Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10114 )Agar Ketahanan Energi Tak Terdegradasi
Soal ketahanan energi, pemerintah harus punya banyak akal. Harus terus mempertajam strategi pengelolaan energi berbasis fosil, sembari mencari peluang baru untuk mengakselerasi upaya transisi energi ke energi baru terbarukan (EBT). Hal itu tak bisa ditawar-tawar lagi. Selain sumber energi fosil yang makin terbatas, ancaman perubahan iklim juga menuntut banyak negara untuk menekan emisi dengan mengurangi penggunaan energi fosil. Belum lagi dengan situasi geopolitik dunia juga sedang tidak menentu. Gesekan-gesekan kepentingan antarnegara berisiko makin sering terjadi, seiring tensi politik yang memanas. Imbasnya bisa melebar ke berbagai sektor krusial, salah satunya pasokan energi berbasis fosil. Toh faktanya, ketahanan energi Indonesia sejauh ini masih dipegaruhi pula oleh pasokan dari negara lain. Minyak contohnya. Sebagian kebutuhan minyak mentah nasional masih dipenuhi dari impor. Jika menengok jauh ke belakang, volume impor minyak mentah sejak 2020 hingga 2022 memang terus meningkat. Belum lagi fakta bahwa realisasi lifting minyak nasional juga kerap meleset dari target. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK migas) mencatat lifting minyak per 31 Desember 2023 berada di level 612.000 barel per hari (bph). Angka itu lebih rendah ketimbang target yang ditetapkan di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 yakni 660.000 bph. Selain menjadi bentuk tanggung jawab agar bumi lestari lebih lama, upaya tersebut juga sekaligus menjadi fondasi dalam menopang ekonomi di masa depan, yakni berbasis energi hijau.
Perihal transisi energi, Pemerintah Indonesia memang tak hanya berpangku tangan. Beragam inisiatif dijalankan melalui serangkaian kebijakan mulai dari pensiun dini pembangkit listrik tenaga batu bara, pengembangan sumber-sumber energi baru seperti tenaga surya dan geotermal, hingga memperluas ekosistem kendaraan listrik sebagai salah satu pengguna listrik EBT. Peta jalan transisi energi juga telah disusun, yang salah satunya mencapai netral karbon pada 2060. Kendati demikian, aneka ragam tantangan masih mengadang. Misalnya perihal iklim investasi EBT yang belum masif. Meskipun sejatinya beragam insentif sudah ditebar. Agaknya investor masih gamang dengan pemanfaatan EBT di Indonesia. Adapun pada 2022 dan 2023 realisasi baru menyentuh 12,% dan 12,5% dari target masing-masing 15,7% dan 17,9%. Dus, masih dibutuhkan upaya masif untuk memompa investasi EBT sekaligus serapannya. Jalan transisi energi masih panjang, berliku, dan menantang karena berkaitan dengan ketahanan energi. Namun, dengan langkah inovatif, strategis, dan kompak antar-pihak terkait, amat mungkin akselerasi dilakukan.
NYALA REDUP LISTRIK SURYA
Beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terapung Cirata dengan kapasitas 192 megawatt-peak pada akhir tahun lalu tidak mampu menggairahkan investasi energi terbarukan yang banyak tersedia di Tanah Air. Kebijakan mengenai tingkat kandungan dalam negeri atau TKDN selama ini dinilai telah menjerat investasi pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di dalam negeri. Terlebih, Indonesia hingga kini disebut belum memiliki industri yang mampu menopang pemenuhan TKDN di PLTS. Dalam Peraturan Menteri Perindustrian No. 5/2017 disebutkan bahwa nilai TKDN minimal untuk modul surya sebesar 60% sejak 1 Januari 2019. Padahal, di Indonesia baru ada satu pabrikan yang mampu memproduksi modul surya berkapasitas 560 watt-peak per modul surya. Adapun, pabrikan lainnya mayoritas hanya mampu memproduksi modul surya dengan kapasitas mencapai 450 watt-peak per modul surya. Sementara itu, 21 pabrikan lainnya hanya sebagai perusahaan perakitan yang mendatangkan sel surya dari luar negeri. Problem tersebut ditambah dengan harga modul surya buatan dalam negeri yang lebih mahal sekitar 30%—45% ketimbang produk impor. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun mengusulkan agar ketentuan TKDN modul surya untuk PLTS dipangkas menjadi 40%. Dengan begitu, investor bisa lebih leluasa dalam membangun fasilitas tersebut di dalam negeri. “Jadi penerapan TKDN ada peta jalannya. Sekarang berapa, tahun depan berapa, hingga nanti sampai ke angka yang ditargetkan oleh Kementerian Perindustrian,” kata Sekretaris Kementerian ESDM Dadan Kusdiana, Kamis (11/1). Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia Fabby Tumiwa menyarankan pemerintah untuk memoratorium kebijakan TKDN untuk proyek-proyek PLTS hingga akhir 2025. Fabby berpendapat, ketentuan TKDN modul surya untuk PLTS yang sebesar 60% justru menghambat investasi dan kepastian pembiayaan dari lembaga keuangan internasional.
Ketentuan TKDN, kata dia, juga membuat akses pembiayaan dari lembaga keuangan internasional seret. Musababnya, lembaga keuangan internasional sulit untuk mengucurkan pendanaan pada proyek dengan kebijakan eksklusif pada produsen domestik, seperti TKDN. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR Eddy Soeparno menyarankan agar pemerintah untuk tidak gegabah dalam merevisi aturan terkait dengan TKDN modul surya untuk PLTS. Eddy berpendapat, TKDN menjadi isu krusial untuk menjaga ketahanan industri domestik di tengah masifnya investasi untuk pembangkit dan infrastruktur EBT. Ketua Asosiasi Pabrikan Modul Surya Indonesia Linus Andor Mulana Sijabat menyarankan agar pemerintah memisahkan pengembangan EBT dari PT PLN (Persero) agar bisa meningkatkan kapasitas terpasangnya di dalam negeri. Pengembang energi hijau, kata dia, harus diberi ruang yang lebih luas untuk memasarkan listrik yang diproduksinya ke masyarakat. Dengan begitu, tidak ada lagi hambatan yang terkait dengan tarif dan jaringan kelistrikan nasional. Director Energy Shift Institute Putra Adhiguna mengatakan, kebijakan TKDN yang terlalu agresif bisa berimbas kepada standar peralatan yang tersedia, biaya proyek, dan kelayakan pengembangan proyek di Indonesia. Peningkatan kapasitas produksi modul surya di dalam negeri, menurutnya, memerlukan kepastian pasar yang memadai. Alasannya, pasar domestik yang belum stabil justru akan membuat industri modul surya menghadapi kesulitan di masa mendatang.
Aroma Bancakan Duit Proyek Strategis Nasional
Biaya Haji 2024 Ditetapkan
Pemerintah telah menetapkan nominal biaya penyelenggaraan
ibadah haji (BPIH) tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi untuk setiap embarkasi atau
tempat pemberangkatan. Penetapan biaya haji 2024 tertuang dalam Keppres No 6
Tahun 2024 tentang Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 2024 yang Bersumber
dari Biaya Perjalanan Ibadah Haji dan Nilai Manfaat yang ditetapkan pada 9
Januari 2024. Ketentuan biaya ini berlaku bagi Jemaah haji, petugas haji daerah
(PHD), serta pembimbing kelompok bimbingan ibadah haji dan umrah (KBIHU). Dalam
keppres tersebut tercantum besaran nominal BPIH dan biaya perjalanan ibadah
haji (Bipih) di 14 embarkasi.
Nominal biaya haji tertinggi tercatat di embarkasi Surabaya dengan
Bipih sebesar Rp 60,5 juta. Sementara nominal biaya haji terendah tercatat di
embarkasi Aceh dengan Bipih sebesar Rp 49,9 juta. Adapun biaya di embarkasi
Jakarta (Pondok Gede dan Bekasi) masing-masing ditetapkan Rp 58,4 juta. Besaran
Bipih di semua embarkasi tahun ini naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya
karena terdapat penyesuaian biaya. Bipih ini digunakan untuk biaya berbagai
keperluan jemaah, seperti penerbangan haji, akomodasi di Mekkah, sebagian biaya
akomodasi di Madinah, biaya hidup, dan visa. Sementara nominal Bipih PHD dan
pembimbing KBIHU tertinggi juga tercatat di embarkasi Surabaya sebesar Rp 97,8
juta dan terendah di Aceh, yakni Rp 87,3 juta. Biaya di embarkasi Jakarta
(Pondok Gede dan Bekasi) ditetapkan sebesar Rp 95,8 juta.
Jubir Kemenag Anna Hasbie dalam rilis, Kamis (11/1/2024) mengatakan,
jemaah regular yang namanya tercantum dalam Surat Edaran Direktorat Jenderal
Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) agar menyiapkan proses pelunasan biaya
haji melalui bank penerima setoran biaya penyelenggaraan ibadah haji
(BPS-BPIH). Pelunasan Bipih jemaah haji reguler tahap pertama dibuka mulai 10
Januari hingga 12 Februari 2024. Menag Yaqut Cholil Qoumas merinci dana nilai
manfaat keuangan jemaah haji reguler 219.463 orang mencapai Rp 8,2 triliun.
Sementara dana nilai manfaat bagi haji khusus 19.280 orang tercatat Rp 14,5
miliar. Dengan jumlah tersebut, pembebanan nilai manfaat untuk jemaah haji
khusus yakni senilai Rp 755.000 per orang. (Yoga)
Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Ekonomi Global
Penjualan Eceran Diperkirakan Tetap Kuat
Indonesia Butuh ”Ledakan” Investasi
Dilansir dari Reuters, Kamis (11/1/2024) Deputy Chief
Economist Bank Dunia Ayhan Kose menyebutkan, fokus laporan Prospek Ekonomi
Global 2024 adalah China yang diperkirakan akan mengalami perlambatan ekspansi
ekonomi daripada 2023. ”Terdapat beberapa tantangan yang dihadapi China,
termasuk penurunan belanja konsumen, masalah struktural seperti populasi yang
menua, dan tingginya tingkat utang,” ujarnya. Kose menilai, untuk menjaga
pertumbuhan ekonomi, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, membutuhkan ”ledakan”
investasi, termasuk penanaman modal asing (PMA). Sebab, negara-negara yang
mengalami percepatan investasi sering kali memperoleh keuntungan ekonomi tak
terduga. Di tengah perlambatan ekonomi global, negara-negara berkembang perlu
menerapkan paket kebijakan komprehensif dalam kerangka fiskal dan moneter,
untuk memperluas perdagangan lintas batas dan arus keuangan, meningkatkan iklim
investasi, dan memperkuat kualitas institusi.
Dalam laporan bertajuk ”Prospek Ekonomi Global”, Bank Dunia
memproyeksi pertumbuhan ekonomi global akan melambat ke angka 2,4 % pada 2024.
Artinya, pertumbuhan ekonomi dunia melambat selama tiga tahun beruntun. Bank
Dunia menyebutkan, perlambatan ekonomi dunia 2024 merupakan akibat kebijakan
moneter ketat yang ditempuh negara-negara maju untuk mengendalikan inflasi. Imbasnya,
aktivitas investasi global akan ikut terhambat. Proyeksi perekonomian global
pada 2024 ini menjadi alarm bagi Indonesia yang mengejar realisasi investasi
langsung senilai Rp 1.650 triliun. Investasi penting demi mencapai target pertumbuhan
ekonomi 2024 sebesar 5,1-5,7 %. Berdasarkan kajian Bappenas, Indonesia selama
lima tahun mendatang butuh investasi langsung senilai Rp 45.500 triliun.
Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Bappenas Eka Chandra Buana
mengatakan, kebutuhan investasi senilai itu untuk merealisasikan target
rata-rata pertumbuhan ekonomi 2025-2029 sebesar 5,6-6,1 %. Target pertumbuhan
investasinya 7,2 % - 7,9 %. (Yoga)
Bantuan Beras Tak Mampu Tekan Harga di Pasaran
Program bantuan pangan beras yang disalurkan pemerintah
sepanjang tahun 2023 belum mampu menurunkan harga beras di pasaran meski
berhasil mengontrol gejolak inflasi beras. Ada beberapa faktor yang membuat harga
beras tetap tinggi sampai awal tahun, seperti turunnya produksi di dalam negeri
dan dampak ketidakpastian ekonomi dunia. Berdasarkan catatan Perum Bulog, sejak
bantuan pangan beras tahap pertama digulirkan pada Januari-Maret 2023, inflasi
beras turun dari 2,63 % pada Februari 2023 menjadi 0,70 % pada Maret 2023, 0,50
% pada April 2023, dan 0,02 % pada Mei 2023. Demikian pula, penyaluran bantuan
cadangan beras pemerintah (CBP) tahap kedua pada September-Desember 2023 mampu
menjaga laju kenaikan harga beras di akhir tahun yang biasanya naik tinggi.
Inflasi beras saat itu turun cukup signifikan dari 5,61 %pada
September 2023 menjadi 0,43 % pada Desember 2023. Bantuan pangan beras pada
tahun 2023 diberikan sebanyak 10 kg kepada 21 juta keluarga penerima manfaat
(KPM) selama tiga bulan berturut-turut. Pada tahun 2024, bantuan tersebut
dilanjutkan dengan jumlah penerima manfaat bertambah menjadi 22 juta keluarga. Dirut
Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan, bantuan pangan yang pada tahun 2023
telah disalurkan hingga 1,72 juta ton mampu menahan gejolak dan menahan harga
beras agar tetap terkendali. Meski demikian, bantuan pangan itu belum berhasil
menurunkan harga beras. (Yoga)
Tenaga Kependidikan Direkrut Jadi ASN PPPK
Pemerintah menyediakan kuota 82.717 tenaga kependidikan untuk
direkrut menjadi aparatur sipil negara berstatus pegawai pemerintah dengan
perjanjian kerja (ASN PPPK) pada 2024. Saat ini mayoritas tenaga kependidikan
di sekolah berstatus honorer yang diangkat dan dibayar sekolah atau komite.
Kepala SMK Negeri 5 Kupang Safirah Cornelia Abineno, saat dihubungi dari Jakarta,
Kamis (11/1/2024) menyambut positif pengangkatan tenaga kependidikan seperti penjaga
sekolah dan tenaga administrasi menjadi ASN PPPK. Pengangkatan tenaga
kependidikan (tendik) membantu sekolah.
Sebab, keberadaan mereka sama pentingnya seperti guru.
Sekolah memenuhi kebutuhan tendik dengan mengangkat dan menggaji sesuai
kebijakan sekolah. ”Sayangnya, yang kami dengar, tendik di dinas pendidikan
diprioritaskan untuk menjadi PPPK. Padahal, di sekolah-sekolah, banyak honorer tendik
yang sudah mengabdi belasan tahun dan sudah sepuh. Kami berharap ada kebijakan
dalam prioritas pengangkatan,” ujar Safirah.
Sekolah kejuruan dengan status SMK Pusat Keunggulan itu
memiliki 11 pegawai honorer, terdiri dari penjaga sekolah, penjaga malam, dan
petugas administrasi. Gaji awal sekitar Rp 1 juta dari dana komite sekolah. Ada
juga tenaga kependidikan yang dibantu pemda dengan gaji sesuai upah minimum daerah
sekitar Rp 2 juta. Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbudristek Nunuk
Suryani mengutarakan, formasi tendik ASN PPPK di sekolah-sekolah masuk ke
usulan tenaga teknis 2024. Pada tahun ini, selain penuntasan guru non-ASN dengan
dibukanya formasi guru PPPK sebanyak 419.146 formasi, juga untuk tendik.
”Semoga guru dan tendik semuanya beruntung dan bersiap lebih baik lagi untuk
menyiapkan diri dalam seleksi ASN PPPK yang akan datang,” kata Nunuk. (Yoga)
Bertemu Panglima TNI, Menpan-RB Bahas Kenaikan Tunjangan Kinerja
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









