Ekonomi
( 40487 )Konsisten Jaga Transparansi, Bank Mandiri Raih Juara 1 Perusahaan Go Publik Keuangan Annual Report Award (ARA) 2022
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. kembali berhasil meraih gelar Juara 1 di ajang penganugerahan Annual Report Award (ARA) 2022 dalam kategori Go Publik Keuangan. Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan, penghargaan ini menjadi wujud dari konsistensi dan komitmen perseroan untuk mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dalam memaksimalkan nilai perusahaan. “Penghargaan ini kami harap dapat semakin meningkatkan kepercayaan stakeholder terhadap Bank Mandiri, dengan mengedepankan budaya tata kelola yang terbuka dan transparan,” terang Rudi dalam keterangan resminya, Senin (27/11).Annual Report Award adalah penghargaan atas keterbukaan perusahaan pemerintah dan swasta, publik (Listed) dan Non Publik (Non Listed) yang ditunjukkan dalam Laporan Tahunan (Annual Report) perusahaan yang diselenggarakan Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG) untuk meningkatkan kualitas informasi dan governance. ARA juga menjadi salah satu penghargaan prestisius yang menekankan pada kualitas Penerapan Good Corporate Governance (GCG).
Terlebih lagi, kinerja keuangan Bank Mandiri terus mencatatkan perbaikan yang selaras dengan kondisi perekonomian Indonesia yang masih solid serta diikuti dengan transformasi bisnis yang menyeluruh. Tercatat, pada akhir September 2023 Bank Mandiri berhasil menorehkan rekor sebagai bank pertama di Indonesia dengan total aset konsolidasi yang menembus Rp 2.007 triliun per September 2023 atau tumbuh 9,11% bila dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (YoY).
Pertumbuhan tersebut pun beriringan dengan protabilitas Bank Mandiri yang semakin membaik. Tercermin dari laba bersih Bank Mandiri secara konsolidasi melesat 27,4% YoY menjadi Rp 39,1 triliun hingga September 2023. Kenaikan laba tersebut merupakan hasil dari strategi Bank Mandiri yang berfokus pada ekosistem baik dari sisi pembiayaan maupun pendanaan.
DESA BUDAYA, Berburu Paus Bukan Cuma Urusan Sejengkal Perut
Bagi orang Lamalera, tradisi berburu paus, lumba-lumba, dan
pari manta bukan urusan sejengkal perut semata. Tradisi ratusan tahun di
selatan Pulau Lembata, NTT, itu menjadi landasan hidup yang mewujud dalam
beragam ekspresi budaya. Alunan syair lie yang dinyanyikan Kristoforus Plea
Hariona (66) di Desa Lamalera A, Kecamatan Wulandoni, Lembata, Senin (20/11)
malam memecah keheningan, sang lamafa atau juru tikam ikan paus tersebut
melantunkan syair berbahasa Lamalera dalam festival budaya ”Tani Tenane Fule
Penete”. Lie merupakan nyanyian selama proses melaut yang dipercaya bisa
mendatangkan pertolongan. Syairnya beragam, beberapa di antaranya ditujukan
untuk meminta angin saat berlayar dan kemudahan mendapatkan ikan.
”Sayangnya, banyak generasi muda mulai lupa. Padahal, ini budaya
dari nenek moyang yang harus terus dilestarikan,” ujarnya. Orang Lamalera
memburu paus, lumba-lumba, dan pari manta tidak sekadar untuk kebutuhan
keluarga. Setelah ikan-ikan besar itu ditangkap, dagingnya dibagikan kepada warga
setempat, termasuk fakir miskin, janda, dan orang sakit. Dalam festival budaya
itu, warga Lamamanu membawakan tutu koda meminta hujan untuk memulai musim tanam.
Sebab, kemarau masih melanda meskipun sudah di pengujung tahun. Selain tradisi
lisan dan tarian, tradisi berburu paus di Lamalera juga mewujud dalam obyek
kebudayaan lainnya, yaitu pengetahuan tradisional menenun yang disebut tani tenane.
Gambar peledang, paus, dan pari manta menjadi motif umum tenun Lamalera.
Setiap Sabtu pagi, ibu-ibu dari Lamalera naik bus menuju
Pasar Barter Wulandoni yang berjarak 9 km. Di sana mereka bertemu orang-orang
dari gunung untuk menukarkan hasil laut dengan komoditas pertanian, seperti
jagung, singkong, keladi, dan sayur-mayur. Tiga tahun terakhir, Alexander
menjadi daya desa di Lamalera A. Ia bertugas menggerakkan warga mengoptimalkan
potensi desa untuk mendukung program pemajuan kebudayaan desa dari Dirjen
Kebudayaan Kemendikbudristek. “Tradisi berburu paus ibarat akar bagi budaya
Lamalera yang mewariskan nilai-nilai luhur, seperti gotong royong, kerja keras,
dan peduli terhadap sesama. ”Jadi, ini bukan cuma urusan perut. Kalau tradisi
berburu paus yang sudah berjalan ratusan tahun dilarang, budaya-budaya Lamalera
pun akan hilang,” katanya. (Yoga)
Peluang untuk UKM ASEAN
ASEAN dan AS mencatatkan neraca perdagangan 508 miliar USD
per tahun. ASEAN juga menjadi tujuan investasi utama AS di Indo-Pasifik. Agar
manfaatnya dirasakan lebih luas, perlu akses bagi usaha kecil dan menengah atau
UKM di negara-negara ASEAN dalam hubungan ekonomi itu. Mengacu data pada edisi
VI ASEAN Matters for America, America Matters for ASEAN, ada 71 juta UKM di
seluruh ASEAN. Dari 650 juta warga ASEAN, 143 juta orang menjadi pegawai UKM.
Ada ratusan juta orang lainnya yang mendapatkan pekerjaan dengan menjadi mitra
dan pemasok UKM. ”Angka ini menunjukkan makna penting UKM bagi ASEAN,” kata
Direktur Pengelola Regional Dewan Bisnis ASEAN-AS (US-ABC) Brian McFeeters di
sela-sela peluncuran ASEAN Matters for America, America Matters for ASEAN,
Senin (27/11) di Jakarta. US-ABC menggandeng East-WestCenter di Hawaii dan ISEAS-Yusof
Ishak Institute di Singapura untuk menyusun laporan itu. Laporan itu memaparkan
interaksi dan dampak ekonomi, politik, dan budaya dari hubungan AS-ASEAN.
Analisis dilakukan di tingkat nasional dan lokal di AS dan ASEAN.
Dalam kajian US-ABC, UKM ASEAN bisa berperan secara lokal di
berbagai negara anggota ASEAN. Sayangnya, jika akan masuk ke pasar ekspor, UKM menghadapi
aneka kendala. McFeeters mengatakan, salah satu solusi untuk membantu UKM ASEAN
adalah mengintegrasikan dalam ekonomi digital. Kini, hanya 17 juta dari 64 juta
UKM Indonesia terlibat dalam ekonomi digital. Padahal, Indonesia mempunyai
potensi ekonomi digital bernilai puluhan miliar USD per tahun. Dalam jajak
pendapat terhadap 1.500 pelaku UKM ASEAN, hanya 33 % yang memanfaatkan
lokapasar. Padahal, 80 % responden mengaku sudah berusaha masuk ke ekonomi
digital. Mereka memacu integrasi selama pandemi Covid-19. Karena itu, bersama
sejumlah pihak lain, US-ABC berusaha membantu UKM ASEAN beradaptasi dengan
lokapasar dan ekonomi digital. Wujudnya berupa Akademi UKM ASEAN dan US-ABC
ikut mengelolanya. Sejauh ini, 4.200 pelaku UKM ASEAN memanfaatkan fasilitas
itu. (Yoga)
Imbangi Biaya Haji dengan Layanan
Pemerintah baru saja menetapkan kenaikan biaya ibadah haji
tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi. Langkah ini perlu diikuti dengan peningkatan
layanan bagi jemaah. Penetapan tersebut diambil dalam rapat kerja antara pemerintah
dan Komisi VIII DPR di Jakarta, Senin (27/11). Biaya penyelenggaraan ibadah
haji (BPIH) tahun 1445 Hijriah/2024 Masehi per anggota jemaah Rp 93,4 juta.
Dari jumlah itu, 60 % biaya (Rp 56 juta) dibebankan langsung kepada calon
anggota Jemaah, 40 % sisanya (Rp 37,3 juta) ditanggung dana nilai manfaat dari
setoran awal.Dengan perhitungan itu, setiap calon jemaah haji yang mendapat
giliran berangkat tahun 2024 perlu melunasi sisa biaya haji Rp 31 juta per
orang. Sebelumnya, mereka telah memberikan setoran awal sebesar Rp 25 juta saat
awal pendaftaran reguler (Kompas, 28/11). Dibandingkan BPIH tahun 2023 sebesar
Rp 90,5 juta, BPIH 2024 naik Rp 2,9 juta.
Pada 2023, biaya yang ditanggung jemaah Rp 49,8 juta,
sementara tahun 2024 menjadi Rp 56 juta. Selisihnya, Rp 6,2 juta. Kenaikan
biaya haji dapat dipahami mengingat berbagai komponen penyelenggaraan ibadah
itu memang tinggi. Salah satunya, biaya layanan saat puncak haji di Arafah,
Muzdalifah, dan Mina, yang ditangani oleh konsorsium perusahaan di Arab Saudi.
Pertimbangan lain, adanya kenaikan kurs dollar dan riyal terhadap rupiah yang
berdampak pada harga akomodasi dan konsumsi. Berapa pun kenaikan biaya haji, tentu
menambah beban bagi jemaah. Seiring kenaikan biaya, Kemenag dituntut untuk meningkatkan
layanan bagi jemaah haji sejak di Tanah Air, selama perjalanan dan beribadah di
Tanah Suci, hingga pulang. Semua kebutuhan jemaah hendaknya dipenuhi, mencakup transportasi
(pesawat dan darat), pemondokan, konsumsi, pendampingan ibadah, dan kesehatan. (Yoga)
UMK Dominasi Investasi
Dua tahun terakhir ini, jumlah investasi di Indonesia naik
cukup signifikan. Sebagian besar, sampai 92 %, didominasi usaha skala mikro dan
kecil. Meski kalah dari segi nilai, investasi UMK ini dapat menyerap tenaga
kerja lebih banyak dari usaha menengah dan besar. Berdasarkan data Kementerian Investasi / BKPM, selama periode 4 Agustus
2021 sampai 27 November 2023, sejak diterapkan sistem perizinan usaha daring yang terintegrasi dan berbasis risiko
(online single submission risk based approach/OSS-RBA), total ada 12,71 juta
investasi yang terdaftar di Indonesia. Sebanyak 92 % merupakan investasi di UMK.
Jumlah itu terdiri dari 7,13 juta investasi UMK perseorangan (56,10 % dari
total investasi yang masuk) dan 4,54 juta investasi UMK berbadan usaha (35,78 %).
Adapun investasi oleh usaha skala menengah dan besar hanya 8,11 % dari total investasi
yang terdiri dari 50,18 juta usaha non-UMK perseorangan (0,39 %) dan 981.000
usaha non-UMK badan usaha (7,72 %).
Sejalan dengan itu, NIB yang diterbitkan pun didominasi UMK.
Dari total 6,59 juta NIB yang keluar pada periode yang sama, sebesar 98,96 %
adalah NIB untuk UMK. Mayoritas merupakan NIB usaha mikro (96,2 %) dan usaha kecil
(2,76 %). Mayoritas investasi UMK yang masuk bergerak di sector perdagangan
eceran yang risiko usahanya rendah, sector jasa lainnya, konstruksi, atau investasi
manufaktur kecil dan sederhana, seperti alas kaki dan tekstil rumahan. Direktur
Deregulasi Penanaman Modal Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal
BKPM Dendy Apriandi, Selasa (28/11) seusai diskusi bertema ”OSS-RBA Terkini:
Upaya Perbaikan dan Tantangan Implementasi di Daerah” yang diselenggarakan
Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). di Jakarta, mengatakan,
investasi UMK hanya banyak dari segi jumlah, tetapi nilainya tidak terlalu
besar. (Yoga)
Olahan Mi dan Varian Teh Paling Laris Dipesan
Demokrasi dan Kepercayaan Pasar
Kontestasi perpolitikan Indonesia membahana di tengah ketidakpastian ekonomi yang terindikasi dari sikap wait and see investor hingga perlambatan pasar modal. Masyarakat berharap presiden selanjutnya akan membawa perbaikan. Kemenkeu memproyeksikan, rangkaian aktivitas pemilu dapat memberikan kontribusi masing-masing 0,2 % dan 0,25 % terhadap pertumbuhan ekonomi pada tahun 2023 dan 2024. Adapun anggaran pemilu yang telah digelontorkan mencapai Rp 11,5 triliun untuk tahun 2023 dan Rp 15,9 triliun untuk 2024. Sementara itu, di tengah ketidakpastian global dan kemelut geopolitik, ekonomi ikut bergejolak. Situasi tersebut terindikasi dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Pasar Modal Indonesia yang fluktuatif lebih dari dua bulan terakhir. IHSG sempat merosot meninggalkan level 7.000 sejak pertengahan September 2023. Hal tersebut diikuti fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar. Setelah sempat menyentuh puncak terlemah di sekitar Rp 16.000 pada awal November, kurs rupiah saat ini terus menguat di posisi terakhir sekitar Rp 15.500, Jumat (24/11).
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (FEB UI) Teguh Dartanto menjelaskan, pemilu sendiri bisa berdampak negatif pada kinerja perekonomian dari indikator IHSG. Berdasarkan studi yang ia lakukan dengan rekannya di 2014, IHSG akan alami penurunan sejak sebulan sebelum hari pemilu hingga momen perhitungan cepat. Bersamaan dengan itu, ada juga pola konsumsi, uang beredar, dan investasi yang berubah karena aktivitas kampanye, mobilisasi masa, pencetakan dan distribusi surat suara, serta kegiatan pencoblosan. Konsumsi dan uang beredar akan naik di triwulan sebelum dan pada periode terjadinya Pemilu. Sementara itu, seperti investasi di pasar modal, investasi secara makro juga akan mengalami penurunan di triwulan terjadinya pemilu karena investor menunggu hasil dari pemilu. Namun, pemulihan investasi akan berjalan lebih lambat karena baru mengalami kenaikan setahun setelah pemilu. ”Proyeksi saya terkait dampak Pemilu 2024 akan mengikuti pola yang mirip-mirip dengan studi tersebut. Namun, dampaknya akan lebih panjang karena di 2024 berlangsung pemilu serentak, baik legislatif maupun presiden dalam dua putaran, serta pilkada,” tuturnya, Minggu (26/11). (Yoga)
Pemulihan Ekonomi Dongkrak Pertumbuhan Premi
Roda perekonomian yang mulai bergerak menjadi motor pertumbuhan premi asuransi umum pada triwulan III-2023. Di sisi lain, ”hardening market” masih menghantui industri tersebut hingga akhir tahun 2024.Seiring menggeliatnya perekonomian nasional, industri asuransi umum membukukan pertumbuhan premi senilai Rp 73,5 triliun atau naik 10,1 persen secara tahunan pada triwulan III-2023. Laju pertumbuhan pada akhir tahun 2023 ini diharapkan mampu menyentuh angka yang sama dengan tahun lalu dengan potensi pertumbuhan di sektor properti pada tahun selanjutnya. Hal ini disampaikan oleh Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) dalam paparan kinerja industri triwulan III-2023, di Jakarta, Selasa (28/11/2023). Pertumbuhan premi tersebut utamanya ditopang oleh sejumlah lini usaha, seperti asuransi reakyasa (engineering), surety ship, dan asuransi kecelakaan diri (personal accident). Namun, pertumbuhan premi tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan III-2022 yang mencatatkan pertumbuhan premi sebesar 19,9 persen secara tahunan. Wakil Ketua Bidang Statistik Riset dan Analisis AAUI Trinita Situmeang menjelaskan, pertumbuhan premi ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang pada triwulan III-2023 tercatat tumbuh positif sebesar 4,94 persen secara tahunan. Meski lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas produksi, mobilitas masyarakat, kunjungan wisatawan mancanegara, gelaran acara nasional dan internasional, serta dimulainya aktivitas politik menjelang Pemilu 2024. Di sisi lain, pangsa pasar premi asuransi umum masih didominasi oleh lini bisnis properti, kendaraan bermotor, dan asuransi kredit yang menguasai 63,9 persen dari total pangsa pasar asuransi umum. Selain itu, ketiganya juga mendominasi pangsa pasar klaim asuransi umum mencapai 64,7 persen. Trinita menambahkan, hasil underwritting atau total pendapatan premi dikurangi dengan beban-beban yang ada pada asuransi umum dan reasuransi, masing-masing mencapai Rp 13,96 triliun dan Rp 1,22 triliun. Capaian ini turut didukung dengan hasil investasi asuransi umum sebesar Rp 3,81 triliun atau tumbuh 21,05 persen secara tahunan dan investasi reasuransi Rp 0,77 triliun atau tumbuh 8,48 persen secara tahunan. Di tengah kinerja positif tersebut, industri asuransi umum menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya ialah hardening market. Sebagaimana diketahui, hardening market merupakan kondisi saat industri asuransi dan reasuransi secara global mencatatkan kenaikan klaim secara signifikan sehingga berpengaruh pada perolehan keuntungan atau profabilitas perusahaan. Ketua Umum AAUI Budi Herawan menjelaskan, kondisi tersebut terjadi bukan hanya dalam ranah domestik, melainkan juga skala global. Lebih lanjut, hardening market pada industri asuransi ini diproyeksikan terjadi hingga akhir tahun 2024.
Delapan Sektor Menggeliat di Masa Kampanye
Segmen Konsumsi Dorong Pertumbuhan Kredit Perbankan
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









