;

Annisa Maharani Nasran, Penyelamat Masa Depan dari Kampung Literasi Selamat

Annisa Maharani Nasran,
Penyelamat Masa Depan
dari Kampung Literasi Selamat

Ketertarikan Annisa Maharani Nasran (25) pada isu pendidikan muncul sejak belia, dipicu aktivitas literasi sekitar tempat tinggalnya yang belum memadai. Kondisi itu mendorong semangatnya sebagai generasi muda untuk berbuat nyata dengan mendirikan Kampung Literasi Selamat. Anak-anak hingga warga lansia terbantu. Ribuan buku tersusun rapi di rak dalam bangunan Kampung Literasi Selamat atau Kalise, Sabtu (22/6) di Gang Selamat 1, Kelurahan Sungai Jawi Dalam, Pontianak, Kalbar. Di atas lemari kaca tersusun puluhan piala prestasi Kalise di berbagai lomba. Dalam ruangan terdapat kerajinan tangan hasil daur ulang sampah rumah tangga. Di dekat pintu masuk terdapat puluhan botol plastik siap didaur ulang menjadi kotak hingga vas bunga. Kalise tak hanya mengajar baca tulis. Berbagai fakta yang Annisa temui di lapangan mendorongnya berkontribusi nyata bagi literasi dan SDM.

Keinginannya membenahi literasi di Kalbar mendapat jalan saat diutus Dinas P & K Kota Pontianak studi banding ke Kampung Literasi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, pada 2019. Sepulangnya dari Yogyakarta, Annisa bergerak, dan memulainya dari lingkungan Gang Selamat. ”Saya melihat banyak anak saat itu putus sekolah dan tak bisa membaca. Anak usia sekolah, tak bisa sekolah, berkisar 10-20 orang karena tak ada biaya atau membantu ekonomi keluarga dengan berjualan. Belum lagi yang lansia,” ujarnya. Dari situ muncul ide mendirikan Kalise dengan pendekatan lebih menyeluruh dengan pengembangan enam literasi dasar, yaitu baca tulis, numerasi, finansial, budaya kewarganegaraan, sains, dan digital. Annisa mempresentasikan idenya ke salah satu BUMN dan bersaing dengan proposal pihak lain. ”Saya meyakinkan mereka mengapa Kalbar perlu kampung literasi,” ujar dosen FH Unmuh Pontianak itu.

Upaya ini menghasilkan hibah Rp 50 juta untuk modal awal Kalise, membangun rumah Kalise berukuran 10 x 15 meter. Kemudian, ia membeli AC, mesin cetak, buku-buku, dan komputer. Sasaran kegiatan awalnya anak-anak dan warga di bawah 25 tahun di RT 005 Kelurahan Sungai Jawi Dalam. Enam bidang literasi dasar di Kalise itu dapat diakses gratis.Terdapat taman bacaan dan perpustakaan dengan 3.000-an koleksi buku cerita anak, novel remaja, buku pelajaran, dan kesehatan. Untuk meminjam buku dibawa pulang, peminjam harus membawa sampah, khususnya botol plastik. Dalam sebulan terkumpul 100-200 botol plastik dan buku tulis yang tak dipakai untuk diolah menjadi produk kerajinan tangan yang dijual ke Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Kalbar. Dari penjualan itu didapat Rp 350.000-Rp 500.000 per bulan untuk uang kas Kalise. Keterampilan bilangan fokus pada matematika dasar untuk anak dan dewasa.

Ada bimbingan belajar gratis setiap Senin, Kamis, dan Sabtu. Dalam sehari peserta bisa 10 orang berusia 7-15 tahun. Pada 2023 tercatat 5.403 orang mengakses bimbingan enam kecakapan literasi dasar. Pada Januari-Maret 2024, sebanyak 1.431 orang belajar enam kecakapan literasi dasar di Kalise. Kecakapan literasi finansial mengajarkan masyarakat mencari peluang mendapatkan penghasilan. Literasi budaya kewarganegaraan mengangkat tarian tiga etnis, yaitu Melayu, Dayak, dan Tionghoa. Ada juga tarian sekapur sirih dan jepin Pontianak. Sementara musik berupa tundang dan marawis. Penari yang dilatih di Kalise kerap tampil di berbagai pertunjukan di Kota Pontianak maupun Jakarta. ”Penari dan pemusik mendapat uang saku. Pemain musik marawis sekali tampil mendapat uang saku Rp 35.000-Rp 50.000 per orang. Sementara penari Rp 50.000-Rp 150.000 per orang sekali tampil,” tutur Annisa. Kalise juga mengajarkan literasi digital dan menyediakan layanan internet dan komputer gratis. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :