Ekonomi
( 40487 )PEMBELIAN PROPERTI : INSENTIF MENAWAN BISNIS HUNIAN
Skema insentif untuk menggerakkan penjualan properti kembali digulirkan pemerintah. Lewat relaksasi pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP dan penghapusan biaya administrasi untuk harga hunian tertentu, harapannya mengungkit konsumsi masyarakat. Pada Selasa (24/10) pagi, Presiden Joko Widodo sempat berbagi kisi-kisi mengenai kebijakan ekonomi baru yang bakal digulirkan pemerintah. Bicara dihadapan para investor, Presiden Jokowi mengutarakan niat pemerintah memberikan insentif ke sektor properti. Pilihan insentif ke sektor properti dengan pertimbangan rantai bisnis di sektor tersebut yang panjang. Jika konsumsi properti meningkat, harapannya mengungkit sektor-sektor lainnya yang berimbas pada laju ekonomi. “Intinya kita ingin men-trigger ekonomi dengan memberikan insentif kepada pembangunan perumahan, properti karena dari properti ini punya buntut banyak sekali. [Ada] 114 yang bisa terangkut dalam industri properti, entah genting, semen, batu bata, pasir, semuanya, kayu, semuanya, pintu, kaca, keramik, semuanya bisa membawa mereka ikut naik pertumbuhannya,” ujar Presiden. Sore harinya, selepas rapat terbatas di Istana Negara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkuat pernyataan Presiden Jokowi. Airlangga menyatakan pemerintah menerbitkan kebijakan untuk menanggung pajak pertambahan nilai (PPN) pembelian rumah atau properti di bawah Rp2 miliar. Adapun untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), pemerintah memberi keringanan administrasi berupa Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, skema insentif PPN DTP dan keringanan administrasi lantas diterjemahkan secara teknis. Pemberian insentif PPN DTP mulai berlaku November 2023 dengan ketentuan bagi masyarakat yang membeli rumah seharga Rp2 miliar hingga Rp5 miliar. Hanya saja, pemerintah menanggung pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 11% hanya untuk harga rumah di bawah Rp2 miliar.
Dalam situasi serupa, Bank Indonesia juga memberi kelonggaran dari aspek keringanan uang muka atau loan to value (LTV) untuk pembelian properti. Data bank sentral mencatat pertumbuhan KPR/KPA pada 2020 yang hanya 3,4% year-on-year (YoY) saat pandemi Covid-19, langsung melonjak hingga 9,7% YoY pada akhir 2021. Pertumbuhan kembali berlanjut pada akhir 2022 yang mencapai 7,8%. Satu sisi, bank menghadapi situasi yang kurang lebih sama ketika pandemi. Simpanan masyarakat menanjak, satu sisi permintaan kredit sangat terbatas. Alhasil, berbagai insentif yang diberikan untuk mendongkrak pembelian properti, mampu menggeser dana masyarakat untuk membeli rumah. Menurut Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin, dampak insentif PPN DTP sektor properti cukup positif meski secara terbatas terhadap tren kinerja KPR. Melihat mekanisme insentif yang ditetapkan pemerintah, Amin menilai pengaruhnya hanya akan efektif untuk dua segmen pasar. Pertama, kalangan menengah yang segera butuh unit rumah jadi (ready stock) dan terbilang tidak terlalu sensitif terhadap selisih harga. Kedua, kalangan menengah ke atas yang mengincar investasi properti pada tahun depan. Selain itu, mekanisme satu nomor induk kependudukan (NIK) untuk satu unit rumah, tetap melahirkan kompetisi di antara segmen pembeli rumah pertama dan segmen pembeli rumah untuk investasi. Menurut Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal, hal mutlak dengan adanya pemberian insentif yakni pengaruhnya terhadap beban anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sektor properti tercatat mempunyai sumbangan besar dalam perekonomian nasional. Kontribusi terhadap PDB sebesar 14%—16%, dan kontribusi terhadap penerimaan perpajakan sekitar 9,3% atau sebesar Rp185 triliun per tahun. Pengamat Pajak Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Fajry Akbar melihat kebijakan tersebut sangat positif terhadap masyarakat yang ingin memiliki rumah.
PENJUALAN RUMAH : Melawan Tren Penurunan
Sempat mencatat laju positif pada pengujung 2021 dan pertengahan 2022, khususnya untuk hunian tipe besar, pertumbuhan tahunan penjualan rumah memasuki pertengahan kuartal dua tahun lalu, bergerak turun. Merujuk data Bank Indonesia penjualan rumah hingga kuartal II/2023 terkontraksi 12,3% year-on-year (YoY) dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang tumbuh 15,23% YoY.Kontraksi yang terjadi di penjualan hunian terutama dibebani oleh penjualan di segmen menengah dan segmen kecil yang terkontraksi masing-masing 15,17% dan 15,81%. Adapun untuk penjualan segmen besar bertahan positif 15,11%.Country Director of Ray White Indonesia Johann Boyke Nurtanio mengatakan realisasi kinerja sektor properti yang positif selama paruh pertama 2022, salah satunya dipicu oleh permintaan pasar yang besar serta berbagai produk sektor properti yang mudah diserap pasar berkat adanya insentif fiskal dari pemerintah.
Melalui pemberian insentif PPN DTP, pemerintah dapat meredam daya beli konsumen yang mengalami penurunan akibat tergerus oleh infl asi. Dia menilai PPN DTP merupakan penyelamat sektor industri terlihat dari perkembangan yang terjadi semenjak pandemi.
Ketua Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (Arebi) DKI Jakarta Tommy Tanuwidjaja menuturkan tren permintaan hunian tergolong bagus dengan tingkat permintaan tertinggi untuk hunian di bawah Rp2 miliar untuk dihuni sendiri.Sementara itu harga rumah di bawah Rp500 juta, juga mengalami peningkatan permintaan, terutama di wilayah perkotaan.
Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat menilai isentif PPN DTP dinilai mampu mendongkrak penjualan hunian, khususnya hunian tapak. Mengingat daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dan segmentasi yang berlaku dalam penerapan PPN DTP, katanya dampak yang dihasilkan dari kebijakan ini diperkirakan juga terbatas.
PROSPEK PENYALURAN KPR : TAKTIK LUGAS PERAS LIKUIDITAS
Industri bank di Tanah Air masih berlimpah likuiditas di tengah tanda-tanda permintaan kredit yang naik. Satu sisi, dinamika politik dalam negeri dan global, memberi sentimen terhadap rencana ekspansi dan investasi yang berujung pelambatan ekonomi. Dian Ediana Rae, Kepala Ekskeutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memotret kondisi likuiditas di industri perbankan yang masih longgar saat memberikan keterangan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada akhir Oktober 2023. Jika merujuk data OJK, loan to deposit ratio (LDR) yang mencerminkan rasio pendanaan terhadap kredit sebesar 83,92% pada posisi September 2023. Meski masih longgar, besaran LDR itu mulai naik dibandingkan dengan posisi Desember 2022 yang berada di level 78,78%. Longgarnya likuiditas sudah berlangsung sejak pandemi Covid-19. Jauh sebelum pandemi, rata-rata LDR perbankan di kisaran 90%—92%. Bahkan, secara spesifik Dian menyebut perbankan Kelompok Bank dengan Modal Inti (KBMI) I dan KBMI II, sangat berlimpah likuiditas. Bagi perbankan, ekses likuiditas yang besar praktis kurang menguntungkan. Bank perlu menggenjot fungsi intermediasi guna memperoleh marjin keuntungan dari dana masyarakat yang disalurkan. Satu-satunya taktik yang bisa diandalkan mengerek permintaan pembiayaan yakni menggenjot sektor konsumsi. Adanya insentif pemerintah berupa pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk hunian dengan harga Rp2 miliar sampai dengan Rp5 miliar, menjadi angin segar bagi bank. Menurut Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan, adanya insentif PPN DTP akan mendorong animo masyarakat, terutama pembeli rumah perdana. “Kami sambut baik insentif untuk KPR. Harapannya bisa menaikkan animo masyarakat untuk segera mengambil KPR. Terutama, untuk first time buyer,” kata Lani kepada Bisnis. Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Nixon LP Napitupulu menyatakan insentif PPN DTP dan insentif untuk hunian bagi masyarakat berpenghaislan rendah (MBR), akan berpengaruh secara psikologis terhadap calon pembeli rumah untuk segera merealisasikan rencananya.
Serupa, Sekretaris Perusahaan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) Rudi As Aturridha menekankan bahwa pihaknya merespons baik inisiatif pemerintah mendorong pertumbuhan sektor perumahan dengan berbagai insentif. Sekretaris Perusahaan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Okki Rushartomo menjelaskan belajar dari pengalaman insentif PPN sebelumnya pada Maret—Desember 2021, kemudian diperpanjang hingga Desember 2022, terjadi peningkatan permintaan KPR sekitar 5%—15% dibandingkan tahun sebelumnya. “Adapun saat ini, properti residensial dengan harga Rp500 juta hingga Rp 2 miliar menjadi segmen yang paling diminati. PPN DTP akan memengaruhi komponen pembiayaan yang disalurkan oleh bank,” kata Okki kepada Bisnis, Jumat (10/11). Ketua Umum Real Estate Indonesia atau REI Joko Suranto menyatakan agar industri properti optimal dan berkelanjutan, insentif PPN DTP oleh pemerintah harus dibarengi dengan konsep propertynomics. Propertynomics merupakan cara pandang untuk menumbuhkan kontribusi properti terhadap ekonomi. REI memproyeksikan dengan ditetapkannya kebijakan insentif PPN DTP, pasar properti bakal kebanjiran dana mencapai Rp10 triliun dengan output pada ekonomi nasional mencapai Rp1,8 triliun. Wakil Ketua Umum REI Bidang Hubungan Luar Negeri Rusmin Lawin meyakini kebijakan insentif ini dibuat untuk mendorong kemampuan beli konsumen terutama untuk kaum milenial dan yang belum memiliki rumah. Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Djunaidi Abdillah berharap agar kebijakan yang diterbitkan oleh pemerintah tidak bersifat fluktuatif agar menciptakan kondisi yang lebih tenang bagi pengusaha. ?“Kami support apa pun bentuk kemudahan yang diberikan oleh pemerintah. Itu yang kami tunggu,” katanya. Saat ini Apersi masih memiliki kuota 20.000 hunian komersial yang siap jual. Emiten properti Sinar mas Group, PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) menilai kebijakan itu dapat mendorong kinerja penjualan segmen residensial. Direktur BSDE Hermawan Wijaya menyatakan sampai kuartal III/2023, pihaknya telah mengamankan prapenjualan Rp6,75 triliun, atau 77% dari target periode 2023 sebesar Rp8,8 triliun. Terkhusus segmen residensial, porsinya Rp4,47 triliun. Sementara itu, Direktur PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) Harun Hajadi menekankan insentif PPN DTP akan berpengaruh besar untuk mendorong minat masyarakat untuk membeli rumah stok.
Lindungi Warga dan Hentikan Perang di Gaza
Indonesia bersama puluhan negara kembali mendesak
penghentian perang di Gaza. Warga sipil harus dilindungi dari serangan ataupun penyanderaan.
Desakan disampaikan dalam KTT Darurat Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang digelar
di Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (11/11). Sebagai pemimpin negara berpenduduk
Muslim terbesar, Presiden Jokowi hadir di KTT itu. Lawatan ke Riyadh ini bagian
dari muhibah Presiden di Arab Saudi dan AS. Dalam pernyataan beberapa hari
lalu, Jokowi mengatakan akan membawa hasil KTT OKI ke Presiden AS Joe Biden. Jokowi-Biden
akan bertemu di Washington DC dan California.
KTT Riyadh menunjukkan negara-negara Timur Tengah bisa
bersatu karena kegentingan di Palestina. Buktinya, sejumlah pemimpin negara
yang selama ini bermusuhan di Timur Tengah kini berkumpul di Riyadh. Presiden
Iran Ebrahim Raisi dan Presiden Suriah Bashar al-Assad datang ke KTT. Sekjen
OKI Hissein Brahim Taha menyebut, KTT itu menegaskan solidaritas dan dukungan
teguh OKI pada Palestina. Ia menyerukan, serangan Israel ke Gaza harus segera
dihentikan. Koridor kemanusiaan untuk pengungsian warga sipil dan pengiriman
bantuan kemanusiaan harus disediakan secara memadai dan berkelanjutan. Ia
menolak setiap upaya pemindahan paksa warga Palestina dari Gaza ataupun Tepi
Barat.
Apa pun alasannya, warga Gaza dan Tepi Barat tidak boleh
digusur atau dipindah paksa. Kemerdekaan penuh Palestina, menurut Putra Mahkota
Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), adalah solusi untuk mengakhiri
konflik berkepanjangan ini. ”Kami yakin satu-satunya jalan perdamaian adalah
berakhirnya pendudukan Israel dan permukiman illegal serta pemulihan hak-hak
rakyat Palestina dan pembentukan negara sesuai perbatasan 1967, dengan
Jerusalem timur sebagai ibu kotanya,” ujarnya. Ia pun mengecam standar ganda
komunitas internasional. Hukum kemanusiaan internasional jelas sedang diabaikan
di Gaza dan tidak ada tindakan apa pun dari komunitas internasional pada Israel.
(Yoga)
Warga Berhemat, Hari Belanja Sepi
Kondisi perekonomian yang kurang baik membuat konsumen di
China berhemat. Akibatnya, semangat belanja pada Hari Jomblo yang juga dikenal
dengan ”Double 11” mengendur. Dari hanya sehari, kini ”11.11” berkembang
menjadi tawaran diskon dalam hitungan pekan. Setiap ”11.11” atau tanggal 11 bulan
11, berbagai lokapasar menawarkan potongan harga besar-besaran. Hal itu juga
terjadi pada Sabtu (11/11). Tmall milik Alibaba berpromosi ”Harga Terendah di
Internet”. Sementara JD.com menyebarkan slogan ”Benar-benar Murah”. Adapun
Pinduoduo mencoba menarik konsumen dengan iming-iming ”Harga Murah Setiap
Hari”. Harian The Japan Times, Jumat (10/11) melaporkan, Alibaba dan JD.com
menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang mampu menghasilkan gambar produk dengan
cepat. Lokapasar juga membagi- kan aneka kupon diskon. Alibaba dan JD.com juga gencar
mengunggah siaran langsung, rekaman video, atau foto promosi di media sosial. Douyin,
Tiktok versi China, menjadi pelantar utama bagi orang-orang dan pengecer yang menjual
kepada konsumen melalui siaran video secara langsung.
Ternyata, tahun ini, semua tawaran diskon itu tak menarik konsumen.
Survei Bain&Co, lembaga konsultasi asal AS, terhadap 3.000 konsumen China
menyimpulkan, 77 % responden tidak akan belanja sebanyak tahun lalu. Bahkan,
separuh responden mengaku cenderung memilih produk lebih murah. ”Mungkin orang
tidak mau mengeluarkan uang sebanyak dulu atau mungkin mereka tidak punya
banyak uang untuk dibelanjakan. Saya juga tidak mengeluarkan uang apa pun kecuali
untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Hu Min, karyawan toko serba ada di kota
Shijiazhuang, Hebei. Pada 2019, konsumen bisa menghabiskan 38 miliar USD atau Rp
596 triliun di Alibaba saja selama Hari Jomblo. Kini, konsumen di China lebih
berhati-hati mengeluarkan dana belanja tambahan. Sebab, pendapatan menurun,
sementara harga aneka hal serta pengangguran naik. (Yoga)
UANG BUKAN SEGALANYA DI PASAR WULANDONI
Uang telah menjadi alat tukar yang dianggap menandai
peradaban modern. Namun, di Pasar Wulandoni, Pulau Lembata, Nusa Tenggara
Timur, uang bukanlah segalanya. Nelayan dan petani masih saling tukar kebutuhan
hidup sehari-hari tanpa menggunakan uang. Sabtu (12/8) pagi pukul 08.00, para
pedagang, hampir semuanya perempuan, telah menggelar hasil bumi seperti pisang,
singkong, keladi dan umbi-umbian hutan, kacang-kacangan, jagung, sirih dan
pinang, serta sayur-mayur. Mereka duduk di lapak-lapak batu yang disemen berbentuk
lingkaran, di bawah pohon asam yang tumbuh meraksasa. Lokasi tiap lapak itu diwariskan
turun-temurun. Pasar Wulandoni hanya buka seminggu sekali setiap Sabtu, dari
Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, butuh tiga jam dengan mobil.
Pukul 09.00, nelayan dari Pantai Harapan dan Lebala, desa
pesisir sekitar Wulandoni, membawa ikan segar yang ditaruh dalam ember dan ikan
terbang kering. Ketika hampir semua lapak terisi, Kosmas Dua (64), Mandor Pasar
Wulandoni, memungut retribusi dengan membawa karung dan ember. Para pedagang menyerahkan
sebagian dagangan, sesisir pisang, beberapa ikat sayur atau ubi. Kosmos memasukkannya
ke dalam karung dan membawanya ke Kantor Desa Wulandoni, di depan pasar. Hasil
retribusi ini akan dilelang menjelang penutupan pasar. Menandai dimulainya
barter, Kosmas meniup buri (peluit) tepat pukul 10.00 pagi. Para nelayan segera
menyerbu petani yang membawa hasil kebun, seperti singkong, pisang, ubi, dan
sayur-mayur. Pada umumnya, nelayan yang berjalan-jalan sedangkan orang-orang
gunung duduk menunggu, karena ikan lebih ringan dibandingkan hasil pertanian.
Tawar-menawar barang berlangsung dalam diam. Kebanyakan
menggunakan Bahasa isyarat. Safira (45), misalnya, nelayan dari Pantai Harapan menyodorkan
dua ekor ikan kembung segar sambari menunjuk dua sisir pisang susu milik Lena
(56), petani dari Kampung Puor, Lena mengangkat tiga jari tangan pertanda ia meminta
tambahan satu ekor ikan lagi. Safira
berlalu, transaksi barter gagal. Tak lama berselang, Lidya (34) menyodorkan
satu renteng ikan asin sejumlah 10 ekor dan meminta tiga sisir pisang susu kepada
Lena, ia mengangguk. Barter berjalan mulus, masing-masing tersenyum puas. ”Kami
butuh ikan mereka dan mereka butuh makanan dari kebun kami,” kata lena. Di
Wulandoni, kita bisa melihat Pasar barter terbesar yang terakhir di Pulau
Lembata ini mempertemukan warga pesisir dan orang-orang pegunungan yang saling
membutuhkan. Hampir semua hasil barter untuk kebutuhan hidup sehari-hari, bukan
untuk dijual lagi. Para petani dan nelayan di Pasar Wulandoni tak terpengaruh lonjakan
harga beras atau bahan-bahan pangan lain di level nasional, apalagi perdagangan
global. Mereka menentukan nilai barang secara merdeka, berdasarkan kesepakatan
dua pihak. (Yoga)
Suka Duka Usaha Desa
Setelah tamat SMA, Nina Safitri bekerja di pabrik tapioka. Dua
tahun kemudian ia pindah ke pabrik pupuk organik, lalu berhenti karena menikah.
Terbiasa bekerja, Nina akhirnya memutuskan aktif dalam kelompok perempuan, melalui
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan. Program ini
bertujuan mengatasi kemiskinan di desa-desa dan memperluas lapangan kerja di
bawah naungan Kemendagri. Pada 2014 PNPM dibubarkan. Pemerintah Indonesia
membentuk Kemendes, PDTT untuk menangani masalah di perdesaan. ”Kami seperti
anak ayam kehilangan induk,” kata Nina, mengenang masa transisi itu. Ia lega
ketika Permendes PDTTi No 15/2021 menetapkan transformasi eks PNPM menjadi
badan usaha milik desa bersama atau disingkat bumdesma.
Nina kini Direktur Bumdesma Barokah Jaya di Kecamatan Baron,
Nganjuk, Jatim. Pada 2021, Bumdesma Barokah Jaya memperoleh bantuan modal dari
Kemendes PDTT untuk program peternakan terpadu.Ada hewan ternak, ada kebun.
Kotoran ternak diproduksi menjadi biogas dan kompos. Lingkungan akan terbebas
dari limbah. Lokasi peternakan diputuskan melalui musyawarah dengan 11 kepala
desa di Kecamatan Baron: di Agrowisata Onokabe, Dusun Kuniran, Desa Jekek. Luas
Onokabe empat hektar berada di tanah milik desa, yang disebut tanah bengkok.
Sebelas desa di Kecamatan Baron diminta pihak kementerian menyertakan modal
masing-masing Rp 100 juta dari dana desa untuk bumdesma. Program peternakan
diharapkan berjalan lancar dan desa-desa memperoleh manfaat. Tujuan
strategisnya adalah ketahanan pangan.
Usaha Bumdesma Barokah Jaya ada tiga, yaitu simpan pinjam,
yang praktiknya hanya meminjamkan, peternakan terpadu, dan kredit barang. Pengembalian
dana pinjaman tak memberatkan peminjam. Pemerintah memberi masyarakat modal tanpa
jaminan agar selamat dari jeratan bank kecil ataupun tengkulak. Ini tujuan
utama bantuan. Hal itu memengaruhi cara menagih, menurut Nina. ”Kalau menagih
pinjaman, tidak boleh kasar.” Bunga pinjaman dipatok 1,5 %. Bumdesma mengambil
1,2 %, sedangkan 0,3 % dikelola dan dikembalikan manfaatnya kepada kelompok
penerima pinjaman. Tantangan Bumdesma Barokah Jaya saat ini adalah membuka
lapangan kerja untuk warga. Meski UMKM cukup populer, penjualan terbanyak
didapat saat pameran produk saja. Sementara warga desa membutuhkan pekerjaan
yang hasilnya bisa didapat setiap hari. (Yoga)
”Laga” Seru Pelaku UMKM di Luar Stadion Piala Dunia U-17
Tidak hanya pemain muda dari beberapa negara yang berlaga di Piala Dunia U-17, pelaku UMKM dari berbagai daerah tak kalah semangat ikut unjuk gigi. Pasangan suami-istri, Pratama Anggi Wibowo (30) dan Intan Ratnawati, percaya diri memasuki toko Bandung Kunafe di Soreang, Bandung, Jabar, Jumat (10/11) siang. Mereka membawa ratusan bungkus camilan stik keju dengan tiga varian rasa untuk dititipkan di toko oleh-oleh di samping Gedung Budaya Sabilulungan (GBS) itu. GBS vital selama Piala Dunia U-17 di Bandung pada 11-21 November. Keberadaannya menjadi pusat bus pengumpan atau shuttle penonton menuju Stadion Si Jalak Harupat, tempat laga digelar. ”Rencananya kami akan memasok hingga 5.000 bungkus aneka produk camilan selama Piala Dunia U-17,” kata Pratama, produsen berbagai produk camilan dan beragam kerajinan tangan itu.
Agus Asmara (52), produsen kopi luwak di Kabupaten Bandung, juga tak mau kehilangan peluang mencetak cuan. Ayah tiga anak ini berencana berjualan di tenda yang disiapkan Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung di GBS. Selama dua hari, Agus dan lima karyawannya menyiapkan 100 kemasan produk kopi luwak dan arabika buatannya. Ia menempelkan merek Kopi Lembah Cimanong, merujuk perkebunan kopi milik sendiri seluas satu hektar di Ciwidey. Agus menjual kopi dalam bentuk biji sangrai dan bubuk siap seduh. Ia juga turut menjual minuman kop ”Kami menargetkan keuntungan hingga Rp 10 juta se- lama perhelatan Piala Dunia U-17. Jumlah itu tiga kali lipat dari penjualan daring dan ikut bazar,” tuturnya.
Di Surabaya, Jatim, penjualan jersei sepak bola tim Indonesia untuk Piala Dunia U-17 tak kalah menggeliat. Penjualan jersei tiruan tersebut berjarak 6-7 kilometer dari Stadion Gelora Bung Tomo. Stadion ini satu dari empat venue Piala Dunia U-17. ”Aduh, berat kalau lokasi jualan jauh begini. Semoga saja bisa banyak laku,” harap Deden Firmansah, penjual jersey Indonesia dari Bandung, Jumat petang, di Surabaya. Jersei tiruan tersebut dijual Rp 100.000-Rp 200.000. Kepala UPTD PLUT Kabupaten Bandung Dewi Windiani memaparkan, selama Piala Dunia U-17, UMKM akan difokuskan di area GBS. Pihaknya menyediakan 8 tenda yang bisa menampung 16 pelaku usaha. Bupati Bandung Dadang Supriatna menambahkan, penonton di Piala Dunia U-17 di Jalak Harupat diperkirakaan 10.000 orang tiap laga. Ia yakin ajang ini akan memberi manfaat bagi ekonomi warga. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menambahkan, di penjualan pernak-pernik Piala Dunia U-17, ada keterlibatan UMKM Surabaya. (Yoga)
Indonesia-Australia Jajaki Kerja Sama
Toko Ritel Serba Ada Mulai Ditinggalkan
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









