;
Kategori

Sosial, Budaya, dan Demografi

( 10118 )

Pengembangan Energi Nuklir di Indonesia Sudah di Ambang Pintu

06 Sep 2024
Pengembangan energi nuklir di Indonesia sudah di ambang pintu. Hal ini seiring dengan disahkannya rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN). Pemerintah dan DPR telah mencapai kata mufakat dalam revisi Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang KEN. Dalam PP 79/2014 disebutkan energi pengembangan nuklir  merupakan pilihan terakhir. Artiannya nuklir mulai dimanfaatkan  jika pengembangan seluruh potensi  energi terbarukan masih belum cukup dalam pemenuhan  kebutuhan energi nasional. Dalam pengembangan KEN usulan pemerintah disebuttkan, PLTN mulai dibangun pada 2032 dengan kapasitas 250 megawatt (MW). Naskah revisi KEN versi pemerintah itu menekankan energi nuklir sebagai penyeimbang yang perlu dimanfaatkan. (Yetede)

Linangan Air Mata Ana Nur Awaliyah yang Membasuh Perbedaan

05 Sep 2024

Dengan berlinang air mata, Ana Nur Awaliyah menyampaikan kalimat pengantar saat pertemuan Paus Fransiskus dengan pelajar dan anak-anak muda lintas iman di Grha Pemuda, Kompleks Katedral Jakarta, Rabu (4/9). Ana merupakan guru, dosen, dan fasilitator anak di Buton, Sultra. Ia menyampaikan pentingnya edukasi sebagai upaya mengatasi kemiskinan. Ana juga anggota tim dalam Scholas Occurrentes, gerakan pendidikan internasional yang diluncurkan pada 2013 oleh Paus Fransiskus. Gerakan kaum muda untuk merealisasi perubahan sosial melalui pendidikan ini diinisiasi Paus Fransiskus jauh sebelum dia diangkat sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Ana tak kuasa menahan tangis saat menyampaikan keindahan praktik toleransi antarumat beragama di Indonesia. Salah satunya ditunjukkan dengan berdirinya dua rumah ibadah bagi umat Katolik dan Islam yang saling berdampingan, yakni Katedral dan Masjid Istiqlal.

”Untuk pertama kali dalam hidup, saya mengunjungi, masuk, dan menjadi bagian dalam Gereja Katedral. Gereja Katedral disucikan oleh umat Katolik dan tepat di depan saya, berdiri pula tempat biasanya saya beribadah,” ujarnya sembari menahan tangis. Menurut Ana, dua rumah ibadah yang saling berdampingan ini merupakan sebuah simbol toleransi, di mana sebuah perbedaan seharusnya dihadapi dan dijembatani. Ia juga mendapat pelajaran toleransi ini lewat Islam dan gerakan Scholas Occurrentes. Dalam kurikulumnya, Scholas Occurrentes melatih Ana untuk melihat dunia dari pinggir jalan, rakyat miskin kota yang harusnya disekolahkan. Hal lain yang ditekankan adalah menyadarkan mereka yang kaya materi bahwa hidup tidak hanya memikirkan diri sendiri.

Sebagai seorang guru, Ana melihat kurikulum Scholas memiliki visi misi yang sama dengan Kurikulum Merdeka Belajar. Dalam praktiknya, dibutuhkan tim kerja untuk menciptakan generasi muda dan guru yang tak hanya cerdas, tapi juga bahagia. Setelah dua tahun berproses dan terjun langsung di Italia, Liberia, dan Afrika, Ana masih terkoneksi secara intens dengan Scholas. ”Mendengarkan adalah cara komunikasi terbaik. Dengan cara itu, kita bisa menjembatani segala perbedaan menjadi satu,” katanya. Bryan Davis, pelajar SMAN 27 Jakarta, menyebut, Indonesia memiliki praktik hidup yang kompak satu sama lain meski berbeda suku, agama, ras, dan budaya. Namun, kekompakan ini dapat terancam akibat diskriminasi dan perundungan, termasuk di media sosial. (Yoga)


Setelah Sukses Diplomasi Ekonomi, IAF Menyisakan ”PR”

05 Sep 2024

Pelaksanaan rangkaian Forum Indonesia Afrika atau IAF 2024 dan Forum Tingkat Tinggi Kemitraan Multipihak atau HLF MSP di Nusa Dua, Bali, sukses besar dalam meraih kerja sama dengan potensi nilai puluhan triliun rupiah. Tapi, ajang yang digelar pada 1-3 September 2024 ini menyisakan pekerjaan rumah jika Indonesia serius menyasar Afrika sebagai pasar baru. Sejumlah “PR” itu dari sisi diplomasi berkesinambungan dan sisi keuangan. Dari sisi diplomasi, persyaratan visa untuk sejumlah negara Afrika perlu dipermudah tanpa melonggarkan pengawasan. Selain itu, minimnya jumlah kedubes di Afrika perlu menjadi perhatian jika Indonesia betul-betul ingin hadir di sana.

Saat ini, dari 54 negara di Afrika, Indonesia baru hadir di 16 negara. Dubes RI untuk Nigeria, yang juga membawahkan 12 negara lain, Usra Hendra Harahap mengatakan, untuk Liberia, saat ini Indonesia masih memberlakukan kebijakan calling visa. Calling visa membutuhkan waktu panjang dan biaya besar. Ini menghambat kerja sama. Setiap pengajuan calling visa harus diperiksa di sembilan lembaga negara. ”Bagaimana kita mau menjalin kerja sama kalau pebisnis mereka sulit masuk ke sini?” kata Usra, Selasa (3/9). Menurut Usra, kebijakan ini seharusnya dievaluasi. Ia menyarankan pemeriksaan cukup di Kamar Dagang Liberia.

Dengan begitu, pengawasan penerbitan visa tetap ketat walau lebih mudah. Deputi Bidang Politik, Hukum, Pertahanan, dan Keamanan Kementerian PPN / Bappenas, Bogat Widyatmoko mengatakan, tantangan di bidang keuangan terdapat pajak ganda dalam perdagangan dan investasi serta kendala dalam sistem pembayaran global. Untuk menyikapinya, sejumlah langkah akan diambil, termasuk mengkaji alat pembayaran di luar mata uang dollar AS yang bisa diterima negara Selatan-Selatan, merumuskan pembiayaan inovatif, serta menggalang kerja sama dengan sejumlah lembaga keuangan. (Yoga)


Komersialisasi Membuat Pendidikan Masih Jadi Barang Mewah

05 Sep 2024

Kenaikan inflasi Agustus 2024 akibat biaya pendidikan yang dilaporkan BPS perlu menjadi perhatian pemangku kebijakan. Komersialisasi pendidikan belum dibarengi kebijakan berkeadilan. Koordinator Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia, Ubaid Matraji, di Jakarta, Rabu (4/9) menegaskan, biaya pendidikan dasar masyarakat mestinya ditanggung negara sesuai amanat Pasal 31 UUD 1945. Konstitusi menjamin tiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. ”Ini kenyataan aneh. Bagaimana bisa pendidikan dasar yang mestinya wajib dibiayai dan ditanggung oleh pemerintah, kok, malah jadi penyumbang inflasi terbesar,” kata Ubaid.

Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (2/9), Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini mengumumkan inflasi Agustus 2024 sebesar 2,12 % secara tahunan atau 0,87 % secara kalender berjalan. Secara bulanan terjadi deflasi 0,03 %. Pada bulan Agustus 2024, kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,65 %, lebih rendah dibanding tingkat inflasi Juli 2024, tetapi kelompok ini memberi andil inflasi 0,04 % terhadap inflasi umum. Tren inflasi tertinggi terjadi pada biaya SD, di 1,59 %, diikuti biaya SMP 0,78 %, biaya SMA 0,36 %, serta biaya akademi atau perguruan tinggi 0,46 %. Menurut Pudji, inflasi pada kelompok pendidikan disebabkan kenaikan biaya sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) dan uang kuliah tunggal (UKT) pada sejumlah perguruan tinggi.

Bahkan, kenaikan UKT menjadi faktor utama dalam kenaikan inflasi karena naik 0,46 %. ”Jadi, ini kami mencatat kalau untuk uang sekolah itu, khususnya di sekolah swasta, dan kalau perguruan tinggi, ya, kalau memang menerapkan UKT, berarti ini karena kenaikan UKT,” ujarnya. Data BPS ini menunjukkan bahwa pendidikan di Indonesia masih menjadi sesuatu yang mewah dan berdampak pada keberlanjutan sekolah anak. Data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2023 menunjukkan hanya 10,15 % penduduk usia 15 tahun ke atas yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. (Yoga)


Beasiswa Bagi Generasi Muda Sadar Lingkungan

05 Sep 2024

Generasi muda berkesadaran lingkungan dan aktif menciptakan masa depan berkelanjutan makin dibutuhkan dunia kerja. Karena itu, beasiswa pendidikan disediakan untuk menyiapkan generasi muda agar peduli terhadap isu keberlanjutan dan ekonomi hijau. Terkait hal itu, Kedubes Australia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Indonesia meluncurkan Beasiswa LPDP-Australia Awards, yang disediakan bagi 50 orang untuk studi tingkat master di Australia tahun 2025, menyasar program studi yang relevan dengan ekonomi biru, energi hijau/terbarukan, dan teknologi digital/informasi. Pendaftaran dibuka hingga 13 September 2024 melalui https://beasiswalpdp.kemenkeu.go.id.

”LPDP senang dapat bermitra dengan Australia Awards untuk mewujudkan visi para pemimpin kita dalam meningkatkan dan memperluas kesempatan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Australia,” kata Dirut LPDP Andin Hadiyanto di Jakarta, Rabu (4/9). Dubes Australia untuk Indonesia Penny Williams PSM mengutarakan, program beasiswa Australia di Indonesia berlangsung lebih dari 70 tahun. ”Kami bangga bekerja sama dengan LPDP menawarkan lebih banyak peluang bagi pelajar Indonesia mendapat pendidikan Australia berkelas dunia,” tuturnya. Dukungan bagi generasi muda berpola pikir lingkungan (green generation) juga menjadi tema program beasiswa SCG, ”Sharing the Dream”, tahun 2024 untuk 400 siswa sekolah menengah atas (SMA) sederajat dan 10 mahasiswa S-1 di Indonesia. (Yoga)


Pasar Sepi Pengunjung

05 Sep 2024

Suasana sepi dan lengang terlihat di salah satu sudut Pasar Santa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Hari Rabu (4/9/2024). Deflasi 4 bulan terakhir ini ditengarai terjadi karena lemahnya daya beli masyarakat, yang tampak dari sepinya pasar dan pusat perbelanjaan di tanah air. (Yoga)

Kelas Menengah Berburu Diskon, untuk Hadapi Tekanan Ekonomi

05 Sep 2024

Kelas menengah tengah gelisah. Gegabah sedikit soal alokasi belanja, seketika mereka bisa terperosok ke kelas bawah. Apalagi, kondisi ekonomi makro juga sedang lesu. Mereka pun bersiasat jitu agar hidup bisa terus maju. Akhir Juli lalu, Abidzar (27) menemukan lubang di bagian kelingking kaki kanan sepatunya. Karyawan pemasaran mobil ini sadar harus segera menutup lubang itu agar tetap tampil rapi dan profesional demi menarik pembeli. Namun, saat pergi ke tukang reparasi sepatu, ongkos perbaikannya Rp 200.000 atau separuh harga sepatu baru serupa. Menurut dia, lebih baik beli sepatu baru saja. Irina (26), istrinya yang juga karyawan, mengingatkan agar tidak lantas membeli sepatu baru, karena gaji mereka berdua pas-pasan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.

”Ada biaya KPR, makan, listrik, internet, bensin kendaraan, dan pulsa, belum biaya susu dan perlengkapan bayi kami yang baru berusia 1 tahun. Semua harus dihitung betul kalau ada biaya tambahan,” ujar Irina, Selasa (3/9). Irina lalu berselancar di toko daring. Pada 8 Agustus, 2 pekan setelah kejadian itu, ada periode diskon 8.8 di toko daring. Besaran diskonnya beragam, mulai 8 % hingga 50 %. Akhirnya, Irina dan Abidzar menemukan sepatu berwarna coklat gelap merek lokal seharga Rp 400.000. Namun, karena ada periode diskon 8.8, mereka memperoleh diskon 50 % sehingga harga sepatu itu menjadi Rp 200.000, sama dengan biaya reparasi sepatu lamanya. ”Kami menyebutnya ini taktik belanja cerdas,” ujar Irina.

Mengejar potongan harga juga dilakukan Ria (32) dengan belanja bulanan di pasar swalayan di Pondok Aren, Tangsel, yang memberi harga lebih murah 10-30 % disbanding swalayan lainnya. Toko tersebut juga kerap memberi promo beli 1 gratis 1 lagi untuk berbagai produk. Tak heran, hampir setiap hari, apalagi akhir pekan, pasar swalayan itu disesaki konsumen. Saking ramainya, Ria dan Beni, suaminya, kerap kali harus mengantre hingga 30 menit hanya untuk mendapat parkir mobil. Mereka juga harus berebut troli belanja dengan konsumen lainnya. ”Tetapi, saat membaca tulisan ’Anda telah berhemat Rp 100.000 atau Rp 200.000 atau Rp 300.000’ di struk, rasanya senang sekali,” ujar karyawan swasta bidang keuangan itu.

Baik Ria maupun Irina mengatakan, setiap bulan mereka harus bersiasat menganggarkan belanja bulanan. Sebab, kenaikan gaji mereka tak secepat kenaikan harga barang/jasa. Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia Budihardjo Iduansjah mengatakan, kecenderungan konsumen mal saat ini memang menahan belanja, khususnya untuk merek global. Biasanya mereka membeli barang saat diskon. Pasangan Irina-Abidzar dan Ria-Beni adalah gambaran kelas menengah Indonesia yang kini tengah goyah. Kendati keduanya bekerja di sektor formal dan sudah memiliki mobil, mereka harus bersiasat karena pendapatan yang stagnan. (Yoga)


Ketika Tanah 0,75 Meter Persegi Terkena Pembebasan Jalan Tol di DIY

05 Sep 2024

Pembebasan lahan untuk pembangunan jalan tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo di DI Yogyakarta terus bergulir. Dari puluhan bidang tanah, terdapat satu bidang lahan yang dibebaskan dengan luasan hanya 0,75 meter persegi. Hal itu terungkap saat pembayaran ganti rugi lahan untuk proyek Jalan Tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo seksi II dilaksanakan di Kantor Desa Sendangadi, Kabupaten Sleman, DIY, Selasa (3/9). Hari itu, sebanyak 52 bidang tanah menerima pembayaran ganti rugi senilai total Rp 88 miliar. Salah satu bidang tanah yang dibayarkan ganti ruginya adalah tanah warisan orangtua Heru (50) di Dusun Ngemplak, Desa Sendangadi.

Tak seperti pemilik lahan lain yang dibayar ratusan juta rupiah hingga miliaran rupiah, keluarga Heru harus puas dengan nilai ganti rugi terendah, yakni Rp 5,4 juta. Luas lahan yang dibebaskan hanya 0,75 meter persegi. ”Waktu tahu yang kena pembebasan seluas itu, saya juga tertawa. Tidak sampai 1 meter persegi,” ujar Heru di rumahnya di Jombor, Sleman. Secuil tanah yang kena pembebasan proyek tol itu masih berstatus milik orangtuanya yang diwariskan kepada delapan anak, termasuk Heru sebagai anak keenam, dengan total luas tanah 640 meter persegi. ”Waktu mengurus pengukuran tanah untuk pembagian warisan, diblokir BPN karena akan dibebaskan untuk pembangunan tol. Jadi, tanah tidak bisa dibagi dulu,” ujarnya.

Saat mengetahui luasan yang kena pembebasan hanya 0,75 meter persegi, pihak keluarga berniat mengikhlaskan tanah tersebut agar pembagian tanah warisan bisa dilanjutkan. Meskipun begitu, hal itu tak dimungkinkan sehingga pihak keluarga, yang diwakili kakak tertua Heru, mengikuti prosedur ganti rugi tersebut. Tanah yang terkena proyek tol itu hanya terpotong sedikit di bagian pojok karena masuk dalam ruang udara tol layang (elevated) yang akan dibangun melintasi wilayah tersebut. Sebagian konstruksi Tol Solo-Yogyakarta-Kulon Progo di wilayah DIY memang dibangun melayang. Nasib berbeda dialami Maryadi (74) yang menerima ganti rugi terbesar, yakni Rp 4,1 miliar dengan total lahan 565 meter persegi. ”Nilai ganti rugi memuaskan karena di atas harga pasaran di lokasi tersebut, alhamdulillah,” ujar Maryadi. (Yoga)


Ponten Merah Jatuhnya Kelas Menengah

05 Sep 2024
TURUNNYA jumlah masyarakat kelas menengah merupakan alarm bagi Indonesia. Anjloknya jumlah kelompok ini merupakan pertanda sebuah negara makin jauh dari predikat sejahtera. Ciri utama negara modern, demokratis, dan sejahtera adalah tebalnya lapisan kelas menengah. Dengan begitu, kemakmuran tersebar merata. Tapi yang terjadi di Indonesia adalah kebalikannya. Jumlah masyarakat kelas menengah makin susut. Pada 2019, jumlah kelompok ini masih 21,45 persen dari total penduduk Indonesia. Tahun ini, jumlahnya tinggal 17,44 persen atau sekitar 47,85 juta. Mereka turun kelas ke kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class. Kelompok ini berada di antara kelas menengah dan kelas rentan miskin.

Pada 2019, persentase kelompok calon kelas menengah masih 128,85 juta dan pada tahun ini naik jadi 137,5 juta. Pada saat yang bersamaan, kelompok rentan miskin juga terus bertambah, dari 54,97 juta pada 2019 menjadi 67,69 juta pada 2024. Celakanya, angka-angka ini tak pernah mendapat perhatian serius pemerintah. Tiap tahun, pemerintahan Presiden Joko Widodo selalu sesumbar berhasil mengurangi angka kemiskinan. Dari 9,41 persen pada 2019 menjadi 9,36 persen pada 2023—setelah sempat melonjak jadi 10,14 persen pada 2021 gara-gara pandemi. (Yetede)

Proyek Riset Restorasi Mangrove

05 Sep 2024
ANAK kami telah lahir ke dunia.” Tengku Zia Ulqodry berseru seraya menunjukkan kelopak buah kekuningan yang menyembul pada salah satu dahan Kandelia candel di Arena Aksi 3, lahan riset restorasi mangrove seluas 7,7 hektare di Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.  “Walaupun baru satu, ini langka,” kata Tengku Zia, yang juga Kepala Laboratorium Bioekologi Kelautan Universitas Sriwijaya, pada Kamis, 29 Agustus 2024.

Anton, warga Desa Sungsang IV yang menemani Tengku Zia, turut girang. Dua tahun lalu, dia ikut menanam mangrove tersebut sebagai bagian dari Sungsang Mangrove Restoration and Ecotourism (Smart), proyek riset restorasi mangrove yang diinisiasi pada 2021 oleh Center for International Forestry Research (CIFOR) dengan sokongan Temasek Foundation.  “Menanam bibit mangrove bukan perkara mudah,” ujarnya. “Sebelum penanaman di Arena Aksi 3 ini, kami sudah mencoba di area Pasir Timbul, Tanjung Carat. Namun sayangnya gagal.” 

Arena Aksi 3 merupakan satu di antara empat area proyek restorasi mangrove Smart. Total luas keempat area restorasi itu 15,3 hektare, tersebar di pesisir pantai Desa Sungsang IV yang terletak di bibir muara Sungai Musi, sekitar 73 kilometer ke arah utara dari Kota Palembang. Di ujung utara desa tersebut, tepat berhadapan dengan Selat Bangka dan Laut Cina Selatan, terdapat area perlindungan mangrove seluas 553 hektare yang sejak tahun lalu dikelola masyarakat setempat melalui Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD). (Yetede)