Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10118 )Pemilu 2024 dan Arah Perekonomian Kita
Pemilu biasanya berdampak positif bagi perekonomian melalui
peningkatan konsumsi masyarakat dan lembaga nonprofit rumah tangga. Namun, di
sisi lain, hajatan lima tahunan itu cenderung mengakibatkan penurunan investasi
sehingga mendorong perlambatan ekonomi. Semakin tinggi ketidakpastian (politik),
semakin besar koreksi investasi, dan semakin dalam pula risiko perlambatan
ekonomi. Pemilu 2024, khususnya pemilihan presiden, tingkat ketidakpastiannya
sangat tinggi. Ditambah situasi global yang makin rumit, investasi diperkirakan
akan merosot tahun ini sehingga pertumbuhan ekonomi pada tahun ini berpotensi
terkoreksi. BI memperkirakan pertumbuhan tahun 2024 berkisar 4,5-5,3 %. Selain
punya implikasi pada siklus ekonomi jangka pendek (cyclical effect), pemilu
juga punya potensi memengaruhi situasi struktural jangka panjang (structural effect).
Untuk itu, diperlukan evaluasi kebijakan pembangunan selama
ini serta identifikasi perbaikan kebijakan. Pemerintahan Presiden Jokowi selama
dua periode sangat fokus pada pembangunan infrastruktur. Tentu saja arah kebijakan
ini harus dilanjutkan dengan beberapa perbaikan. Pembangunan infrastruktur
adalah syarat perlu bagi pembangunan ekonomi dan industri (hilirisasi). Namun,
itu belum cukup. Masih diperlukan pilar kebijakan lain, terutama penguatan regulasi
dan institusi serta pengembangan sumber daya manusia. Ketiganya harus dilakukan
secara komprehensif dengan proporsi yang tepat. Merujuk studi Bappenas,faktor
paling menghambat pembangunan ekonomi di Indonesia adalah regulasi dan kelembagaan.
Siapa pun presiden terpilih nanti perlu fokus pada aspek ini.
Dengan demikian, terjadi penataan menyeluruh pada aspek tata kelola, proses
kerja, serta koordinasi antara kementerian dan lembaga, ataupun koordinasi
pemerintah pusat dan daerah dalam pembangunan. Melalui perbaikan regulasi dan
kelembagaan, anggaran pemerintah yang terbatas bisa lebih efektif dan efisien guna
mendorong produktivitas perekonomian. Dengan begitu, pemilu tidak sekadar
memengaruhi dinamika perekonomian jangka pendek, tetapi juga menentukan arah pembangunan
jangka panjang. Pemerintah ke depan perlu mengakui keberhasilan pembangunan
selama ini, tetapi juga harus berani memperbaiki berbagai hal mendasar yang
perlu perubahan (Yoga)
Yang Kaya Kian Kaya, yang Miskin Kian Merana
Sejak tahun 2020, kesenjangan ekonomi di dunia semakin lebar.
Lima orang terkaya di dunia, yakni CEO Tesla Elon Musk, Bernard Arnault dari
perusahaan mewah LVMH, pendiri Amazon Jeff Bezos, pendiri Oracle Larry Ellison,
dan pakar investasi Warren Buffett, menjadi lebih kaya dua kali lipat atau 114 %
sejak 2020, berkat lonjakan harga saham. Kekayaan mereka meningkat dari 405
miliar USD, sekitar Rp 6,3 ribu triliun atau kuadriliun pada 2020, menjadi 869
miliar USD atau Rp 13,5 kuadriliun pada 2022. Tapi, sejak 2020 pula, lima miliar
orang miskin di seluruh dunia menjadi semakin miskin. Dengan serentetan krisis
yang terjadi, perekonomian dunia runtuh akibat pandemi Covid-19. Laporan
tahunan mengenai kondisi kesenjangan di seluruh dunia dari lembaga amal Oxfam ini
dipublikasikan sebelum Forum Ekonomi Dunia dimulai di Davos, Swiss, Senin
(15/1). Untuk menghitung kekayaan lima miliarder terkaya, Oxfam menggunakan
angka dari Forbes per November 2023. Oxfam merupakan konfederasi internasional
yang terdiri atas 20 organisasi yang bekerja sama dengan 90 negara untuk
membangun masa depan yang bebas ketidakadilan akibat kemiskinan.
”Dunia sedang memasuki dekade perpecahan. Dalam waktu dekat,
kita perkirakan dalam satu dekade ke depan kita akan memiliki triliuner. Setidaknya
akan ada satu orang yang memiliki kekayaan sampai seribu miliar USD. Jika tren
ini terus meningkat, upaya memerangi kemiskinan di seluruh dunia baru bisa
tuntas 229 tahun lagi,” kata direktur eksekutif sementara Oxfam, Amitabh Behar,
di Swiss. Di sisi lain, ratusan juta orang di seluruh dunia kini harus bekerja
lebih keras, dengan jam kerja yang lebih lama dan upah yang rendah. Di 52
negara yang dianalisis, upah riil rata-rata dari hampir 800 juta pekerja turun.
Mereka kehilangan 1,5 triliun USD atau Rp 23 kuadriliun selama dua tahun
terakhir, atau setara dengan hilangnya gaji selama 25 hari untuk setiap
pekerja. Orang yang miskin akan bertambah lebih banyak lagi jika perang
Rusia-Ukraina dan Israel-Hamas terus terjadi. Akibat konflik, harga energi dan
pangan melonjak dan ini sangat berdampak pada negara-negara termiskin. Ironisnya,
keuntungan bisnis justru meningkat tajam. (Yoga)
Meningkatkan Anggaran Kesehatan
Komitmen negara dalam pembangunan kesehatan nasional masih
lemah, terlihat dari rendahnya alokasi anggaran belanja bidang tersebut. Padahal,
kualitas kesehatan masyarakat menentukan pencapaian tujuan pembangunan
berkelanjutan. Pengambilan keputusan politik bidang kesehatan berimplikasi pada
derajat kesehatan publik. Sesuai amanat konstitusi, negara bertanggung jawab
terhadap kesehatan seluruh rakyatnya. Data Bappenas yang diolah dari data Bank
Dunia dan Kemenkeu menunjukkan belanja negara untuk kesehatan di Indonesia
paling rendah dibandingkan dengan negara lain, yang hanya 6,9 %, jauh lebih rendah
dibandingkan dengan AS (38 %), China (27,5 %), Australia (21,9 %), Jerman (21,6
%), Jepang (20,4 %), Inggris (19,4 %), dan Korsel (19,5 %).
Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa, Jumat (12/1) menyatakan,
komposisi belanja pemerintah didominasi belanja tidak produktif dan tidak
berorientasi jangka panjang, yang meliputi, belanja barang, belanja bunga
utang, dan belanja subsidi (Kompas, 13/1). Perlu komitmen negara melalui
alokasi anggaran belanja bidang kesehatan guna mengatasi berbagai masalah kesehatan
warga secara menyeluruh. Angka kematian ibu di Indonesia tercatat 190 per
100.000 kelahiran hidup akibat anemia pada ibu hamil, paparan rokok tinggi, dan
kurang gizi. Persoalan kesehatan pada ibu hamil turut memicu tengkes atau
stunting pada bayi. Hasil survei Status Gizi Indonesia tahun 2022 menunjukkan
prevalensi tengkes secara nasional 21,6 %.
Indonesia juga menghadapi beban ganda penyakit. Selain penyakit
menular seperti tuberkulosis, warga menghadapi penyakit tidak menular seperti
jantung dan stroke. Namun, pencegahan dan penanganannya belum optimal karena
layanan kesehatan belum merata. Maka, alokasi belanja kesehatan mesti
ditingkatkan. Berdasarkan perhitungan Bappenas, kebutuhan anggaran penanganan
tengkes mencapai Rp 185,2 triliun, untuk bantuan gizi bagi anak balita dan ibu
hamil dari keluarga miskin dan rentan. Intervensi diperlukan untuk mencegah tengkes
pada 1.000 hari pertama kehidupan. Alokasi belanja kesehatan yang memadai juga
mendukung pembangunan sistem kesehatan di Indonesia. (Yoga)
Penertiban Subsidi Energi Terganjal Regulasi
Realisasi subsidi energi, yang meliputi BBM, elpiji, dan
listrik, pada 2023 mencapai Rp 159,6 triliun, lebih tinggi dari target yang Rp 143,5
triliun. Pada 2024, Kementerian ESDM memproyeksikan besaran subsidi energi
sebesar Rp 186,9 triliun. Upaya menertibkan subsidi energi agar tepat sasaran
masih terganjal regulasi. Menteri ESDM Arifin Tasrif, dalam konferensi pers capaian
sektor ESDM Tahun 2023, di Jakarta, Senin (15/1) mengatakan, ada tren
peningkatan permintaan energi di masyarakat. Selain itu, kenaikan harga bahan
baku BBM dan elpiji juga diantisipasi. Namun, ia memastikan subsidi energi akan
diteruskan, disertai sejumlah program agar penyalurannya tepat sasaran.
”Harus ada upaya,termasuk kebijakan pemerintah, (agar)
subsidi diterima dengan baik oleh masyarakat, tetapi juga lebih efisien (tepat
sasaran). Dengan mengoptimalkannya, (diharapkan) alokasi subsidi tidak sebesar yang
ditargetkan,” ujar Arifin. Program tepat sasaran itu di antaranya pada
transformasi penyaluran elpiji bersubsidi ukuran 3 kg, yang diatur dalam Kepmen
ESDM No 37 Tahun 2023 tentang Petunjuk Teknis Pendistribusian Isi Ulang
Liquefied Petroleum Gas Tertentu Tepat Sasaran. Juga Keputusan Direktur
Jenderal Minyak dan Gas Bumi No 99/2023 tentang Penahapan Wilayah dan Waktu Pelaksanaan
Pendistribusian Isi Ulang Liquefied Petroleum Gas Tertentu Tepat Sasaran, yang ditetapkan
pada Februari 2023.
Dalam Keputusan Dirjen Migas itu, pembelian elpiji tertentu
hanya dapat dilakukan konsumen dengan nomor induk kependudukan (NIK) yang
terdata dalam sistem berbasis web dan/atau aplikasi, terhitung sejak 1 Januari
2024. Adapun pendataan dan uji coba pelaksanaannya telah dimulai sejak 1 Maret
2023. Direktur Eksekutif Energy Watch Daymas Arangga ragu program subsidi tepat
sasaran, baik pada elpiji 3 kg maupun BBM, dan bisa berjalan optimal tanpa ada
regulasi yang jelas. Padahal, jika subsidi energi benar-benar tersalurkan
kepada warga yang berhak, anggaran bisa ditekan dan dimanfaatkan untuk
sektor-sektor lain yang juga penting. ”Harus ada landasan regulasi untuk lebih
tepat sasaran. Memang (kebijakan pembatasan subsidi) agak kurang populis, tetapi
negara dapat berhemat jika subsidi BBM dan elpiji ini lebih tepat sasaran,” kata
Daymas. (Yoga)
177 Pengaduan Perusahaan Pialang Berjangka
PERPAJAKAN, Rakyat Belum Sejahtera, Rasio Sulit Naik
Rasio perpajakan yang terus berjalan di tempat adalah potret
struktur ekonomi Indonesia yang kurang berkualitas karena penghasilan sebagian
besar masyarakat tergolong rendah dan tidak bisa dipajaki. Tanpa menyentuh akar
masalah itu, berbagai strategi yang diusulkan calon presiden akan sulit
mendongkrak rasio pajak sesuai target. Rasio perpajakan (tax ratio) di
Indonesia masih terhitung rendah. Idealnya, rasio perpajakan negara berkembang
adalah 15 %. Sementara, selama sembilan tahun pemerintahan Jokowi, rasio perpajakan
tidak pernah mencapai level 11 % meski ekonomi tumbuh stabil di kisaran 5 %. Pada
tahun 2023, rasio perpajakan RI adalah 10,21 %, turun dari tahun 2022 di 10,39 %.
Belakangan ini, di tengah masa kampanye Pemilihan Umum 2024,
kandidat pasangan calon (paslon) presiden dan wakil presiden ramai-ramai memasang
target rasio pajak yang tinggi. Paslon no 01, Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar,
memasang target mengerek rasio pajak 13-16 % per tahun 2029. Paslon no 02,
Prabowo Subianto-Gibran Rakabumi Raka, memasang target 23 %. Paslon no 03, Ganjar
Pranowo-Mahfud MD, tim suksesnya menyatakan target yang disasar masih realistis,
yakni 14-16 %.
Pengamat pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA)
Fajry Akbar, Senin (15/1) mengatakan, strategi menaikkan penerimaan pajak dan
rasio perpajakan para capres pada dasarnya sudah baik. Namun, ia tidak yakin strategi
para kandidat akan mampu meningkatkan rasio pajak secara signifikan sesuai target
hanya dalam waktu lima tahun kepemimpinan. ”Sebab, masalah utama rasio pajak RI
yang rendah bukan dari sisi kebijakan atau otoritas pajak, melainkan struktur
ekonomi Indonesia yang kurang berkualitas,” kata Fajry, di Jakarta. Karena struktur
ekonomi Indonesia sebagian besar terdiri dari penduduk yang bekerja di sector informal
dibandingkan formal. (Yoga)
Perjuangan Menahun Menagih Hak Tanah Garapan
Setiap pergantian kepala daerah dan presiden, Gede Sutape
(71), petani Kampung Bukit Sari, Desa Sumber Klampok, Kabupaten Buleleng, Bali,
selalu gundah. Petani eks transmigran Timor Timur itu takut kehilangan lahan
garapan seluas 0,5 hektar yang menjadi sumber hidup keluarganya. Lahan itu
belum resmi jadi miliknya kendati sudah dia garap sejak 24 tahun lalu. Lahan
itu ia tanami jagung, cabai, rumput gajah, dan kacang-kacangan. Sutape mengaku,
hasil panen dari lahan itu satu-satunya sumber penghasilan untuk mencukupi
kebutuhan sehari-hari. ”Jika lahan ini diambil karena ada perubahan kebijakan,
saya sekeluarga hidup dari apa?” kata bapak enam anak dan kakek empat cucu itu
di sela rehat menanam cabai, Selasa (9/1). Nengah Kisid (60) dihantui
kekhawatiran serupa. Bercocok tanam di lahan yang belum jadi hak milik membuat
hidupnya tidak tenang. Pemanfaatan lahan di kawasan hutan produksi terbatas
(HPT) itu sewaktu-waktu bisa dialihkan dari rakyat untuk keperluan lain. Jika
itu terjadi, masa depan anak cucu bisa terkatung-katung.
”Untuk itu, kami meminta agar pemerintah menerbitkan
sertifikat lahan garapan itu atas nama warga eks transmigran Timor Timur. Lahan
itu penting bagi hidup kami saat ini hingga anak cucu nanti,” ucap Nengah.
Sutape dan Nengah merupakan bagian dari 107 keluarga transmigran Bali yang ditempatkan
di Timor Timur. Pascareferendum atau lepasnya Timor Timur dari Indonesia pada
1999, Pemerintah Indonesia meminta mereka kembali ke Bali. Lantaran sudah tak
punya tanah keluarga, eks transmigran itu ditempatkan di tempat transit Kantor
Transmigrasi, Kabupaten Buleleng. September 2000, mereka dipindahkan ke kawasan
HPT yang saat ini dikelola KLHK. Di lokasi yang berbatasan dengan Taman
Nasional Bali Barat itu, setiap keluarga mendapatkan tanah seluas 54 are atau 0,54
hektar (ha), sebanyak 0,04 ha di antaranya untuk permukiman dan 0,5 ha untuk
pertanian.
Per 4 November 2021, KLHK menetapkan Peta Indikatif
Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Rangka Penataan Kawasan Hutan untuk Provinsi
Bali. Dalam peta itu, kawasan eks transmigran Timor Timur ditetapkan 157,5 ha,
terdiri dari 54 ha untuk permukiman dan fasilitas sosial dan umum serta sekitar
104 ha untuk lahan pertanian. Lalu pada 30 Desember 2022, KLHK melepas 7,98 ha kawasan
HPT untuk sumber tanah obyek reforma agrarian masyarakat eks transmigran Timor
Timur. Namun, pelepasan itu baru mencakup permukiman dan pekarangan, tak termasuk
lahan garapan. Saat ini, masyarakat eks transmigran Timor Timur didampingi
Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) meminta pemerintah melepas tanah sisanya
yang seluas 149,52 ha, mengingat tanah tersebut, terutama lahan pertanian,
merupakan sumber utama penghasilan masyarakat eks transmigran Timor Timur. (Yoga)
Utak-atik Perpanjangan Trayek Kereta Cepat
Memacu Ekspor Manufaktur
Industri manufaktur di dalam negeri menghadapi tekanan yang tak ringan. Sejumlah sektor penopang ekspor seperti industri pengolahan, pertambangan, pertanian dan perkebunan mencatatkan kinerja yang turun secara tahunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor manufaktur pada 2023 tercatat senilai US$186,98 miliar atau turun 9,26% dari 2022 yang sebesar US$206 miliar. Padahal industri manufaktur selama ini konsisten menjadi kontributor terbesar dalam capaian nilai ekspor nasional. Bahkan, laporan safeguardglobal.com menyebutkan Indonesia masuk 10 besar penyumbang produk manufaktur dunia, yang sekaligus satu-satunya negara Asean dalam daftar tersebut. Berdasarkan publikasi itu, Indonesia berkontribusi sebesar 1,4% kepada produk manufaktur global. Posisi 10 besar ini merupakan kenaikan yang berarti, karena pada 4 tahun yang lalu, Indonesia masih berada di posisi 16. Tentu saja posisi yang baik tersebut rentan tergerus mengingat tekanan besar di industri manufaktur Indonesia juga diperkirakan berlanjut pada 2024 ini. Ekspansi para pelaku bisnis industri manufaktur pada tahun ini berpotensi tidak segemilang tahun sebelumnya. Hal itu tecermin dari penurunan utang luar negeri korporasi yang menjadi sinyal tertahannya ekspansi manufaktur.
Selain itu, gebyar tahun politik yang berlangsung di dalam negeri dan daya beli masyarakat yang lesu termasuk melemahnya harga komoditas unggulan ekspor asal Tanah Air, turut memicu pelemahan ekspansi tersebut. Faktor geopolitik internasional juga menahan geliat industri manufaktur. Kalangan pengusaha telah waswas sejak permintaan global untuk produk asal Indonesia yang menurun pada 2023. Ketidakpastian ekonomi global memang memiliki dampak besar. Selain itu, produk unggulan ekspor seperti komoditas mineral seperti batu bara hingga minyak sawit mentah mengalami penurunan nilai pada perdagangan global. Kondisi ini kontras bila dibandingkan dengan 2022. Tentu pemerintah tidak bisa tinggal diam. Kerja keras dan langkah inovatif sangat dibutuhkan untuk menggairahkan kembali industri manufaktur sebagai salah satu primadona penggerak ekonomi nasional ini. Selain itu, upaya peningkatan nilai tambah dan daya saing industri dilaksanakan melalui program sertifikasi tingkat komponen dalam negeri, dan melanjutkan penghiliran sumber daya alam di industri berbasis agro, industri berbasis bahan tambang dan mineral, serta industri berbasis migas dan batu bara. Namun, semua itu membutuhkan keterlibatan pelaku usaha pula. Bagi para pebisnis, memacu ekspor nonmigas sesuai target 2,5%—4,5% di 2024 tetap memerlukan intervensi, stimulus dan bantuan.
SUMUT ECONOMIC OUTLOOK 2024 : Kerek Peluang Agro Maritim
Provinsi Sumatra Utara masih menyimpan peluang ekonomi dan bisnis, serta investasi di sektor agro maritim yang cukup besar.Akan tetapi, pelemahan harga minyak sawit mentah di pasar global menekan harga tandan buah segar komoditas unggulan provinsi ini.Ajang Bisnis Indonesia Sumut Economic Outlook 2024 (SEO 2024)diharapkan mampu memberikan pandangan baru bagi soko guru perekonomian wilayah ini.Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut Timbas Prasad Ginting mengatakan bahwa dukungan Gapki untuk pelaksanaan SEO 2024 untuk makin memperjelas peran agro kelapa sawit sebagai soko guru perekonomian di Sumut.
SEO 2024 dengan tema Menjaga Momentum Pertumbuhan Bisnis & Investasi bakal digelar hari ini, Selasa (16/1) di Hotel JW Marriott, Medan.Kepala Kantor Perwakilan Bisnis Indonesia wilayah Sumatra Bagian Utara (Sumbagut) Irsad mengatakan bahwa ajang ini akan diisi oleh para pembicara yang kompetensi dari kalangan pebisnis, perusahaan keuangan, dan ketua asosiasi dunia usaha.
Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Wilayah Sumut M. Pintor Nasution berharap potensi bisnis dan investasi di Sumut mampu diungkap melalui ajang ini, sehingga meningkatkan minat investasi di Sumut.
“SEO 2024 ini cukup menarik, sehingga ada juga fund manager dari Jakarta ingin hadir di acara ini untuk jadi peserta. Semoga ajang ini bisa memunculkan gambaran yang jelas tentang peluang investasi di Sumut,” ujarnya.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









