Ekonomi
( 40789 )Tingkatkan Hilirisasi untuk Maksimalkan Potensi FDI
JAKARTA,ID- Indonesia perlu terus fokus meningkatkan hilirisasi sektor industri. Hal ini untuk memaksimalkan potensi foreign direct investment (investasi asing langsung/FDI) yang dimiliki berupa keragaman dan sumber daya alam yang melimpah. Hal ini berkaitan dengan kunjungan kerja Presiden Jokowi ke China untuk menghadiri Belt and Road International Cooperation ke-3, serta ke Riyadh, Arab Saudi, untuk melakukan pertemuan dengan Putera Mahkota Arab Saudi dan memimpin KTT pertama Asean-Gulf Cooperation Organization (GCC) mampu menggali potensi FDI. Selain itu, Presiden Jokowi juga memimpin KTT ke-1 Asean-GCC (Gulf Cooperation Council) terlebih dahulu sebelum kembali ke Indonesia pada 21 Oktober 2023. "Pemerintah Indonesia harus terus berfokus pada hilirisasi sektor industri untuk komoditas-komoditas seperti nikel, tembaga, dan timah, sektor kesehatan, sektor ketahanan pangan, dan pembangunan IKN," jelas Pakar Hukum Bisnis dan Perdagangan Internasional Ariawan Gunadi. (Yetede)
Waspada Kredit Macet Memburuk
Prajogo Pangestu, Taipan Paling Tajir di Bursa
Transaksi Berjalan Terancam Defisit Lagi
Jelang Tutup Tahun, Emiten Rajin Akuisisi
Daya Beli Loyo Menjadi Tantangan
Jelang Rilis Kinerja, Saham Bank Besar Terkoreksi
GGRP Berharap Penjualan Baja Naik
MESIN AKSELERASI EKONOMI RI
Indonesia memiliki fondasi kuat untuk menopang laju ekonomi tetap di jalur ekspansi. Ada sejumlah indikator menguatkan optimisme tersebut, mulai dari infl asi yang kian terkendali hingga manufaktur yang terus menggeliat.Seluruh komponen pembentuk produk domestik bruto (PDB) pun mendapatkan sentimen positif, baik konsumsi, investasi, hingga ekspor. Kemitraan investasi hingga perluasan akses dagang pun terus dipacu.Termutakhir, Indonesia meneken 10 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan China, mencakup beberapa sektor ekonomi strategis yakni investasi, perdagangan, kesehatan, hingga pembangunan.Dus, MoU yang ditandatangani Presiden Joko Widodo dan Presiden China Xi Jinping itu memberi angin segar, mengingat Negeri Panda merupakan mitra strategis perdagangan dan investasi.Masih soal investasi, Indonesia Investment Forum (IIF) 2023 yang digelar di London, Inggris berhasil mengamankan 20 investor untuk masuk ke 13 proyek investasi di sektor energi, industri, kendaraan listrik, pariwisata, infrastruktur, transportasi, pertambangan, dan digitalisasi.Adapun, nilai proyek yang ditawarkan dalam agenda tersebut mencapai US$276 juta untuk industri kendaraan listrik dan US$1,7 miliar di sektor pariwisata. Hal ini pun menambah tabungan investasi yang sebelumnya diperoleh dalam Forum Bisnis Indonesia-China. (Bisnis, 18/10).
Belum lagi manuver anyar Kepala Negara yang menerbitkan Perpres No. 70/2023 tentang Pengalokasian Lahan Bagi Penataan Investasi. Beleid yang ditetapkan 16 Oktober 2023 itu menguatkan kepastian kemudahan berusaha yang selama ini acap kali terhambat persoalan lahan.Selain itu, ekspektasi kalangan ekonom yang memprediksi Bank Indonesia (BI) mempertahankan level suku bunga acuan 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, memberikan napas tambahan untuk mengakselerasi konsumsi dan investasi.
Dalam kesempatan terpisah, Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, mengatakan di tengah ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global, Indonesia masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 5,31% pada kuartal II/2023 serta menahan laju infl asi di bawah 3%.
Sementara itu, kemitraan dengan China dalam konteks ekspor akan melanjutkan tren positif kinerja dagang. Didukung dengan kebijakan suku bunga yang ramah usaha, peluang bagi pebisnis untuk ekspansi amat terbuka.Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Krishna Srinivasan menuturkan bahwa BI sejauh ini telah proaktif dalam menghadapi inflasi sehingga fondasi makroekonomi Indonesia cukup baik.
Kepala Ekonom Bank BCA David Sumual, menambahkan Perpres No. 70/2023 menjadi pengiring dari masuknya komitmen investasi dari China dan negara lain baru-baru ini.
INDUSTRI PROPERTI : Pesona Jakarta Tetap Menggoda
Sektor properti Jakarta diproyeksi tidak akan terpengaruh dengan pemindahan Ibu Kota Negara ke Nusantara di Kalimantan Timur. Jakarta tetap akan menjadi wilayah yang menarik untuk sektor real estat dengan statusnya sebagai salah satu kota besar di Indonesia. Head of Research Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia, Yunus Karim menjelaskan, prospek pasar properti di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) bakal tetap stabil. Alasannya, Jakarta tetap akan menjadi pusat ekonomi Indonesia.
Di samping itu, Yunus menambahkan optimisme terhadap pasar properti di Jakarta disandarkan kepada asumsi besarnya segi bisnis yang terkonsentrasi di wilayah Jakarta dan sejumlah daerah penyokongnya.Dia menyebut, 304 hari menjelang upaya pemindahan Ibu Kota ke Nusantara, prospek pasar properti di Jakarta tetap menunjukkan geliat positif. Adapun, tingkat hunian sektor perkantoran, khususnya di wilayah Jakarta tercatat duduk stabil di level 70% sepanjang kuartal III/2023.
Sektor lain yang juga terus mendominasi permintaan di kuartal ini, yaitu fast fashion, beauty, dan juga fasilitas hiburan. Selain itu, peritel mancanegara baru juga terlihat membuka gerai pertama mereka di beberapa pusat perbelanjaan.Kemudian dari sisi industri dan logistik, tingkat hunian pergudangan modern di Jabodetabek terpantau stabil di tingkat 88%, sama seperti kuartal sebelumnya.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









