Ekonomi
( 40789 )TRANSPORTASI MASSAL : ASA BUS LISTRIK SARBAGITA
Ambisi Pemerintah Provinsi Bali untuk memanfaatkan bus listrik sebagai moda transportasi massal dipandang bakal memberikan dampak positif untuk mengurai kemacetan, terutama di wilayah selatan provinsi ini. Apalagi, strategi ini telah mampu mengundang minat investor untuk mendukung aksi tersebut.
Apalagi, minat masyarakat Bali baik penduduk setempat maupun wisatawan dalam memanfaatkan kendaraan jenis bus beberapa tahun terakhir terus menunjukkan peningkatan yang cukup baik.Hal ini ditandai dengan jumlah bus yang ada di Bali meningkat hingga dua digit sepanjang tahun lalu. Lompatannya bahkan jauh melebihi jenis kendaraan lainnya yang hanya berkisar 5%. Tak ayal, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali bersama sejumlah pihak kini telah memulai proses studi kelayakan (feasibility study/FS) untuk pembangunan bus listrik terpadu atau electric bus rapid trans (EBRT) dan electric vehicle charging point (EVCP) yang bakal dihadadirkan di kawasan Denpasar, Badung, Giayar, dan Tabanan (Sarbagita).Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) Ervan Maksum menjelaskan bahwa pembangunan transportasi massal berbasis listrik di Bali dinilai sudah mendesak.
“Bayangkan 4,4 juta unit sepeda motor, jika satu sepeda motor disubsidi Rp6.000, maka setahun pemerintah mengeluarkan Rp10 triliun untuk subsidi bahan bakar minyak di Bali saja,” jelasnya, Rabu (18/10).
Kepala Dinas Perhubungan Bali IGW Samsi menjelaskan bahwa LRT dan EBRT akan terintegrasi di sentral parkir Kuta dan sejumlah titik di kawasan pariwisata di Seminyak dan Canggu.
“Dengan konsep transportasi terintegrasi antara LRT dan EBRT, kami yakin masyarakat akan mau beralih ke transportasi massal, karena memang sudah sangat mendesak. Bali tidak selamanya bisa membangun jalan raya,” jelasnya. Penjabat (Pj) Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya menilai bahwa proyek EBRT dan LRT itu menjadi solusi untuk mengatasi kemacetan di Pulau Bali.
Direktur Eksekutif MCA Indonesia Maurin Sitorus menjelaskan bahwa pelaksana studi kelayakan di lapangan adalah Pricewaterhousecoopers (PWC) dan KIAT.
Di sisi lain, Bisnis mencatat bahwa Millenium Challenge Corporation (MCC) Amerika Serikat melalui MCA Indonesia telah mendanai empat proyek transportasi, dan satu proyek pasar di Indonesia.MCC merupakan sebuah program hibah dari Pemerintah Amerika Serikat ke berbagai negara yang bertujuan mengentaskan kemiskinan dengan memacu pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Depresiasi Rupiah Senggol Manufaktur
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD mengakibatkan
sejumlah sektor industri manufaktur, seperti industri makanan-minuman serta
industri tekstil dan produksi tekstil dalam negeri, terdampak. Pelemahan kurs juga
berpotensi memangkas daya beli dan permintaan masyarakat. Nilai tukar rupiah
saat ini tengah melemah atau terdepresiasi akibat ketidakpastian pasar keuangan
global. Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) pada Selasa (17/10)
malam, kurs rupiah berada di level Rp 15.718 atau melemah 1,49 % dibandingkan akhir
September 2023. Secara kalender berjalan, nilai tukar rupiah juga tercatat
melemah 0,80 % dibandingkan akhir Desember 2022.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh
Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman di Jakarta, Selasa (17/10) mengatakan, dampak
depresiasi rupiah dirasakan oleh para pelaku industri makanan-minuman di Tanah
Air. Sebab, sebagian besar kebutuhan produksi industri makanan-minuman, seperti
bahan baku dan barang modal, masih impor. ”Di samping bahan baku dan barang
modal, ada juga biaya lain, seperti logistik dan kapal. Semua itu, kan, dalam
bentuk USD sehingga menyebabkan terjadinya kenaikan, baik di sisi produksi, harga
pokok produksi, maupun dalam biaya logistik dan distribusinya,” kata Adhi. (Yoga)
Adhi Karya Bangun Pabrik Pupuk
Obligasi Sosial Pertama Segera Terbit
Perbankan Optimistis Kredit Terus Tumbuh
Industri perbankan optimistis dapat membukukan pertumbuhan penyaluran
kredit yang positif sampai akhir 2023. Penyaluran kredit selama dua bulan terakhir
diharapkan menjadi tren positif bagi industri perbankan sehingga target
pertumbuhan kredit hingga dua digit pada tahun ini akan tercapai. Menjawab
pertanyaan harian Kompas, Sekretaris Perusahaan PT BNI (Persero) Tbk, Okki
Rushartomo, secara tertulis, Selasa (17/10) mengatakan,BNI optimistis penyaluran
kredit pada 2023 tumbuh. Strategi untuk mengoptimalkannya dengan menyasar korporasi
yang memiliki kapitalisasi pasar besar (blue chip) dan unggulan domestik (regional
champion). Strategi lainnya adalah mengoptimalkan produk melalui rantai pasok
dan rantai nilai serta mengekspansi sektor yang prospektif.
Hal ini mengingat adanya tren positif pada semester II-2023,
seperti peningkatan belanja masyarakat dan pemerintah. Kedua tren positif tersebut
akan memberi efek berganda positif bagi perekonomian nasional, termasuk segmen
korporasi dan komersial. ”Per Agustus 2023, kami mencatatkan pertumbuhan kredit
8,8 % secara tahunan. Kami juga optimistis kredit dapat bertumbuh sesuai dengan
target pertumbuhan kredit perseroan sebesar 7 % hingga 9 % pada akhir 2023,”
katanya. Okki menambahkan, pihaknya tetap disiplin menumbuhkan current account
saving account (CASA) sebagai basis likuiditas utama sehingga total biaya bunga
yang dikeluarkan oleh bank dapat terjaga efisien. (Yoga)
OJK Adakan Bulan Inklusi Keuangan
Pemilu Dongkrak Ekonomi
Presiden Jokowi Bertemu Presiden Putin di China
Mitigasi Dampak Global dengan Hilirisasi dan Diversifikasi Mitra Dagang
Rupiah Melemah, Harga Mobil Berpotensi Naik
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









