Sosial, Budaya, dan Demografi
( 10113 )Sepiring Nasi Goreng Paus Fransiskus
”Paus Fransiskus memilih hanya satu menu, dari tiga yang ditawarkan. Paus tak mau ada sisa. Dan yang dipilih adalah nasi goreng,” kata Irfan Setiaputra, Presdir Garuda Indonesia, dalam penerbangan antara Jakarta-Port Moresby, Papua Niugini, yang membawa Paus Fransiskus, Jumat (6/9). Sebagai seorang Muslim, Irfan, yang turut mendampingi penerbangan GA-7780 ini, mengaku kagum pada kesederhanaan Paus Fransiskus. ”Beliau menyantap seperti yang disajikan kepada yang lain, yang membedakan hanya penataannya,” tambah Irfan. Untuk nasi goreng yang disajikan kepada anggota rombongan yang duduk di kursi kelas ekonomi, tampak menu dilengkapi dengan potongan ayam goreng sambal matah, potongan wortel, dan bayam rebus.
Sebagai pembuka, ada tiga potong buah lokal, yaitu nanas, melon, dan pepaya. Sebagai menu penutup, disajikan sepotong kue cokelat yang manisnya tersamar. Markus Solo Kewuta SVD, yang turut mendampingi Paus Fransiskus, mengatakan, selama berada di Indonesia, Paus Fransiskus tidak memiliki pilihan tersendiri. Ia mengikuti saja apa yang tersaji. ”Namun, Paus Fransiskus menggemari buah-buah lokal, terutama pepaya, nanas, dan melon,” ucap Markus Solo. Kebetulan, dalam menu yang tersaji dalam penerbangan siang itu, ketiga buah tersebut ”hadir” melengkapi santap siang Paus Fransiskus. Nasi gorengnya pun sederhana, dengan rasa yang tidak terlalu tajam, tetapi cukup enak di lidah.
Saat dipadu dengan ayam sambal matah, rasa sedikit tajam menguar di mulut. Meskipun sederhana, menu itu terasa istimewa lantaran berasal dari belanga yang sama, sebagaimana nasi goreng yang tersaji di piring Paus. Nuansa simpel itu, menurut Irfan, sempat ”menyihir” kru pesawat Airbus A330-900 neo milik Garuda Indonesia yang menerbangkan Paus Fransiskus ke Port Moresby. Awalnya, mereka ingin menyambut Paus Fransiskus saat masuk dan menjabat tangannya. Namun, kata Irfan, bukan hanya sapa yang mengalir, air mata pun turut tak terbendung. ”Masing-masing dari kami mendapat bingkisan dari beliau, satu kotak panjang, belum saya buka,” kata Irfan. Dalam penerbangan yang memakan waktu kurang lebih enam jam itu, tampak bahwa kru mendampingi penumpang dengan antusias. (Yoga)
Ekonomi Kebudayaan Masyarakat Sekitar Borobudur
Kebudayaan merupakan harta paling berharga sebuah bangsa. Berbagai upaya ditempuh untuk mengonservasi dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal. Salah satu yang sangat efektif adalah dengan menjadikan budaya sebagai motor utama penggerak perekonomian masyarakat. Berdasar penelitian pengamat pariwisata Universitas Sanata Dharma, Ike Janita Dwi, kegiatan kebudayaan dapat menghasilkan dampak ekonomi tiga kali lipat nilai investasi yang diberikan. Contohnya, kegiatan seni dan budaya di Yogyakarta mampu memberi manfaat ekonomi Rp 160 miliar. Padahal, penyelenggaraannya hanya Rp 457 juta. Temuan itu menjadi petunjuk betapa besar potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari sektor kebudayaan. Ketika kebudayaan telah menjadi sumber mata pencarian, masyarakat dapat lebih terdorong untuk menggali, merawat, dan mengembangkan sistem budaya yang mereka miliki.
Arus timbal balik antara konservasi budaya dan perputaran roda ekonomi masyarakat dapat dijumpai di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jateng. Pembangunan pariwisata di sekitar situs warisan dunia ini semakin pesat ketika Presiden Jokowi menetapkan kawasan Candi Borobudur sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Prioritas sejak tahun 2016. Berdasar data BPS, pada 2023 Candi Borobudur dikunjungi 1.474.279 wisatawan, 86,9 % (1.281.226 orang) adalah wisatawan domestik, sedang 13,1 % (193.053 orang) adalah pelancong dari luar negeri. Arus kedatangan wisatawan sebesar ini jelas jadi bahan bakar penggerak motor perekonomian masyarakat sekitar. Namun, sebagian masyarakat Kecamatan Borobudur belum merasakan meratanya manfaat ekonomi dari pariwisata Candi Borobudur, karena hampir seluruh perputaran uang pariwisata terpusat dalam kawasan candi saja. Menyadari hal ini, sejumlah tokoh masyarakat mengambil inisiatif untuk membawa nikmat pariwisata ke dalam desa mereka.
Supoyo (53), perajin gerabah tanah liat di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, 3 km sebelah barat Candi Borobudur. Sejak 2004, ia meneruskan warisan kerajinan gerabah leluhurnya yang telah diturunkan hingga 10 generasi. Ia mengubah rumahnya menjadi sanggar kerajinan gerabah, di mana pengunjung yang berminat dapat belajar pembuatan gerabah. Perlahan tetapi pasti, Dusun Klipoh mulai masuk ke dalam radar wisatawan dan kerap menjadi tujuan wisatawan dari sejumlah daerah dan negara. Perlahan tetapi pasti, masyarakat desa di sekitar Borobudur terdorong untuk mengenali dan merawat potensi kebudayaan di kampung halaman mereka. Salah Muhammad Jafar (29) atau Jepe, pemuda Dusun Klipoh, bersama fasilitator dari Eksotika Desa dan sejumlah pemuda desa mengulik lebih mendalam keunikan dan kekhasan potensi budaya di desa mereka, lalu membuat sanggar seni tari Lemah Urip.
Mereka mengembangkan koreografi tari tradisional yang menceritakan tahapan pembuatan gerabah hingga legenda Nyai Kalipah yang disebut sebagai asal muasal Dusun Klipoh. Minat, semangat, dan pengetahuan terhadap budaya asli kampong mereka inilah yang menjadi modal dasar bagi Jepe dan pemuda desa menawarkan jasa eduwisata kerajinan gerabah di Dusun Klipoh di bawah bendera Lemah Lurip. ”Kami pernah melayani 2.000 pengunjung seminggu. Estimasi pendapatannya Rp 100 juta per bulan di masa ramai,” kata Jepe. Model eduwisata berbasis kebudayaan yang diusung Lemah Urip tidak meninggalkan nilai-nilai budaya kolektif dan gotong royong. Ketika datang rombongan wisatawan dalam jumlah besar, Lemah Urip akan melibatkan warga desa yang lain, mulai dari instruktur praktik membuat gerabah, pemandu wisata, penyedia konsumsi, penari, hingga kebersihan dan perlengkapan. (Yoga)
Beroperasinya Rumah Sakit Terbesar di Kawasan Timur Indonesia
Presiden Jokowi meresmikan RS Kemenkes Makassar di Kota Makassar, Sulsel, Jumat (6/9). Keberadaan RS terbesar di kawasan timur Indonesia itu diharapkan bisa mengurangi pasien yang selama ini berobat ke luar negeri. RS Kemenkes Makassar terletak di kawasan Center Point of Indonesia, seluas 6 hektar, meliputi empat gedung dengan 12 lantai dan 920 tempat tidur, pembangunan RS ini menelan biaya Rp 1,56 triliun, belum termasuk pengadaan peralatan kesehatan modern yang telah menghabiskan anggaran Rp 360 miliar dari Rp 520 miliar yang disiapkan. ”Sampai hari ini saya sudah resmikan delapan RS besar. Yang terbesar adalah yang di Makassar, terdiri dari empat tower dan 12 lantai. RS memang seharusnya seperti ini, seperti hotel berbintang, bersih, dan terang benderang. Peralatannya semua supercanggih, ruang operasi supermodern berbasis digital,” kata Presiden Jokowi.
Dengan adanya RS yang canggih dan lengkap ini, Jokowi berharap warga memilih berobat ke Makassar ketimbang ke luar negeri. Berdasar data yang diperolehnya, setiap tahun negara kehilangan potensi penerimaan Rp 180 triliun karena warganya berobat ke luar negeri. ”Ini bisa dicegah dengan RS besar dan lengkap seperti ini,” katanya. Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan, RS Kemenkes Makassar menjadi superhub untuk penyakit kanker, jantung, dan stroke. Ini bisa menampung pasien dengan tingkat keparahan cukup tinggi dari daerah Maluku, Papua, dan Kalimantan. ”Kita ada RS Kemenkes di Maluku, Papua, dan Kalimantan. Namun, untuk yang perawatannya membutuhkan tenaga dokter yang mumpuni dan fasilitas yang lengkap, bisa dikirim ke sini sehingga tak lagi harus ke Jawa,” katanya. (Yoga)
Vera Nofita, Menukar Emas dengan Sampah
Vera Nofita (48) mengelola Bank Sampah Gunung Emas karena ingin hidupnya berguna bagi orang lain. Konsistensinya membuat ibu-ibu anggota bank sampah sukses mengonversi sampah menjadi 1,8 kg emas dalam tiga tahun. Sepuluh tahun lalu, ibu dua anak itu bekerja sebagai penyiar radio di Bekasi, Jabar. Dalam wawancara dengan AB Susanto, begawan konsultan bisnis keluarga. AB Susanto berujar yang mengenai relung hatinya, ”Kita harus melakukan sesuatu yang punya dampak kepada orang lain. Mereka tahu kita dan paling tidak, ketika kita tidak ada di dunia (meninggal), mereka akan berpikir dan berdoa untuk kita,” tutur Vera mengulang perkataan AB Susanto kepadanya, Kamis (22/8). Semula, ia menginisiasi tabungan khusus ibu rumah tangga di Kampung Pulo Kambing, Jatinegara, Jaktim, pada 2013.
Tetangganya, para ibu rumah tangga kelas menengah ke bawah, diajak menabung Rp 500 hingga Rp 2.000 dari uang sisa pemberian suami, untuk keperluan mendadak di waktu yang akan datang. ”Intinya mengajak ibu-ibu supaya punya tabungan untuk masa depan. Mereka tabung sedikit demi sedikit sehingga bermanfaat nantinya,” ujarnya. Seiring waktu datang seorang ibu yang ingin punya tabungan. Namun, tak punya sisa uang karena pemberian suaminya hanya Rp 50.000. Ia menyarankan tukar sampah jadi uang. Saran ini menjadi pembuka jalan terbentuknya Bank Sampah Gunung Emas pada 2014. Vera lantas mempelajari apa itu bank sampai dan bagaimana manajemennya dari kenalan di LBH APIK, APK Foundation. Setahun pertama terlewati berkat kegigihan Vera dan konsistensi ibu-ibu memilah sampah.
Dengan tekad bulat, dia menyurati PT Antam Tbk, meminta dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk program Nyimas atau Nyimpan Sampah Jadi Emas. Dalam tiga tahun, dari 2015 sampai 2018, mereka sukses mengonversi sampah jadi 1,8 kg emas. Program Nyimas mengantar Vera meraih penghargaan Kalpataru kategori perintis lingkungan tingkat Provinsi DKI Jakarta tahun 2017. ”Setelah CSR selesai, Nyimas tidak sekencang dulu karena biaya mengenalkan program ini mahal. Kami harus punya modal untuk membeli emas dalam jumlah tertentu,” ucapnya. Vera tidak patah semangat. Pengelola bank sampah mesti mandiri dan konsisten menjalankan tukar sampah menjadi uang, menguatkan relasi ataupun inovasi.
Bank Sampah Gunung Emas bertahan dari hantaman pandemi Covid-19. Padahal, saat itu, ia dan teman-teman hanya menawarkan kelas hidroponik dengan tarif Rp 10.000 per orang sebagai ganti terbatasnya tukar sampah. ”Siapa sangka kelas ini laris manis. Pembelinya sampai 60.000 orang,” tuturnya. Alhasil, pada 2023, KLHK mengganjarnya sebagai satu dari 10 bank sampah dengan kinerja terbaik. Pada tahun yang sama, PT Pegadaian (Persero) memberi penghargaan kepada Vera dan teman-teman sebagai satu dari 10 pengelola bank sampah binaan baru terbaik nasional dalam program Clean & Gold Movement, bagian dari The Gade Clean & Gold atau menukar sampah jadi tabungan emas sesuai harga setiap hari. Kini, sudah 120 warga yang membuka tabungan emas melalui Bank Sampah Gunung Emas. Bank sampah itu juga bisa menyewa bangunan seluas 100 meter persegi di Pulogadung dengan biaya Rp 45 juta per tahun berikut satu pikap dan motor pengangkut sampah untuk operasional. (Yoga)
Subsidi Energi Yang Sesuai Mekanisme
Pemerintah dan badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (Banggar DPR) berencana memenangkan anggaran subsidi energi dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2025 sebesar Rp1,1 triliun, menjadi Rp203,4 triliun. Penyusuran subsidi energi tahun mendatang tersebut diyakini akan lebih tepat sasaran dan berkeadilan, dengan menggunakan mekanisme yang sesuai. Salah satu mekanisme yang tengah disiapkan untuk penyaluran BBM adalah melalui pembatasan yang hingga saat ini dalam proses penggodokan. Anggaran subsidi energi tersebut terdiri dari subsidi jenis bahan bakar tertentu sebesar Rp26,7 triliun atau tetap, subsidi LPG 3 kg Rp 87 triliun, turun dari Rp90,2 triliun. Namun, pemerintah menyatakan penurunan alokasi untuk subsidi BBM disebabkan oleh perubahan asumsi nilai tukar rupiah dalam RAPBN 2025 dari Rp 16.100 ke Rp16 ribu per dolar AS. “Dari pada menaikkan harga, dampaknya akan lebih besar. Maka yang harus ditempuh adalah pembatasan, hingga subsidi benar-benar tepat sasaran. Yang behak mendapatkan subsidi akan tetap memperoleh subsidi,” kata Pengamat Ekonomi dari UGM. (Yetede)
KPK Akan Konsisten Menindak Calon Kepala Daerah
KOMISI Pemberantasan Korupsi berjanji akan konsisten menindak calon kepala daerah yang penanganan kasusnya ditunda sementara selama pergelaran pemilihan kepala daerah 2024. Wakil Ketua KPK Alexander Marwata menyatakan penundaan itu dilakukan tanpa adanya tekanan. “Apakah proses hukumnya akan dihentikan? Saya pastikan tidak mungkin kami hentikan,” katanya saat ditemui Tempo di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jumat, 6 September 2024.
Alex—begitu Alexander Marwata disapa—menyatakan pihaknya telah merancang langkah kalaupun calon kepala daerah yang bermasalah itu terpilih. Menurut Alex, KPK nantinya mengirimkan surat kepada Komisi Pemilihan Umum untuk mempertimbangkan agar si calon kepala daerah itu tidak dilantik. “Untuk penyidikan-penyidikan yang sedang berjalan, yang diduga kuat cukup buktinya, kami sampaikan ke KPU dan KPU daerah,” ujarnya.
Dalam kesempatan berbeda, juru bicara KPK Tessa Mahardhika Sugiarto menyatakan penundaan proses hukum terhadap para calon kepala daerah itu akan berjalan lebih-kurang tiga bulan, dari September hingga pencoblosan pada November mendatang. Tessa menyebutkan sikap KPK ini tidak berubah dibanding saat kontestasi pemilihan presiden 2024. (Yetede)
Survei PPIM UIN Hanya 20,09% Muslim Yang Memahami Transisi Energi
PEMERINTAH Indonesia menjadikan transisi energi terbarukan sebagai salah satu prioritas pembangunan hingga 2029. Dari sektor energi hingga transportasi akan mendapat percepatan. Terdengar menakjubkan. Tapi apakah hal tersebut realistis? Dalam beberapa catatan, upaya transisi energi ternyata masih menunjukkan pelbagai kendala. Selain masih banyak inkonsistensi dari pemerintah, masyarakat belum begitu memahami apa itu transisi energi.
Survei kami bersama tim Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta memperlihatkan hanya 20,09 persen muslim Indonesia tahu tentang istilah tersebut. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, penting bagi pemerintah untuk mendudukkan segala kebijakan yang selaras dengan alam pikir masyarakat beragama, terutama kebijakan transisi energi yang membutuhkan pelibatan masyarakat. Keselarasan penting agar transisi energi Indonesia mendapat dukungan dan partisipasi yang masif dari masyarakat.
Kami mensurvei 3.045 responden muslim berusia 15 tahun ke atas dari semua provinsi di Indonesia seputar pemahaman mereka terhadap isu lingkungan dan perilaku ramah lingkungan, termasuk transisi energi. Survei ini memiliki margin kesalahan 2-4 persen, dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Melalui survei ini, kami menemukan bahwa pengetahuan masyarakat tentang transisi energi ternyata tidak menjamin pemahaman yang benar perihal konsep tersebut. Mereka yang menjawab, “Ya, tahu transisi energi”, ternyata tidak sepenuhnya memahami konsep transisi energi. (Yetede)
Rapat Dadakan BKN Tersebab CPNS
KPK Menunda Proses Hukum Calon Kepala Daerah
Khotbah Paus Fransiskus : Jangan Lelah Bermimpi
Misa kudus di kompleks Gelora Bung Karno yang dihadiri 86.000 umat Katolik, Kamis (5/9) menjadi puncak kunjungan Paus Fransiskus di Tanah Air. Selain berpakaian adat, sejumlah petugas misa juga penyandang disabilitas. ”Saya berkata kepada Anda, kepada bangsa ini, kepada Nusantara yang mengagumkan dan beraneka ragam ini: jangan lelah berlayar dan menebarkan jalamu, jangan lelah bermimpi dan membangun lagi sebuah peradaban perdamaian! Beranilah selalu untuk memimpikan persaudaraan!” kata Paus dalam khotbahnya yang disampaikan dalam bahasa Italia. Paus tiba di kompleks GBK untuk memimpin misa, pukul 16.00 WIB. Presiden Jokowi turut menyambut kedatangan Paus. Dengan naik Maung MV3 Pope Mobile berwarna putih dan didampingi Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, Paus lalu menuju Stadion Madya GBK untuk menyapa umat yang hadir.
Pada pukul 16.20 WIB, Paus keluar dari Stadion Madya menuju Stadion Utama GBK. Kedatangan Paus di Stadion Utama GBK disambut tepuk tangan umat yang kemudian menyanyikan lagu ”Viva Il Papa, Viva Papa Francesco”. Dalam misa ini, bacaan pertama dibaca oleh Benediktus Dustin. Dengan teks huruf braille, ia membacakan Injil dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus. Saat pembacaan doa umat, sejumlah orang berpakaian adat naik ke panggung, dari pakaian adat Papua hingga Jawa, bergantian memanjatkan doa dengan bahasa daerah masing-masing, antara lain, bahasa Jawa, Toraja, Manggarai (NTT), Batak Toba, Dayak Kanayatn, dan Malind (Merauke, Papua).
Doa dipanjatkan, untuk para pemimpin negeri supaya dalam pengambilan keputusan dapat senantiasa memperjuangkan kebaikan, keadilan, dan kedamaian bangsa. Ada pula doa untuk mereka yang sedang sakit, terkena bencana, dan lanjut usia agar penderitaan mereka bisa diringankan. Paus Fransiskus, dalam khotbahnya, menyampaikan, kita kadang merasa tak mampu, merasakan beratnya komitmen yang begitu besar. Manusia kadang merasa tak selalu mendapat hasil yang diharapkan. Meski demikian, Paus mengajak semua orang untuk tidak menjadi tawanan kegagalan. ”Kita perlu yakin dan percaya pada Tuhan dan penyelenggaraan-Nya,” ujar Paus. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









