Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Capaian Reforma Agraria Masih Timpang
Capaian program reforma agraria dinilai masih jauh dari
harapan meski pemerintah berupaya menjalankannya. Program reforma agraria masih
bertumpu pada legalisasi aset tanah sehingga belum benar-benar mengurai
ketimpangan untuk mencapai keadilan agraria. Realisasi program reforma agraria
yang digulirkan selama 2015-2023 juga masih timpang. Reforma berskema
legalisasi aset dan redistribusi tanah eks hak guna usaha (HGU), tanah
telantar, dan tanah negara jauh lebih dominan capaiannya ketimbang redistribusi
tanah di kawasan hutan. Reforma agraria merupakan agenda Nawacita ke-5 Presiden
Jokowi, yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) periode 2015-2019 yang kemudian dilanjutkan dalam RPJMN 2020-2024.
Terkait itu, pemerintah merencanakan reforma agraria seluas 9 juta hektar, meliputi
legalisasi aset dengan target 4,5 juta ha dan redistribusi tanah 4,5 juta ha.
Legalisasi aset itu mencakup 3,9 juta ha tanah warga dan 0,6 juta ha tanah
transmigrasi.
Adapun redistribusi tanah terdiri dari pelepasan 4,1 juta ha
kawasan hutan serta 0,4 juta ha lahan eks HGU, tanah telantar, dan tanah negara
lainnya. Menteri ATR/BPN Hadi Tjahjanto, Rabu (10/1/2024) mengatakan, hingga
akhir 2023, realisasi legalisasi aset mencapai 110,5 juta bidang tanah dari target
126 juta bidang. Sertifikasi aset itu mencakup tanah warga dan transmigran yang
belum bersertifikat. Adapun redistribusi tanah di kawasan hutan baru
terealisasi 379.621,85 ha atau 9,26 % dari target 4,1 juta ha. Sedang
redistribusi tanah eks HGU, tanah telantar, dan tanah negara yang terealisasi
1,43 juta ha atau 358,23 % dari target 0,4 juta ha. ”Legalisasi aset sudah
sesuai rencana. Begitu juga dengan redistribusitanah eks HGU,tanah telantar,
dan tanah negara yang jauh melampaui target. Namun, untuk redistribusi tanah di
kawasan hutan masih belum maksimal,” kata Hadi saat ditemui Kompas di
Kementerian ATR/BPN. (Yoga)
Jokowi Ajak Pengusaha Brunei Investasi di IKN
Tantangan Berat 2024
Tahun ini tidak mudah bagi banyak negara. Menurut Bank Dunia,
pertumbuhan ekonomi global 2024 turun menjadi 2,4 % dari 2,6 % pada 2023, lebih
rendah satu poin dibandingkan rata-rata pertumbuhan pada 2010-an. Bank Dunia
juga memperkirakan, negara-negara berkembang hanya tumbuh 3,9 %n tahun ini,
lebih dari satu poin di bawah rata-rata pertumbuhan pada dekade sebelumnya. Turut
merefleksikan pelemahan perekonomian dunia, pertumbuhan perdagangan global tahun
2024 diperkirakan hanya setengah rata-rata pertumbuhan perdagangan global pada dekade
lalu (The World Bank, ”Global Economy Set for Weakest Half-Decade Performance
in 30 Years”, 9/1/2024).
Seperti ditulis dalam Kompas.id edisi 12 Januari 2024, perlambatan
ekonomi dunia itu adalah dampak dari kebijakan moneter ketat yang diambil
negara maju guna mengelola inflasi. Suku bunga tinggi membuat investasi global terhambat.
Kenaikan harga bahan pokok akibat kekeringan yang dipicu El Nino dan konflik
berlarut-larut, terutama di Timur Tengah, mengganggu suplai di pasar komoditas
sehingga turut mendorong inflasi. Dalam situasi itu, negara-negara berkembang
perlu memberi perhatian khusus pada upaya menarik investasi agar dapat menjaga
pertumbuhan mereka.
Laporan Bank Dunia, ”Global Economic Prospects”, menyebut
pentingnya peningkatan kualitas institusi agar investasi mengalir masuk lebih
cepat. Disebutkan, di negara dengan kualitas institusi yang baik, ada peluang
lebih besar tercipta percepatan investasi setelah perbaikan kebijakan fiskal
dan reformasi perdagangan. Institusi yang dibangun secara politik menentukan
distribusi kekayaan dan sumber daya. Institusi yang tak berkeadilan menyebabkan
hanya segelintir elite yang menikmati kue pembangunan. Kita berharap pemilu Februari
mendatang membantu kita memiliki pemerintahan yang mampu membangun institusi
yang baik: berkeadilan, tidak korup, hukumnya tak memihak, dan penegakannya
obyektif. (Yoga)
PHK di Tengah Keramaian Pemilu
Pekan lalu, media sosial gempar membahas PHK yang diam-diam
terjadi di sejumlah perusahaan rintisan bidang teknologi atau start up. Warganet
memberikan deretan nama start up yang melakukan PHK, di antaranya Flip (start up
teknologi finansial untuk pembayaran) dan Lazada (lokapasar tingkat Asia
Tenggara). Dalam keterangan resminya, Flip menyatakan keputusan memangkas
karyawan ditempuh perusahaan demi menjamin keberlangsungan bisnis. Kondisi
perekonomian global yang tak menentu juga jadi alasan. Lazada dikabarkan
mengurangi 30 % pekerjanya di wilayah Asia Tenggara. Beberapa pos eksekutif di
kawasan pun dipangkas. Keputusan Lazada itu dilakukan mendadak. The South China
Morning Post pada Jumat (5/1/2024) menurunkan pernyataan The National Trades
Union Congress (NTUC).
Isinya, NTUC dan serikat afiliasinya, Food Drinks and Allied
Workers Union (FDAWU), kecewa karena Lazada tidak memberi tahu dan
berkonsultasi dengan FDAWU. Apalagi, pekerja Lazada tergabung dalam serikat pekerja
di bawah FDAWU. Mengutip CNA, PHK masih berlangsung. Jubir Lazada mengatakan,
perusahaan membuat penyesuaian untuk mentransformasi tenaga kerja. Koordinator
Divisi Advokasi dan Pendampingan Hukum Serikat Pekerja Media dan Industri
Kreatif untuk Demokrasi (Sindikasi) Jabodetabek Setyo A Saputro, Minggu (14/1) di
Jakarta mengatakan, selain start up dan perusahaan teknologi besar, beberapa
perusahaan yang bergerak di sektor media juga melakukan PHK beberapa minggu
terakhir.
Aksi tersebut tidak banyak terdengar di masyarakat luas. Pekerja
yang menjadi korban sempat berdiskusi mengenai hak-hak setelah terkena PHK,
tetapi jarang berlanjut ke pengadilan hubungan industrial. Pada Pemilu 2024 para
capres-cawapres juga menyertakan gagasan tentang ekonomi digital, seperti
digitalisasi dalam UMKM dan start up, ekonomi digital sebagai sumber
pertumbuhan, seperti meratakan literasi digital. Setyo khawatir, industri
digital cuma jadi komoditas politik. ”Belum ada kejelasan program untuk
mendorong ekonomi digital. Digitalisasi industri dilepas begitu saja. Kalaupun
terjadi PHK, PHK terjadi dalam suasana silent yang kami duga karena kesadaran
hak pekerja di antara karyawan belum masif,” kata Setyo. Di sisi lain, omnibus
law Cipta Kerja mengubah beberapa ketentuan PHK. Dulu PHK karena rugi sehingga
operasionalisasi harus tutup permanen. Kini, perusahaan tidak perlu tutup
permanen. (Yoga)
PEREMPUAN DESA MANGKIT BERDIKARI DENGAN SERTIFIKAT TANAH
Para perempuan di Desa Mangkit, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulut,
menjadi aktor aktif dalam redistribusi lahan di desa mereka. Mereka berjuang
memvalidasi setiap jengkal tanah dan lahan yang dimiliki oleh warga. Perjuangan
mereka pun berbuah manis. Tak pernah terpikir oleh Nova Kalompo (45) bahwa ia
dapat mendirikan warung kelontong di halaman rumah. Sebab, hari-harinya selalu dihantui
kekhawatiran akan pengusiran dari rumah ataupun kebunnya di Desa Mangkit. Semua
berbalik sejak 29 Oktober 2018 ketika Gubernur, bupati, serta jajaran pejabat lain
hadir dalam acara seremonial untuk membagikan 515 sertifikat lahan perkebunan
eks hak guna usaha (HGU) kepada Nova dan ratusan warga lainnya dalam rangka
reforma agraria.
Pada awal 2019, warga kembali menerima sertifikat lahan, untuk
tanah tempat rumah mereka berdiri sejumlah 535 buah sehingga secara keseluruhan
ada 1.050 sertifikat yang diterbitkan untuk meredistribusi tanah negara seluas
444,46 hektar. ”Kehidupan berubah 180 derajat dari sebelum torang dapat sertifikat.
Torang dulu cuma mengandalkan suami. Sekarang, sudah. So merdeka,” kata Nova
dengan mata berbinar-binar di teras rumahnya, Selasa (9/1/2024) siang. Tak lama
setelah itu, Nova membawa sertifikat tanah rumahnya yang berukuran 10 x 20
meter ke sebuah bank di Ratahan, ibu kota Minahasa Tenggara, sebagai agunan
demi mendapatkan kredit usaha rakyat (KUR) senilai Rp 50 juta.
Berkat pinjaman tersebut, selama empat tahun terakhir, ibu
dua anak tersebut dapat menyebut dirinya wirausahawati. Warga desa pun silih
berganti singgah di warungnya untuk membeli segala macam kebutuhan sehari-hari,
mulai dari beras, air mineral, telur, makanan ringan, sampai sabun cuci. Penghasilan bersihnya sebulan, selalu
melampaui Rp 1 juta. Nova juga menjadi pemilik sah lahan garapan seluas 0,49
hektar, hasil bagi rata dengan suaminya. Baru-baru ini, mereka panen cengkeh
dari 100 pohon. Nilai penjualan nantinya diperkirakan mencapai Rp 20 juta. (Yoga)
Timur tengah Telah Berubah Selamanya
Bantuan Pangan Ringankan Beban Masyarakat Miskin
PLTN Pilihan Logis
Pajak Karbon untuk Pertumbuhan Keuangan Hijau
Gerak Lambat Bawaslu Jadi Ancaman Pemilu
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









