan pernah meminta Rosa menalangi utangnya saat jatuh tempo. Rosa menyesal lantaran terus merasa tertekan setiap bulan akibat tagihan tersebut. Perencana keuangan dari OneShildt, Budi Raharjo, mengatakan, layanan pay later bisa membantu mahasiswa yang memiliki kebutuhan di luar dari dana yang mereka punya. Namun, mahasiswa harus bisa mengatur keuangannya dengan baik. ”Mahasiswa harus memiliki kemampuan cara mengatur keuangan mereka. Soal budgeting, itu paling basic. Mereka harus tahu bagaimana cara mengatur prioritas,” tutur Budi. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :