Ekonomi Kebudayaan Masyarakat Sekitar Borobudur
Kebudayaan merupakan harta paling berharga sebuah bangsa. Berbagai upaya ditempuh untuk mengonservasi dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal. Salah satu yang sangat efektif adalah dengan menjadikan budaya sebagai motor utama penggerak perekonomian masyarakat. Berdasar penelitian pengamat pariwisata Universitas Sanata Dharma, Ike Janita Dwi, kegiatan kebudayaan dapat menghasilkan dampak ekonomi tiga kali lipat nilai investasi yang diberikan. Contohnya, kegiatan seni dan budaya di Yogyakarta mampu memberi manfaat ekonomi Rp 160 miliar. Padahal, penyelenggaraannya hanya Rp 457 juta. Temuan itu menjadi petunjuk betapa besar potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari sektor kebudayaan. Ketika kebudayaan telah menjadi sumber mata pencarian, masyarakat dapat lebih terdorong untuk menggali, merawat, dan mengembangkan sistem budaya yang mereka miliki.
Arus timbal balik antara konservasi budaya dan perputaran roda ekonomi masyarakat dapat dijumpai di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jateng. Pembangunan pariwisata di sekitar situs warisan dunia ini semakin pesat ketika Presiden Jokowi menetapkan kawasan Candi Borobudur sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Prioritas sejak tahun 2016. Berdasar data BPS, pada 2023 Candi Borobudur dikunjungi 1.474.279 wisatawan, 86,9 % (1.281.226 orang) adalah wisatawan domestik, sedang 13,1 % (193.053 orang) adalah pelancong dari luar negeri. Arus kedatangan wisatawan sebesar ini jelas jadi bahan bakar penggerak motor perekonomian masyarakat sekitar. Namun, sebagian masyarakat Kecamatan Borobudur belum merasakan meratanya manfaat ekonomi dari pariwisata Candi Borobudur, karena hampir seluruh perputaran uang pariwisata terpusat dalam kawasan candi saja. Menyadari hal ini, sejumlah tokoh masyarakat mengambil inisiatif untuk membawa nikmat pariwisata ke dalam desa mereka.
Supoyo (53), perajin gerabah tanah liat di Dusun Klipoh, Desa Karanganyar, 3 km sebelah barat Candi Borobudur. Sejak 2004, ia meneruskan warisan kerajinan gerabah leluhurnya yang telah diturunkan hingga 10 generasi. Ia mengubah rumahnya menjadi sanggar kerajinan gerabah, di mana pengunjung yang berminat dapat belajar pembuatan gerabah. Perlahan tetapi pasti, Dusun Klipoh mulai masuk ke dalam radar wisatawan dan kerap menjadi tujuan wisatawan dari sejumlah daerah dan negara. Perlahan tetapi pasti, masyarakat desa di sekitar Borobudur terdorong untuk mengenali dan merawat potensi kebudayaan di kampung halaman mereka. Salah Muhammad Jafar (29) atau Jepe, pemuda Dusun Klipoh, bersama fasilitator dari Eksotika Desa dan sejumlah pemuda desa mengulik lebih mendalam keunikan dan kekhasan potensi budaya di desa mereka, lalu membuat sanggar seni tari Lemah Urip.
Mereka mengembangkan koreografi tari tradisional yang menceritakan tahapan pembuatan gerabah hingga legenda Nyai Kalipah yang disebut sebagai asal muasal Dusun Klipoh. Minat, semangat, dan pengetahuan terhadap budaya asli kampong mereka inilah yang menjadi modal dasar bagi Jepe dan pemuda desa menawarkan jasa eduwisata kerajinan gerabah di Dusun Klipoh di bawah bendera Lemah Lurip. ”Kami pernah melayani 2.000 pengunjung seminggu. Estimasi pendapatannya Rp 100 juta per bulan di masa ramai,” kata Jepe. Model eduwisata berbasis kebudayaan yang diusung Lemah Urip tidak meninggalkan nilai-nilai budaya kolektif dan gotong royong. Ketika datang rombongan wisatawan dalam jumlah besar, Lemah Urip akan melibatkan warga desa yang lain, mulai dari instruktur praktik membuat gerabah, pemandu wisata, penyedia konsumsi, penari, hingga kebersihan dan perlengkapan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023