Transaksi Berjalan Terancam Defisit Lagi
Surplus neraca perdagangan tak berarti neraca transaksi berjalan mencetak surplus juga. Transaksi berjalan per kuartal ketiga terancam kembali membukukan defisit. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), akumulasi surplus neraca perdagangan barang pada kuartal III-2023 mencapai US$ 7,85 miliar, sedikit di atas surplus pada kuartal II-2023 yang mencapai US$ 7,82 miliar. Namun, itu jauh lebih rendah dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 17,08 miliar. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz tak melihat ada potensi neraca transaksi berjalan surplus pada kuartal III-2023. Dari hitungannya, neraca transaksi berjalan akan defisit sebesar 0,8% dari produk domestik bruto (PDB), atau melebar dari defisit di kuartal sebelumnya, yaitu 0,55% dari PDB. Bahkan, defisit transaksi berjalan kemungkinan berlanjut pada kuartal IV-2023. Dari perhitungan Faiz, defisit transaksi berjalan pada kuartal depan sebesar 0,3% PDB. Penyebabnya, defisit di neraca jasa yang kemungkinan naik. Jika itu terjadi, defisit transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) 2023 bakal mencapai 0,4% PDB. Berbeda, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual masih optimistis, surplus neraca perdagangan barang akan membuka jalan bagi transaksi berjalan untuk mencetak surplus. Dari perhitungan David, surplus neraca transaksi berjalan di kuartal III sebesar 0,3% dari PDB. Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro juga memperkirakan, defisit transaksi berjalan untuk tahun 2023 sebesar 0,65% PDB. Alasan dia, kinerja ekspor di sisa tahun ini akan sangat dipengaruhi performa ekonomi negara-negara yang menjadi mitra dagang utama Indonesia.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023