Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Transparansi Harga Obat Akan Diberlakukan
Perbaikan Tata Kelola Dana Pensiun BUMN Mendesak
Berbagai pihak mendukung langkah Menteri BUMN Erick Thohir memperbaiki tata kelola dana pensiun. Kementerian menemukan 70 % atau 34 dari 48 dana pensiun di bawah payung BUMN berstatus tidak sehat. Audit dengan tujuan tertentu bersama Kejaksaan Agung dan BPKP pada empat dana pensiun sementara menemukan kerugian Rp 300 miliar. Dirut PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo menyatakan dukungannya terhadap aksi Kementerian BUMN dalam upaya memperbaiki dana pensiun dibawah payung BUMN yang bermasalah. Kendati tidak mengelola dana pensiunnya secara mandiri, alokasi anggaran untuk pensiunan pegawai PT KAI tetap dikelola lembaga milik negara. Terlebih lagi, sebagian pegawai PT KAI berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN).
”Perbaikan masalah dana pensiun BUMN) itu penting untuk masa depan pegawai BUMN,” ujarnya di Cirebon, Jabar, Rabu (4/10). Menurut Koordinator Advokasi BPJS Ketenagakerjaan Timboel Siregar, kunci pengelolaan investasi dana pensiun di dana pensiun pemberi kerja (DPPK) yang sehat terletak pada pengawasan. Selama ini, berdasarkan pengamatannya, pengelolaan investasi di DPPK, seperti diBUMN, cenderung kurang diawasi, bahkan untuk urusan syarat penempatan investasi. Ditambah lagi, karyawan perusahaan yang memiliki DPPK biasanya kurang memiliki akses pengawasan dan informasi penempatan investasi. Akibatnya, ketika terjadi kegagalan investasi dana pensiun, karyawan relatif pasrah. (Yoga)
Rupiah Siaga Satu
Dirjen Imigrasi: Syahrul Yasin Limpo Sudah Masuk RI
Memperkuat Ekuitas Industri Pembiayaan
Pertumbuhan industri perusahaan pembiayaan kian menunjukkan tren pemulihan dari dampak pandemi Covid-19 meskipun masih dihadapkan pada tantangan peningkatan risiko kredit yang dipengaruhi oleh ketidakpastian ekonomi global. Kondisi pemulihan ini diperlihatkan dari jumlah pendanaan perusahaan pembiayaan yang perlahan tapi pasti meningkat sejak pandemi berakhir. Untuk memanfaatkan momentum ini, Otoritas Jasa Keuangan telah menekankan arah pengembangan jangka pendek perusahaan pembiayaan pascapandemi untuk mengoptimalkan peran multifinance dalam mempercepat proses pemulihan ekonomi. Adapun arah pengembangan struktural ditujukan untuk memperkuat industri perusahaan pembiayaan agar memiliki daya tahan lebih baik, berdaya saing lebih tinggi, dan memiliki kontribusi lebih optimal terhadap perekonomian. Peningkatan daya saing ini mencakup program memperkuat permodalan dan akselerasi konsolidasi industri yang ditargetkan dilaksanakan pada 2025. Salah satu peluang penguatan ketahanan industri perusahaan pembiayaan adalah dengan melakukan sinergi melalui strategi penggabungan usaha, pengambilalihan, dan melakukan konsolidasi. Upaya penguatan industri pembiayaan terkini kali ini datang dari proses akuisisi perusahaan pembiayaan PT Home Credit Indonesia yang telah rampung oleh Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) dan PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), Selasa (3/10). MUFG melalui Bank of Ayudhya Public Company Limited (Krungsri) dan Adira Finance sepakat mengakuisisi Home Credit dengan nilai akuisisi sebesar EUR209 juta atau setara Rp3,4 triliun. Perusahaan berharap transaksi ini dapat membuka kunci sinergi yang signifikan dalam ekosistem Home Credit dan MUFG, menggerakkan bisnis Home Credit, dan memfasilitasi akses pembiayaan yang lebih luas bagi konsumen. Selain itu, pandemi Covid-19 juga seakan telah menuntut perusahaan pembiayaan untuk sadar IT dan segera mereset ulang strategi yang telah ditetapkan sebelumnya. Adanya pembatasan kegiatan masyarakat telah menyebabkan akselerasi transformasi proses penyaluran dan penagihan pembiayaan yang menghendaki pemanfaatan teknologi informasi. Perubahan proses bisnis ini, tentu saja menggaris bawahi kebutuhan investasi yang besar.
70 Persen Dana Pensiun BUMN Bermasalah
Sebanyak 34 dana pensiun yang dikelola BUMN terindikasi
bermasalah. Penyertaan portofolio investasi yang tidak sesuai dengan prinsip
kehati-hatian kerap menjadi momok sehingga memicu kegagalan
pengelolaan dana pensiun. Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, 70 % dari 48 dana pensiun di bawah payung BUMN berstatus tidak sehat. Selain
penyimpangan investasi, minimnya akuntabilitas dan transparansi pengelolaan dana
telah meningkatkan potensi masalah di tubuh dana pensiun BUMN.
”Ini amat sangat mengecewakan pegawai (BUMN) yang telah
bekerja puluhan tahun. Masa tuanya dirampok oleh pengelola yang biadab,” kata Erick dalam
konferensi pers perkara dana pensiun BUMN di Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (3/10). Indikasi masalah
yang menjangkiti
34 dana pensiun BUMN ditemukan setelah terbongkarnya penyelewengan pengelolaan dana oleh
PT Asuransi
Jiwasraya (Persero) dan PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri). Erick mengaku
curiga akan kemungkinan penyelewengan dana serupa yang menjangkiti tubuh dana pensiun BUMN. Oleh sebab itu,
Kementerian BUMN menggandeng Kejaksaan Agung serta Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan (BPKP) untuk melakukan audit dengan tujuan payung BUMN berstatus tidak sehat. (Yoga)
Khasiat dan Mutu Obat Murah dan Obat Mahal Sama
Obat paten yang harganya mahal bukan berarti khasiatnya jauh
lebih baik. Mutu obat generik juga baik dan khasiatnya terjamin. Bedanya hanya
pada pengemasan dan pemasaran yang membuat harganya berbeda. Perspektif ini
harus ditanamkan agar tidak membingungkan masyarakat. Ketua Program Studi
Profesi Apoteker Universitas Pancasila Hesty Utami Ramadaniati menjelaskan,
obat bermerek dan obat generik memiliki kandungan zat aktif dan efikasi yang
sama. Yang membedakan hanyalah kemasan dan bahan tambahan yang tidak memiliki efek
farmakologi. Jenama yang melekat juga meningkatkan harga jual obat paten.
Industri farmasi biasanya membuat segmentasi pasar. Contohnya,
obat untuk kebutuhan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dibuat tanpa
merek agar harga bisa murah. Sementara untuk segmen pasar lain, industri
mencantumkan merek dan mengemasnya lebih premium. ”Berarti ada investasi untuk marketing-nya.
Misalnya, obat untuk BPJS Kesehatan dikemas tablet dengan strip plastik, sementara
yang lain dikemas dengan blister, jadi lebih mahal. Blister ini kemasan yang
lebih tahan lama dan lebih kuat dari kelembaban, tetapi isinya sama saja,” kata
Hesty dalam diskusi yang digelar Systematic Tracking of At-Risk Medicines (STARmeds)
di Jakarta, Selasa (3/10). (Yoga)
Iptek Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Kebijakan yang bertumpu pada ilmu
pengetahuan,teknologi, dan inovasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Penguasaan iptek dan inovasi juga sangat penting dalam transformasi sosial untuk kesejahteraan. Hal tersebut
mengemuka dalam sesi pembuka The Indonesian Science Technology Innovation (STI)
Policy Lecture Series III-2003 bertajuk ”Penguasaan Ilmu Pengetahuan,
Teknologi, dan Inovasi (Iptekin) untuk Transformasi Tata Kelola, Ekonomi, dan Sosial Pusat
dan Daerah Menuju Indonesia Emas 2045” secara daring, Selasa (3/10). Kepala Pusat
Riset Kebijakan Publik BRIN Yanuar Farida Wismayanti mengemukakan, suatu
program atau kebijakan tidak akan secara tiba-tiba bisa berdampak pada
kesejahteraan rakyat.
Namun, program pembangunan tersebut disusun melalui
observasi secara ilmiah dan metodologi tertentu sebagai dasar kebijakan. ”Hal terpenting dalam
pengembanganiptek adalah adanya proses inovasi karena bagaimanapun akan ada
celah ketika diimplementasikan atau diaplikasikan. Melalui inovasi ini, akan
dikembangkan sesuatu untuk
mendorong peningkatan ekonomi hingga fokus terhadap kesejahteraan
rakyat,” ujarnya. Menurut Farida, sejumlah negara telah menjadi contoh bahwa kebijakan iptekin
telah mendorong pertumbuhan industri manufaktur, aktivitas ekspor, dan
perdagangan lintas negara. Pada akhirnya, hal ini menghasilkan nilai tambah secara ekonomi
dan daya saing di beberapa negara Asia. (Yoga)
Produk Reksa Dana Global Syariah Allianz
68 Persen Pendapatan Daerah Masih Digelontor dari Pusat
Ketergantungan pemda terhadap suntikan dana
dari pemerintah pusat masih tinggi. Sebanyak 68 % dari total pendapatan daerah masih bersumber dari dana
transfer ke daerah. Diperlukan opsi pembiayaan alternatif yang kreatif untuk membuka
akses pembiayaan dan mendorong kemandirian fiskal daerah. Dirjen Perimbangan Keuangan
Kementerian Keuangan Luky Alfirman dalam Seminar Internasional Desentralisasi Fiskal di Kemenkeu, Selasa (3/10) mengatakan,
Indonesia sudah dua dekade menjalankan sistem desentralisasi. Namun, masih banyak pekerjaan rumah
untuk mendorong kemandirian fiskal daerah serta mendorong efektivitas belanja daerah. Dari tahun ke
tahun, alokasi transfer ke daerah (TKD) dalam APBN terus meningkat.
Pada 2024, anggaran TKD meningkat menjadi Rp 857,6 triliun,
tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Alokasi itu meningkat 3,9 % dibandingkan dengan 2023
dan naik 49 %
dibandingkan dengan 2014. Porsi terbesar adalah dana alokasi umum (DAU) yang dalam APBN 2024 mencapai
Rp 427,7 triliun atau 49 % dari total anggaran TKD.
Luky mengatakan, kemandirian fiskal daerah sampai sekarang
masih jadi tantangan. Pada 2023, 68 % pendapatan daerah masih bersumber dari suntikan dana
pemerintah pusat. ”Ini menunjukkan ketergantungan yang masih tinggi. Ke depan kita berharap
daerah bisa lebih independen mengelola fiskalnya, bisa dengan memaksimalkan
pungutan pajak dan retribusi daerah atau menggali opsi-opsi pembiayaan alternatif,” katanya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









