Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Ketimpangan Hambat Lompatan Ekonomi
Ketiga kandidat calon presiden sepakat bahwa Indonesia
memerlukan lompatan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan agar dapat keluar
dari jebakan negara berpendapatan menengah. Masalah ketimpangan menjadi pekerjaan
rumah tiap kandidat dalam memformulasi strategi ekonomi untuk mencapai pertumbuhan
yang konsisten. Hal tersebut disampaikan ketiga bakal calon presiden, yakni
Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo dalam gelaran Sarasehan
100 Ekonomi bertema ”Akselerasi Menuju Ekonomi Indonesia yang Hijau, Inklusif,
dan Unggul” di Jakarta, Rabu (8/11). Anies Baswedan mengingatkan,”Pertumbuhan
ekonomi kita belum berhasil menyelesaikan pengangguran, tetapi (juga) ketimpangan
yang ada ini menjadi pekerjaan rumah yang sesungguhnya,” kata Anies. Perekonomian
Indonesia yang konsisten tumbuh di kisaran 5 % hanya dinikmati oleh sedikit
golongan.
Ganjar Pranowo menilai, pendidikan dan bunga kredit modal
usaha yang murah menjadi solusi untuk menekan ketimpangan dan kemiskinan di
sejumlah wilayah di Indonesia. Akses pendidikan hingga jenjang tertinggi akan diperluas.
Setelah itu, lulusan perguruan tinggi akan didorong menjadi pengusaha dengan
adanya bunga kredit modal kerja yang rendah. Prabowo Subianto mengungkapkan
bahwa masalah sistemik yang menyebabkan Indonesia begitu lama terjebak menjadi
negara berpenghasilan menengah adalah tidak optimalnya hilirisasi dalam
pengelolaan sumber daya alam nasional. ”Apa yang bisa bikin kita jadi negara
maju? yaitu kekayaan sumber daya alam. Ini modal kita yang harus kita gunakan. Masalahnya
adalah selama ini bangsa Indonesia kurang pandai untuk menjaga dan mengelola
kekayaan tersebut,” kata Prabowo. ”Kuncinya adalah hilirisasi untuk menciptakan
lapangan kerja, menyerap tenaga kerja, dan ujungnya adalah menghilangkan
kemiskinan,” ujar Prabowo. Ekonom senior pendiri Center of Reform on Economics (CORE),
Hendri Saparini, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengamini bahwa ketimpangan
yang kian melebar dapat menjadi momok para bakal calon presiden untuk menggenjot
pertumbuhan ekonomi. (Yoga)
Biaya Tersembunyi di Luar Label Harga Pangan Kita
Sistem pertanian pangan, termasuk perkebunan, bak dua sisi
mata uang. Di satu sisi menghasilkan manfaat bagi masyarakat melalui pangan,
budaya, dan pekerjaan. Di sisi lain berkontribusi terhadap perubahan iklim
serta mendegradasi sumber daya alam dan kesehatan. Sebab, sistem pangan itu
tidak menerapkan praktik pertanian yang baik dan berkelanjutan. Sisi negatif
sistem pertanian itu menimbulkan biaya tersembunyi di luar label harga pangan
atau tidak diperhitungkan dalam harga pangan. Pada 2020, biaya tersembunyi di
balik sistem pertanian pangan dan di luar label harga pangan global sebesar
12,75 triliun USD atau 10 % dari produk domestik bruto (PDB) dunia.
Biaya tersembunyi terbesar berasal dari biaya kesehatan, terutama
akibat pola makan yang tidak sehat, senilai 9,31 triliun USD, disusul biaya
lingkungan dan sosial masing-masing 2,87 triliun USD dan 570,94 juta USD. Hal
itu mengemuka dalam laporan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bertajuk ”The
State of Food and Agriculture (SOFA) 2023” yang dirilis Senin (6/11) di Roma,
Italia, waktu setempat. Laporan tersebut mengungkap tentang biaya tersembunyi,
yaitu segala biaya yang ditanggung individu atau masyarakat yang tidak tecermin
dalam harga pasar sebuah produk atau layanan yang muncul dari sistem pertanian
pangan yang tidak berkelanjutan di 154 negara. Biaya tersebut mengacu pada
biaya eksternal atau ekonomi atas kerugian yang muncul baik karena kegagalan
sistem, pasar, institusi, maupun kebijakan. FAO menjabarkan, biaya tersembunyi
akibat kerugian lingkungan terbesar berasal dari emisi nitrogen yang menyebabkan
pencemaran tanah dan udara serta gas rumah kaca yang memengaruhi perubahan
iklim. Faktor lainnya berasal dari alih fungi lahan dan sumber air. (Yoga)
Bantuan Langsung Tunai El Nino Akan Diberikan ke 18,8 Juta Keluarga
Bantuan langsung tunai (BLT) untuk membantu masyarakat yang
terdampak bencana kekeringan akibat fenomena El Nino akan diberikan kepada 18,8
juta keluarga. Setiap keluarga penerima bantuan akan mendapatkan uang Rp
200.000 per bulan selama November dan Desember 2023. Mensos Tri Rismaharini
mengatakan, total anggaran untuk BLT El Nino ini merogoh kocek negara sebesar
Rp 7,52 triliun. Dana ini diambil dari suntikan anggaran tambahan yang diberikan
Kemenker sebesar Rp 8,819 triliun. Penyalurannya akan dilakukan melalui PT Pos Indonesia.
”BLT El Nino kami usulkan
melalui PT Pos. Kenapa kami berani dua bulan karena dengan PT Pos itu
lebih cepat supaya bisa tuntas sebelum akhir tahun ini,” kata Risma dalam rapat
kerja Komisi VIII DPR dengan Kemensos di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa
(7/11). Risma menegaskan, penerima bantuan hanya nama-nama yang terdaftar dalam
data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). Namun, data penerima BLT El Nino
masih akan didiskusikan lagi dengan Kemenkeu karena anggaran tambahan belum
masuk ke daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) Kemensos. (Yoga)
Visi Pemberantasan Kemiskinan
Selain komitmen mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,
salah satu program kandidat calon presiden dan calon wakil presiden yang perlu dicermati
adalah apa strategi yang mereka tawarkan untuk menurunkan angka kemiskinan yang
benar-benar berjalan seperti yang direncanakan. Bukan sekedar janji yang ambisius.
Di Indonesia, jumlah penduduk miskin per Maret 2023 tercatat masih 25,9 juta
orang, turun 0,26 juta dibandingkan Maret 2022 di 26,16 juta orang. Dibandingkan
kondisi Maret 2022 di mana angka kemiskinan masih 9,54 %, per Maret 2023 angka
kemiskinan turun menjadi 9,36 %., Angka kemiskinan saat ini masih lebih tinggi dibandingkan
kondisi sebelum pandemi Covid-19. Per September 2019, jumlah penduduk miskin di
Indonesia 24,78 juta atau 9,22 % dari total penduduk.
Mematok target tinggi menurunkan angka kemiskinan memang
terkesan memperlihatkan keseriusan dan komitmen calon pemimpin republik ini
untuk menyejahterakan warganya. Namun, harus dikaji apakah realistis untuk
diwujudkan. Dalam rangka kampanye untuk menarik simpati para konstituen,
memasang target yang ambisius untuk menurunkan angka kemiskinan sah-sah saja dilakukan.
Akan tetapi, persoalannya kemudian bagaimana strategi yang hendak dikembangkan
untuk mewujudkan janji politik para kandidat. Di Indonesia, diakui atau tidak,
akar masalah kemiskinan sangat kompleks. Setiap masalah perlu diurai satu per
satu agar upaya menurunkan angka kemiskinan dapat direalisasi. Sejauh mana para
kandidat akan dapat mewujudkan janjinya menurunkan angka kemiskinan, tentu
masih diuji oleh waktu. Namun, untuk merealisasikan janji kampanye, yang
dibutuhkan adalah program yang benar-benar efektif dan kontekstual dengan strategi
dan program terobosan yang membumi. (Yoga)
Konsumsi Tumbuh, tetapi Rapuh
Kondisi ekonomi dalam negeri sedang tidak baik-baik saja.
Sepanjang Juli sampai September 2023, ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh 4,94
% secara tahunan. Laju konsumsi rumah tangga yang rapuh akibat melemahnya daya
beli masyarakat di tengah ancaman inflasi ikut berperan menekan pertumbuhan
ekonomi. Ketika mesin eksternal, seperti kinerja ekspor dan impor, tidak bisa
diandalkan akibat ekonomi dunia yang sedang melemah, pertumbuhan ekonomi sudah
sepatutnya bertumpu pada roda domestik. Terutama, pada konsumsi rumah tangga
yang berperan paling besar dalam pembentukan produk domestik bruto (PDB)
nasional. Sayangnya, meski masih tumbuh positif, konsumsi masyarakat dalam
kondisi rapuh.
BPS mencatat, pada triwulan III-2023, konsumsi rumah tangga
tumbuh 5,06 % secara tahunan, melemah dibandingkan triwulan II-2023, yaitu 5,22
%, dan dibandingkan triwulan III-2022 yang 5,39 %. Pemerintah tak menyangka
konsumsi rumah tangga tumbuh serendah itu. Dalam konferensi pers, Senin (6/11)
Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah awalnya mengira konsumsi rumah
tangga tumbuh lebih tinggi mengingat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih
terjaga di zona optimistis (di atas 100) sepanjang triwulan III. Direktur
Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal,
Selasa (7/11), menilai, konsumsi domestik sebenarnya sudah mengalami tren
perlambatan secara persisten, yang bisa dilihat dari beberapa indikator. Pertama,
meskipun IKK masih di zona optimistis (di atas 100) sepanjang Juli-September
2023, trennya terus menurun. IKK yang hanya merekam optimisme konsumen dinilai
kurang efektif mengukur laju konsumsi rumah tangga. (Yoga)
ASURANSI BERMASALAH MARAK, KEPERCAYAAN PUBLIK RENDAH
OJK telah mencabut izin usaha sejumlah perusahaan asuransi terkait
upaya penyehatan, seperti PT Asuransi Recapital, PT Asuransi Parolamas, PT
Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (Wanaartha Life), PT Asuransi Cigna, dan PT
Asuransi Jiwa Kresna Life. Terakhir, OJK mencabut PT Asuransi Jiwa Prolife
Indonesia (Indosurya Sukses) pada Kamis (2/11). Pengamat asuransi, Irvan Rahardjo,
Selasa (7/11), mengatakan, kesehatan perusahaan asuransi itu diukur menggunakan
rasio permodalan yang diukur dari berbagai risiko (risk based capital/RBC).
Berdasarkan ketentuan, perusahaan asuransi dinilai sehat apabila memiliki RBC
minimal 120 %. Menurut ukuran tersebut, kini terdapat 10 perusahaan asuransi
yang masuk dalam kategori bermasalah dan berada dalam pengawasan khusus OJK.
Adapun sejumlah perusahaan asuransi yang telah dicabut izin usahanya tersebut
merupakan perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan RBC.
”Kesadaran masyarakat masih rendah akibat hilangnya kepercayaan
akibat kasus gagal bayarnya asuransi yang saat ini belum terselesaikan, seperti
Jiwasraya, Bumiputera, Kresnalife, Wanaarta Life, dan Prolife. Meski literasi
tinggi, tingkat inklusi atau keinginan masyarakat rendah karena banyak dikecewakan
oleh kasus-kasus gagal bayar sehingga willingness to buy (kesediaan untuk
membeli) tidak ada, padahal pengetahuannya ada,” ujarnya. Grafik menunjukkan
tingkat penetrasi dan densitas industri asuransi Indonesia disbanding negara-negara
Asia Tenggara lainnya (sumber: Draf Roadmap Perasuransian Indonesia 2023-2027
OJK). Irvan menilai, langkah OJK dengan peneguran dan pencabutan izin usaha
jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Namun, upaya tersebut belum
cukup jika kasus-kasus gagal bayar yang sudah terjadi tidak diselesaikan dengan
baik sehingga menyisakan permasalahan kepercayaan masyarakat. (Yoga)
BUBU, PUSAKA AMPUH NELAYAN ASSILULU
Bagi nelayan di Desa Assilulu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, bubu telah menjadi warisan dari generasi ke generasi. Alat tangkap tradisional berbahan bambu dan kayu itu memastikan warga dapat menikmati berkah laut secara berkelanjutan. Emang Mamang (46) Sabtu (2/9), dariperahu yang digoyang ombak kecil mendekatkan wajahnya ke permukaan laut lalu mengintip dengan kotak kayu yang salah satu sisinya berlapis kaca. Emang meminta dua rekannya menarik tali sepanjang 30 meter, kurang dari lima menit, sebuah bubu terangkat dari laut sedalam 7 meter tersebut. Bubu sepanjang 2,6 meter dengan lebar 1,7 meter itu serupa jaring berbahan kayu dan bambu yang dirangkai menjadi anyaman. Di kedua sisinya terdapat pintu berbentuk kerucut. Cara kerjanya, ikan akan masuk ke lubang itu kemudian terjebak di dalam karena ujungnya mengecil.
Alat tangkap tradisional nan ampuh itu telah menjadi andalan nelayan Assilulu sejak dulu kala. Nelayan tak perlu jauh-jauh melaut atau repot menebar jala dan memancing. Mereka cukup menempatkan perangkap itu di titik-titik strategis di perairan dangkal dan meninggalkannya selama 1-2 hari. Setelah itu, mereka kembali untuk ”memanen” ikan yang telah terperangkap. ”Tadi saya dapat 12 ikan garopa (kerapu) dan ikan kulit pasir dari satu bubu. Kalau musim angin barat (Oktober-Januari), satu bubu bisa dapat 50 ikan,” ucap Emang yang memiliki enam bubu. Penentuan waktu pengambilan hasil tangkapan bubu juga diatur tiga kali sepekan atau setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Warga menyebutnya sebagai tanila atau hari baik. Jeda itu memberi waktu bagiikanuntuk masuk ke bubu dan mencegah ikan besar yang terkurung memakan ikan kecil.
Siang itu, Emang mendapatkan 12 ikan seberat 1,5 kg per ekor. Harga ikan kulit pasir berkisar Rp 15.000 per kg, sedangkan kerapu Rp 25.000 per kg. Di restoran di Kota Ambon, harganya bisa Rp 80.000 per kg. Setelah menjual beberapa ekor, bapak satu anak ini mengantongi sedikitnya Rp 200.000. Jumlah tersebut untuk mengganti biaya bensin dua liter sekitar Rp 30.000 hari itu dan beberapa hari ke depan. Ikan lainnya dibakar untuk disantap bersama. Hanya disiram air laut, rasa ikannya sedap. Jaffar Layn (66), nelayan lainnya, juga sudah puluhan tahun menggunakan bubu untuk mencari ikan. Tiga kali sepekan, ia memanen ikan di bubunya sejak pukul 07.00 hingga 12.00. ”Setiap kali ambil bubu, saya bisa dapat 20-30 kilogram ikan,” kata pemilik sembilan bubu ini. (Yoga)
BELENGGU KEMISKINAN DI TENGAH KEKAYAAN LAUTAN MALUKU-PAPUA
Dikelilingi sumber daya laut yang melimpah tak lantas
membuat nelayan di pesisir timur Indonesia hidup sejahtera. Keberpihakan
pemerintah pada pejuang laut ini dinantikan agar ironi kemiskinan di balik
kekayaan sumber daya alam dapat segera diakhiri. Kepmen Kelautan dan Perikanan
No 19 Tahun 2022 menyebutkan, estimasi sumber daya ikan Indonesia 12,01 juta
ton per tahun, akumulasi 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik
Indonesia (WPPNRI). Dari jumlah tersebut, jumlah tangkapan ikan yang
diperbolehkan (JTB) 8,6 juta ton per tahun. Potensi besar itu bagaikan surga
bagi daerah yang secara geografis terletak di pesisir pantai ataupun daerah
kepulauan. Misalnya saja wilayah timur Indonesia, seperti di kawasan Maluku dan
Papua. Perairan di wilayah timur Indonesia ini menyimpan seperempat dari total
potensi sumber daya laut yang ada di Tanah Air.
Tahun 2021, empat provinsi di dua pulau besar itu, yakni Maluku,
Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat, menghasilkan komoditas perikanan tangkap laut
1,2 juta ton. Nominalnya Rp 34 triliun atau seperlima total nilai perikanan
tangkap nasional. Ini membuat perikanan laut menjadi contributor terbesar bagi
perekonomian timur Indonesia. Besarnya sumbangan sector perikanan ini tak dapat
dilepaskan dari banyaknya nelayan yang turut mengupayakannya. Terdapat lebih
dari 366.000 nelayan perikanan tangkap laut di keempat provinsi itu. Meniti profesi
sebagai nelayan di tengah hamparan lautan
yang kaya, idealnya membuat para nelayan hidup dalam kecukupan. Sayangnya,
kondisi itu belum sepenuhnya terjadi di Indonesia. Sebaliknya, sebagian besar
nelayan justru masih hidup dalam jerat kemiskinan.
Pada 2021, Wapres Ma’ruf Amin menyebutkan, penduduk miskin
di wilayah pesisir mencapai 1,3 juta jiwa atau 12,5 % dari kemiskinan nasional.
Merujuk publikasi BPS Maret 2023, sekitar seperlima hingga seperempat penduduk
Papua Barat dan Papua masuk kategori miskin. Sementara tingkat kemiskinan di
Maluku mencapai 16,4 %. Sementara kemiskinan nasional 9,36 %. Nilai tukar
nelayan (NTN) di Maluku Utara yang menggambarkan tingkat kesejahteraan para
pekerja laut, relatif tinggi, mencapai 115 pada 2023, melampaui capaian
nasional di angka 106,6. Namun, hal itu tak serta-merta mengindikasikan nelayan
di Maluku Utara sudah benar-benar sejahtera. Pemantauan lapangan oleh Dinas Perikanan
dan Kelautan Provinsi Maluku Utara pada 2015 memperkirakan, 80 % nelayan lokal
masih hidup di bawah garis kemiskinan. Publikasi BPS Maluku Utara 2022
menyebutkan, hampir separuh dari penduduk miskin Maluku Utara berasal dari
mereka yang bekerja di sektor informal, yang didominasi pekerja di sektor
pertanian, antara lain nelayan, petani gurem, serta buruh tani dan perkebunan. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa penduduk yang hidup di kawasan pesisir diindikasikan
relatif belum sejahtera. (Yoga)
MKMK Minta Saidi Isra Gelar Pemilihan Pengganti Anwar Usman
Hati-hati Swasta Berinvestasi di Nusantara
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









