Deflasi Beruntun, Sinyal Melemahnya Daya Beli
Deflasi yang terjadi selama empat bulan berturut-turut sejak Mei hingga Agustus 2024 dinilai tidak lumrah mengingat deflasi beruntun yang panjang biasanya terjadi pada masa krisis. Hal itu mengindikasikan daya beli masyarakat merosot dan kondisi ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja. BPS merilis, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2024 mengalami deflasi 0,03 % secara bulanan dan inflasi 2,12 % secara tahunan. Deflasi disumbang komponen bergejolak (volatile food) yang mengalami deflasi 1,24 % secara bulanan. Sementara komponen diatur pemerintah (administered prices) tetap mengalami inflasi 0,23 % dan komponen inti mengalami inflasi 0,20 %. Pada Mei 2024, deflasi tercatat sebesar 0,03 % secara bulanan, deflasi Juni 0,08 %, dan deflasi Juli sebesar 0,18 %.
Penurunan harga barang/jasa dalam satu periode tertentu itu biasanya terjadi karena pasokan barang berlebih hingga menurunkan harga di pasaran atau akibat penurunan permintaan dan daya beli masyarakat sehingga barang di pasaran tidak terserap dan harganya anjlok. Secara historis, BPS mencatat fenomena deflasi secara beruntun biasanya terjadi pada masa krisis, misalnya pada tahun 1999 setelah krisis finansial Asia. Saat itu, Indonesia meng- alami deflasi selama tujuh bulan berturut-turut, yaitu pada Maret-September 1999, yang disebabkan depresiasi nilai tukar dan penurunan harga beberapa barang. Setelah itu, deflasi terjadi pada masa krisis finansial global, pada Desember 2008 sampai Januari 2009, akibat penurunan harga minyak dunia dan permintaan domestik yang melemah.
Berikutnya, deflasi saat pandemi Covid-19, pada Juli-September 2020, disebabkan penurunan daya beli masyarakat. Deflasi yang terjadi tahun ini praktis lebih panjang daripada periode deflasi saat pandemi dan krisis 1998-1999. Menurut BPS, deflasi kali ini dipicu dari sisi pasokan akibat penurunan harga pangan bergejolak, seperti produk tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan. Tapi, sejumlah kalangan menilai, deflasi empat bulan berturut-turut tak hanya disebabkan penurunan harga dan pasokan yang berlebih. Di baliknya ada masalah pelemahan daya beli masyarakat yang makin kentara hingga tercermin pada tingkat deflasi. (Yoga)
Postingan Terkait
Prospek Perbaikan Ekonomi di Paruh Kedua Tahun
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023