Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Sisi Gelap Dunia Digital
Awal milenium baru, kita terpesona dengan kilau “hebat” kemajuan media dan teknologi: revolusi digital, mesin algoritma, dan AI yang menjanjikan manfaat bagi manusia. Namun, beberapa kejadian menyadarkan bahwa kata ”hebat” yang menyilaukan harus dibayar mahal. Pertama, lumpuhnya Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) 2 pada 20 Juni 2024 menunjukkan rapuhnya keamanan ekosistem digital nasional dari serangan hacker. Padahal, PDNS 2 adalah tempat penyimpanan dan pengolahan data strategis instansi negara (Kompas, 21/6/2024). Kedua, algoritma kecerdasan buatan banyak digunakan untuk menjebak warganet dalam promosi judi daring (Kompas, 26/6/2024). Ketiga, kejahatan seksual dan pornografi yang mengincar anak-anak berkembang menggunakan modus canggih lewat media sosial (Kompas,12/6/2024). Bebasnya pendiri Wikileaks, Julian Assange, disambut sebagai kemenangan (26 Juni).
Namun, pengakuan bersalahnya memicu kekhawatiran soal kebebasan pers karena publikasi informasi rahasia oleh satu negara telah sah dicap sebagai kejahatan (Kompas, 29/6/2024). Kejadian itu memantik pertanyaan: apakah pengaruh media dan teknologi digital sama berbahaya dan bermanfaatnya? Kritikus teknologi komunikasi menyebut sisi ganda kemajuan teknologi: teknologi demokrasi (sisi cerah/positif) dan teknologi dominasi (sisi gelap/negatif). Dalam bukunya yang kritis, The Net Delusion: The Dark Side of Internet Freedom, jurnalis dan komentator sosial Evgeny Morozov mengingatkan, kekuatan internet tak sepenuhnya mampu mengubah rezim represif. Faktanya, pemerintah otoriter secara efektif menggunakan internet untuk menekan kebebasan berpendapat, menyempurnakan teknik pengawasan, memanipulasi pemilu, menyebarkan propaganda mutakhir, dan menenangkan masyarakat dengan hiburan digital.
Demokratisasi internet malah bisa memperkuat diktator, mengancam para pembangkang, dan mempersulit demokratisasi. Kritikus lain mengkhawatirkan sisi gelap media digital, mulai dari jual-beli data pribadi, perdagangan organ manusia, obat terlarang, pornografi anak, kejahatan di web gelap, hingga gangguan kesehatan emosional dan mental: fokus perhatian lebih pendek, presentasi diri berlebihan atau narsisme, menurunnya kualitas hubungan antarpribadi, ancaman keamanan privasi, cyberstalking, dis/misinformasi, pesona berita palsu di tengah pemasaran viral. Jika kita ingin memperoleh sisi cerah di antara sisi gelap dunia digital, diperlukan rancangan budaya adopsi dan pengembangan budaya digital yang mempertimbangkan dampaknya. Rancangan kebijakan adopsi teknologi seyogianya memiliki pemahaman yang lebih holistik tentang konsekuensi penggunaannya. Kian diperlukan politik kebijakan teknologi untuk membangun budaya teknologi yang bijak agar media dan teknologi tidak memengaruhi kita. (Yoga)
Rutte dan Mujica Pensiun Tanpa Rumah dan Mobil Mewah
Rutte resmi mengakhiri 14 tahun menjadi PM pada Selasa (2/7), ia meninggalkan kantor PM mengendarai Koga, sepeda yang dipakai Rutte bolak-balik ke kantor PM. Tak ada acara pisah sambut meriah. Rutte pulang ke rumah tanpa pengawalan atau rombongan yang mengantar Harian NRC Handelsblad, Kamis (20/6) menulis, Rutte tak mau berpidato dan tak mau diberi kado. Soal penilaian kinerjanya, kepada NOS Jeugdjournaal, lembaga penyiaran untuk pemirsa remaja di Belanda, Rutte menilai kinerjanya biasa-biasa saja. ”Mungkin nilainya 6 atau 6,5. Memuaskan, tapi tak terlalu bagus,” kata Rutte. Banyak orang Belanda suka gaya Rutte yang rendah hati dan membumi. Kebiasaannya yang membumi sering dipuji warganet. Dia masih tinggal di apartemen sederhana dan menyetir sendiri mobil Saab abu-abu. Dia viral di media sosial karena datang ke kafe sendiri tanpa staf atau pengawal untuk minum kopi dan makan pai apel.
Dia sering diajak berswafoto dengan siapa pun yang ditemuinya. Kesederhanan Rutte menjadikannya pemimpin yang dicintai rakyat. Jose Mujica (88), mantan gerilyawan Uruguay yang menjadi presiden pada 2010-2015, terkenal sebagai ”presiden termiskin di dunia”. Lambang sayap kiri Amerika Latin itu tak mau tinggal di istana presiden selama menjabat. Ia memilih tinggal di rumah sederhananya di daerah pertanian miskin, pinggiran Montevideo dan menyumbangkan 90 % gajinya untuk amal. ”Saya hidup sesuai apa yang saya pikir. Kalau kami punya teman, kami tidak miskin,” ujarnya. Di rumah sederhana Mujica, tulis BBC pada 15 November 2012, terlihat banyak baju di tali jemuran. Pekarangan rumahnya ditumbuhi ilalang. Hanya ada dua polisi dan anjing peliharaan berkaki tiga, Manuela, berjaga di luar.
Setiap bulan, gaji setara Rp 196 juta disumbangkan Mujica untuk rakyat miskin dan pengusaha kecil. Dia hanya menikmati gaji Rp 12,6 juta per bulan, sama dengan pendapatan rata-rata warga Uruguay. ”Saya sudah menjalani hidup seperti ini hampir sepanjang hidup saya,” ucapnya. Pada 2010, kekayaan pribadi tahunannya hanya Rp 29,4 juta, setara nilai mobil Volkswagen Beetle miliknya. Pada 2012, dia menambah separuh aset istrinya dengan tanah, traktor, dan rumah hingga mencapai Rp 3,5 miliar. Jumlah itu hanya sepertiga pendahulunya, Tabare Vazquez. ”Saya disebut presiden termiskin, tetapi saya tidak merasa miskin. Orang miskin adalah mereka yang bekerja hanya untuk mempertahankan gaya hidup yang mahal dan selalu menginginkan lebih banyak,” tuturnya.
Sementara di Swedia, pejabat dilarang bergaya hidup mewah. Salah satu skandal politik yang paling simbolik pernah terjadi pada 1990-an. Wakil PM Mona Sahlin membeli sebatang cokelat, popok, dan beberapa barang kebutuhan pribadi lainnya dengan kartu kredit pemerintah. Akibatnya, dia dicopot dari posisinya. Wartawan Brasil yang bertugas di Swedia, Claudia Wallin, dalam bukunya, Sweden: The Untold Story (2018) menceritakan para menteri dan anggota parlemen bepergian dengan bus dan kereta, sama seperti warga yang mereka wakili. Mereka juga tak punya hak atas kekebalan parlemen sehingga dapat diadili di pengadilan. Tanpa sekretaris pribadi, kantor mereka juga minimalis, hanya 8 meter persegi. Hanya PM yang berhak naik mobil. Rakyat memilih politikus yang harus memahami realitas sehari-hari dan penderitaan rakyatnya, semoga Indonesia ke depannya bisa seperti itu. (Yoga)
Guru TK Ditagih Kembalikan Gaji
Lembaga Ombudsman mengkritik lemahnya data administrasi kepegawaian di daerah, yang tecermin dalam kasus guru TK negeri yang ditagih Rp 75 juta oleh Pemkab Muaro Jambi karena dianggap kelebihan masa pensiun hingga dua tahun. Kepala Ombudsman Provinsi Jambi Saiful Roswandi menyesalkan sikap Pemkab Muaro Jambi yang menagih Asniati sebesar Rp 75 juta sebagai kelebihan transfer gaji selama dua tahun. Badan Kepegawaian Daerah (BKD) setempat beralasan, Asniati telah pensiun sejak 2022, tetapi gajinya masih ditransfer oleh negara hingga 2024. Gaji itulah yang ditagih kembali. Saiful menilai, kesalahannya ada pada daerah.
”Secara substansi, uang yang telanjur dibayar semestinya tidak ditagih karena bukan kesalahan Bu Guru (Asniati),” katanya, Jumat (5/7). Ia mengkritik pembaruan yang tidak sinkron antara data BKD, Badan Kepegawaian Negara (BKN), dan dinas pendapatan daerah, yang menimbulkan berbagai persoalan dan berpotensi terus berulang jika negara tidak berbenah. Pembaruan data selayaknya dilakukan secara berkala. Jika terjadi kelalaian atau kesalahan dalam pencatatan data, hal itu dapat berimbas pada kerugian negara. Kasus Asniati viral setelah guru TK Negeri III Sungai Bertam di Muaro Jambi itu ditagih Rp 75 juta oleh petugas BKD setempat.
Saat Asniati bermaksud mengurus SK pemberhentian pembayaran (SKPP) karena dirinya pensiun.Asmiati malah diminta mengembalikan gajinya, dua tahun mengajar. BKD menyalahkan Asniati yang tak mengurus pensiun sejak awal. Menurut Asniati, dirinya mengurus berkas pensiunan pada Juni 2023. Selama setahun, dokumennya mengendap di BKD Muaro Jambi. Berselang be berapa bulan kemudian, Aniati dipanggil ke kantor BKD Muaro Jambi, April 2024. Saatitulah ia diminta untuk mengembalikan gaji dan tunjangan selama dua tahun agar bisa mendapatkan SKPP dan dana pensiun dari Taspen. Asniati dipersalahkan karena terus bekerja dan mendapatkan gaji selama dua tahun kemudian.
Padahal, dia seharusnya sudah pensiun pada 2022 saat berusia 58 tahun. Asniati lantas mengadu ke DPRD Muaro Jambi. Kasus tersebut menuai perhatianbanyak pihak. Jumat (5/7) pagi, Gubernur Jambi Al Haris bertandang ke rumahnya. Ia menyatakan siap membayarkan tagihan tersebut jika masih tetap diminta. Ia menyesalkan pemkab yang masih meminta pengembalian gaji. Haris mendorong seluruh daerah untuk melayani pegawai dengan sebaik-baiknya. Khususnya terkait data administrasi kepegawaian agar selalu dicek, supaya tidak menimbulkan kasus serupa berulang. (Yoga)
Desa Wisata Jadi Andalan Tarik Turis
Desa wisata masih diandalkan untuk menggaet wisatawan, baik domestic maupun mancanegara. Ada 5.037 desa wisata di Indonesia yang sedang dikembangkan pemerintah untuk dijadikan destinasi wisata. ”Desa wisata menjadi fokus yang sedang digarap (untuk menggaet wisatawan). Obyek wisata tersebut diyakini dapat memberi pengalaman baru bagi para pengunjung,” kata Wakil Direktur Bisnis Harian Kompas Novi Eastiyanto dalam konferensi pers peluncuran Kompas Travel Fair (KTF) 2024, Jumat (5/7) di Jakarta. Tren pariwisata 2024, menurut Kemenparekraf, kata Novi, meliputi empat hal, yaitu bleisure (business and leisure), wisata kebugaran, wisata mendalam dan bermakna, serta set-jetting (bekas lokasi shooting film).Sejumlah desa wisata menjadi prioritas dalam perhelatan KTF 2024.
Beberapa desa tersebut antara lain Desa Panglipuran (Bali), Desa Nglanggeran (Yogyakarta), Desa Adat Saba (Bali), serta Desa Arborek (Papua Barat). Desa-desa itu banyak dikenal karena berhasil meraih Anugerah Desa Wisata Indonesia dari Kemenparekraf. Dirjen Pembangunan Desa dan Perdesaan Kementerian Desa PDTT, Sugito mengatakan, sejauh ini Kementerian Desa PDTT tengah mengembangkan 5.037 desa wisata, yang dikelola dengan memberdayakan masyarakat setempat agar mereka terlibat aktif dalam geliat industri pariwisata Indonesia. ”Setiap desa itu punya potensi, punya aset yang sangat bervariasi. Itu semua sangat potensial,” ucapnya. Desa wisata, lanjut Sugito, memiliki ciri khas yang berbeda di setiap daerah, mulai dari alam, kuliner, hingga budayanya.
Dari segi makanan, misalnya, masyarakat kota terkadang jenuh mengonsumsi makanan yang tersaji di hotel. Saat ke desa wisata, pengunjung bisa makan dan minum khas daerah sambil menikmati kekayaan alamnya, seperti hamparan sawah hijau. ”Desa wisata saat ini tengah naik daun, bahkan signifikan perkembangannya. Apabila desa wisata juga dikelola dengan baik, bisa berkontribusi secara optimal bagi perekonomian nasional,” katanya. KTF 2024 berlangsung pada 20-23 September 2024 di Jakarta Convention Center, Jakarta. Dalam empat hari perhelatan, acara tersebut ditargetkan bisa menarik 18.000 pengunjung dengan transaksi Rp 31,4 miliar, meningkat dari tahun 2023, dengan pengunjung KTF 2023 sebanyak 15.000 orang dengan transaksi sebesar Rp 28,6 miliar. (Yoga)
Annisa Maharani Nasran, Penyelamat Masa Depan dari Kampung Literasi Selamat
Ketertarikan Annisa Maharani Nasran (25) pada isu pendidikan muncul sejak belia, dipicu aktivitas literasi sekitar tempat tinggalnya yang belum memadai. Kondisi itu mendorong semangatnya sebagai generasi muda untuk berbuat nyata dengan mendirikan Kampung Literasi Selamat. Anak-anak hingga warga lansia terbantu. Ribuan buku tersusun rapi di rak dalam bangunan Kampung Literasi Selamat atau Kalise, Sabtu (22/6) di Gang Selamat 1, Kelurahan Sungai Jawi Dalam, Pontianak, Kalbar. Di atas lemari kaca tersusun puluhan piala prestasi Kalise di berbagai lomba. Dalam ruangan terdapat kerajinan tangan hasil daur ulang sampah rumah tangga. Di dekat pintu masuk terdapat puluhan botol plastik siap didaur ulang menjadi kotak hingga vas bunga. Kalise tak hanya mengajar baca tulis. Berbagai fakta yang Annisa temui di lapangan mendorongnya berkontribusi nyata bagi literasi dan SDM.
Keinginannya membenahi literasi di Kalbar mendapat jalan saat diutus Dinas P & K Kota Pontianak studi banding ke Kampung Literasi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, pada 2019. Sepulangnya dari Yogyakarta, Annisa bergerak, dan memulainya dari lingkungan Gang Selamat. ”Saya melihat banyak anak saat itu putus sekolah dan tak bisa membaca. Anak usia sekolah, tak bisa sekolah, berkisar 10-20 orang karena tak ada biaya atau membantu ekonomi keluarga dengan berjualan. Belum lagi yang lansia,” ujarnya. Dari situ muncul ide mendirikan Kalise dengan pendekatan lebih menyeluruh dengan pengembangan enam literasi dasar, yaitu baca tulis, numerasi, finansial, budaya kewarganegaraan, sains, dan digital. Annisa mempresentasikan idenya ke salah satu BUMN dan bersaing dengan proposal pihak lain. ”Saya meyakinkan mereka mengapa Kalbar perlu kampung literasi,” ujar dosen FH Unmuh Pontianak itu.
Upaya ini menghasilkan hibah Rp 50 juta untuk modal awal Kalise, membangun rumah Kalise berukuran 10 x 15 meter. Kemudian, ia membeli AC, mesin cetak, buku-buku, dan komputer. Sasaran kegiatan awalnya anak-anak dan warga di bawah 25 tahun di RT 005 Kelurahan Sungai Jawi Dalam. Enam bidang literasi dasar di Kalise itu dapat diakses gratis.Terdapat taman bacaan dan perpustakaan dengan 3.000-an koleksi buku cerita anak, novel remaja, buku pelajaran, dan kesehatan. Untuk meminjam buku dibawa pulang, peminjam harus membawa sampah, khususnya botol plastik. Dalam sebulan terkumpul 100-200 botol plastik dan buku tulis yang tak dipakai untuk diolah menjadi produk kerajinan tangan yang dijual ke Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Kalbar. Dari penjualan itu didapat Rp 350.000-Rp 500.000 per bulan untuk uang kas Kalise. Keterampilan bilangan fokus pada matematika dasar untuk anak dan dewasa.
Ada bimbingan belajar gratis setiap Senin, Kamis, dan Sabtu. Dalam sehari peserta bisa 10 orang berusia 7-15 tahun. Pada 2023 tercatat 5.403 orang mengakses bimbingan enam kecakapan literasi dasar. Pada Januari-Maret 2024, sebanyak 1.431 orang belajar enam kecakapan literasi dasar di Kalise. Kecakapan literasi finansial mengajarkan masyarakat mencari peluang mendapatkan penghasilan. Literasi budaya kewarganegaraan mengangkat tarian tiga etnis, yaitu Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Ada juga tarian sekapur sirih dan jepin Pontianak. Sementara musik berupa tundang dan marawis. Penari yang dilatih di Kalise kerap tampil di berbagai pertunjukan di Kota Pontianak maupun Jakarta. ”Penari dan pemusik mendapat uang saku. Pemain musik marawis sekali tampil mendapat uang saku Rp 35.000-Rp 50.000 per orang. Sementara penari Rp 50.000-Rp 150.000 per orang sekali tampil,” tutur Annisa. Kalise juga mengajarkan literasi digital dan menyediakan layanan internet dan komputer gratis. (Yoga)
Garin Nugroho: Indonesia Tak Akan Maju Tanpa Strategi Budaya
Di tengah arus perubahan zaman, seni pertunjukan tradisional jungkir balik untuk sekadar bertahan hidup. Sebab, indikator-indikator ekonomi memang menempatkannya di pinggiran. Kontribusinya terhadap PDB hanya sekelingking dibanding ekspor batubara. Seniman sekaligus pelaku perfilman Indonesia, Garin Nugroho, Selasa (11/6) mengatakan, “Seni pertunjukan, mau ludruk, jatilan, ketoprakan, mengandung nilai yang disebut modal sosial, tempat berkumpul, sharing, dan katarsis bersama. Kemampuan modal sosial itu adalah modal pertahanan bangsa dari segala krisis. Festival besar berbasis pertunjukan Lima Gunung, misalnya, berbasis modal sosial dari output mereka berbentuk seni pertunjukan mayoritas.”
Mereka survive karena menumbuhkan diri dengan berbagai macam cara, jejaring, ekonomi, serta media baru. Seni pertunjukan memiliki basis yang kuat, antara lain modal budaya, jejaring, dan komunitas, untuk beradaptasi pada zaman. Seni pertunjukan tradisional yang hanya berbasis modal ekonomi banyak gagal karena sangat bergantung dari aspek modal uang karena tak disokong modal sosial, yang disepelekan para pengambil kebijakan. Akibatnya, terjadi euforia seni pertunjukan yang digerakkan dengan investasi besar, tetapi tanpa bersumber dari modal sosial. Pemerintah cenderung menjaga kesenian yang memiliki ekonomi berskala besar. Korsel, misalnya, memilih jalan mengikuti selera pasar.
Namun, bangsa maju selalu membentuk selera. Jika hanya mengikuti selera, kita membangun ekosistem yang mencontoh saja. Dalam realitasnya, banyak budaya warisan kita yang mati, karena tak memiliki strategi budaya dalam mempertahankannya. Strategi budaya adalah cara agar (suatu bangsa) mempunyai manajemen yang baik, dari sistem pajak dan sistem tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Ini memerlukan ahli-ahli ekonomi kreatif yang jenius, tak hanya yang berpikiran ”memetik hasil” saja. Pangsa pasar seni warisan memang sedikit. Namun, bukan berarti penonton yang sedikit ditelantarkan karena dianggap tak mengerti bisnis.
Dalam seni pertunjukan, afirmasi pemberdayaan, akan berguna pada aspek tertentu. Pertama, uang pada nilai ekonomi. Kedua, pihak yang tak memiliki dana menekankan modal sosial, tenaga kerja, pemahaman sejarah. Perusahaan bisa memberi sponsor. Misalnya, memberi dana bagi guru pematung untuk memberi pelatihan pada anggota keluarga karyawan perusahaan, yang dapat belajar mematung melalui workshop. Yogyakarta, sebagai kota festival, dalam suatu acara, penduduk serta banyak lapisan ikut berpartisipasi, inilah semangat dari nilai ekonomi, ada kebersamaan, ada kreativitas yang dihidupkan. Orang sering tak melihat ini. Makanya, ekonomi kita kacau terus, karena kita tak berbasis modal sosial. Artinya, sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai ekonomi, sosial, dan budaya, tak lengkap kemajuan yang dicapai. (Yoga)
Waspada Modus Penipuan Online yang Makin Beragam
Peran Kunci Antam di Ekosistem EV Battery
Perkuat Pemerintahan Kolaboratif di Daerah
Di tengah berbagai tantangan yang kian berat, pemda didorong mampu menumbuhkan perekonomian lokal. Namun, pemda tak bisa bekerja sendiri. Paradigma pemerintahan kolaboratif harus dimiliki oleh setiap pemda. Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad dalam sambutannya pada diskusi ”Hampir Tiga Dekade, Otonomi Daerah Apakah Sudah Sesuai Harapan?”, Kamis (4/7) di Menara Kompas, Jakarta, mengatakan, tantangan bagi pemda adalah meningkatkan perekonomian lokal dan menyejahterakan masyarakat. Ia menyangkan ada daerah yang belum bisa menjawab tantangan tersebut. Maluku Utara, misalnya, pertumbuhan ekonominya 21 %, tapi kemiskinan masih tinggi. Begitu pula Papua. Menurut Fadel, ini karena dana yang ada tak digunakan secara tepat untuk menumbuhkan ekonomi lokal.
”Dana yang masuk ke daerah justru untuk bangun kantor dan lainnya. Padahal, bisa bangun jalan yang menunjang pertumbuhan ekonomi,” kata Fadel. Fadel melanjutkan, sejumlah pemda kesulitan menjawab tantangan ke depan karena terjebak paradigma pemerintahan yang lama. Paradigma pemda ke depan harus kolaboratif dan disebut pemerintahan kolaboratif, dengan pola kerja pemerintahan lebih melibatkan banyak pihak untuk suatu kepentingan. ”Sayangnya, spirit entrepreneurial governance sangat rendah. Saya pernah mendengar, seorang pemimpin, bupati, wali kota, gubernur capek bekerja seperti ini karena harus melibatkan perguruan tinggi dan lainnya. Namun, pengalaman saya, justru ini jadi menarik karena kita tak sendirian dalam membuat kebijakan. Ketika keluar kebijakannya, semua merasa memilikinya,” tutur Fadel. (Yoga)
Satu Darah dalam ”Sape Kerrab”
Olahraga sepak bola menjadi salah satu upaya merajut kebersamaan di Madura dan gugusan pulau lain di kawasan yang masuk wilayah Jatim itu. Ada desakan untuk mewujudkan satu entitas kemaduraan sebagai representasi rakyat ”Nusa Garam”. Sejak 2016, Madura United dinilai bakal mampu menjawab kebutuhan tersebut. Suhaimi (30) asal Bangkalan, tetapi bekerja dan tinggal di Surabaya, merupakan K-Conk Mania, pendukung Madura United. Ia hadir untuk menyemangati tim kesayangannya di Liga 1 Championship Series. Ia termasuk 6.000 penonton yang menjadi saksi kemenangan 1-0 Madura United atas Borneo di laga pertama semifinal Championship Series, Rabu (15/5) di Stadion Gelora Bangkalan. Kekalahan 1-3 dari Persib pada laga kedua di Stadion Gelora Bangkalan, Jumat (31/5) tetap menjadi capaian terbaik Madura United di kompetisi tertinggi sepak bola Indonesia.
”Sape Kerrab” (sapi karapan), julukan Madura United, finis di peringkat ke-3 (2016). Madura United lahir pada 10 Januari 2016 atas inisiatif Achsanul Qosasi yang mengakuisi Persipasi Bandung Raya. Identitas berganti menjadi Madura United. Presiden Madura United Achsanul Qosasi sengaja menghadirkan tim baru sebagai pemersatu masyarakat Pulau Madura. Pengusaha dan politikus asal Sumenep ini berambisi menjadikan Madura United sebagai klub sepak bola profesional seperti klub-klub besar mancanegara. Menurut Dirut Madura United Annisa Zhafarina Qosasi, pendukung Madura United merepresentasikan dukungan dari tim lokal. Dari Achsanul ke sang putri, Annisa, ambisi mempertahankan Madura United sebagai klub elite nasional dari Nusa Garam terus dipelihara. Di zaman perkembangan teknologi informasi, pemanfaatan media sosial untuk peningkatan kapasitas bisnis menjadi keniscayaan, segala pernak-pernik
Sape Kerrab bisa dibeli secara daring dan luring di toko resmi. Annisa telah mengirim pesanan 5.000 jersei Madura United ke Dubai, Uni Emirat Arab. Jersei kandang dan tandang itu untuk memenuhi kebutuhan diaspora Madura di Timur Tengah. Lebih dari 1.000 jersei lainnya sudah dikirim ke beberapa negara di Asia, Eropa, dan Amerika yang notabene pesanan diaspora Madura. Bahkan, untuk jersei Championship Series, ada perubahan sponsor dengan pencantuman kata ”Warung Madura”. ”Para pengusaha warung Madura mengumpulkan dana untuk jadi sponsor jersei masa khusus. Menurut sosiolog Universitas Trunojoyo Madura, Iskan dar Dzulkarnain, orang Madura amat menyenangi olahraga atau permainan tradisional. Di sepak bola, ungkapan settong dhere atau satu darah sebagai orang Madura terepresentasi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









