Ekonomi
( 40487 )TINGKAT RENDEMEN TINGGI : SGN Kerek Produksi Gula
PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co memproyeksikan produksi gula pada 2024 bisa mencapai 978.832 ton seiring dengan potensi dan upaya efisiensi yang dilakukan perusahaan. Direktur Utama SGN, Aris Toharisman mengatakan bahwa untuk produksi gula SGN tahun ini berhasil mencapai 750.268 ton atau sekitar 33% dari total produksi gula nasional sebesar 2,271 juta ton dengan rerata rendemen nasional 7,32%.
Dia menjelaskan bahwa 4 PG tersebut a.l adalah PG Takalar dengan rendemen sebesar 8,46%, PG Pradjekan dengan rendemen sebesar 8,36%, PG Wonolangan dengan rendemen sebesar 8,02%, dan PG Gempolkrep dengan rendemen 8,01%. Menurutnya, produksi gula tahun ini sangat bagus karena dampak musim kekeringan atau El Nino yang mendongkrak produktivitas tanaman tebu dengan maksimal. Selain karena faktor iklim, imbuhnya, SGN juga menjalankan strategi pada musim giling 2023 yaitu pelaksanaan sistem bagi hasil yang mampu mengedukasi petani untuk memperbaiki kualitas tebunya, baik saat budi daya maupun panen.
“Ke depan SGN berkomitmen untuk terus membangun sinergi dengan petani, membantu pendanaan melalui sinergi BUMN dengan Himbara, dan memperluas pelaksanaan program Makmur bersama PT Petrokimia dalam pemenuhan pupuk bagi petani,” katanya.
TRANSISI ENERGI, Ambisi Besar Minim Aksi
Dampak perubahan iklim di berbagai belahan dunia terlihat
nyata dalam wujud gelombang panas, kekeringan, kebakaran hutan, badai, dan
banjir. Dunia tidak bisa memitigasi bencana yang diakibatkan perubahan iklim
tanpa mengatasi akar penyebabnya, yakni ketergantungan terhadap energi atau
bahan bakar fosil, yang menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah besar saat
dibakar. Emisi ini memerangkap panas di atmosfer yang memicu suhu bumi
meningkat dari waktu ke waktu. Program Lingkungan PBB (United Nations for
Environment Program/UNEP) mencatat, 90 % karbon dioksida global berasal dari bahan
bakar fosil.
Sayangnya, komitmen dan ambisi dunia dalam mewujudkan target
karbon netral bertolak belakang dengan fakta yang menunjukkan bahwa produksi
batubara, minyak, dan gas di berbagai belahan dunia masih terjadi secara masif.
Dalam laporan Kesenjangan Produksi (Production Gap) 2023 yang dirilis UNEP,
November ini, terungkap adanya ketidaksesuaian antara produksi batubara,
minyak, dan gas di 20 negara produsen utama, termasuk Indonesia, dengan batasan
produksi global yang sesuai target Perjanjian Paris. Kesenjangan produksi bahan
bakar fosil penghasil emisi karbon per tahun 2030 diproyeksi akan 110 % lebih banyak
dibandingkan yang seharusnya.
UNEP menyoroti Indonesia sebagai salah satu negara yang
memiliki ketergantungan ekonomi sangat tinggi terhadap sumber energi fosil, di
mana industri minyak dan gas berkontribusi hingga 12 % terhadap PDB. Di samping
itu, In- donesia juga masih tercatat
aktif sebagai eksportir batubara terbesar ketiga dunia. Akibat kebijakan energi
dari banyak negara, ada potensi
peningkatan produksi batubara global hingga 2030 serta produksi minyak bumi dan
gas global hingga 2050. Masih adanya kesenjangan produksi energi fosil secara
global menunjukkan ambisi dunia dalam mengurangi emisi karbon dioksida hingga
titik netral tidak sejalan dengan komitmen setiap negara dalam bertransisi
energi. (Yoga)
Upah Minimum Menentukan
Kebijakan upah minimum yang akan ditetapkan dalam seminggu ke depan turut menentukan nasib laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2024. Di tengah potensi pelemahan ekspor yang berlanjut serta investasi yang ”wait and see”, konsumsi kelas menengah bergaji upah minimum provinsi menjadi andalan menjaga pertumbuhan ekonomi di level 5 %. Akibat ketidakpastian kondisi ekonomi global yang menjadi-jadi, ”mesin” eksternal pendorong utama ekonomi seperti ekspor dan investasi asing belakangan ini tidak bisa terlalu diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Pada saat seperti itu, ekonomi hampir sepenuhnya bergantung pada mesin internal, yaitu konsumsi rumah tangga atau belanja masyarakat.
Sumbangan konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) selalu berkisar 51-57 $. Terakhir, pada triwulan III-2023, konsumsi rumah tangga berkontribusi hingga 52,62 % terhadap PDB. Kemenaker sudah mengeluarkan aturan terbaru yang memastikan adanya kenaikan upah minimum tahun depan, seperti tertuang dalam PP No 51 Tahun 2023. Sampai detik ini, formula kenaikan upah yang terkandung dalam aturan baru itu masih diperdebatkan kalangan pekerja dan pengusaha. Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, Senin (13/11) mengatakan, kenaikan UMP dan UMK berdampak signifikan pada laju konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, geliat konsumsi selama ini memang bergantung pada masyarakat berpenghasilan menengah yang pendapatannya stabil dan rutin. (Yoga)
Kontribusi Serapan Tenaga Kerja Manufaktur Menurun
Kontribusi serapan tenaga kerja sektor industri pengolahan
atau manufaktur per Agustus 2023 menurun dibandingkan periode yang sama tahun
lalu. Ini berarti laju serapan tenaga kerja industri pengolahan lebih lambat ketimbang sejumlah sektor ekonomi
lainnya. Mengutip data BPS, porsi serapan tenaga kerja industri pengolahan pada
Agustus 2023 sebesar 13,83 % dari total jumlah penduduk bekerja. Angka ini menurun
dibandingkan Agustus 2022 yang sebesar 14,17 %. Pada Agustus 2023, jumlah
penduduk bekerja 139,85 juta orang. Adapun pada Agustus 2022 jumlahnya sebanyak
135,30 juta orang. Jumlah tenaga kerja industri pengolahan selama periode
tersebut juga bertambah sekitar 180.000 orang.
”Jumlah serapan tenaga kerja bertambah, tetapi kontribusinya
malah menurun. Berarti laju serapan tenaga kerja sektor industri pengolahan
kalah cepat dibandingkan dengan sektor lain,” ujar Head of Center of Industry,
Trade, Investment Institute for Development of Economics and Finance (Indef)
Andry Satrio Nugroho, Senin (13/11). Ia menambahkan, jika dilihat lebih detail,
porsi serapan tenaga kerja melaju lebih cepat di berbagai sektor jasa. Sektor
akomodasi dan makanan minuman pada Agustus 2023 berkontribusi menyerap tenaga kerja
7,71 %, meningkat dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar 7,1 %. Andry menjelaskan, apabila dilihat
dengan perspektif yang lebih luas, ini merupakan bagian dari gejala
deindustrialisasi. Artinya, peran industri pengolahan dalam struktur perekonomian
Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan sektor jasa. (Yoga)
Citibank Torehkan Laba Bersih Rp 1,7 Triliun
Standar KPEI Diakui Eropa
Tuntaskan Program Sertifikasi Halal UMKM
Potensi Maggot dalam Mengelola Sampah Organik
Guru Besar Teknik Kimia Universitas Katolik Parahyangan
(Unpar) Bandung Prof Judy Retti B Witono mengungkapkan bahwa maggot memiliki
potensi dan dapat digunakan sebagai solusi efektif dalam mengatasi masalah
sampah organik. Hal tersebut disampaikan Prof. Judy dalam Presentasi Kunci
“Pengolahan Limbah Organik Melalui Budidaya Maggot”, Sabtu (4/11). Prof Judy
menjelaskan secara terperinci bagaimana maggot, dalam bentuk larva lalat
tentara hitam, mampu mengolah sampah organik dengan efisien. Prof Judy juga menyampaikan urgensi
pengelolaan sampah organik melalui budi daya maggot sebagai solusi terhadap
permasalahan yang semakin memprihatinkan.
Dalam pemaparannya, Prof Judy menyoroti masalah penumpukan
sampah organic yang mencapai lebih dari 50 % total sampah yang saat ini hanya
dibuang begitu saja. Prof Judy menggarisbawahi urgensi untuk memahami mengapa
pembudidayaan maggot sangat penting dalam menangani masalah ini. “Maggot
menjadi solusi yang tak hanya penting, tetapi juga mendesak dalam menangani
masalah sampah organic yang masih banyak diabaikan atau hanya ditumpuk di
tempat pembuangan sampah,” ujar Prof Judy.
“Sampah organik,
ketika terfermentasi, menghasilkan gas metana yang tak hanya berdampak pada
polusi saat ini, tetapi juga akan berdampak padaefek rumah kaca pada masa
depan,” ucapnya. Ia menekankan bahwa penanganan limbah organik dengan maggot dapat
memberikan hasil yang lebih baik daripada hanya membiarkannya membusuk atau
dibuang begitu saja. “Maggot bisa digunakan sebagai sarana pengelolaan sampah
yang lebih ekonomis dan efisien,” tuturnya. Budi daya maggot tidak hanya
menangani sampah organik, tetapi juga membuka potensi penggunaan hasilnya untuk
berbagai keperluan, mulai dari pakan ternak, produk kimia, hingga produk
kosmetik. Dengan demikian, budi daya maggot menjadi solusi holistis dalam
mengelola sampah organik sambil memberikan manfaat yang lebih luas. (Yoga)
Margin Pupuk Subsidi dan Non Subsidi Berpotensi Diselewengkan
Sebulan Listing, Barito Renewables Cetak Kinerja Cemerlang
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









