Vera Nofita, Menukar Emas dengan Sampah
Vera Nofita (48) mengelola Bank Sampah Gunung Emas karena ingin hidupnya berguna bagi orang lain. Konsistensinya membuat ibu-ibu anggota bank sampah sukses mengonversi sampah menjadi 1,8 kg emas dalam tiga tahun. Sepuluh tahun lalu, ibu dua anak itu bekerja sebagai penyiar radio di Bekasi, Jabar. Dalam wawancara dengan AB Susanto, begawan konsultan bisnis keluarga. AB Susanto berujar yang mengenai relung hatinya, ”Kita harus melakukan sesuatu yang punya dampak kepada orang lain. Mereka tahu kita dan paling tidak, ketika kita tidak ada di dunia (meninggal), mereka akan berpikir dan berdoa untuk kita,” tutur Vera mengulang perkataan AB Susanto kepadanya, Kamis (22/8). Semula, ia menginisiasi tabungan khusus ibu rumah tangga di Kampung Pulo Kambing, Jatinegara, Jaktim, pada 2013.
Tetangganya, para ibu rumah tangga kelas menengah ke bawah, diajak menabung Rp 500 hingga Rp 2.000 dari uang sisa pemberian suami, untuk keperluan mendadak di waktu yang akan datang. ”Intinya mengajak ibu-ibu supaya punya tabungan untuk masa depan. Mereka tabung sedikit demi sedikit sehingga bermanfaat nantinya,” ujarnya. Seiring waktu datang seorang ibu yang ingin punya tabungan. Namun, tak punya sisa uang karena pemberian suaminya hanya Rp 50.000. Ia menyarankan tukar sampah jadi uang. Saran ini menjadi pembuka jalan terbentuknya Bank Sampah Gunung Emas pada 2014. Vera lantas mempelajari apa itu bank sampai dan bagaimana manajemennya dari kenalan di LBH APIK, APK Foundation. Setahun pertama terlewati berkat kegigihan Vera dan konsistensi ibu-ibu memilah sampah.
Dengan tekad bulat, dia menyurati PT Antam Tbk, meminta dukungan dana tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) untuk program Nyimas atau Nyimpan Sampah Jadi Emas. Dalam tiga tahun, dari 2015 sampai 2018, mereka sukses mengonversi sampah jadi 1,8 kg emas. Program Nyimas mengantar Vera meraih penghargaan Kalpataru kategori perintis lingkungan tingkat Provinsi DKI Jakarta tahun 2017. ”Setelah CSR selesai, Nyimas tidak sekencang dulu karena biaya mengenalkan program ini mahal. Kami harus punya modal untuk membeli emas dalam jumlah tertentu,” ucapnya. Vera tidak patah semangat. Pengelola bank sampah mesti mandiri dan konsisten menjalankan tukar sampah menjadi uang, menguatkan relasi ataupun inovasi.
Bank Sampah Gunung Emas bertahan dari hantaman pandemi Covid-19. Padahal, saat itu, ia dan teman-teman hanya menawarkan kelas hidroponik dengan tarif Rp 10.000 per orang sebagai ganti terbatasnya tukar sampah. ”Siapa sangka kelas ini laris manis. Pembelinya sampai 60.000 orang,” tuturnya. Alhasil, pada 2023, KLHK mengganjarnya sebagai satu dari 10 bank sampah dengan kinerja terbaik. Pada tahun yang sama, PT Pegadaian (Persero) memberi penghargaan kepada Vera dan teman-teman sebagai satu dari 10 pengelola bank sampah binaan baru terbaik nasional dalam program Clean & Gold Movement, bagian dari The Gade Clean & Gold atau menukar sampah jadi tabungan emas sesuai harga setiap hari. Kini, sudah 120 warga yang membuka tabungan emas melalui Bank Sampah Gunung Emas. Bank sampah itu juga bisa menyewa bangunan seluas 100 meter persegi di Pulogadung dengan biaya Rp 45 juta per tahun berikut satu pikap dan motor pengangkut sampah untuk operasional. (Yoga)
Postingan Terkait
Regulasi Perumahan perlu direformasi
Geopolitik Memanas, Bisnis Bank Emas Mengkilap
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023