;

Garin Nugroho: Indonesia Tak Akan Maju Tanpa Strategi Budaya

Garin Nugroho: Indonesia Tak Akan
Maju Tanpa Strategi Budaya

Di tengah arus perubahan zaman, seni pertunjukan tradisional jungkir balik untuk sekadar bertahan hidup. Sebab, indikator-indikator ekonomi memang menempatkannya di pinggiran. Kontribusinya terhadap PDB hanya sekelingking dibanding ekspor batubara. Seniman sekaligus pelaku perfilman Indonesia, Garin Nugroho, Selasa (11/6) mengatakan, “Seni pertunjukan, mau ludruk, jatilan, ketoprakan, mengandung nilai yang disebut modal sosial, tempat berkumpul, sharing, dan katarsis bersama. Kemampuan modal sosial itu adalah modal pertahanan bangsa dari segala krisis. Festival besar berbasis pertunjukan Lima Gunung, misalnya, berbasis modal sosial dari output mereka berbentuk seni pertunjukan mayoritas.”

Mereka survive karena menumbuhkan diri dengan berbagai macam cara, jejaring, ekonomi, serta media baru. Seni pertunjukan memiliki basis yang kuat, antara lain modal budaya, jejaring, dan komunitas, untuk beradaptasi pada zaman. Seni pertunjukan tradisional yang hanya berbasis modal ekonomi banyak gagal karena sangat bergantung dari aspek modal uang karena tak disokong modal sosial, yang disepelekan para pengambil kebijakan. Akibatnya, terjadi euforia seni pertunjukan yang digerakkan dengan investasi besar, tetapi tanpa bersumber dari modal sosial. Pemerintah cenderung menjaga kesenian yang memiliki ekonomi berskala besar. Korsel, misalnya, memilih jalan mengikuti selera pasar.

Namun, bangsa maju selalu membentuk selera. Jika hanya mengikuti selera, kita membangun ekosistem yang mencontoh saja. Dalam realitasnya, banyak budaya warisan kita yang mati, karena tak memiliki strategi budaya dalam mempertahankannya. Strategi budaya adalah cara agar (suatu bangsa) mempunyai manajemen yang baik, dari sistem pajak dan sistem tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Ini memerlukan ahli-ahli ekonomi kreatif yang jenius, tak hanya yang berpikiran ”memetik hasil” saja. Pangsa pasar seni warisan memang sedikit. Namun, bukan berarti penonton yang sedikit ditelantarkan karena dianggap tak mengerti bisnis.

Dalam seni pertunjukan, afirmasi pemberdayaan, akan berguna pada aspek tertentu. Pertama, uang pada nilai ekonomi. Kedua, pihak yang tak memiliki dana menekankan modal sosial, tenaga kerja, pemahaman sejarah. Perusahaan bisa memberi sponsor. Misalnya, memberi dana bagi guru pematung untuk memberi pelatihan pada anggota keluarga karyawan perusahaan, yang dapat belajar mematung melalui workshop. Yogyakarta, sebagai kota festival, dalam suatu acara, penduduk serta banyak lapisan ikut berpartisipasi, inilah semangat dari nilai ekonomi, ada kebersamaan, ada kreativitas yang dihidupkan. Orang sering tak melihat ini. Makanya, ekonomi kita kacau terus, karena kita tak berbasis modal sosial. Artinya, sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai ekonomi, sosial, dan budaya, tak lengkap kemajuan yang dicapai. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :